yes.. thanks atas tambahannya.
selain berpindah rute dll.. orang bermobil bisa juga car-pooling,
sehingga bisa lewat koridor 3in1 tanpa nge-joki.

Wina, skarang sy sudah tidak lagi terlalu terpaku dengan
passenger-car-unit(PCU) atw dalam bahasa Indonesia satuan mobil
penumpang (smp).
Sy menilai indikator ini terlalu berpihak pada kaum bermobil.
Karena unit analisisnya adalah mobil (vehicles), maka jumlah orang
dalam mobil/kndaraan  sering terlupa. (anda juga lupa kan soal solusi
car-pooling).
Sy lebih setuju dengan indikator; penumpang per jam per arah -
passenger per hour-direction (pphd). karena unit analisisnya adalah
manusia.. objek ilmu transportasi sesungguhnya.
memang belum umum di Indonesia, apalagi di kalangan konsultan, mereka
lebih senang pakai smp, sehingga output kebijakannya ya itu-2 saja;
tambah lebar jalan, simpang tak sebidang (grade seperation), dsb..
solusi-2 inovatif sulit muncul dari situ.

Jadi memang ada kesengajaan saya utk tidak terlalu terpaku pada indicator PCU.
transport is about people, not vehicles.

salam,
-K-



On 12/26/08, W. Asmarandana <[email protected]> wrote:
> Kebijakan 3in1 akan dengan sendirinya mengubah pola pergerakan masyarakat
> dalam beraktifitas khususnya yg bermobil. Dengan kebijakan 3in1 maka orng2
> bermobil pribadi akan : berpindah rute pada jam yg sama (saat 3in1 berlaku),
> bergerak pada rute 3in1 diluar waktu 3in1, atau berpindah moda (misalnya
> naik bus kota) tanpa pusing memikirkan jadwal 3in1.
>
> Tentu saja hal2 tadi dilakukan oleh pengguna mobil yg mengerti esensi akan
> bertransportasi dan berlalu lintas yg baik terutama kaitannya dalam
> kemacetan.
>
> Pengguna mobil pribadi yg make jasa joki2 itu demi pengen lolos 3in1
> berarti ga ngerti esensi akan bertransportasi dan berlalu lintas yg baik.
>
> Kinerja LL itu sama ga Pak dgn kinerja jalan?  selain kecepatan dan waktu
> tempuh ada variabel lain yaitu jumlah satuan mobil penumpang(smp)
> (CMIIW)
>
>
>
>
>
>
> Salam,
>
> Wina. A
>
>
> Powered by Indosat BlackBerry�

Kirim email ke