Harya, joki 3 ini 1 itu muncul sebagai ekses kebijakan 3 in 1. jadi yang tidak baik itu bukan jokinya, tapi kebijakannya yang tidak bisa mengantisipasi ekses yang mungkin timbul. kalau masalah apakah uang hasil nge-joki itu dipakai untuk hal-hal yang produktif atau tidak, itu urusan pribadi masing-masing. lah orang yang kerja di kantor bonafide pun bisa saja menggunakan uangnya untuk hal-hal yang tidak produktif (lagian, apa sih yang maksud dng tidak produktif itu?).
Kalau waktu tempuh rata-rata meningkat apa itu bukan indikator secara umum terjadi kemacetan? kalau soal ruas-ruas tertentu tidak atau jam-jam tertentu tidak itu sih anak SD juga tahu. nggak mungkinlah seluruh kota macet sepanjang hari. Harya, kalau saya bilang literatur saja tidak cukup tapi harus disertai intuisi itu artinya bukan hanya menggunakan intuisi, tapi harus seimbang intuisi dan literatur. anda mengalami masalah dengan daya tangkap ya, sampai harus diterangkan bagian per bagian? selain itu, apakah orang yang tidak mendalami literatur ttg transportasi tidak boleh berkomentar di sini? untuk menjadi seorang pakar atau pengambil keputusan memang harus mempelajari literatur, tapi untuk berkomentar di milist ini tidak perlu. atau apakah maksud anda bahwa yang berhak berkomentar di sini hanya mereka yang mempelajari literatur (dan mereka ini pendapatnya pasti benar), sementara mereka yang tidak mendalami literatur dan tidak sejalan dng anda pasti salah? Btw... sorry saya salah, ternyata bukan hanya literatur dan intuisi, tapi ada satu yang lebih penting... kebijaksanaan (itu salah satu hal yang ditekankan oleh dosen2 anda kan?). sepertinya ini satu hal yang anda pun belum punya. Kalau anda mau bertanya bagaimana analisis kualitatif dapat memecahkan masalah, saya juga bisa bertanya kepada anda, bagaimana analisis kuantitatif dapat memecahkan masalah. tidak semua aktivitas manusia bisa diterjemahkan dalam angka-angka. Maaf ya, tapi tampaknya anda terkena syndrome sekolah teknik, yang menganggap semua hal bisa diterjemahkan ke dalam angka. saya tau ini karena dulu saya juga mengalaminya, tapi seiring pengalaman yang bertambah saya sadar TIDAK semua hal bisa dipecahkan hanya dengan angka atau modelling. Dan sebaiknya anda belajar dulu analisis kualitatif sendiri supaya bisa tahu kegunaan dan aplikasinya (pak manneke juga bilang kan?). Di pendidikan ahli perencanaan memang analisis kualitatif ini tidak diajarkan secara mendalam, setahu saya dulu hanya 1 semester, itupun pilihan. saya tidak tahu sekarang. Soal anak teman saya yang menempuh 90 menit untuk ke sekolahnya, itu rumah dan sekolah di jakarta selatan. lama itu karena harus melewati pasar dan tempat angkutan umum ngetem. dan kasus spt ini bukan 1-2. banyak. cobalah anda keluar jam 5-6.30, sudah banyak anak2 berseragam menunggu angkutan umum. jadi anda bayangin gimana mereka yang tinggal di bintaro dan sekolah di jakarta pusat misalnya. Masalah pemikiran wagub, masalah dasarnya satu, pikirannya dangkal. kalau soal kehumasan itu hal lain. mau dikemas seperti apapun kalau memang pola pikirnya sempit ya tetap akan terbaca (saya tidak tahu kalau orang seperti anda akan bisa baca maksud yang tersirat nggak). Boleh saja anda bilang harusnya wagub menjawab bla bla bla. tapi jawaban seperti kemarin itu justru membuat orang-orang mengetahui apa sebenarnya motif kebijakan blekethuk ini. Jadi menurut anda yang salah bukan alasan sesungguhnya ya, tapi jawaban yang keluar kepada publik. Sepertinya anda terlambat untuk memberi briefing wagub dalam menjawab ya, shg orang terlanjur mengetahui yang sebenarnya. Justru itulah salah satu poin diskusi ini dari dulu, kenapa anak sekolah? setelah diskusi muter2 ternyata anda juga jawab harusnya jam masuk PNS DKI juga disesuaikan karena itu masuk dalam kewenangan gubernur, sementara pegawai swasta mestinya tidak. di kasus ini jam masuk PNS tidak berubah, sementara jam masuk anak sekolah dan pegawai swasta diatur. jadi, menurut anda, apa perlu kita meneruskan kebijakan ngawur seperti ini?? rini ��� Re: "Rekor Dunia" Jam Masuk Sekolah ��� Posted by: "Harya Setyaka" [email protected]�� kokomarokosetyoko ��� Mon Jan 5, 2009 5:47 am (PST) ��� Harya, saya juga ��� bukan pakar pendidikan. Yang saya angkat hanya pertanyaan logis yg bisa ��� diajukan siapapun, tidak perlu pakar pendidikan. Anda tidak dapat ��� mempertimbangkan aspek lain di luar yang menjadi keahlian anda, ��� transportasi. ��� Itulah yang saya maksud pola pikir linear itu. ��� Ooh maksud anda 'multi-disiplin'� Ok Mba Rini.. kalau yg anda maksudkan ��� dengan 'pola pikir linear' ��� Mungkin pola pikir yg anda harapkan adalah multi-disiplin. . tapi ga apa ��� lah.. tidak substansial. Sori, sy salah memahami definisi anda megnenai ��� 'pola pikir linear'. ��� Tentunya sy akan lebih mudah memahami anda apabila anda menggunakan ��� definisi-2 yg baku. ��� Iya.. sy juga yakin anda bukan pakar pendidikan.. sori sy memang tidak bisa ��� menjawab pertanyaan-2 Logis itu.. mengenai sistem penerimaan siswa sekolah ��� dsb.. apabila ada pakar pendidikan, mohon pencerahan. ��� Lagi-lagi anda tidak ��� menangkap maksud saya. Soal lapangan pekerjaan itu adalah pemikiran saya ��� lebih ��� sebagai pribadi yg concern thd masalah sosial, tanpa disertai pertimbangan2 ��� lain. Makanya saya menuliskannya di dalam tanda kurung. Saya hanya mencoba ��� melihat sisi baik di antara ketidakefektifan kebijakan tersebut, yang hanya ��� bisa memindahkan kemacetan. Anak SD juga tahu kalau kebijakan 3 in 1 tidak ��� akan ��� bisa mengatasi pengangguran. ��� Joki 3in1 bukan sisi baik.. kita pun tidak tahu persis apakah uang hasil ��� nge-joki dipakai utk hal-2 yg produktif. ��� Sebetulnya untuk ��� melihat keberhasilan program yang sudah dijalankan tidak susah, apakah ��� kemacetan berkurang saat ini? Tidak, karena semakin hari waktu tempuh dari ��� satu ��� titik ke titik lain semakin lama. Artinya, program yang sudah dijalankan ��� tidak ��� efisien. Kalau anda punya data yang menunjukkan kemacetan berkurang ya ��� monggo, ��� dibeberkan di sini. ��� Mba Rini, yg sy usulkan ke anda adalah solusi pribadi� anda lakukan saja.. ��� dan ukur utk pribadi anda sendiri. Memang betul, waktu tempuh rata-2 ��� meningkat. Tapi ruas-2 tertentu tidak, dan pada jam-2 tertentu tidak. ��� Lagi-lagi anda salah ��� saat menganggap saya mendewakan intuisi. Kalau anda menangkap kalimat saya ��� sebelumnya, maksud saya adalah teori saja tidak cukup dalam membuat ��� perencanaan, tapi harus disertai intuisi dan kepekaan. Apakah ini berarti ��� saya ��� mendewakan intuisi? Coba resapi lagi kalimat saya. Dan jangan lupa saya ��� menuliskan itu sebagai counter atas kata-kata anda kepada Pak Manneke agar ��� beliau membaca literature transportasi dulu sebelum berkomentar. ��� Ya.. betul, karena persoalannya adalah transportasi, maka tidak ada ��� salahnya memperkaya pandangan dengan literature.. Kalau ada yg cuma modal ��� intuisi.. silahkan.. tapi ga akan produktif. ��� Kalau saya juga ��� bilang analisis kualitatif penting dalam perencanaan, itu bukan berarti saya ��� mendewakan intuisi lo. Analisis kualitatif adalah analisis, bukan intuisi. ��� Ok.. lantas bagaimana analisis kualitatif tsb dapat membantu menyelesaikan ��� masalah ini? Yg kita perlukan bukan hanya penjelasan.. tapi juga solusi. ��� Kalau anda punya solusi lain hasil analisis kualitatif anda yg lebih ��� efektif, silahkan beberkan. Mohon pencerahan bagaimana analisis kualitatif ��� dapat menelurkan kebijakan untuk menyelesaikan masalaah. ��� Kalau kita kembali ke ��� inti masalah: mengatasi kemacetan dengan cara memajukan jam masuk anak ��� sekolah, ��� maka ada beberapa pertanyaan. Pertama, apakah pemerintah DKI sudah ��� menerapkan kebijakan ��� yang terintegrasi untuk mengatasi kemacetan selain kebijakan ini, dan apakah ��� rencana distribusi pola aktivitas hanya 1 bagian kecil dari kebijakan itu? ��� Kita ��� sudah bahas panjang lebar untuk yang ini, jadi okelah, saya asumsikan memang ��� dki punya kebijakan yg terintegrasi, jadi distribusi pola aktivitas bukan ��� kebijakan parsial. ��� Dari situ berangkat ��� ke pertanyaan kedua, apakah memang distribusi pola aktivitas bisa diterapkan ��� di ��� Jakarta? Secara teori memang distribusi pola aktivitas merupakan salah satu ��� upaya memerangi kemacetan. Dari awal saya tidak membantah ini. Tapi ��� pertanyaannya, ��� bisakah konsep itu diterapkan di Jakarta? Kalau anda punya argument didukung ��� data, silakan beberkan. ��� Bisa Mba Rini.. Jakarta tidak sendirian berupaya melawan kemacetan. Dan ��� inilah gunanya simulasi dan uji coba. ��� Data lebih lengkapnya bisa rujuk ke liputan suara pembaruan. Sy sendiri ��� membaca salin-lunak hasil kajian konsultan, dan sy sampaikan bahwa memang ��� bisa diterapkan, namun kalau dikatakan mengurangi kemacetan sampai 16%.. ��� terus terang sy nilai ini overestimate. ��� Jika kita asumsikan ��� bahwa teori itu bisa diterapkan di Jakarta, pertanyaan terakhir adalah: ��� kenapa ��� harus anak sekolah yg dimajukan jam masuknya? Ini yang tidak pernah anda ��� jawab. ��� Tapi akhirnya saya mendapatkan jawabannya dari acara jejak kasus di ��� indosiar. ��� Dalam acara itu wagub dki, prijanto, menjelaskan kenapa yang dimajukan ��� adalah ��� jam masuk anak sekolah, bukan pns atau pegawai swasta. Dia bilang kalau pns ��� itu ��� kantornya tersebar (memangnya sekolah tidak?) dan rumahnya jauh2, bahkan ada ��� dr ��� mereka yang berangkat sebelum subuh (dia tidak menjelaskan berapa banyak ��� yang ��� sudah harus berangkat sebelum subuh, dan itu subuhnya deket ke jam 4 atau ��� jam 5, dan apakah anak sekolah tidak ada yang ��� berangkat sepagi itu, dan jam berapa guru harus berangkat dari rumahnya yg ��� kemungkinan juga jauh agar bisa sampai di sekolah � jam sebelum jam masuk). ��� Pegawai ��� swasta sendiri diatur dengan penyebaran jam masuk menurut wilayah.. Di sini ��� saya ��� tidak tahu apakah dia sudah membuat mapping pola pergerakan pegawai swasta. ��� Dari sini terlihat ��� betapa sempitnya pemikiran wagub dki. pada akhirnya memang terlihat bahwa yg ��� dikorbankan adalah mereka yang posisi tawarnya lemah. Apakah dia tahu, jam ��� berapa anak sekolah ��� harus berangkat dari rumah spy bisa sampai sekolah jam 7, apalagi jam 6.30? ��� sebagai ��� gambaran, anak teman saya tiap hari paling telat berangkat jam 5.30 spy bisa ��� sampai sekolah jam 7. Itu sekolah dan rumahnya masih di wilayah yang sama, ��� dan ��� diantar oleh sopir. Bagaimana yang sekolahnya lebih jauh dan harus naik ��� kendaraan umum? ��� Bukan hanya sempit.. tapi juga menunjukkan betapa lemahnya kehumasan di ��� DKI. Mungkin juga karena pak WaGub malas utk merubah jam masuknya DKI ��� sendiri.. Ini jelas tidak akan mampu meraih simpati masyarakat. Di Jakarta, ��� PNS kan banyak macam.. PNS Departemen Pusat ya tergantung Mentri-nya ��� masing-2. DepHanKam& juga MabesAD di kawasan MoNas masuk jam 7 pagi sudah ��� jauuh sebelum ada kebijakan apapun dari DKI. Begitujuga, beberapa perusahaan ��� sudah menerapkan flexi-time.. tujuannya dari Departemen HanKam & perusahaan ��� swasta tentu bukan utk membantu DKI mengurangi kemacetan.. tapi ��� menyelamatkan karyawannya dari kemacetan. ��� Jam masuk dunia usaha pada umumnya merujuk pada jam transaksi perbankan dan ��� ini ujungnya adalah kebijakan BI. Perusahaan bidang lain (advertising ��� misalnya), mungkin malah kerja dari rumah, masuk 3 kali seminggu, jam ��� 10-15.. dsb� Jam kerja wartawan juga tidak 'konvensional' . ��� Harusnya WaGub menjawab, bahwa yg lain bukan tidak dilakukan.. Dunia usaha ��� perlu di-edukasi; bagaimana caranya mengatur waktu masuk kerja. Bahkan ��� perusahaan-2 swasta asing yg sy ketahui melakukan itu untuk menghemat ruang ��� kerja yg dibutuhkan (work-station) . ��� Jadi, pernyataan WaGub tidak hanya sempit.. tapi juga tidak akurat. Kalau ��� masih dalam kewenangannya, seharusnya jam kerja nya PNS-DKI juga turut ��� disesuaikan. ��� Mba Rini, mohon diperjelas kasus teman anak anda tersebut� apa benar ��� berangkat 5.30 dan baru tiba di sekolah 7.00 (waktu tempuh 90 menit?) dan ��� dalam wilayah yg sama? Yg anda maksud wilayah yg sama itu apa? Dalam 1 ��� kecamatan yg sama? Atau sama-2 dalam wilayah Jabodetabek? ��� Mohon lebih spesifik.. kalau kata pak Manneke, jangan di-irit-irit ��� informasinya. . kalau kata saya: supaya gugatan anda lebih substansial dan ��� bertanggung jawab. ��� Jadi, harya, setelah ��� diskusi berputar-putar kemana-mana, anda masih tidak juga menjawab ��� pertanyaan ��� diskusi ini. Tapi tidak apa-apa, Karena sudah dijawab oleh prijanto ��� sendiri.. ��� Mungkin pemahaman anda saja yg kurang baik; sy sampaikan bahwa untuk merubah ��� jam masuk sekolah memang butuh intervensi pemerintah daerah� sedangkan kalau ��� jam masuk perusahaan swasta tidak.. ��� Dan, belum tentu anak sekolah dikorbankan. . karena kalau mereka berangkat ��� lebih pagi, bisa saving waktu tempuh.. ��� Selanjutnya, seharusnya jam masuk PNS DKI juga disesuaikan. Perusahaan ��� swasta yg mau menerapkan perubahan jam masuk, juga tidak perlu tunggu ��� komando. ��� Salam, ��� -K- [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ ===================================================== Pojok Milis Komunitas Forum Pembaca KOMPAS [FPK] : 1.Milis Komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS 2.Topik bahasan disarankan bersumber dari http://cetak.kompas.com/ dan http://kompas.com/ 3.Moderator berhak memuat,menolak dan mengedit E-mail sebelum diteruskan ke anggota 4.Moderator E-mail: [email protected] [email protected] 5.Untuk bergabung: [email protected] KOMPAS LINTAS GENERASI ===================================================== Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
