Bung Adyanto, terima kasih kalau memang tidak menggeneralisir. saya seorang dokter umum, mengepalai sebuah RS kecil di kota Cirebon. Harus saya akui dokter juga ada yang 'Ngoboy" yaitu, menggunakan keahliannya untuk mencari nafkah dan memperlakukan profesi dokter sebagaimana bisnis. misalnya, melakukan kegiatan yang sifatnya marketing kepada petugas kesehatan dibawahnya, menetapkan tarif yang tinggi untuk jasa medisnya, mengabaikan etika, menurunkan standar pelayanan / profesi atau menjadi semacam agen bagi produk farmasi tertentu. ada juga dokter yang juga menggabungkan ilmu kedokteran dengan ilmu kesehatan tradisional. macem2 lah. Namun tentu saja tidak semua. Saya beruntung berpartner dengan para dokter spesialis yang masih manusiawi, mau mengerti kesulitan pendanaan pasien, mau meluangkan waktu untuk melakukan informed consent, menjunjung tinggi etika, sistem rujukan, standar profesi dan standar pelayanan medis. karenanya hati ini sedikit gundah melihat banyaknya kritik terhadap profesi kedokteran seakan2 kami2 para dokter yang "budiman" ini sudah punah dari muka bumi.
Melihat pengalaman buruk rekan2 dengan para dokter, saya bisa mengerti itu. Tidak semua dokter mampu bekerja setiap saat dengan baik. kadang atau sering kinerja dokter tidak maksimal sehingga kurang teliti atau kurang tanggap terhadap tanda2 dan gejala yang sudah ada. Karenanya, saran saya hanya satu : Jangan Ragu Minta Pendapat Kedua. Menanggapi perekaman tindakan operasi , saya kira itu menjadi kewenangan / kebijakan masing2 RS. Tujuannya pun harus jelas, apakah sebagai salah satu bentuk servis kepada pasien yang ingin mempunyai kenang2an saja? apakah sebagai bahan arsip / bahan pelajaran bagi kalangan medis? atau sebagai semacam kamera surveillance/kamera pengawas dengan tujuan agar dokter tidak macem2, dan lebih berhati2? Sebagai bentuk servis, boleh saja. tapi mungkin terbatas pada operasi2 yang sifatnya membahagiakan dan atau yang ringan dan mudah. misalnya seperti operasi caesar, pengangkatan kista , dsb. sebagai bahan arsip dan bahan pelajaran sebenarnya sudah sering dilakukan , terutama di RS pendidikan. Disini justru kasus2 yang sulit dan aneh lah yang jadi primadona. Sebagai kamera surveillance / pengawas, menurut saya tidak dapat dilakukan. selain penempatan kamera seakan2 disebabkan prasangka buruk kepada dokter, juga akan memberikan tekanan psikologis kepada dokter yang justru bisa membahayakan pasien. Sebagai catatan tambahan: 1. semua perekaman harus atas izin pasien. pasien mungkin tyidak ingin menyimpan kenang2an saat tungkainya diamputasi, misalnya. perekaman tanpa seizin pasien akan melanggar rahasia / privasi pasien. 2. Di meja Operasi, pada dasarnya bisa terjadi apa saja. Baik pada pasien yang, tidak mempunyai penyulit, apalagi pasien dengan penyulit. (penyulit : kondisi pasien yang meningkatkan resiko tindakan operasi, misal ada penyakit tambahan, seperti hipertensi, lemah jantung, usia lanjut, letak tumor di daerah berbahaya, dsb). Kejadian bisa dari yang ringan (misal, batuk, mual dll) sampai yang paling berat (perdarahan tak terkendali, alergi, hingga kematian). Kejadian2 seperti ini tidak melulu disebabkan kesalahan prosedur atau kesalahan dokter. Accidents happens. Shit happens. Bahkan ketika kami sudah memberikan yang terbaik pun kejadian buruk bisa saja terjadi. INi harus dikomunikasikan dengan pasien. di RS kami, sebelum operasi hal diatas diterangkan kepada keluarga pasien dan dokter dan keluarga pasien menandatangani berita acara informed consent. Keluarga harus tahu resiko operasi, dokter minta restu dan doa kepada keluarga agar diberi kemudahan saat operasi. dengan ini ada hubungan saling percaya. pasien melihat niat baik kami untuk berusaha dengan sekuat kemampuan kami. 3.. Untuk mengurangi kesalahan operasi ? Tim Operasi harus memegang teguh Standar Profesi, Standar Pelayanan Medis yang berlaku. Di Ruang Operasi, penuh dengan prosedur, mulai prosedur tindakan operasi , tindakan anestesi, sampai prosedur penanganan sampah, prosedur mengepel, prosedur membersihkan darah, prosedur memegang dan membuang jarum , prosedur pakaian dsb dsb dsb. karenanya orang yang masuk OK harus yang fasih terhadap prosedur. membiarkan suami pasien yang jelas2 awam untuk masuk kamar operasi sangat beresiko terjadi pelanggaran prosedur. Penggunaaan kamera boleh saja, asal tidak membuat tim operasi terganggu dalam melakukan prosedur. meskipun hanya sekadar kenang2an , kalau tim operasi merasa terganggu, maka penggunaan kamera tidak bisa diterima. saya harap ada titik temu antara kami para dokter yang merasa diri "budiman" dengan para rekan yang berpengalaman buruk dengan dokter secara umum. Trims. HQQ ________________________________ From: Adyanto Aditomo <[email protected]> To: [email protected] Sent: Friday, June 12, 2009 3:05:12 PM Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Dokter operasi Bung Hakiki Akbari, Saya tidak menggeneralisasi terhadap kualitas pengabdian Dokter Bedah di Indonesia, karena cerita semacam itu saya sering dengar dari rekan - rekan saya yang Dokter, Perawat, Pasien atau keluarga pasien. Yang saya tidak tahu adalah: apakah kasus semacam itu juga biasa terjadi di Rumah Sakit di Negara - negara maju??? Pertanyaan saya: Apakah dengan adanya video rekaman selama berlangsungnya proses operasi maka potensi kesalahan pada saat operasi bisa diminimalisir atau sebetulnya tidak ada pengaruhnya sama sekali??? Sebagai orang awam saya juga sering bingung mendengar perdebatan antara Dokter Spesialis tertentu dengan Dokter Bedah, dimana Dokter Bedah bisa komplain ke Dokter Spesialis bahwa setelah pasien dibedah, ternyata analisa penyakit pasien tidak sesuai dengan kenyataan pada saat pembedahan, sehingga proses operasi yang telah dilakukan boleh dibilang "sia - sia". Secara bergurau Dokter Bedah akan menjuluki Dokter Spesialis tersebut sebagai "Dokter Mulut" karena cuma bisa omong doang, dan akhirnya terbukti bahwa diagnosanya seringkali meleset jauh. Sangking jengkelnya karena kasus tersebut sering terjadi (karena terjadi juga pada keluarga dekat mereka), beberapa Dokter Bedah rekan saya menyarankan, bila ingin mengetahui mana Dokter Spesialis yang benar - benar pandai dan mana yang sebetulnya "kurang cerdas", hal tersebut bisa ditanyakan ke Dokter Ahli Anestesi yang selalu mendampingi Dokter Bedah saat proses operasi. Biasanya Dokter Anestesi mempunyai catatan lengkap yang membandingkan antara analisa Dokter Spesialis sebelum proses pembedahan berlangsung dengan kenyataan saat proses pembedahan berlangsung. Dokter spesialis yang pandai adalah bila disimpulkan pasien ,menderita sakit kanker, saat dibedah memang betul sakit kanker, bukan sakit karena infeksi atau karena ada batu di empedunya.Ini hanya sekedar contoh. Demikian pula untuk mengetahui mana Dokter Bedah yang pandai dengan yang "kurang cerdas" akan terlihat dari hasil operasinya, apakah sesuai dengan yang direkomendasikan oleh Dokter Spesialis (asumsinya analisa Dokter Spesialis itu benar adanya). Cucu kakak saya yang dioperasi akibat jantungnya bocor saat lahir, ternyata setelah dioperasi kebocorannya masih terjadi. Saat komplain ke Dokter Spesialis Jantung dan kemudian ada pertemuan antara Keluarga Pasien, Dokter Spesialis Jantung, Dokter Bedah Jantung dan Direktur Rumah Sakit, disimpulkan bahwa yang dilakukan oleh Dokter Bedah Jantung tidak sesuai dengan yang direkomendasikan oleh Dokter Spesialis Jantung, sehingga tidak seluruh kebocoran di Jantung telah tertutup dengan baik. Disepakati bahwa, bila dikemudian hari (proses operasi tidak bisa langsung diulang karena pasien masih bayi) diperlukan Bedah Jantung Ulang, seluruh biaya sepenuhnya ditanggung oleh pihak Rumah Sakit. Namun Puji Tuhan, tiba - tiba kebocoran jantung menutup sendiri sehingga tidak perlu ada operasi jantung ulang. Sampai hari ini, dimana peristiwa tersebut sekitar 10 tahun yang lalu, keadaannya sehat - sehat saja.. Sekali lagi pertanyaan saya: Apakah dengan dibuatnya rekaman saat berlangsungnya proses operasi bisa meminimalisir kesalahan Operasi???? Salam, Adyanto Aditomo
