Setuju Pak Hakiki... Dokter mesti bercermin kl ada kritik dari masyarakat,dan menjadi pemacu utk terus memperbaiki diri nya,bagaimanapun dokter tetap seorang manusia yg bisa khilaf.Apalagi yang dihadapi seorang manusia,bukan mesin atau benda mati.Tubuh manusia memiliki sifat yg unik yg bisa berbeda antara individu satu dg yg lain,tidak ada satu individupun yg persis sama sifat jaringan nya.Kadang pengharapan pasien sangat besar terhadap seorang dokter.Kurikulum pendidikan dokter di Indonesia sudah mencakup masalah attitude (sikap). Kalau saya amati sebetul nya dokter di Indonesia lebih merakyat dan membumi.Di negara maju kalau mau konsultasi dg dokter spesialis harus lewat suatu biro,biro ini yg akan mengurus jadwal nya.Tidak mudah menemui seorang dokter.Saya tidak tahu apakah dokter kita perlu meniru profesionalitas seperti ini.Di Indonesia sudah biasa pasien minta telepon dokter nya.Kalau ada apa2 yg darurat dokter nya ditelepon minta saran,tidak kenal waktu.Kl dokter nya tidak kasih nomer telepon kadang pasien terus pindah ke dokter lain.Di RS meskipun swasta kadang dokter berhadapan dg pasien tidak mampu,sehingga setelah operasi tim dokter harus merelakan jasa medis nya.Tentu nya dokter jg perlu nafkah dan RS perlu menghidupi karyawannya.Belum lagi pengalaman dokter2 yg bertugas di daerah,ada yg sampai harus mengorbankan nyawa nya sendiri,istri keguguran karena kl ke pasar harus menyeberangi sungai,dimusuhi dukun smp dicoba disantet,dll...Pengalaman2 mahal spt ini belum tentu dimiliki oleh dokter negara maju. Tapi hal2 seperti ini kan tidak di ekspose oleh wartawan,dan memang tidak perlu krn dokter di Indonesia harus menyadari hak dan kewajibannya. Wassalam...
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! -----Original Message----- From: Hakiki Akbari <[email protected]> Date: Fri, 12 Jun 2009 04:56:17 To: <[email protected]> Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Dokter operasi Bung Adyanto, terima kasih kalau memang tidak menggeneralisir. saya seorang dokter umum, mengepalai sebuah RS kecil di kota Cirebon. Harus saya akui dokter juga ada yang 'Ngoboy" yaitu, menggunakan keahliannya untuk mencari nafkah dan memperlakukan profesi dokter sebagaimana bisnis. misalnya, melakukan kegiatan yang sifatnya marketing kepada petugas kesehatan dibawahnya, menetapkan tarif yang tinggi untuk jasa medisnya, mengabaikan etika, menurunkan standar pelayanan / profesi atau menjadi semacam agen bagi produk farmasi tertentu. ada juga dokter yang juga menggabungkan ilmu kedokteran dengan ilmu kesehatan tradisional. macem2 lah. Namun tentu saja tidak semua. Saya beruntung berpartner dengan para dokter spesialis yang masih manusiawi, mau mengerti kesulitan pendanaan pasien, mau meluangkan waktu untuk melakukan informed consent, menjunjung tinggi etika, sistem rujukan, standar profesi dan standar pelayanan medis. karenanya hati ini sedikit gundah melihat banyaknya kritik terhadap profesi kedokteran seakan2 kami2 para dokter yang "budiman" ini sudah punah dari muka bumi. Melihat pengalaman buruk rekan2 dengan para dokter, saya bisa mengerti itu. Tidak semua dokter mampu bekerja setiap saat dengan baik. kadang atau sering kinerja dokter tidak maksimal sehingga kurang teliti atau kurang tanggap terhadap tanda2 dan gejala yang sudah ada. Karenanya, saran saya hanya satu : Jangan Ragu Minta Pendapat Kedua. Menanggapi perekaman tindakan operasi , saya kira itu menjadi kewenangan / kebijakan masing2 RS. Tujuannya pun harus jelas, apakah sebagai salah satu bentuk servis kepada pasien yang ingin mempunyai kenang2an saja? apakah sebagai bahan arsip / bahan pelajaran bagi kalangan medis? atau sebagai semacam kamera surveillance/kamera pengawas dengan tujuan agar dokter tidak macem2, dan lebih berhati2? Sebagai bentuk servis, boleh saja. tapi mungkin terbatas pada operasi2 yang sifatnya membahagiakan dan atau yang ringan dan mudah. misalnya seperti operasi caesar, pengangkatan kista , dsb. sebagai bahan arsip dan bahan pelajaran sebenarnya sudah sering dilakukan , terutama di RS pendidikan. Disini justru kasus2 yang sulit dan aneh lah yang jadi primadona. Sebagai kamera surveillance / pengawas, menurut saya tidak dapat dilakukan. selain penempatan kamera seakan2 disebabkan prasangka buruk kepada dokter, juga akan memberikan tekanan psikologis kepada dokter yang justru bisa membahayakan pasien. Sebagai catatan tambahan: 1. semua perekaman harus atas izin pasien. pasien mungkin tyidak ingin menyimpan kenang2an saat tungkainya diamputasi, misalnya. perekaman tanpa seizin pasien akan melanggar rahasia / privasi pasien. 2. Di meja Operasi, pada dasarnya bisa terjadi apa saja. Baik pada pasien yang, tidak mempunyai penyulit, apalagi pasien dengan penyulit. (penyulit : kondisi pasien yang meningkatkan resiko tindakan operasi, misal ada penyakit tambahan, seperti hipertensi, lemah jantung, usia lanjut, letak tumor di daerah berbahaya, dsb). Kejadian bisa dari yang ringan (misal, batuk, mual dll) sampai yang paling berat (perdarahan tak terkendali, alergi, hingga kematian). Kejadian2 seperti ini tidak melulu disebabkan kesalahan prosedur atau kesalahan dokter. Accidents happens. Shit happens. Bahkan ketika kami sudah memberikan yang terbaik pun kejadian buruk bisa saja terjadi. INi harus dikomunikasikan dengan pasien. di RS kami, sebelum operasi hal diatas diterangkan kepada keluarga pasien dan dokter dan keluarga pasien menandatangani berita acara informed consent. Keluarga harus tahu resiko operasi, dokter minta restu dan doa kepada keluarga agar diberi kemudahan saat operasi. dengan ini ada hubungan saling percaya. pasien melihat niat baik kami untuk berusaha dengan sekuat kemampuan kami. 3.. Untuk mengurangi kesalahan operasi ? Tim Operasi harus memegang teguh Standar Profesi, Standar Pelayanan Medis yang berlaku. Di Ruang Operasi, penuh dengan prosedur, mulai prosedur tindakan operasi , tindakan anestesi, sampai prosedur penanganan sampah, prosedur mengepel, prosedur membersihkan darah, prosedur memegang dan membuang jarum , prosedur pakaian dsb dsb dsb. karenanya orang yang masuk OK harus yang fasih terhadap prosedur. membiarkan suami pasien yang jelas2 awam untuk masuk kamar operasi sangat beresiko terjadi pelanggaran prosedur. Penggunaaan kamera boleh saja, asal tidak membuat tim operasi terganggu dalam melakukan prosedur. meskipun hanya sekadar kenang2an , kalau tim operasi merasa terganggu, maka penggunaan kamera tidak bisa diterima. saya harap ada titik temu antara kami para dokter yang merasa diri "budiman" dengan para rekan yang berpengalaman buruk dengan dokter secara umum. Trims. HQQ ------------------------------------ ===================================================== Pojok Milis Komunitas Forum Pembaca KOMPAS [FPK] : 1.Milis Komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS 2.Topik bahasan disarankan bersumber dari http://epaper.kompas.com/ , http://kompas.com/ dan http://kompasiana.com/ 3.Moderator berhak memuat,menolak dan mengedit E-mail sebelum diteruskan ke anggota 4.Moderator E-mail: [email protected] [email protected] 5.Untuk bergabung: [email protected] KOMPAS LINTAS GENERASI ===================================================== Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
