Bung Adyanto, ikut komentar ya..
saya prihatin melihat teman sejawat saja bisa mengalami hal spt yang bung 
adyanto ceritakan. kalau menurut hemat saya itu adalah salah satu efek samping 
dari pengkotak2an ilmu kedokteran dalam bentuk spesialisasi dokter. Dokter jadi 
melihat sebatas kespesialisasiannya saja. misalnya : pasien sakit kepala : 
dokter gigi akan menyangka jangan2 sakit gigi, dokter syaraf menyangka jangan2 
syaraf yang terjepit atau tumor otak, dokter penyakit dalam akan berpikir 
jangan2 hipertensi.
karenanya penting sekali melakukan konsultasi antar dokter bila memang 
diperlukan.
kasus pak dokter bedah itu yang divonis kanker pankreas , sebenarnya, 
seharusnya pak dokter bedah sudah mahfum bahwa kanker pankreas juga menjadi 
ranahnya ahli bedah. minta second opinion dari dokter lain adalah sangat logis 
dan sangat bijak. Kesalahan Internist nya saya kira adalah tidak berkonsultasi 
dengan dokter lain yang juga menguasai masalah ini, misal dokter bedah. dokter 
bedah juga sering kesulitan dan sering harus konsultasi dengan bagian lain, kok.
Gambaran abcess (bisul) payudara sering mirip kanker karena warnanya merah, 
kulitnya seperti kulit jeruk dsb.  lagi2 internist memvonis kanker payudara 
yang seharusnya juga menjadi ranah dokter ahli bedah. harusnya ya lagi2  
konsultasi minta pendapat teman sejawat bedah dulu sebelum memutuskan harus 
anputasi payudara. keputusan amputasi  bukan terletak pada bahu dokter internis 
tapi dokter bedah.
 
hati2.. Tidak ada salahnya minta pendapat kedua atas penyakit anda, jangan ragu 
minta pendapat kedua.

 



________________________________
From: Adyanto Aditomo <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, June 7, 2009 11:28:30 AM
Subject: Bls: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Dokter operasi





Lha pengalaman rekan saya yang Dokter Bedah lebih kacau lagi, karena oleh 
rekannya yang spesialis Penyakit Dalam dia di vonis terkena Kanker Pankreas.
Waduh, dia panik, karena penderita kanker pankreas itu umumnya umurnya cuma 
pendek saja.
Langsung dia kontak Profesornya yang ada di LA, Amerika dan Profesornya minta 
rekan saya segera terbang kesana.
Saat sedang mengurus pasport di Imigrasi, baru dia teringat kalau punya banyak 
teman dokter ahli di Indonesia.
Akhirnya dia kontak beberapa rekannya yang berpraktek di RS. Medistra, Jl. 
Gatot Subroto, Jakarta. Setelah mempelajari hasil tes lab rekan saya, teman - 
temannya bilang kalau kesimpulan dokter internis tersebut ngawur. Untuk 
membuktikannya, malam itu rekan saya di bedah oleh rekan lainnya yang juga 
Dokter Bedah.
Hasilnya: Tidak ada kanker pankreas, tetapi ada batu di empedunya.
Setelah batu empedu dikeluarkan, ya dia sehat seperti sedia kala.
 
Beberapa bulan kemudian keponakan rekan saya itu, perempuan, nangis mengadu 
kepadanya karena oleh Dokter Internis dari RS di Jakarta Pusat, dia di vonis 
kanker Payu Dara dan payudaranya harus segera diamputasi.
Karena rekan saya baru saja mengalami salah diagnosa, maka dia minta 
keponakannya tenang dan akan dibuktikan apakah diagnosanya tidak ngawur.
Karena dia Dokter Bedah, maka dia minta keponakannya saat itu juga dibedah 
untuk memastikan apa penyakitnya.
Dari hasil pembedahan, ternyata itu cuma infeksi yang banyak nanah di sekitar 
lukanya dan bukan kena kanker payudara.
Untung saja keponakannya tanya dulu ke rekan saya yang dokter bedah.
Kalau nurut sama dokter internisnya, ya payudaranya sudah langsung diamputasi, 
padahal tidak perlu.
 
Salam,
 
Adyanto Aditomo

Kirim email ke