Pak Affan, Tidak usah takut dengan bakal menghilangnya hutan. Toh, Harimau Jawa sudah punah juga kan tidak ada pengaruhnya buat manusia dan tidak ada yang peduli :). Saya tidak tahu secara dalam dari sudut ekologi, cuma yang jelas secara alami hutan bisa bersuksesi dan suksesi alam ini berbeda-beda dari tempat pertempat, juga dari kondisi akhir hutan tersebut rusak (misalnya pemadatan tanah karena logging, pengikisan tanah karena erosi, dll). Jadi mungkin orang ekologi akan bilang bahwa kalau hutan alam kita diamkan saja pun akan menjadi hutan lagi. Saya pernah membaca sedikit tulisan Prof. Otto Sumarwoto bahwa hutan alam itu tidak usah ditanami karena bakal tumbuh sendiri. Cuma yang perlu digaris bawahi di sini adalah bahwa betul hutan bisa bersuksesi secara alami, tapi apakah suksesi alami ini akan tetap bergerak linear ke arah mature forest apabila pengaruh manusia sangat significant dalam perusakannya. Demikian juga suksesi akan sangat sulit pada daerah rawan (vulnerable) kebakaran hutan. Jadi sudah jelas di sini peran manusia sebagai orang yang pernah mengeksploitasi hutan juga harus berubah fungsi sebagai perawat hutan. Untuk mensuksesi hutan alam, manusia juga harus turut berperan serta dalam membangun kembali hutan. Sebenarnya sudah ada peraturan yang jelas pada waktu lalu tentang Dana Reboisasi yang seharusnya diperuntukkan untuk membangun kembali hutan. Dana reboisasi ini dibayar oleh perusaan kepada pemerintah pusat per M3 kayu yang diambil, dan untuk pelaksanaan reboisasi hutan pemerintah akan mengalokasikan dana ini kepada ke seluruh daerah di Indonesia (lengkap di:http://www.cifor.cgiar.org/publications/pdf_files/descbrief/dilema _kebijakan.pdf). Namun akhirnya karena kebijakan lain dari pemerintah, maka Dana Reboisasi ini jadi di alokasikan untuk keperluan lain di luar menanami kembali hutan. Juga dalam pengaturannya kurang memperhatikan perimbangan antara daerah penghasil kayu yang hutannya lebih perlu di tanami dengan daerah yang kurang menghasilkan (hutannya lebih sedikit dieksploitasi). Akhirnya dalam pelaksanaanya, dana reboisasi ini menjadi semakin tidak jelas, dan kurang transparan. Padahal kalau kita mau simple, kenapa HPH harus bayar ke Pemerintah? Kenapa tidak HPH yang menanami lagi, dan pemerintah tinggal melakukan fungsi pengawasan. Ini kan lebih efektif ya? Tehnik-tehnik manajemen hutan yang appropriate dalam membangun hutan kembali khususnya hutan tropis, mutlak di perlukan dan inilah yang menjadi tugas pokok para scientist di bidang kehutanan, silvikultur, ekologi, biologi, konservasi, penginderaan jauh, GIS. Kemudian ya semua riset2 ini di sinergikan dan diaplikasikan. Cuma saya masih belum yakin kalau kondisi ideal ini bisa di aplikasikan di dunia kehutanan kita sekarang. Poin lain adalah bangun hutan tanaman untuk keperluan kayu dalam negeri ataupun internasional dan peniadaan ijin konsesi untuk HPH (moratorium hutan). Manusia mutlak perlu sandang (kain), pangan (makanan), dan papan (kayu). Jadi kalau kita terus menerus menghabiskan hutan alam untuk kebutuhan manusia ya kondisinya mungkin sama seperti menurut buku keluaran Forest Watch. Kita harus mulai belajar bahwa untuk menebang satu pohon itu diperlukan waktu bertahun-tahun untuk menanam dan memeliharanya. Bayangkan, untuk yang bagus misalnya jati, paling tidak perlu 40-50 tahun untuk masak tebang (kecuali kita mau pake kayu sengon untuk bikin kusen..:p). Dan yang terpenting adalah sama-sama menyatukan visi setiap stakeholder di bidang kehutanan, Issunya satu, hutan kita bakal habis dalam 20 tahun lagi, jadi kita mau apa nih? Kalau setiap insan kehutanan memahami betul akan hal ini, maka bahu-membahu untuk membangun kembali hutan adalah kunci utamanya. Tapi kalau visi kita masih hutan itu sumber duit ya, Wassalam deh....
salam, Arief --- In [email protected], "m.affan fajar" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Bu dewi... > > saya mau sedikit..nanya karena bidang saya bukan kehutanan.... > berkaitan dgn data bu dewi dibawah....dan tulisan pak arief darmawan dan pak eko..... > > Data ini benar adanya (to omoimasu), menurut buku Forest Watch 2004 _ > (lupa saya pengarangnya) 10 tahun yad Hutan dataran rendah di > Sumatera akan musnah dan 2o tahun yad hutan dataran rendah di > kalimantan juga musnah, bila pengelolaannya masih masih sama dengan > hari ini. > > Dapatkah pemerintah , rakyat , masyarakat dan penduduk di Indonesia mencegah atau menghambat forecast dari buku tersebut? karena perkiraan tsb sangat mengkhwatirkan .... > usulan pak arief dan pak eko...menurut saya dapat disinergikan dgn pola kebijakan yang tepat dan memperhatikan masyarakat sekitar hutan? , karena saya belum dan kurang tahu...apakah ada kebijakan yang saya maksud tsb? dan bagaimana peran scientist di bidang kehutanan utk menanggulangi forecast buku tersebut?...mohon pencerahannya.... > > affan > kochi > > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail.yahoo.com ========================================================================= "Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk Kesejahteraan Rakyat dan Kelestarian Sumber Daya Alam Indonesia" ------------------------------------------------------------------------- Related homepages to IASA : http://iasa-online.org http://www.greendigitalpress.net/publications/ijas/ ========================================================================= Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/iasa/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
