Jawa
> sudah punah juga kan tidak ada pengaruhnya buat manusia dan tidak
> ada yang peduli
saya pikir kita salah besat bila berpikir demikian. Jika kita ingat food web relationship, kita akan paham nilai salah satu mata rantai web tersebut. Jadi, meskipun manusia secara langsung tidak terpengaruh oleh keberadaan harimau, tetap saja, harimau mempunyai nilai, terutama sebagai pengendali populasi herbivora mangsanya. Saya teringat suatu kisah, saya lupa negaranya. Tetapi kisah ini menceritakan bahwa hilangnya predator menyebabkan berkembangnya populasi kelinci dan herbivora lain, sehingga menghancurkan lahan pertanian. Jadi kalau sudah begini, coba bagaimana tindakan kita? Saya pikir dekan ekonomi itulah yang belum memahami nilai konservasi. Hutan diusahakan bukan hanya untuk dieksploatasi (memikirkan nilai ekonomi kayunya saja), tetapi dampak lain dari hutan yang tidak dikelola dengan baik nilainya lebih besar daripada sekedar nilai batangan kayu. Saya ingat perdebatan panjang tentang kondisi hutan Jepang yang sekarang katanya berubah menjadi monokultur (hutan konifer), yang ternyata dampak negatifnya luar biasa. Jadi mari kita berpikir global, bukan hanya menuruti ego sektoral. Maaf bila tak berkenan.
wass wr wb
Nugroho Susetya Putra
Laboratory of Animal Ecology
Yamagata University
bainahdewi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalamualaikum wr wb.
Terimakasih pak riefcon atas partisipasi diskusinya. Saya akan
resume dengan baik pendapatnya.makasih.....
Menanggapi paragraf ini
> Tidak usah takut dengan bakal menghilangnya hutan. Toh, Harimau
Jawa
> sudah punah juga kan tidak ada pengaruhnya buat manusia dan tidak
> ada yang peduli :).
Saya pribadi datang ke jepang dalam rangka perduli dg yang ini .....
misal harimau atau or alias wildlife. Orang Indonesia sendiri memang
masih sedikit yang perduli tentang hal ini. Saya bagian di dalamnya
selama 20 tahun. setelah itu sedikit muncul kesadaran bahwa
ternyata harimau pun sgt terkait dalam ecosystem kita di hutan,
mulai muncul.
Orang hutan bilang bila harimau nggak ada nilainya walau punah,
nggak ada yang perduli, ternyata ada benarnya juga ya. Walau datanya
tidak selalu demikian.
Dekan Ekonomi Unila ribut perang media dg Dekan Mipa gara gara Unila
memelihara rusa di Unila dan membutuhkan uang yang banyak untuk
pengelolaannya. Untuk apa uang segitu banyak untuk ngurus Rusa. Rusa
Sumatra posisinya hampir punah, nyaris mirip harimau sumatera yang
sudah extinct species.
Jawabannya si Dekan Mipa, Nilai konservasi tiada dapat di rupiahkan.
Keberlanjutan suatu species bagi hidupan liar itu tiada bernilai
bila dikonversi dengan rupiah.
Walaupun dari wildlife sendiri memang ada value nya seperti
cupllikan Bailey ini...maaf dg english:
More and more in public decisions we see confrontations between
wildlife value and extremely tangible value of reservoirs, highways,
subdivisions and other developments. These confrontations are
critical to future of wildlife. We cannot make the best case for
wildlife simply by stating that wildlife value are mostly aesthetic
and unmeasurable. Some wildlife values are easthetic and some cannot
be measured at least not in common unit of money.
Type of wildlife values
King (1966) wildlife value are
1. commercial
2. recreational
3. biotic
4. scientific, philosophical, and educational
5. aesthetic
6. social
7. negative
Biological value of wildlife is the contribution of wildanimals to
productive ecosystems.Wildlife are part of the complex biotic
machinery of ecosystems that we rely on for food, water, fertilizer
and aesthetic and recreational value.
Terlalu berharga bila sampai pada kepunahan.....tetapi juga terlalu
sulit untuk sama sama kita pahami dari kaca mata yang berbeda....
dan sah sah saja.
Terimakasih.....
Maaf saya postingnya dikit dikit....
(rahasia nih....aku duduknya berhadapan dengan senseiku di satu
ruangan yang sama....)
Hj.Bainah Sari Dewi
Laboratory of Forest Biological Conservation Forestry Departement
Faculty of Agriculture Tokyo University of Agriculture and
Technology (TUAT)
Saiwaicho Fuchu Shi Tokyo JAPAN 183 0054
laboratory phone : 81 42 367 5746
dormitory phone 81 42 367 5550 (via operator)
mobile phone 81 9061242403
mobile phone email : [EMAIL PROTECTED]
email : [EMAIL PROTECTED]
yahoo mess : [EMAIL PROTECTED]
http://www.geocities.com/bainahdewi/bainahsaridewi.html
http://www.geocities.com/bainahdewi/ mypage.html
> ini berbeda-beda dari tempat pertempat, juga dari kondisi akhir
> hutan tersebut rusak (misalnya pemadatan tanah karena logging,
> pengikisan tanah karena erosi, dll). Jadi mungkin orang ekologi
akan
> bilang bahwa kalau hutan alam kita diamkan saja pun akan menjadi
> hutan lagi. Saya pernah membaca sedikit tulisan Prof. Otto
Sumarwoto
> bahwa hutan alam itu tidak usah ditanami karena bakal tumbuh
> sendiri. Cuma yang perlu digaris bawahi di sini adalah bahwa betul
> hutan bisa bersuksesi secara alami, tapi apakah suksesi alami ini
> akan tetap bergerak linear ke arah mature forest apabila pengaruh
> manusia sangat significant dalam perusakannya. Demikian juga
suksesi
> akan sangat sulit pada daerah rawan (vulnerable) kebakaran hutan.
> Jadi sudah jelas di sini peran manusia sebagai orang yang pernah
> mengeksploitasi hutan juga harus berubah fungsi sebagai perawat
> hutan. Untuk mensuksesi hutan alam, manusia juga harus turut
> berperan serta dalam membangun kembali hutan.
> Sebenarnya sudah ada peraturan yang jelas pada waktu lalu tentang
> Dana Reboisasi yang seharusnya diperuntukkan untuk membangun
kembali
> hutan. Dana reboisasi ini dibayar oleh perusaan kepada pemerintah
> pusat per M3 kayu yang diambil, dan untuk pelaksanaan reboisasi
> hutan pemerintah akan mengalokasikan dana ini kepada ke seluruh
> daerah di Indonesia (lengkap
>
di:http://www.cifor.cgiar.org/publications/pdf_files/descbrief/dilema
> _kebijakan.pdf). Namun akhirnya karena kebijakan lain dari
> pemerintah, maka Dana Reboisasi ini jadi di alokasikan untuk
> keperluan lain di luar menanami kembali hutan. Juga dalam
> pengaturannya kurang memperhatikan perimbangan antara daerah
> penghasil kayu yang hutannya lebih perlu di tanami dengan daerah
> yang kurang menghasilkan (hutannya lebih sedikit dieksploitasi).
> Akhirnya dalam pelaksanaanya, dana reboisasi ini menjadi semakin
> tidak jelas, dan kurang transparan. Padahal kalau kita mau simple,
> kenapa HPH harus bayar ke Pemerintah? Kenapa tidak HPH yang
menanami
> lagi, dan pemerintah tinggal melakukan fungsi pengawasan. Ini kan
> lebih efektif ya?
> Tehnik-tehnik manajemen hutan yang appropriate dalam membangun
hutan
> kembali khususnya hutan tropis, mutlak di perlukan dan inilah yang
> menjadi tugas pokok para scientist di bidang kehutanan,
silvikultur,
> ekologi, biologi, konservasi, penginderaan jauh, GIS. Kemudian ya
> semua riset2 ini di sinergikan dan diaplikasikan. Cuma saya masih
> belum yakin kalau kondisi ideal ini bisa di aplikasikan di dunia
> kehutanan kita sekarang.
> Poin lain adalah bangun hutan tanaman untuk keperluan kayu dalam
> negeri ataupun internasional dan peniadaan ijin konsesi untuk HPH
> (moratorium hutan). Manusia mutlak perlu sandang (kain), pangan
> (makanan), dan papan (kayu). Jadi kalau kita terus menerus
> menghabiskan hutan alam untuk kebutuhan manusia ya kondisinya
> mungkin sama seperti menurut buku keluaran Forest Watch. Kita
harus
> mulai belajar bahwa untuk menebang satu pohon itu diperlukan waktu
> bertahun-tahun untuk menanam dan memeliharanya. Bayangkan, untuk
> yang bagus misalnya jati, paling tidak perlu 40-50 tahun untuk
masak
> tebang (kecuali kita mau pake kayu sengon untuk bikin kusen..:p).
> Dan yang terpenting adalah sama-sama menyatukan visi setiap
> stakeholder di bidang kehutanan, Issunya satu, hutan kita bakal
> habis dalam 20 tahun lagi, jadi kita mau apa nih? Kalau setiap
insan
> kehutanan memahami betul akan hal ini, maka bahu-membahu untuk
> membangun kembali hutan adalah kunci utamanya. Tapi kalau visi
kita
> masih hutan itu sumber duit ya, Wassalam deh....
>
> salam,
> Arief
>
>
> --- In [email protected], "m.affan fajar" <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
> > Bu dewi...
> >
> > saya mau sedikit..nanya karena bidang saya bukan kehutanan....
> > berkaitan dgn data bu dewi dibawah....dan tulisan pak arief
> darmawan dan pak eko.....
> >
> > Data ini benar adanya (to omoimasu), menurut buku Forest Watch
> 2004 _
> > (lupa saya pengarangnya) 10 tahun yad Hutan dataran rendah di
> > Sumatera akan musnah dan 2o tahun yad hutan dataran rendah di
> > kalimantan juga musnah, bila pengelolaannya masih masih sama
> dengan
> > hari ini.
> >
> > Dapatkah pemerintah , rakyat , masyarakat dan penduduk di
> Indonesia mencegah atau menghambat forecast dari buku tersebut?
> karena perkiraan tsb sangat mengkhwatirkan ....
> > usulan pak arief dan pak eko...menurut saya dapat disinergikan
dgn
> pola kebijakan yang tepat dan memperhatikan masyarakat sekitar
> hutan? , karena saya belum dan kurang tahu...apakah ada kebijakan
> yang saya maksud tsb? dan bagaimana peran scientist di bidang
> kehutanan utk menanggulangi forecast buku tersebut?...mohon
> pencerahannya....
> >
> > affan
> > kochi
> >
> >
> > __________________________________________________
> > Do You Yahoo!?
> > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
> > http://mail.yahoo.com
Start your day with Yahoo! - make it your home page
=========================================================================
"Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
untuk Kesejahteraan Rakyat dan Kelestarian Sumber Daya Alam Indonesia"
-------------------------------------------------------------------------
Related homepages to IASA :
http://iasa-online.org
http://www.greendigitalpress.net/publications/ijas/
=========================================================================
| Farming | Agriculture |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "iasa" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
