ass wr wb
 
Terima kasih mas Affan dan mas Cahyono atas komennya. Masalah yang amat mendasar di bidang kehutanan, dan pertanian secara keseluruhan adalah pandangan antroposentrik yang amat kuat (lagi2 cara pandang kapital), yang saya tidak tahu secara sengaja atau tidak sengaja membunuh pandangan bijak nenek moyang bahwa hutan adalah juga "makhluk", termasuk kayu-kayuan. Ingatkah kita akan sejarah manusia menyebut serangga atau mamalia herbivora sebagai hama? Sebutan itu muncul setelah manusia menebang hutan dan memperluas areal monokultur untuk pertanian, kemudian serangga dan mamalia tersebut muncul di lahan garapan tersebut. Salahkah mereka? Sama sekali tidak. Justru manusialah yang harus dipersalahkan karena "merampok" habitat asli mereka. Areal pertanian memang dibutuhkan, tetapi mengkreasikan areal yang selaras dengan pola distribusi makhluk lain amatlah penting. Areal pertanian di tengah hutan? Mengapa tidak? Salah satu teman saya seorang profesor dari Washington State University menceritakan tentang salah satu strategi untuk memerangi serangga hama dengan mengkreasi sebuah "beetle banks" yang tujuannya adalah untuk mengkonservasi keberadaan serangga dan arthropoda musuh alami serangga herbivora (hama) tersebut. Nah strategi ini tampaknya amat cocok untuk diterapkan di areal pertanian di dekat hutan. Realistikkah dilaksanakan? Sangat realistik! Silakan teman-teman menghitung untung rugi strategi ini. wassalam.
 
nugroho

cahyono agus <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pohon tidak boleh dilihat sebagai sumber kayu saja, tetapi harus lebih dilihat sebagai tiang utama penyangga lingkungan hidup dunia ini. Adanya satu pohon di depan rumah kita tidak hanya dinilai dengan harga kayunya tetapi juga fungsi besarnya yang telah membuat suasana rumah menjadi sejuk, nyaman, segar, sehingga tidak perlu perlengkapan AC, kipas angin, pengatur temperatur, pengatur kelembaban, atap peneduh halaman, tabung oksigen dsb. Kesadaran akan pentingnya lingkungan sebenarnya sudah dimiliki, namun kenyataan implementasinya belum seperti yang diharapkan. Sama sadarnya bahwa berbohong, mencuri dan korupsi itu tidak baik menurut peraturan dan agama manapun, tetapi justru tumbuh subur di alam Indonesia ini. Pengetahuan tentang lingkungan, hukum maupun agama masih sekadar wacana dan simbol-simbol belaka yang justru sangat lemah dalam implementasi langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Nampaknya kerusakan di bumi kita harus sudah segera ditangani secara serius secara menyeluruh oleh seluruh penghuni planet bumi ini. Upaya internasional dan nasional harus didukung penuh oleh kita sebagai penghuni bumi ini agar tidak sia-sia. Marilah dimulai dari: diri kita sendiri, bagian yang terkecil sekarang, tempat kita berpijak dan dengan cara yang paling sederhana sekalipun. Kita perlu membuat harmoni dengan alam, sehingga alam menyediakan air, udara, kelembaban, temperatur sesuai dengan jumlah dan kualitas seperti yang kita butuhkan. Ketersediaan yang lebih rendah atau justru berlebihan dibanding yang kita butuhkan berakibat bencana pada kita semua. Kita adalah bagian dari alam, sehingga kita yang harus menyesuaikan alam dengan sedikit modifikasinya. Kalau kita merusak dan menentang alam, maka alam juga akan melakukan antisipasi yang ternyata justru sangat merugikan kita semua. Keberadaan hutan sebagai pengatur air, udara, temperatur dan fungsi ekologi lainnya baru disadari ketika keberadaan dan peran hutan tersebut telah pudar dan manusia merasakan akibatnya. Kesadaran terhadap kualitas lingkungan hidup perlu ditumbuhkan dan diterapkan secara nyata dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.


bainahdewi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Apakah yang bisa kita perbuat agar laju kerusakan hutan kita tidak
semakin parah ?
Apakah peran nyata kita sebagai bagian dari kerusakan hutan tersebut?
Peran kita sebagai mahasiswa ?
Bagaimana kita mensikapi kerusakan hutan yang terjadi ?
Apa yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah Indonesia dengan
kondisi demikian ?
Dimohon partisipasi rekan-rekan semua.....atas partisipasinya
dihaturkan terimakasih......

Hj.Bainah Sari Dewi
Laboratory of Forest Biological  Conservation Forestry Departement
Faculty of  Agriculture Tokyo University of Agriculture and
Technology (TUAT)
Saiwaicho Fuchu Shi Tokyo  JAPAN 183 0054
laboratory phone : 81 42 367 5746
dormitory phone 81 42 367 5550 (via operator)
mobile phone 81 9061242403
mobile phone email : [EMAIL PROTECTED]
email : [EMAIL PROTECTED]
yahoo mess : [EMAIL PROTECTED]
http://www.geocities.com/bainahdewi/bainahsaridewi.html
http://www.geocities.com/bainahdewi/ mypage.html



--- In [email protected], nugroho putra <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> wa alaikum salam wr wb
> 
> maaf ikutan diskusi, kok agak tergelitik dengan komentar berikut:
> 
> Tidak usah takut dengan bakal menghilangnya hutan. Toh, Harimau
> Jawa
> > sudah punah juga kan tidak ada pengaruhnya buat manusia dan
tidak
> > ada yang peduli
>
> 
>
> saya pikir kita salah besat bila berpikir demikian. Jika kita
ingat food web relationship, kita akan paham nilai salah satu mata
rantai web tersebut. Jadi, meskipun manusia secara langsung tidak
terpengaruh oleh keberadaan harimau, tetap saja, harimau mempunyai
nilai, terutama sebagai pengendali populasi herbivora mangsanya.
Saya teringat suatu kisah, saya lupa negaranya. Tetapi kisah ini
menceritakan bahwa hilangnya predator menyebabkan berkembangnya
populasi kelinci dan herbivora lain, sehingga menghancurkan lahan
pertanian. Jadi kalau sudah begini, coba bagaimana tindakan kita?
Saya pikir dekan ekonomi itulah yang belum memahami nilai
konservasi. Hutan diusahakan bukan hanya untuk dieksploatasi
(memikirkan nilai ekonomi kayunya saja), tetapi dampak lain dari
hutan yang tidak dikelola dengan baik nilainya lebih besar daripada
sekedar nilai batangan kayu. Saya ingat perdebatan panjang tentang
kondisi hutan Jepang yang sekarang katanya berubah menjadi
monokultur (hutan konifer), yang
>  ternyata dampak negatifnya luar biasa. Jadi mari kita berpikir
global, bukan hanya menuruti ego sektoral. Maaf bila tak berkenan.
>
> wass wr wb
>
> Nugroho Susetya Putra
>
> Laboratory of Animal Ecology
>
> Yamagata University
>
>
> bainahdewi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Assalamualaikum wr wb.
>
> Terimakasih pak riefcon atas partisipasi diskusinya. Saya akan
> resume dengan baik pendapatnya.makasih.....
>
> Menanggapi  paragraf ini
>
> > Tidak usah takut dengan bakal menghilangnya hutan. Toh, Harimau
> Jawa
> > sudah punah juga kan tidak ada pengaruhnya buat manusia dan
tidak
> > ada yang peduli :).
>
>
> Saya pribadi datang ke jepang dalam rangka perduli dg yang
ini .....
> misal harimau atau or alias wildlife. Orang Indonesia sendiri
memang
> masih sedikit yang perduli tentang hal ini. Saya bagian di
dalamnya
> selama 20 tahun. setelah itu sedikit muncul kesadaran bahwa 
> ternyata harimau pun sgt terkait dalam ecosystem kita di hutan,
> mulai muncul.
> Orang hutan bilang bila harimau nggak ada nilainya walau punah,
> nggak ada yang perduli, ternyata ada benarnya juga ya. Walau
datanya
> tidak selalu demikian.
> Dekan Ekonomi Unila ribut perang media dg Dekan Mipa gara gara
Unila
> memelihara rusa di Unila dan membutuhkan uang yang banyak untuk
> pengelolaannya. Untuk apa uang segitu banyak untuk ngurus Rusa.
Rusa
> Sumatra posisinya hampir punah, nyaris mirip harimau sumatera yang
> sudah extinct species.
> Jawabannya si Dekan Mipa, Nilai konservasi tiada dapat di
rupiahkan.
> Keberlanjutan suatu species bagi hidupan liar itu tiada bernilai 
> bila dikonversi dengan rupiah.
> Walaupun dari wildlife sendiri memang ada value nya seperti
> cupllikan Bailey ini...maaf dg english:
>
> More and more in public decisions we see confrontations between
> wildlife value and extremely tangible value of reservoirs,
highways,
> subdivisions and other developments. These confrontations are
> critical to future of wildlife. We cannot make the best case for
> wildlife simply by stating that wildlife value are mostly
aesthetic
> and unmeasurable. Some wildlife values are easthetic and some
cannot
> be measured at least not in common unit of money.
>
> Type of wildlife values
> King (1966) wildlife value are
> 1.      commercial
> 2.      recreational
> 3.      biotic
> 4.      scientific, philosophical, and educational
> 5.      aesthetic
> 6.      social
> 7.      negative
>
> Biological value of wildlife is the contribution of wildanimals to
> productive ecosystems.Wildlife are part of the complex biotic
> machinery of ecosystems that we rely on for food, water,
fertilizer
> and aesthetic and recreational value.
> Terlalu berharga bila sampai pada kepunahan.....tetapi juga
terlalu
> sulit untuk sama sama kita pahami dari kaca mata yang  berbeda....
> dan sah sah saja.
> Terimakasih.....
> Maaf saya postingnya dikit dikit....
> (rahasia nih....aku duduknya berhadapan dengan senseiku di satu
> ruangan yang sama....)
>
> Hj.Bainah Sari Dewi
> Laboratory of Forest Biological  Conservation Forestry Departement
> Faculty of  Agriculture Tokyo University of Agriculture and
> Technology (TUAT)
> Saiwaicho Fuchu Shi Tokyo  JAPAN 183 0054
> laboratory phone : 81 42 367 5746
> dormitory phone 81 42 367 5550 (via operator)
> mobile phone 81 9061242403
> mobile phone email : [EMAIL PROTECTED]
> email : [EMAIL PROTECTED]
> yahoo mess : [EMAIL PROTECTED]
> http://www.geocities.com/bainahdewi/bainahsaridewi.html
> http://www.geocities.com/bainahdewi/ mypage.html
>
>
>
> > ini berbeda-beda dari tempat pertempat, juga dari kondisi akhir
> > hutan tersebut rusak (misalnya pemadatan tanah karena logging,
> > pengikisan tanah karena erosi, dll). Jadi mungkin orang ekologi
> akan
> > bilang bahwa kalau hutan alam kita diamkan saja pun akan menjadi
> > hutan lagi. Saya pernah membaca sedikit tulisan Prof. Otto
> Sumarwoto
> > bahwa hutan alam itu tidak usah ditanami karena bakal tumbuh
> > sendiri. Cuma yang perlu digaris bawahi di sini adalah bahwa
betul
> > hutan bisa bersuksesi secara alami, tapi apakah suksesi alami
ini
> > akan tetap bergerak linear ke arah mature forest apabila
pengaruh
> > manusia sangat significant dalam perusakannya. Demikian juga
> suksesi
> > akan sangat sulit pada daerah rawan (vulnerable) kebakaran
hutan.
> > Jadi sudah jelas di sini peran manusia sebagai orang yang pernah
> > mengeksploitasi hutan juga harus berubah fungsi sebagai perawat
> > hutan. Untuk mensuksesi hutan alam, manusia juga harus turut
> > berperan serta dalam membangun kembali hutan.
> > Sebenarnya sudah ada peraturan yang jelas pada waktu lalu
tentang
> > Dana Reboisasi yang seharusnya diperuntukkan untuk membangun
> kembali
> > hutan. Dana reboisasi ini dibayar oleh perusaan kepada
pemerintah
> > pusat per M3 kayu yang diambil, dan untuk pelaksanaan reboisasi
> > hutan pemerintah akan mengalokasikan dana ini kepada ke seluruh
> > daerah di Indonesia (lengkap
> >
>
di:http://www.cifor.cgiar.org/publications/pdf_files/descbrief/dilema
> > _kebijakan.pdf). Namun akhirnya karena kebijakan lain dari
> > pemerintah, maka Dana Reboisasi ini jadi di alokasikan untuk
> > keperluan lain di luar menanami kembali hutan. Juga dalam
> > pengaturannya kurang memperhatikan perimbangan antara daerah
> > penghasil kayu yang hutannya lebih perlu di tanami dengan daerah
> > yang kurang menghasilkan (hutannya lebih sedikit dieksploitasi).
> > Akhirnya dalam pelaksanaanya, dana reboisasi ini menjadi semakin
> > tidak jelas, dan kurang transparan. Padahal kalau kita mau
simple,
> > kenapa HPH harus bayar ke Pemerintah? Kenapa tidak HPH yang
> menanami
> > lagi, dan pemerintah tinggal melakukan fungsi pengawasan. Ini
kan
> > lebih efektif ya?
> > Tehnik-tehnik manajemen hutan yang appropriate dalam membangun
> hutan
> > kembali khususnya hutan tropis, mutlak di perlukan dan inilah
yang
> > menjadi tugas pokok para scientist di bidang kehutanan,
> silvikultur,
> > ekologi, biologi, konservasi, penginderaan jauh, GIS. Kemudian
ya
> > semua riset2 ini di sinergikan dan diaplikasikan. Cuma saya
masih
> > belum yakin kalau kondisi ideal ini bisa di aplikasikan di dunia
> > kehutanan kita sekarang.
> > Poin lain adalah bangun hutan tanaman untuk keperluan kayu dalam
> > negeri ataupun internasional dan peniadaan ijin konsesi untuk
HPH
> > (moratorium hutan). Manusia mutlak perlu sandang (kain), pangan
> > (makanan), dan papan (kayu). Jadi kalau kita terus menerus
> > menghabiskan hutan alam untuk kebutuhan manusia ya kondisinya
> > mungkin sama seperti menurut buku keluaran Forest Watch. Kita
> harus
> > mulai belajar bahwa untuk menebang satu pohon itu diperlukan
waktu
> > bertahun-tahun untuk menanam dan memeliharanya. Bayangkan, untuk
> > yang bagus misalnya jati, paling tidak perlu 40-50 tahun untuk
> masak
> > tebang (kecuali kita mau pake kayu sengon untuk bikin kusen..:p).
> > Dan yang terpenting adalah sama-sama menyatukan visi setiap
> > stakeholder di bidang kehutanan, Issunya satu, hutan kita bakal
> > habis dalam 20 tahun lagi, jadi kita mau apa nih? Kalau setiap
> insan
> > kehutanan memahami betul akan hal ini, maka bahu-membahu untuk
> > membangun kembali hutan adalah kunci utamanya. Tapi kalau visi
> kita
> > masih hutan itu sumber duit ya, Wassalam deh....
> >
> > salam,
> > Arief   
> >
> >
> > --- In [email protected], "m.affan fajar"
<[EMAIL PROTECTED]>
> > wrote:
> > > Bu dewi...
> > > 
> > > saya mau sedikit..nanya karena bidang saya bukan kehutanan....
> > > berkaitan dgn data bu dewi dibawah....dan tulisan pak arief
> > darmawan dan pak eko.....
> > >
> > > Data ini benar adanya (to omoimasu), menurut buku Forest Watch
> > 2004 _
> > > (lupa saya pengarangnya) 10 tahun yad Hutan dataran rendah di
> > > Sumatera akan musnah dan 2o tahun yad hutan dataran rendah di
> > > kalimantan juga musnah, bila pengelolaannya masih masih sama
> > dengan
> > > hari ini.
> > >
> > > Dapatkah pemerintah , rakyat , masyarakat dan penduduk di
> > Indonesia mencegah atau menghambat forecast dari buku tersebut?
> > karena perkiraan tsb sangat mengkhwatirkan  ....
> > > usulan pak arief dan pak eko...menurut saya dapat disinergikan
> dgn
> > pola kebijakan yang tepat dan memperhatikan masyarakat sekitar
> > hutan? , karena saya belum dan kurang tahu...apakah ada
kebijakan
> > yang saya maksud tsb? dan bagaimana peran scientist di bidang
> > kehutanan utk menanggulangi forecast buku tersebut?...mohon
> > pencerahannya....
> > > 
> > > affan
> > > kochi
> > >
> > > 
> > > __________________________________________________
> > > Do You Yahoo!?
> > > Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection
around
> > > http://mail.yahoo.com
>
>
>
>
>
=====================================================================
====
>                    "Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
> untuk Kesejahteraan Rakyat dan Kelestarian Sumber Daya Alam
Indonesia"
> -------------------------------------------------------------------
------
> Related homepages to IASA :
>            http://iasa-online.org
>            http://www.greendigitalpress.net/publications/ijas/
>
=====================================================================
====
>
>
>
> ---------------------------------
> YAHOO! GROUPS LINKS
>
>
>     Visit your group "iasa" on the web.
>  
>     To unsubscribe from this group, send an email to:
>  [EMAIL PROTECTED]
>  
>     Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of
Service.
>
>
> ---------------------------------
>
>
>
>            
> ---------------------------------
>  Start your day with Yahoo! - make it your home page




[EMAIL PROTECTED] (^o^)
Faculty of Forestry, Gadjah Mada University
Yogyakarta, Indonesia

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com


Start your day with Yahoo! - make it your home page

=========================================================================
                   "Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
untuk Kesejahteraan Rakyat dan Kelestarian Sumber Daya Alam Indonesia"
-------------------------------------------------------------------------
Related homepages to IASA :
           http://iasa-online.org
           http://www.greendigitalpress.net/publications/ijas/
=========================================================================




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke