ass wr wb

Maaf mas Arief, kayaknya diskusinya makin seru nih.
Gak pa-pa wong ingin mencari solusi terbaik kok. Ya
kan? Hmmm jika alasan manfaat langsung yang digunakan,
saya pikir itu sudah pasti. Sayapun tidak pernah
merasakan manfaat langsung dari keberadaan harimau
Jawa. Tetapi, saya ada contoh yang sangat riil.
Contohnya di bidang pertanian. Cobalah lihat kondisi
tanah persawahan di pulau Jawa dan Sumatra terutama
akibat pemakaian pupuk nitrogen kimia dan pestisida.
Studi kasus di Yogyakarta bagian selatan menunjukkan
bahwa kerusakan tanah akibat pemakaian kedua bahan itu
sudah mencapai ambang sulit untuk dikembalikan.
Alasannya, biaya untuk mengembalikan kerusakan
tersebut besar. Tetapi apakah kemudian kita diamkan
saja keadaan itu, dan bahkan melanjutkan proses
pengrusakan, karena nyatanya sampai sekarang proses
perusakan tersebut terus berjalan, sementara berdalih
karena mahal mending digunakan untuk membiayai
"pembangunan"? Saya  sangat tidak sependapat kalau
konservasi ditelantarkan dengan dalih dananya dapat
digunakan untuk hal-hal lain. Kita harus ingat bahwa
dana konservasi itu jauh lebih sedikit dibandingkan
dengan dana yang harus disediakan untuk mengembalikan
kondisi rusak menjadi seperti sediakala. Bagi saya,
biaya untuk konservasi mestinya tidak disangkutpautkan
dengan hal-hal lain, karena konservasi bertujuan untuk
menjaga agar kelestarian tetap terjaga, thus biaya
untuk perbaikan kerusakan bisa ditekan. Dan saya juga
berpikir, bila hutan sekarang dikelola monokultur
kemudian mengakibatkan punahnya spesies endemik,
apakah kekayaan yang didapatkan dari hasil hutan itu
juga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat luas (yang
miskin terutama). Saya tidak yakin, wong dana GNRLH
saja dikorupsi besar-besaran kok. Iya kan. Tetapi saya
yakin, meskipun sistem kita luar biasa korup, harus
tetap dijaga semangat untuk melawannya. Sekali lagi,
bagi saya konservasi jauh lebih mudah dilakukan
daripada memperbaiki kerusakan yang bakal terjadi
karena menerlantarkan konservasi.

wass wr wb

--- riefcons <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Wah, ternyata masih ada juga yang berpikir kalau
> Harimau Jawa itu 
> penting...(^_^)v...
> Saya cuma mau rekan-rekan berpikir real, apakah
> benar kita merasakan 
> secara langsung ataukah tidak langsung bahwa harimau
> Jawa itu 
> penting? Misalnya kalau Harimau Jawa masih ada
> (belum punah) apakah 
> kita benar-benar bisa menilai intangible value dari
> keberadaan 
> kucing besar itu? Berita terakhir tentang penemuan
> jejak Harimau 
> Jawa adalah sekitar tahun 1991 di Taman Nasional
> Meru Betiri Jember 
> (Dulu masih Cagar Alam) kemudian setelah itu belum
> pernah lagi ada 
> berita2 terbaru tentang penemuan jejaknya,
> kotorannya, ataupun bekas 
> kukunya sampai sekarang(mohon dikoreksi kalau
> salah). Nah dalam 
> kurun waktu tersebut saya kira banyak orang yang tak
> peduli, toh 
> manusia masih memikirkan bagaimana bisa makan besok,
> atau bagaimana 
> anak saya bisa sekolah, atau bagaimana saya bisa
> memperbesar rumah. 
> Memang masih ada juga orang yang peduli tentang
> keadaan Harimau Jawa 
> tetapi tetap pada tataran normatif yang menjelaskan
> nilai konservasi 
> dari sisi intangible value. Saya sendiri setuju
> tentang pemikiran 
> normatif tentang konservasi, akan tetapi mari kita
> lihat ke keadaan 
> rakyat Indonesia yang sampai ada menggendong2
> anaknya yang sudah 
> meninggal karena tidak punya uang untuk
> menguburkannya. Apakah 
> konservasi dapat berjalan ketika rakyat di
> sekelilingnya kekurangan 
> makan, kurang gizi, kurang makan? Kalau misalnya
> saya jadi mereka 
> mungkin lebih baik saya buru harimau lalu saya jual
> kulitnya dan 
> dagingnya, harganya mahal, bisa untuk makan sampai
> beberapa hari.  
> , tapi Ketika negara maju meributkan tentang
> banyaknya   
> Saya kira sampai saat ini yang disebut konservasi
> itu masih bersifat 
> normatif dan belum sampai pada kalkulasi fungsi dari
> konservasi itu 
> sendiri secara riil. Saya kira semua orang akan
> percaya kalau 
> misalnya konservasi sudah memberikan manfaat riil
> bagi masyarakat, 
> tidak kelaparan, dan memiliki economic value lebih
> besar daripada 
> harus tidak mengkonservasi. Saya kira itulah
> tantangan dunia 
> konservasi di masa depan, jangan hanya berkutat di
> tataran normatif. 
> Apakah kita bisa? 
> Maaf juga bila kurang berkenan......
> 
> Salam,
> 
> Arief Darmawan
> Lab. of Global Forest Environment Studies
> The University of Tokyo 
> 
>
------------------------------------------------------------
>  
> saya pikir kita salah besat bila berpikir demikian.
> Jika kita ingat 
> food web relationship, kita akan paham nilai salah
> satu mata rantai 
> web tersebut. Jadi, meskipun manusia secara langsung
> tidak 
> terpengaruh oleh keberadaan harimau, tetap saja,
> harimau mempunyai 
> nilai, terutama sebagai pengendali populasi
> herbivora mangsanya. 
> Saya teringat suatu kisah, saya lupa negaranya.
> Tetapi kisah ini 
> menceritakan bahwa hilangnya predator menyebabkan
> berkembangnya 
> populasi kelinci dan herbivora lain, sehingga
> menghancurkan lahan 
> pertanian. Jadi kalau sudah begini, coba bagaimana
> tindakan kita? 
> Saya pikir dekan ekonomi itulah yang belum memahami
> nilai 
> konservasi. Hutan diusahakan bukan hanya untuk
> dieksploatasi 
> (memikirkan nilai ekonomi kayunya saja), tetapi
> dampak lain dari 
> hutan yang tidak dikelola dengan baik nilainya lebih
> besar daripada 
> sekedar nilai batangan kayu. Saya ingat perdebatan
> panjang tentang 
> kondisi hutan Jepang yang sekarang katanya berubah
> menjadi 
> monokultur (hutan konifer), yang
> >  ternyata dampak negatifnya luar biasa. Jadi mari
> kita berpikir 
> global, bukan hanya menuruti ego sektoral. Maaf bila
> tak berkenan.
> > 
> > wass wr wb
> > 
> > Nugroho Susetya Putra
> > 
> > Laboratory of Animal Ecology
> > 
> > Yamagata University
> > 
> > 
> >
> 
> 
> 
> 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


=========================================================================
                   "Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 
 untuk Kesejahteraan Rakyat dan Kelestarian Sumber Daya Alam Indonesia"
-------------------------------------------------------------------------
Related homepages to IASA : 
           http://iasa-online.org
           http://www.greendigitalpress.net/publications/ijas/
========================================================================= 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/iasa/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke