mBah,
Kemarin itu ceritanya pakai komputer lain, terus cepet cepetan bikin
account, eh salah tulis jadi Press, lengkapnya sebenarnya Press Release,
tapi begitu hanya ketulis sepotong, ya bagus juga, artinya bisa pers bisa
tekanan, tergantung amalan-lah.
Ini lho mBah, satu lagi perbuatan kontra produktip akibat system yang begini
ini.
Guru itu demo kan karena merasa penghasilannya kurang. Solusinya ya harus
ditambah. Jadi berapa? Ini masalahnya. Nah selain guru, apa yang lain sudah
nggak kurang? Jadi pantas diduga bakal ada serial demo nuntuk perbaikan
penghasilan. Apa bedanya dengan deretan pengamen disetiap traffic light!
Kalau mau sederhana, ya biar saja mereka masing masing menetapkan gajinya
sendiri. Gitu aja kok repot. Sudah tua, diperankan ngajari eh mendidik tunas
bangsa, kok besarnya gaji saja pakai diatur segala. Kan kontradiktip. Masak
sih orang yang sudah dipercaya mendidik masih perlu diatur atur kayak anak
kecil gitu? Biar sajalah mereka menetapkan gajinya sendiri. Paling paling
berapa sih? Akhirnya kan nilai kepantasan juga yang berlaku.
Sayang aku bukan ketua DEN. Cobako begitu urusan negara kan nggak rumit
begini. Everybody happy.
Ada persyaratan memang, untuk main bebas bebasan begini, tapi nggak sulit,
karena situasi kejiwaan masyarakat sudah mendukung untuk itu.
Semoga kelak ada wacananya untuk itu. Kalau untuk ngusul ngusul keatas sana,
kagak la yaoo.
Gus Dur telah meletakkan infrastruktur bernegara secara waras. Hanya ring
satu ring dua dan ring ring berikutnya yang diberi kesempatan pegang kuasa
itu masih telmi banget, sehingga menghasilkan tindak yang kontra produktip.
Saya maklum sekali kalau Gus Dur sering keluyuran lintas benua, minimal
untuk menjaga keseimbangan jiwanya, agar tidak makin bodoh. Coba lihat,
diluar sana, apa yang dibilangnya mudah saja diserap oleh lawan bicaranya,
dan tidak disalah artikan. Clinton saja diajak guyon 80 menit dan ngakak
melulu, karena memang telalu banyak yang perlu ditertawakan di Indonesia
ini. Gus Dur butuh teman ngobrol setara Clinton atau Castro untuk alasan
kesehatan jiwanya. Disini, ya ampuun, susah banget cari orang yang bisa
nangkep maksudnya. Makanya daripada kena virus blo'on, mendingan klayaban
saja, menikmati angin pantai di Cancun, mengisap cerutu Havana, menikmati
musik etnik di Pretoria, atau hingar bingar pub disekeliling champs du
elysee.
Biar saja yang ngancam silahkan ngancam, yang sewot silahkan sewot, wong
nggak pernah ada tindakan apa apa kok. Setiap mau keluar negeri selalu ada
yang teriak 'jangan', tapi kalau nggak direken ya lewat begitu saja. Yang
katanya mau menjewerlah, mau menegurlah, mau mengingatkanlah. Prek, anjing
menggonggong kafilah berlalu.
Lho sampai membela komunispun, yang jelas jelas melawan Tap MPR, juga
reaksinya cuma rangkaian demo demo. Nggak ada yang secara konkrit
menginisiatifi Sidang Umum Luar Biasa MPR. DPR pun duduk manis dengan
takzimnya. Jadi, siapa yang bego siapa yang bloon. Kelamaan kumpul yang
beginian yang repot mas. Orang ex PKI-nya pun gobloknya nggak ketulungan.
Wong jelas tahun 1965 itu yang banyak membantai orang yang diduga PKI itu
Ansor atau Banser gitu (tanpa pengadilan!), lha kok malah Gus Dur bilang
mengampuni keturunan PKI, mereka diam saja. Apa nggak kebalik tuh? Mestinya
kan malah Gus Dur yang minta maaf. Dasar, kebanyakan makan pil bengong.
Sudah mBah, nggak usah tersesat dirantingnya, kita lihat pohonnya, atau
bahkan hutannya, supaya nggak kejebak dalam masalah yang bukan masalah, atau
bukan akar masalah.
Guru, impor hakim, impor gula/beras, pemilihan Bupati, kasus 27 juli, ambon,
priok, aceh, tarip angkutan umum dan deretan issue aktual tajam dan
terpercaya itu kan cuma kembang kembangnya kehidupan.
Kepanjangan ya, udah dulu aaah, hemat bandwidth.
yap
----- Original Message -----
From: mBah Soeloyo <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, April 12, 2000 4:41 AM
Subject: [Kuli Tinta] guru!
> biarin memperkosa judul. diganti dengan satu kata GURU!
>
> koh,
> hari ini aku terkejut, menerima posting dengan header PRESS.
> tak kira mulai ada sweeping dari kalangan press eh salah pers ya?
> atas netter's-2 ndugal. namun setelah membaca ada kata-kata
> "ngarit", nggak jadi tuh terkejutnya. malah pindah ke artikel berita
> di suaramerdeka.com yang secara acak tak comot begini,
> ---------------
> Para pahlawan tanpa tanda jasa itu bahkan mengancam akan mogok
> mengajar dan memboikot EBTA dan ebtanas, jika pemerintah dan DPR tak
> memperhatikan nasib mereka yang masih terlunta-lunta.
> Setelah berorasi dan aksi humor, antara lain seorang guru menaiki
> sepeda dengan memboncengkan rekan seprofesi yang berpakaian anak SD,
> wakil mereka diterima Wakil Ketua DPR RI Muhaimin Iskandar.
> ----------------
> sampai dlongop aku.
> lha kok begitu sih ya dunia per-guru-an kita sekarang ini.
> maklum aku ini termasuk anak-cucu kaum guru itu. yang dulu
> begitu terhormatnya, sehingga mendapat sebutan kebangsawanan
> DEN, jadi entah bagaimanapun asalnya, begitu ketahuan menjadi
> guru, langsung dipanggil DEN GURU. (sering juga buat nakut-nakutin
> anak kecil bila rewel..."awas didukani den guru lho, kalau rewel...."
> hehehe...).
>
> terkejut aku,
> karena kemarin ada kabar bahwa banyak professor juga protes.
> mempermasalahkan tunjangan fungsionalnya yang katanya minim.
> (padahal berfungsinya professor sekarang ini kan minim juga ya?
> paling ke kampus seminggu 2-3 kali seminggu, terus kalau ngajar
> mirip mesin fotokopi. mentransfer ngelmunya orang lain, yang
> kadang-kadang usianya jauuuh lebih muda dari beliau-2. atau
> malah nyambi jadi politikus, pengamat, penulis amatiran dll)
> jadi, terkejutnya daku kala itu.. lho kok nggak pada nggrayangi
> githok sendiri (meraba tengkuk sendiri). atau takut kalau tahu
> bahwa tengkuknya banyak "daki" dan "kurap" penyalahgunaan
> professi? ndak tahu aku.
>
> sekarang benar-benar terpana dan nggrantes.
> sementara pahlawan tanpa tanda jasa sibuk mendemo kebijakan
> pemerintah.... rupanya banyak "pahlawan tak berjasa" malah
> sibuk meramaikan urusan. (termasuk daku..... hehehee..)
>
> tapi juga senang, lho? habisnya, dasar guru-guru yang sering
> gurudukan. lha menyampaikan keluhan mengenaskan kok
> masih sempat-sempatnya "ngelawak" hehee.... kan jadi segar
> ya, koh?
> juga senang, karena aku punya alasan, seandainya nanti diprotes
> oleh khalayak... "heee... guru soeloyo.... kenapa anak didikmu
> mejen semua... membleh kaya krupuk udang dicelup rawon semua?"
> kan aku jadi punya alasan: "perbaiki dulu dong nasib gurunya...
> sebelum
> mempertanyakan mutu hasil didikannya... " hahahaa...
>
> salam,
> Soelojo
> moderator ML JOWO WOJOSETO
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!