Ysh. Bung Dwiagus, Bung Aunur, Pak Wawo, dan rekan milis lainnya
Sebetulnya konsep yang saya tawarkan untuk subjek di atas sangatlah simple
yaitu Konsep Fiskal (penggunaan Konsep Fiskal ini asumsinya Daerah Tertutup.
Daerah Terpencil cukup memenuhi sebagai Daerah Tertutup. Ini nanti terkait
dengan pertanyaan Bung Aunur yang saya akan jelaskan kemudian) . Saya tidak
menggunakan konsep tata ruang untuk daerah terpencil karena "disability" daerah
terpencil ada pada aspek ketataruangan (mengacu pada Biehl). Tetapi saya tetap
ingin membuat agar syaraf ketataruangannya daerah muncul melalui terapi-terapi
fiskal dalam ukuran waktu yang tidak pendek (bertahap).
Inti konsepnya adalah menambah uang inti di daerah yang berasal dari belanja
pemerintah daerah. Karena hanya itu potensi yang ada. Pertanyaan Bung Agus,
belanja apa sih yang bisa me-leverage perekonomian daerah? Saya tahu ada
beberapa jenis belanja yang lebih efektif me-leverage perekonomian daerah,
tetapi saya tidak ingin merincinya. Jadi semua jenis belanja saya anggap bisa
me-leverage perekonomian, baik itu Belanja Pegawai, Belanja Barang, Belanja
Modal, Belanja untuk daerah bawahan, Belanja Tak Tersangka (pokoknya semua
jenis belanja sebagaimana diatur dalam Permendagri 13/2007), dan juga
Pengeluaran Pembiayaan (semacam memberi pinjaman kepada masyarakat). Yang
penting bahwa semua belanja itu sejauh mungkin jatuh di tangan masyarakat,
bukan orang luar, mulai dari kenaikan gaji pegawai, belanja barang yang semua
disediakan masyarakat, belanja investasi yang realisasinya dilaksanakan
masyarakat (kontraktor kecil) setempat dan dampaknya bisa memicu kegiatan usaha
bagi potensi-potensi setempat, serta pembiayaan yang dapat dimanfaatkan untuk
mengolah potensi ekonomi setempat. Jadi semua belanja dan secara terus menerus
volumenya ditingkatkan. Dengan demikian terjadi multipllier effect di daerah
dengan entropi uang beredar yang luar biasa. Secara bertahap (ini bisa
dijelaskan dengan Teori Fiskal yang tidak jadi saya berikan, karena cukup
rumit) perkembangan ekonomi akan terjadi dan secara bertahap pula syaraf
ketataruangan baru akan muncul, antara lain : kebutuhan prasarana regional,
kebutuhan komunikasi, kebutuhan pranata modern, kebutuhan pelaku usaha luar
daerah, dan banyak kebutuhan yang skalanya sudah mulai outward.
Daerah-daerah terpencil yang ada sekarang ini sebenarnya bukan tipe "virgin"
yang "stand alone" sebagaimana saya asumsikan sebagai daerah tertutup, tetapi
sudah mulai pada tahapan "dewasa", tapi belum "dewasa-dewasa amat" (semacam ABG
gitu loh). Saya ingin daerah-daerah ABG ini diterapi secara fiskal lebih
intensif lagi. Karena apa? Sebab Kebijakan Fiskal sebelum otonomi daerah
(sebelum tahun 2000), volume fiskalnya sangat rendah melalui "transfer of
payment" semacam inpres-inpres. Sedangkan sekarang sudah block grant dengan
volume yang jauh lebih besar (sekitar 3-4 kalinya) dan dikelola oleh daerah
sendiri.
Nah, selanjutnya terkait dengan komentar Bung Aunur, bagaimana dengan
kebocoran-kebocoran uang inti yang ada di daerah? Justru kebocoran-kebocoran
itu yang saya harapkan asalkan kebocoran itu bagian dari proses ekonomi yang
terbuka, kompetitif, dan efsien; bukan kebocoran yang mengada-ada (tidak
efisien, misalnya belanja mobil mewah, pejabatnya suka plesir, belanja rumah,
dsb yang bersifat pemborosan). Kebocoran-kebocoran uang inti itu menunjukkan
tumbuhnya syaraf-syaraf ketataruangan dan menunjukkan kemajuan ekonomi "pull
factor" suatu daerah. Dalam rumusnya Biehl (RDP = f {L,A,S,I}), adanya
"kebocoran"itu menunjukkan terbentuknya interaksi ruang dengan daerah-daerah
sekitarnya, atau istilah kerennya adalah Sistem Kota (variabel A dari rumusnya
Biehl).
Dengan demikian dalam Konsep Fiskal ini, maka yang paling berperan adalah para
pengambil keputusan (ekesekutif dan legislatif daerah) yang harus mempunyai
persepsi yang sama terhadap pembangunan daerah terpencil melalui kebijakan
fiskalnya. Janganlah tergoda pada konsep yang bersifat lompatan-lompatan besar
untuk mengejar daerah-daerah lain yang sudah lebih maju, tetapi lebih pada
inward focusing on dan berproses secara bertahap dan alami.
Thanks. CU. BTS.
----- Original Message -----
From: B. Dwiagus Stepantoro
To: [email protected]
Sent: Friday, August 31, 2007 3:53 PM
Subject: Re: [referensi] Membangun Daerah Terpencil
Pak BTS,
Mungkin bisa dijelaskan lagi contoh-contoh belanja daerah yang meleverage
perekonomian daerah,.... seperti apa sih, pak.
Maklum saya amatir.
Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Jadi strateginya adalah bagaimana Strategi Belanja yang bisa me-leverage
pertumbuhan ekonomi daerah terpencil (jangan bandingkan pertumbuhan ekonomi
seperti daerah yang sudah berkembang, dan jangan juga membayangkan pertumbuhan
menjadi metropolitan), yaitu pertumbuhan yang memberdayakan masyarakat di
bidang usaha ekonomi dan akses pelayanan. Jadi belanjakan sebanyak mungkin
untuk sasaran-sasaran ini dan selanjutnya dengan belanja pemerintah daerah ini
bisa menambah "uang inti" di daerah. Dari uang inti inilah diharapkan terjadi
"efek berantai" atau "multiplier effect" ekonomi yang sangat dinamis di daerah
terpencil.
B. Dwiagus Stepantoro
Jakarta, INDONESIA
http://bdwiagus.blogspot.com
Just be open,... who knows lightning will strike!!
------------------------------------------------------------------------------
Pinpoint customers who are looking for what you sell.