Milister, terutama mas BTS ysh,
Karena pekerjaan saya mendorong pertumbuhan daerah terpencil, saya ingin dapat 
masukan tentang lebih banyak tentang konsep yang dikemukakan oleh BTS, sehingga 
daerah terpencil tadi akhirnya bisa tumbuh dan berinteraksi dengan daerah lain, 
secara wajar (maksudnya hukum pasar). Daerah terpencil yang tertutup masih 
cukup banyak seperti Tolikara, Peg Bintang, Puncak Jaya, Mappi, Kep Aru, Maluku 
Tenggara Barat, kalau tingkat kecamatan akan lebih banyak lagi. Saya pernah 
ditanya oleh Menteriku waktu ke Mentawai, apakah daerah ini rakyatnya bisa 
sejahtera, karena daerah miskin tersebut pertumbuhannya kurang dari 4% per 
tahun. Saya hanya bisa bilang, kan masih ada pertumbuhan pak!!. 
Milister ysh, memang kita perlu membahas daerah yang bisa cepat tumbuh dengan 
penataan ruang, tapi apa kata mas BTS, kita juga perlu membangun daerah 
"terpencil" yang hanya dapat tumbuh dengan fiskal (dan itu ternyata sangat 
buanyak) yang mungkin dalam beberapa puluh tahun ke depan masih sedikit 
interaksinya dengan daerah yang lebih terbuka. Misalnya apakah kita perlu 
membangun kota "kecil" di pegunungan bintang supaya aparat pemerintah dan 
masyarakat betah tinggal disana. Menko kesra sekarang sedang mencoba membuat 
kota "sangat kecil" tersebut di Kabupaten Tolikara. Ini diperuntukkan bagi 
anggota OPM yang turun gunung dan ingin mempunyai pemukiman sendiri. Konsep 
kota kecil ini persis seperti yang di terangkan oleh Mas BTS, yang jadi 
pertanyaan adalah aktifitas ekonomi apa saja yang bisa dikembangkan pada daerah 
terpencil tsb (seperti pertanyaan bung dwi agus)? apakah fiskal itu diperlukan 
mengingat daerah tersebut begitu tertutp? Sekarang mereka
 melakukan dengan sistem barter. Alat transportasi untuk mencapai wilayah 
tersebut "by foot" selama 2 hari setelah naik pesawat dari Wamena mendarat di 
ibukota Tolikara yang sangat indah itu.
salam

----- Original Message ----
From: Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, September 2, 2007 8:26:26 PM
Subject: Re: [referensi] Membangun Daerah Terpencil


Ysh. Bung Dwiagus, Bung Aunur, Pak Wawo, dan rekan milis lainnya
 
Sebetulnya konsep yang saya tawarkan untuk subjek di atas sangatlah simple 
yaitu Konsep Fiskal (penggunaan Konsep Fiskal ini asumsinya Daerah Tertutup. 
Daerah Terpencil cukup memenuhi sebagai Daerah Tertutup. Ini nanti terkait 
dengan pertanyaan Bung Aunur yang saya akan jelaskan kemudian) . Saya tidak 
menggunakan konsep tata ruang untuk daerah terpencil karena "disability" daerah 
terpencil ada pada aspek ketataruangan (mengacu pada Biehl). Tetapi saya tetap 
ingin membuat agar syaraf ketataruangannya daerah muncul melalui terapi-terapi 
fiskal dalam ukuran waktu yang tidak pendek (bertahap). 
 
Inti konsepnya adalah menambah uang inti di daerah yang berasal dari belanja 
pemerintah daerah.  Karena hanya itu potensi yang ada. Pertanyaan Bung Agus, 
belanja apa sih yang bisa me-leverage perekonomian daerah? Saya tahu ada 
beberapa jenis belanja yang lebih efektif me-leverage perekonomian daerah, 
tetapi saya tidak ingin merincinya. Jadi semua jenis belanja saya anggap bisa 
me-leverage perekonomian, baik itu Belanja Pegawai, Belanja Barang, Belanja 
Modal, Belanja untuk daerah bawahan, Belanja Tak Tersangka (pokoknya semua 
jenis belanja sebagaimana diatur dalam Permendagri 13/2007), dan juga 
Pengeluaran Pembiayaan (semacam memberi pinjaman kepada masyarakat). Yang 
penting bahwa semua belanja itu sejauh mungkin jatuh di tangan masyarakat, 
bukan orang luar, mulai dari kenaikan gaji pegawai, belanja barang yang semua 
disediakan masyarakat, belanja investasi yang realisasinya dilaksanakan 
masyarakat (kontraktor kecil) setempat dan dampaknya bisa memicu
 kegiatan usaha bagi potensi-potensi setempat, serta pembiayaan yang dapat 
dimanfaatkan untuk mengolah potensi ekonomi setempat. Jadi semua belanja dan 
secara terus menerus volumenya ditingkatkan. Dengan demikian terjadi 
multipllier effect di daerah dengan entropi uang beredar yang luar biasa. 
Secara bertahap (ini bisa dijelaskan dengan Teori Fiskal yang tidak jadi saya 
berikan, karena cukup rumit) perkembangan ekonomi akan terjadi dan secara 
bertahap pula syaraf ketataruangan baru akan muncul, antara lain :  kebutuhan 
prasarana regional, kebutuhan komunikasi, kebutuhan pranata modern, kebutuhan 
pelaku usaha luar daerah, dan banyak kebutuhan yang skalanya sudah mulai 
outward.
 
Daerah-daerah terpencil yang ada sekarang ini sebenarnya bukan tipe "virgin" 
yang   "stand alone" sebagaimana saya asumsikan sebagai daerah tertutup, tetapi 
sudah mulai pada tahapan "dewasa", tapi belum "dewasa-dewasa amat" (semacam ABG 
gitu loh).  Saya ingin daerah-daerah ABG ini diterapi secara fiskal lebih 
intensif lagi. Karena apa? Sebab Kebijakan Fiskal sebelum otonomi daerah 
(sebelum tahun 2000), volume fiskalnya sangat rendah melalui "transfer of 
payment" semacam inpres-inpres. Sedangkan sekarang sudah block grant dengan 
volume yang jauh lebih besar (sekitar 3-4 kalinya) dan dikelola oleh daerah 
sendiri. 
 
Nah, selanjutnya terkait dengan komentar Bung Aunur, bagaimana dengan 
kebocoran-kebocoran uang inti yang ada di daerah? Justru kebocoran-kebocoran 
itu yang saya harapkan asalkan kebocoran itu bagian dari proses ekonomi yang 
terbuka, kompetitif, dan efsien;  bukan kebocoran yang mengada-ada (tidak 
efisien, misalnya belanja mobil mewah, pejabatnya suka plesir, belanja rumah, 
dsb yang bersifat pemborosan). Kebocoran-kebocoran uang inti itu menunjukkan 
tumbuhnya syaraf-syaraf ketataruangan dan menunjukkan kemajuan ekonomi  "pull 
factor" suatu daerah. Dalam rumusnya Biehl (RDP = f {L,A,S,I}), adanya 
"kebocoran"itu menunjukkan terbentuknya interaksi ruang dengan daerah-daerah 
sekitarnya, atau istilah kerennya adalah Sistem Kota (variabel A dari rumusnya 
Biehl). 
 
Dengan demikian dalam Konsep Fiskal ini, maka yang paling berperan adalah para 
pengambil keputusan (ekesekutif dan legislatif daerah) yang harus mempunyai 
persepsi yang sama terhadap pembangunan  daerah terpencil melalui kebijakan 
fiskalnya.  Janganlah tergoda pada konsep yang bersifat lompatan-lompatan besar 
untuk mengejar daerah-daerah lain yang sudah lebih maju, tetapi lebih pada 
inward focusing on dan berproses secara bertahap dan alami.  
 
Thanks. CU. BTS.
 
 
 
 
----- Original Message ----- 
From: B. Dwiagus Stepantoro 
To: [email protected] 
Sent: Friday, August 31, 2007 3:53 PM
Subject: Re: [referensi] Membangun Daerah Terpencil


Pak BTS,

Mungkin bisa dijelaskan lagi contoh-contoh belanja daerah yang meleverage 
perekonomian daerah,.... seperti apa sih, pak.
Maklum saya amatir.

Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED] id> wrote: 
Jadi strateginya adalah bagaimana Strategi Belanja yang bisa me-leverage 
pertumbuhan ekonomi daerah terpencil (jangan bandingkan pertumbuhan ekonomi 
seperti daerah yang sudah berkembang, dan jangan juga membayangkan pertumbuhan 
menjadi metropolitan) , yaitu pertumbuhan yang memberdayakan masyarakat di 
bidang usaha ekonomi dan akses pelayanan. Jadi belanjakan sebanyak mungkin 
untuk sasaran-sasaran ini dan selanjutnya dengan belanja pemerintah daerah ini 
bisa menambah "uang inti" di daerah. Dari uang inti inilah diharapkan terjadi 
"efek berantai" atau "multiplier effect" ekonomi yang sangat dinamis di daerah 
terpencil.  
 








B. Dwiagus Stepantoro   
Jakarta, INDONESIA
http://bdwiagus. blogspot. com 
Just be open,... who knows lightning will strike!!


Pinpoint customers who are looking for what you sell. 



       
____________________________________________________________________________________
Need a vacation? Get great deals
to amazing places on Yahoo! Travel.
http://travel.yahoo.com/

Kirim email ke