Rekan rekan BTS, Aunur, dan milis lainnya, 
   
  Semestinya  pembahasan dasar masalah  'membangun daerah terpencil' yang telah 
dikemukakan oleh  BTS, sedikitnya memerlukan diskussi yang se sungguh serious 
mungkin, hal ini saya tidak sangsikan dalam milis ini, tetapi media internet 
walaupun sangat effisien kadang-kadang mengurangi kedalaman atau depth, tapi 
sebetulnya itu juga tidak usah merupakan problema bagi kita. Saya ingin mencoba 
secara singkat saja dahulu
   
  Pendekatan Biehl/Rondinelli  mungkin saya ingin elakkan, walaupun 
bagaimanapun kita tidak bisa melepaskan diri dari ekonomi regional dan lebih 
lagi masalah financing. Yang ingin saya coba adalah mungkin melanjutkan analisa 
LAS dan SMART rekan BTS ini serta mengkaitkannya dengan observasi rekan Aunur, 
yang merindukan akan punahnya budaya nasi tiwul, ikan asin, jeruk nipis,  
maupun atap rumbia, ataupun arsitektur rumah atau kapal  kayu asli, terhadap 
gelombang indomie, coca cola, fiberglass, atau bahan bangunan yang 
techno-industrial mungkin lebih unggul tapi barangkali tidak terlalu 'smart' 
(cerdas). 
   
  Barangkali juga ada semacam 'arus balik'  dari selera consumer sekarang atau 
masa depan. Kelihatannya nasi tiwul, gudeg kranggan, ataupun tinutuan dan sagu 
akan ada comeback-nya in the most exclusive dining circles, begitu pula mungkin 
atap rumbia tidak saja untuk post traditional tourist nomads, atau kapal pinisi 
kayu,  namun memang tetap 'exclusive' . Memang in the meantime begitu banyak 
sampah yang masih kita produksi untuk konsumen yang begitu serakah,  sehingga 
terpaksa dicari pemecahan daur ulang lagi. Tapi ini lagi menjadi masalah 
teknologi entah yang terlampau cepat atau justru terlalu tahan lama seperti  
infrastruktur yang rada underutilized.  Wah, kayaknya kita jadi bingung 
sendiri. 
  Salam sabtu dari Tomohon, Pak Wawo.  

Aunur rofiq <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
              Mas BTS ysh,
  Saya merasa senang mendapat pencerahan tentang daerah terpencil ini, karena 
banyak daerah di Indonesia ini yang tidak mungkin berkembang tanpa "membangun 
dengan fiskal". 
  Tapi sayang belanja pemerintah maupun belanja masyarakatnya menyebabkan dana 
cepat keluar lagi, beberapa daerah bahkan mencapai 80-95 % uangnya kembali ke 
kota-kota besar dalam waktu yang sangat cepat sehingga "uang inti" yang dapat 
menggerakkan ekonomi daerah tidak ada.
  saya masih mengharap daerah terpencil dalam belanja pangan, energi dan bahan 
bangunan berasal dari produksi setempat, tapi kenyataannya banyak ditemukan di 
warung, kantor pemerintah maupun di rumah2, barang-barang dari luar daerah 
seperti indomie, soft drink, air minum kemasan, roti, minyak tanah, solar, 
premium, atap seng, keramik dll termasuk ember dan gayung plastik.. ditambah 
mobil, sepeda motor dan kapal dari fibre glass, jadi saya mikir, apalagi yang 
bisa dihasilkan oleh daerah terpencil ini untuk menambah "uang inti". Sekarang 
sudah tidak ada gayung dari batok kelapa, tidak ada atap dari rumbia dan tidak 
ada sarapan nasi tiwul dan ikan asin (adanya indomie dan snack) minumnya tidak 
lagi air kelapa atau air jeruk nipis tapi sudah coca-cola. perahunya juga bukan 
dari kayu tapi dari fiber glass
  salam


  ----- Original Message ----
From: Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Friday, August 31, 2007 10:23:28 AM
Subject: [referensi] Membangun Daerah Terpencil

  MEMBANGUN DAERAH TERPENCIL
   
  Indonesia yang begitu luas dan kepulauan ini dipastikan banyak daerah-daerah 
yang tergolong terpencil. Yang dimaksud daerah terpencil adalah daerah yang 
interaksi ruang (spatial interaction) dengan daerah-daerah lain sangat lemah. 
Menurut Biehl (1986, Rondinelli, A Regional Investment Model for Infrastructure 
in Indonesia) bahwa pegembangan daerah ditentukan oleh jarak dari pusat 
kegiatan ekonomi (L), sistem kota (A), sektor unggulan (S), dan prasarana atau 
investasi (I). Jadi Regional Development Potential (RDP) = f (L,A,S,I). Oleh 
karena daerah-daerah terpencil itu lemah dalam jarak dari pusat kegiatan 
ekonomi (L) dan sistem kota (A), maka bisa dimengerti kalau  daerah-daerah 
terpencil secara ekonomi terbelakang (daerah terbelakang). 
   
  Kalau kita percaya pada Biehl, maka peluang membangun daerah terpencil 
tinggal bertumpu pada adakah sektor unggulan (S) dan seberapa jauh prasarana 
atau investasi (I) bisa disediakan. Seperti diketahui bahwa sebagian 
daerah-daerah terpencil yang jauh dari L dan S, tetapi memiliki potensi SDA 
yang bernilai ekonomis, misalnya minyak, batu bara, gas, hutan, emas, dan 
lain-lain. Daerah-daerah semacam ini secara ekonomi bisa maju sepanjang potensi 
SDAnya masih ekonomis. Tetapi bilamana SDAnya yang tidak terbarui itu habis, 
daerah itu kembali stagnan. Contohnya Pulau Singkep (kotanya Dabo Singkep). 
Sebagian besar daerah-daerah terpencil di Indonesia ini tidak mempunyai SDA 
yang dimaksud. Tinggal yang jadi harapan adalah  faktor prasarana dan investasi 
(I). Sayangnya, faktor prasarana dan investasi itu tidak berdiri sendiri. Tidak 
ada alasan s.m.a.r.t  membangun prasarana atau menanam investasi pada daerah 
yang memang tidak berkembang.
   
  Pidato Presiden di depan DPD mengatakan "Paculah Ekonomi Daerah", seolah 
mengingatkan kita, bagaimana cara memajukannya? Yang dimaksud Presiden tentu 
bukan daerah-daerah yang sudah maju seperti di Jawa dan beberapa daerah di 
Indonesia Bagian Barat, dan bukan daerah terpencil yang mempunyai SDA ekonomis 
seperti di Kaltim, Riau, dan NAD, tetapi daerah terpencil yang tak punya 
apa-apa. Sudah terpencil, tidak punya SDA ekonomis lagi. Bagaimana membangun 
daerah-daerah semacam ini?
   
  Bagi the Planners, ataupun yang "the mlanner", sering punya senjata 
-->Rencana Tata Ruang (RTR)!! Kemudian, kalau Planner dihadapkan pada persoalan 
ini, maka langkahnya adalah menyusun Rencana Tata Ruang (RTR). Apa-apa 
ditataruangkan. Daerah yang sudah berkembang, daerah yang sedang berkembang, 
dan daerah yang tak berkembang pun seperti daerah terpencil ini, semua 
ditataruangkan. Selesai? Tidak, ..lantas diidentifikasi potensi-potensi 
ekonominya...bla...bla...bla. Yang didapat biasanya potensi wisata karena 
alamnya sangat indah (ya pasti karena tidak ada yang manusia yang merusaknya), 
potensi pertanian (biasanya skala kecil-kecil), sumber pertambangan (biasanya 
Golongan C), dan lain-lain yang intinya biasa-biasa saja. Pola pikir berikutnya 
adalah bagaimana membangun prasarana dan mendatangkan investor sebagaimana 
rumusnya Biehl di atas. Sampai di sini biasanya bingung, bagaimana membangun 
prasarana kalau nantinya "under-utilized"? Bagaimana bisa menarik investor kalau
 tidak ada objek yang perlu investasi. "Makeover" atau "greget" (passionate) 
apa yang bisa dibuat?  Cukupkah RTR ataupun daftar potensi SDA yang dibuat 
mampu men-transform "the usual" to "the Beauty"? Dan, "Tangibility" apa yang 
bisa disuguhkan kepada investor? Wah,..tampaknya pesimis ya?
   
  Tidak perlu pesimis sih,.. ada keistimewaan lain bagi daerah-daerah 
terpencil, yaitu Fiskal Daerah. Fiskal Daerah adalah keuangan yang dikelola 
oleh pemerintah daerah atau APBD. Seperti diketahui bahwa kemampuan fiskal 
daerah-daerah terpencil itu sangat besar. Duitnya banyak. Itu karena kebijakan 
perimbangan keuangan (UU33/2004) yang memberikan DAU/kapita yang sangat besar 
(rata-rata Rp 700 ribu - Rp 3 juta perkapita) kepada daerah-daerah yang 
kebutuhan fiskalnya tinggi tetapi kapasitasnya fiskal (PAD + Bagi Hasil) rendah 
seperti daerah-daerah terpencil ini. Jangan sampai duit yang banyak itu 
dijadikan bancakan pejabat-pejabat daerah untuk belanja barang (mobil, 
pesawat,kapal, rumah dinas yang mewah, kunjungan ke Jawa) yang mungkin kurang 
perlu, dan juga jangan sampai muncul keinginan pemekaran yang sebetulnya 
ujung-ujungnya adalah mendapat dana yang lebih besar. Jadi strateginya adalah 
bagaimana Strategi Belanja yang bisa me-leverage pertumbuhan ekonomi daerah 
terpencil
 (jangan bandingkan pertumbuhan ekonomi seperti daerah yang sudah berkembang, 
dan jangan juga membayangkan pertumbuhan menjadi metropolitan), yaitu 
pertumbuhan yang memberdayakan masyarakat di bidang usaha ekonomi dan akses 
pelayanan. Jadi belanjakan sebanyak mungkin untuk sasaran-sasaran ini dan 
selanjutnya dengan belanja pemerintah daerah ini bisa menambah "uang inti" di 
daerah. Dari uang inti inilah diharapkan terjadi "efek berantai" atau 
"multiplier effect" ekonomi yang sangat dinamis di daerah terpencil. 
   
  Ide membangun dengan fiskal sepertinya teori yang klasik. Namun data 
menunjukkan bahwa ternyata daerah-daerah terpencil itu sangat mengandalkan 
belanja pemerintah daerah (G). Secara sederhana bisa dibuat rasio antara 
APBD/PDRB. Diperoleh angka antara 20-40% (bandingkan rasio untuk kota besar 
3-5% dan kota sedang 8-12%). Artinya ekonomi daerah terpencil sangat 
dipengaruhi oleh belanja pemerintah daerah sekitar 20-40%, sisanya adalah 
belanja konsumsi oleh masyarakat (C), investasi (I), dan surplus perdagangan 
lintas daerah (e-i). Mengingat faktor I dan (e-i) sangat kecil di daerah 
terpencil, maka yang dominan adalah faktor belanja konsumsi (C) yang asalnya 
dari belanja pemerintah daerah (G) juga. Inilah Teori Fiskal yang secara 
matematis bisa dijelaskan melalui fungsi-fungsi seperti : Z1 (perubahan  
permintaan pertama multiplier effect)= (1/1-c)G; Z 2 (putaran kedua) = (c/1-c) 
W (wages, gaji pegawai); dan Z 3 (putaran ketiga pegaruh belanja pemerintah) = 
(c/1-c) R (belanja
 proyek). Saya tentu tidak akan menambah pusing pembaca posting ini dengan 
rumus-rumus fiskal, tetapi pada intinya menambah peredaran uang inti akan 
meningkatkan volume ekonomi daerah yang pada gilirannya akan meningkatkan 
ekonomi masyarakat. Itulah cara membangun daerah terpencil. Secara bertahap, 
dengan strategi ini secara bertahap pembangunan prasarana dan investasi dengan 
sendirinya akan mempunyai landasan s.m.a.r.t-nya. Selain dari itu, menambah 
uang inti tidak selalu bersifat belanja habis, tetapi bisa juga pengeluaran 
yang bersifat pembiayaan (financing), yaitu pengeluaran yang akan diterima 
kembali. Artinya pemerintah daerah juga bisa memberi pinjaman lunak kepada 
UKM-UKM daerah seperti yang dilakukan oleh Yogya (bukan gitu Mas BSP?).
   
  Thanks. CU. BTS.
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   

  



  
---------------------------------
  Luggage? GPS? Comic books? 
Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search.  

                         

       
---------------------------------
Luggage? GPS? Comic books? 
Check out fitting  gifts for grads at Yahoo! Search.

Kirim email ke