Salam Jumpa, Eyang Wawo dan semuanya .... Nostalgia elemen-elemen budaya masa lalu di masa depan barangkali benar akan mengikuti hukum alam alias daur kehidupan. Entah kapan, tiwul akan berkombinasi dengan nasi beras merah dan menjadi makanan super enak dan sehat, kita tidak tahu. Hal ini dapat terjadi jika ada perubahan-perubahan internal dan eksternal dalam diri manusia berjumpa dan bergerak kreatif.
Dulu para arsitek meyakini bahwa ruang makan ya ruang untuk makan, tetapi sekarang pengertian dan label ruang ternyata mengalami perubahan-perubahan. Orang makan sambil nonton tivi atau menerima tamu, maka esensi dan label ruang berubah drastis. Aliran yang "keluar" dari dunia arsitektur konvensional ini biasanya disebut kalangan posmodernism... yang tidak hanya ada di kotak sendiri, arsitektur bahkan dikaitkan dengan musik, sastra, berbagai seni dll...sebab dunia memang berubah. Ya Arsitektur Baru ! Nah, saya yang buta planning ini bertanya, apakah gagasan-gagasan semacam pemberontakan untuk keluar dari pengertian tradisional juga terjadi di dunia planning ? Apakah planning hanya terkait dengan faktor-faktor klasik seperti ekonomi - politik - sosial atau juga dikaitkan dengan faktor-faktor lain yang muncul pada jaman gonjang-ganjing dan selalu berubah ? Menjadi planning yang sesuai jamannya ? Malioboro, misalnya, kini bukan hanya jalan raya yang menghubungkan raja dengan rakyat di era Kasultanan, sebab keragaman pengguna ruang menuntut masuknya dimensi-dimensi lain mewarnainya. Muncullah Malioboro baru yang dilandasi multi - nilai....desainnya mestinya ya mengakomodasi situasi itu ! Banyak kasus lain yang dapat dicermati aspek multi nilai semacam itu sehingga ruang yang terbangun sungguh sesuai dengan kebutuhan seutuhnya manusia penghuninya; kebutuhan yang multi indrawi multi nilai. Salam, Djarot --- Hannie Waworoentoe <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Rekan rekan BTS, Aunur, dan milis lainnya, > > Semestinya pembahasan dasar masalah 'membangun > daerah terpencil' yang telah dikemukakan oleh BTS, > sedikitnya memerlukan diskussi yang se sungguh > serious mungkin, hal ini saya tidak sangsikan dalam > milis ini, tetapi media internet walaupun sangat > effisien kadang-kadang mengurangi kedalaman atau > depth, tapi sebetulnya itu juga tidak usah merupakan > problema bagi kita. Saya ingin mencoba secara > singkat saja dahulu > > Pendekatan Biehl/Rondinelli mungkin saya ingin > elakkan, walaupun bagaimanapun kita tidak bisa > melepaskan diri dari ekonomi regional dan lebih lagi > masalah financing. Yang ingin saya coba adalah > mungkin melanjutkan analisa LAS dan SMART rekan BTS > ini serta mengkaitkannya dengan observasi rekan > Aunur, yang merindukan akan punahnya budaya nasi > tiwul, ikan asin, jeruk nipis, maupun atap rumbia, > ataupun arsitektur rumah atau kapal kayu asli, > terhadap gelombang indomie, coca cola, fiberglass, > atau bahan bangunan yang techno-industrial mungkin > lebih unggul tapi barangkali tidak terlalu 'smart' > (cerdas). > > Barangkali juga ada semacam 'arus balik' dari > selera consumer sekarang atau masa depan. > Kelihatannya nasi tiwul, gudeg kranggan, ataupun > tinutuan dan sagu akan ada comeback-nya in the most > exclusive dining circles, begitu pula mungkin atap > rumbia tidak saja untuk post traditional tourist > nomads, atau kapal pinisi kayu, namun memang tetap > 'exclusive' . Memang in the meantime begitu banyak > sampah yang masih kita produksi untuk konsumen yang > begitu serakah, sehingga terpaksa dicari pemecahan > daur ulang lagi. Tapi ini lagi menjadi masalah > teknologi entah yang terlampau cepat atau justru > terlalu tahan lama seperti infrastruktur yang rada > underutilized. Wah, kayaknya kita jadi bingung > sendiri. > Salam sabtu dari Tomohon, Pak Wawo. > > Aunur rofiq <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Mas BTS ysh, > Saya merasa senang mendapat pencerahan tentang > daerah terpencil ini, karena banyak daerah di > Indonesia ini yang tidak mungkin berkembang tanpa > "membangun dengan fiskal". > Tapi sayang belanja pemerintah maupun belanja > masyarakatnya menyebabkan dana cepat keluar lagi, > beberapa daerah bahkan mencapai 80-95 % uangnya > kembali ke kota-kota besar dalam waktu yang sangat > cepat sehingga "uang inti" yang dapat menggerakkan > ekonomi daerah tidak ada. > saya masih mengharap daerah terpencil dalam > belanja pangan, energi dan bahan bangunan berasal > dari produksi setempat, tapi kenyataannya banyak > ditemukan di warung, kantor pemerintah maupun di > rumah2, barang-barang dari luar daerah seperti > indomie, soft drink, air minum kemasan, roti, minyak > tanah, solar, premium, atap seng, keramik dll > termasuk ember dan gayung plastik.. ditambah mobil, > sepeda motor dan kapal dari fibre glass, jadi saya > mikir, apalagi yang bisa dihasilkan oleh daerah > terpencil ini untuk menambah "uang inti". Sekarang > sudah tidak ada gayung dari batok kelapa, tidak ada > atap dari rumbia dan tidak ada sarapan nasi tiwul > dan ikan asin (adanya indomie dan snack) minumnya > tidak lagi air kelapa atau air jeruk nipis tapi > sudah coca-cola. perahunya juga bukan dari kayu tapi > dari fiber glass > salam > > > ----- Original Message ---- > From: Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]> > To: [email protected] > Sent: Friday, August 31, 2007 10:23:28 AM > Subject: [referensi] Membangun Daerah Terpencil > > MEMBANGUN DAERAH TERPENCIL > > Indonesia yang begitu luas dan kepulauan ini > dipastikan banyak daerah-daerah yang tergolong > terpencil. Yang dimaksud daerah terpencil adalah > daerah yang interaksi ruang (spatial interaction) > dengan daerah-daerah lain sangat lemah. Menurut > Biehl (1986, Rondinelli, A Regional Investment Model > for Infrastructure in Indonesia) bahwa pegembangan > daerah ditentukan oleh jarak dari pusat kegiatan > ekonomi (L), sistem kota (A), sektor unggulan (S), > dan prasarana atau investasi (I). Jadi Regional > Development Potential (RDP) = f (L,A,S,I). Oleh > karena daerah-daerah terpencil itu lemah dalam jarak > dari pusat kegiatan ekonomi (L) dan sistem kota (A), > maka bisa dimengerti kalau daerah-daerah terpencil > secara ekonomi terbelakang (daerah terbelakang). > > Kalau kita percaya pada Biehl, maka peluang > membangun daerah terpencil tinggal bertumpu pada > adakah sektor unggulan (S) dan seberapa jauh > prasarana atau investasi (I) bisa disediakan. > Seperti diketahui bahwa sebagian daerah-daerah > terpencil yang jauh dari L dan S, tetapi memiliki > potensi SDA yang bernilai ekonomis, misalnya minyak, > batu bara, gas, hutan, emas, dan lain-lain. > Daerah-daerah semacam ini secara ekonomi bisa maju > sepanjang potensi SDAnya masih ekonomis. Tetapi > bilamana SDAnya yang tidak terbarui itu habis, > daerah itu kembali stagnan. Contohnya Pulau Singkep > (kotanya Dabo Singkep). Sebagian besar daerah-daerah > terpencil di Indonesia ini tidak mempunyai SDA yang > dimaksud. Tinggal yang jadi harapan adalah faktor > prasarana dan investasi (I). Sayangnya, faktor > prasarana dan investasi itu tidak berdiri sendiri. > Tidak ada alasan s.m.a.r.t membangun prasarana atau > menanam investasi pada daerah yang memang tidak > berkembang. > > Pidato Presiden di depan DPD mengatakan "Paculah > Ekonomi Daerah", seolah mengingatkan kita, bagaimana > cara memajukannya? Yang dimaksud Presiden tentu > bukan daerah-daerah yang sudah maju seperti di Jawa > dan beberapa daerah di Indonesia Bagian Barat, dan > bukan daerah terpencil yang mempunyai SDA ekonomis > seperti di Kaltim, Riau, dan NAD, tetapi daerah > terpencil yang tak punya apa-apa. Sudah terpencil, > tidak punya SDA ekonomis lagi. Bagaimana membangun > daerah-daerah semacam ini? > > Bagi the Planners, ataupun yang "the mlanner", > sering punya senjata -->Rencana Tata Ruang (RTR)!! > Kemudian, kalau Planner dihadapkan pada persoalan > ini, maka langkahnya adalah menyusun Rencana Tata > Ruang (RTR). Apa-apa ditataruangkan. Daerah yang > sudah berkembang, daerah yang sedang berkembang, dan > daerah yang tak berkembang pun seperti daerah > terpencil ini, semua ditataruangkan. Selesai? Tidak, > ..lantas diidentifikasi potensi-potensi > ekonominya...bla...bla...bla. Yang didapat biasanya > potensi wisata karena alamnya sangat indah (ya pasti > karena tidak ada yang manusia yang merusaknya), > potensi pertanian (biasanya skala kecil-kecil), > sumber pertambangan (biasanya Golongan C), dan > lain-lain yang intinya biasa-biasa saja. Pola pikir > berikutnya adalah bagaimana membangun prasarana dan > mendatangkan investor sebagaimana rumusnya Biehl di > atas. Sampai di sini biasanya bingung, bagaimana > membangun prasarana kalau nantinya "under-utilized"? > Bagaimana bisa menarik investor kalau > tidak ada objek yang perlu investasi. "Makeover" > atau "greget" (passionate) apa yang bisa dibuat? > Cukupkah RTR ataupun daftar potensi SDA yang dibuat > mampu men-transform "the usual" to "the Beauty"? > Dan, "Tangibility" apa yang bisa disuguhkan kepada > investor? Wah,..tampaknya pesimis ya? > > Tidak perlu pesimis sih,.. ada keistimewaan lain > bagi daerah-daerah terpencil, yaitu Fiskal Daerah. > Fiskal Daerah adalah keuangan yang dikelola oleh > pemerintah daerah atau APBD. Seperti diketahui bahwa > kemampuan fiskal daerah-daerah terpencil itu sangat > besar. Duitnya banyak. Itu karena kebijakan > perimbangan keuangan (UU33/2004) yang memberikan > DAU/kapita yang sangat besar (rata-rata Rp 700 ribu > - Rp 3 juta perkapita) kepada daerah-daerah yang > kebutuhan fiskalnya tinggi tetapi kapasitasnya > fiskal (PAD + Bagi Hasil) rendah seperti > daerah-daerah terpencil ini. Jangan sampai duit yang > banyak itu dijadikan bancakan pejabat-pejabat daerah > untuk belanja barang (mobil, pesawat,kapal, rumah > dinas yang mewah, kunjungan ke Jawa) yang mungkin > kurang perlu, dan juga jangan sampai muncul > keinginan pemekaran yang sebetulnya ujung-ujungnya > adalah mendapat dana yang lebih besar. Jadi > strateginya adalah bagaimana Strategi Belanja yang > bisa me-leverage pertumbuhan ekonomi daerah > terpencil > (jangan bandingkan pertumbuhan ekonomi seperti > daerah yang sudah berkembang, dan jangan juga > membayangkan pertumbuhan menjadi metropolitan), > yaitu pertumbuhan yang memberdayakan masyarakat di > bidang usaha ekonomi dan akses pelayanan. Jadi > belanjakan sebanyak mungkin untuk sasaran-sasaran > ini dan selanjutnya dengan belanja pemerintah daerah > ini bisa menambah "uang inti" di daerah. Dari uang > inti inilah diharapkan terjadi "efek berantai" atau > "multiplier effect" ekonomi yang sangat dinamis di > daerah terpencil. > > Ide membangun dengan fiskal sepertinya teori yang > klasik. Namun data menunjukkan bahwa ternyata > daerah-daerah terpencil itu sangat mengandalkan > belanja pemerintah daerah (G). Secara sederhana bisa > dibuat rasio antara APBD/PDRB. Diperoleh angka > antara 20-40% (bandingkan rasio untuk kota besar > 3-5% dan kota sedang 8-12%). Artinya ekonomi daerah > terpencil sangat dipengaruhi oleh belanja pemerintah > daerah sekitar 20-40%, sisanya adalah belanja > konsumsi oleh masyarakat (C), investasi (I), dan > surplus === message truncated === ____________________________________________________________________________________ Choose the right car based on your needs. Check out Yahoo! Autos new Car Finder tool. http://autos.yahoo.com/carfinder/

