Mas Djarot, saya sepakat. Sebuah proses yang berjalan dalam ranah "ghaib" tidak akan pernah bisa dilakukan selama otak kita masih diijinkan berputar. Karena yang seharusnya dilakukan adalah membiarkan keliaran rasa untuk menangkap "gelombang" energi yang menghampiri kita. Mohon maaf saya menggunakan aphostrop pada kata gaib, karena menurut pendapat saya, gaib itu adalah merupakan pendekatan bagi segala sesuatu yang otak kita tidak bisa mencerna. Padahal dengan semakin dalamnya kumpulan data dan pengetahuan dari seseorang, kata ghaib itu akan bisa berganti menjadi medan magnet, listrik dlsb.
Namun saya agak sedikit berbeda dengan mas Djarot (nyuwun pangapunten lho), kalau kita harus melakukan pencatatan secara detail dan teratur/runtut, maka hasilnya tidak akan menghasilkan seperti apa yang kita kehendaki. Seperti seorang teman saya memberi tahu tentang perjalanan dari rahsa pada waktu kita ingin mengetahui sebuah fenomena. Saya mencoba untuk menuliskan secara runtut. Tanggapannya adalah : kita tidak bisa menyuruh rahsa menjadi masinal. Karena rahsa merupakan pengembaraan dari seseorang yang antar satu dengan lainnya tidak bisa sama. Karena begitu catatan tersebut dibuat, yang akan bekerja dalam diri kita adalah otak dan bukan rahsa itu yang menjadi motor penggerak. Mungkin karena itulah muncul buku2 ringan akhir2 ini dari barat seperti the Secret maupun the Law of Atraction yang mencoba menarik rahsa dalam rationalitas. Saya mencoba mengunyah buku2 yang mas Djarot sampaikan tentang fenomenologi tersebut. Saya tetap masih melihat bahwa itu adalah pendekatan yang berbasis otak dengan mencatat fenomena2 (niteni). Disiplin itu akan bisa sangat rasional, namun mungkin untuk sebuah olah rahsa ... kok masih belum tuntas ya. Saya malah lebih yakin kalau teman2 Arsitek UGM bisa mengembangkan ilmu ini lebih jauh. Namun sebenarnya para teman2 perencana baik kota maupun regional sebenarnya tidak perlu terlalu mengkhawatirkan tentang hal2 "ghaib" tersebut. Hal ini karena menurut catatan saya selama ini, untuk masa-masa saat ini energi yang ditimbulkan oleh "tempat keramat" sudah semakin terbatas. Hal ini karena penelusuran saya menunjukkan karena tabrakannya gelombang-gelombang tersebut dengan kekuatan modern seperti listrik. Saya pernah membuat eksperimen tentang hal tersebut dan sangat terlihat jelas. Artinya, tempat keramat atau dibuat keramat yang ada sangat jarang yang akan berpengaruh pada ruang dalam skala luas. Radius pengaruh kekeramatan kalau dilihat dari sisi energi relatif terbatas. Yang lebih banyak adalah multiplier effect dari keberadaan tempat keramat tersebut ... dan ini akan masuk pada ranah ekonomi. Ada sekedar informasi kecil untuk menunjukkan betapa "keramat" ini bukan hanya bisnis ecek2. Kira2 setahun yang lalu ada seorang kiai muda dari Jogja yang masih mempunyai nasab langsung ke Nabi SAW telah dimintai tolong oleh Pemerintah Singapura (!!!), untuk memperbarui wafaq yang ditanam di lapangan depan hotel Rafles. Hal ini disebabkan menurut kepercayaan mereka, wafaq tersebut akan kehilangan energinya setelah masa 500-600 thn. Nah supaya Singapura tetap moncer, dia minta bantuan pada kiai tersebut. Ada cerita lain dari Bangkok. Sekitar 3 tahun yang lalu serombongan pendeta budha dan juga dibantu oleh sang kiai ini, memperbarui wafaq yang ditanam di lapangan depan kerajaan. Kenapa mereka meminta bantuan sang kiai, karena mereka merasa tidak lagi bisa menggunakan cara yang lama yang sangat tidak berperikemanusiaan. Cara itu adalah : memasukkan sejumlah manusia hidup dalam tubuh gajah putih yang perutnya sudah dikosongkan dan kemudian dikubur ditempat yang disediakan. Alasan memperbarui hampir sama dengan Singapura, namun lebih kepada... secara spesifik menunjuk pada tahun 2012. Entah apa maksudnya. Waktu saya mendengar hal itu saya benar2 tidak bisa mempercayainya. Tetapi karena yang bercerita tidak hanya satu orang, dan mereka menyampaikan dentgan detail yang sama, maka hal itu harus saya kunyah juga.... he he he (ketawanya mbah Surip) Salam bambang sp

