Pak Djarot, Saya tertarik dengan "wawancara tukang becak". Di kompleks rumah saya (kita-kira 600 kk) warga sepakat untuk tujuan keamanan dibuat "portal-portal" (ada yg buka-tutup, ada yang permanen). Yang protes ternyata para tukang becak, sampai demo di kantor RW. Akhirnya dilakukan dialog, ternyata alasan mereka adalah rute becak terganggu, jarak (ke jalan besar, ke sekolah, pertokoan, pasar) menjadi jauh, menanjak. Sementara ongkos tak bisa naik, kira-kira begitu.
Lalu dicari jalan untuk melakukan persuasi dengan "mengenal lebih jauh" supaya taktik bisa diterapkan dengan memegang pentolannya. Ternyata ada yang menarik, untuk kerumunan becak yang tak seberapa jumlahnya itu ada beberapa klan/grup, ada yang dari kampung sekitar, ada yang dari Cirebon dan sekitarnya, ada yang dari Jawa, ada yang lepas. Sebagian anggota komunitas yang lebih luas. Sehingga pendekatan perlu disesuaikan lagi..... Terus apa beda "fenomenologi" ini dengan "etnografi" misalnya Pak Djarot? Salam, Risfan Munir --- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote: > > Pak BSP, saya belum terlalu lama menikmati nikmatnya fenomenologi. Salah > satunya adalah bahwa realitas yang ditangkapnya tidak lagi bersifat "fotomic" > melainkan "holografic". Jika kita mewawancara mendalam seorang tukang becak, > misalnya, kita sebenarnya tahu lebih jauh yaitu tentang "dunia tukang becak". > Jadi tahu sedikit bisa melongok ngicipi yang lebih jauh ! > > Rahasianya, untuk berfenomenologi yang berkualitas memang harus latihan. > Latihan pertama, memurnikan diri, yaitu membiasakan tidak terpengaruh oleh > teori-teori yang pernah kita ketahui....ini nggak murtad dari dunia ilmuwan > lho, hanya melakukan skipping sebentar supaya proses memahami subyek/obyek > yang kita cermati tidak dicemari teori-teori atau opini pihak lain terhadap > obyek.subyek kajian kita. Latihan kedua adalah menuliskan atau mendongengkan > pengalaman itu dengan runtut dan detil. Dua jurus dulu ya Pak. > > Salam, > > > > Djarot Purbadi > > > > http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] > > http://arsitekturnusantara.wordpress.com > > http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com > > --- On Thu, 8/6/09, bspr...@... <bspr...@...> wrote: > > From: bspr...@... <bspr...@...> > Subject: RE: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ? > To: [email protected] > Date: Thursday, August 6, 2009, 12:16 PM > > > > > > > > > > > > > Luar biasa mas Djarot ... > saya mendapatkan pencerahan. > Matur nuwun > salam > bambang sp >

