Pak Risfan dan Sahabats,

Fenomenologi Husserl ini dipelajari atas bimbingan Pakl Sudaryono. Dari Pak 
Sudaryono saya belajar tentang "grandtour" dan "minitour", dalam tulisan saya 
pribadi saya menggunakan istilah "pengamatan menjelajah" dan "pengamatan 
mendalam" yang arti dan maksudnya sama. Proses ini bersifat umum, mirip ketika 
kita membaca buku dengan cara scanning dan detil. Sama seperti waktu membaca 
buku, kita di awal memiliki tema yang akan kita cari kaitannya dengan buku yang 
akan kita baca. Tahap awal ini biasanya kita menuliskan temuan-temuan tentatif, 
misalnya berupa daftar tema yang muncul. Artinya,pada tahap awal kita menemukan 
pemandangan umum dan plot-plot tema yang menunggu untuk dieksplorasi. Jika kita 
agak kreatif, boleh saja dicoba dibuat semacam struktur, ada tema yang terkait 
dengan tema lain, mungkin dikelompokkan atau dibuat ada garis-garis yang 
menunjukkan relasi. Temuan ini harus disikapi sebagai temuan sementara dan 
menjadi peta awal penelusuran lebih
 jauh.

Proses berfenomenologi yang sesungguhnya terjadi pada tahapan minitour atau 
pengamatan mendalam sebab biasanya kita mengamati ruang secara intensif, 
memperhatikan perilaku secara mendalam dan mendengarkan ungkapan-ungkapan 
informan dengan sangat teliti. Pada proses ini kita perlu memperhatikan adanya 
terminologi lokal yang muncul, sebab realitas yang kompleks kadang diringkas 
oleh informan dengan terminologi lokal. Kita ingat ada terminologi "lengser 
keprabon" di era Suharto, tentu di balik terminologi unik itu kita sudah bisa 
memahami realitas unik yang lebih besar diungkapkan dengan istilah lokal yang 
sederhana itu. 

Pada waktu proses minitour ini pikiran kita terbuka dan jangan membiarkan 
teori-teori atau pengetahuan yang ada di dalam pikiran kita ikut berbicara atau 
bereaksi supaya kita bisa murni diri saat memandang obyek. Jika di lapangan 
kita mendengar opini lokal tentang obyek yang kita amati, kita catat saja dan 
jangan biarkan opini lokal itu mencemari proses pengamatan kita. Jadi 
diusahakan, kesadaran kita murni tidak tercemari apapun dan obyek kajian kita 
harus dibiarkan mengungkapkan diri seutuhnya tanpa diganggu hal-hal di luar 
dirinya, termasuk kehadiran kita. Dalam praktek di Jalan Godean, saya melakukan 
pengamatan partisipatif dan hanya mengandalkan ingatan untuk menuliskan 
wawancara atau pengamatan yang sudah berlangsung. 

Kuncinya, dalam proses wawancara kita berusaha secara bertahap masuk ke dalam 
dunia batin informan (responden). Ini kuncinya. Jika kita tidak mampu menemukan 
/ berjumpa dengan dunia batin mereka maka kita belum melakukan penggalian data 
dengan cara fenomenologis. Artinya, kita hanya sampai pada wawancara biasa. 
Pada waktu wawancara mendalam itu, kita menjadi pendengar yang baik namun 
aktif, khususnya melontarkan pertanyaan yang purposif untuk menguak misteri 
dunia batin informan kita. Kita bebas mengajukan pertanyaan yang bersifat 
vertikal (menggali informasi ke tahap transenden-abstrak) atau yang bersifat 
horisontal (menggali relasi-relasi dengan yang lain).

Biasanya setelah melakukan pengamatan yang sangat mendalam semacam ini, 
peneliti akan kelelahan sebab selama pengamatan dan wawancara dilakukan dengan 
konsentrasi tinggi. Tanpa konsentrasi tinggi yang sadar tentang data apa yang 
diperlukan biasanya kita hanya mendapat data sedikit. Jika sudah berpengalaman, 
tentunya beda, bisa lebih cepat dan lebih tepat menemukan data yang digali. 
Proses selanjutnya adalah membuat catatan deskriptif tentang wawancara yang 
dilakukan. Jika ada hal-hal yang perlu di dalami atau ada pandangan yang 
bertentangan, biasanya dilakukan validasi sampai mendapatkan kejenuhan 
informasi. Hasil pengamatan lapangan ini segera dicatat dengan runtut dan 
selengkap-lengkapnya ke dalam catatan harian. Pada waktu mencatat itulah kita 
memeriksa apakah data yang tercatat sudah mengandung tiga unsur kunci: ruang, 
perilaku dan nilai-nilai. 

Pengamatan dan penulisan laporannya secara minitour ini sama pada tema 
informasi yang lain, akhirnya kita mendapatkan catatan lapangan yang mendalam 
per-tema dan jika diakumulasikan akan menjadi catatan lapangan yang lengkap. 
Dari setiap catatan lapangan per-tema kita juga menuliskan relasinya antar 
tema, sehingga seluruh informasi membentuk / membangun pengetahuan di dalam 
benak kita. Peran pembimbing biasanya adalah menjaga apakah ruang, perilaku dan 
nilai serta aspek-aspek visual, rasional, etik-transenden sudah terekam dalam 
pengamatan dan laporan. Pembimbing juga bisa menunjukkan mana tema yang kuat 
dan yang lemah, termasuk menguak bagaimana relasi antar tema yang kadang tidak 
disadari adanya oleh pengamat. 

Belum semuanya Pak, tetapi garis besarnya begitu, dan itupun baru proses 
mengenali fenomena, sementara proses analisisnya dilakukan secara bertahap 
sejak pengumpulan data awal hingga "akhir". Proses analisis menggunakan tiga 
tahap reduksi fenomenologi versi Husserl, yaitu berusaha menemukan hakekat dari 
tema yang ditemukan.

Sekian dulu ya Pak, dulu latihan berfenomenologi ini satu semester sendiri 
dengan kerja lapangan sebulan.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Mon, 8/10/09, risfano <[email protected]> wrote:

From: risfano <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?
To: [email protected]
Date: Monday, August 10, 2009, 9:54 AM






 




    
                  Pak Djarot, Bang Ekadj,



Terima kasih atas penyegarannya. Hari Minggu kemarin saya sempatkan browsing 
tentang fenomenologi dalam kaitan urban planning/design, rupanya memang sudah 
jadi trend juga di beberapa negara/sekolah.



Sebagai alternatif kajian fenomena perkotaan nampaknya bisa diharapkan untuk 
lebih membumikan RTRW. Karena pendekatan konvensional/ linier: [perencanaan >> 
pengesyahan >> pelaksanaan dgn tibum >> gagal >> frustrasi] yang diterapkan 
Pemda selama ini, perlu disegarkan dengan pemahaman yang lebih membumi tentang 
"mengapa?" timbul kecenderungan alih fungsi, kerumunan PKL, dst. termasuk di 
tingkat hubungan antar elit pengambil keputusan "mengapa" selalu begitu? 
Pertama memahami,berikutnya bagaimana mengintervensi.



Singkatnya pendekatan manajemen penataan ruang selain pendekatan "police power 
atau law enforcement" perlu juga dilengkapi dengan pendekatan perubahan 
perilaku, supaya penataan ruang bisa menjadi kesadaran dan perilaku sehari-hari 
masyarakat.



Terima kasih Pak Djarot, kalau ada uraian ringkas "prosedur fenomenologi" itu 
tentu akan lebih terima kasih.



Salam,

Risfan Munir

http://urbaneconomi c.blogspot. com

http://ecoplano. blogspot. com




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke