Pak Djarot, Pak Onnos, dan rekan-rekan ysh. Mohon maaf ikutan ngobrol
sedikit. Saya sebenarnya sudah hampir merumuskan sedikit tentang diskusi
ini, namun sepertinya terkunci dengan pernyataan Pak Djarot mengenai
'think locally, act locally'.

Saya kira, secara pendekatan fenomenologi yang Pak Djarot sampaikan, ada
simpul budaya yang dapat dikembangkan secara positif. Misalnya,
keanekaragaman budaya dan peristiwa di masa lampau mendalilkan
penafsiran universal tentang jagad yang dapat digunakan di mancanagara
sesuai dengan harapan Pak Onnos. Saya sebenarnya ingin memasukkan ke
dalam kategori 'wening
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/8800> ' untuk root
'intuisi' kajian fenomenologi ini. Dari sini kita bisa masuk ke dalam
sistem keunggulan bangsa, seperti misalnya : ekonomi bejo yang rentan
terhadap berbagai mazhab ekonomi dunia, dll. Namun 'kunci locality'
terkesan negatif. Bila dibawa ke sistem nasional maupun global rasanya
bisa memaksakan primat lokalitas. Mohon pencerahannya pak. Salam.

-ekadj

--- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote:
>
> Pak Onnos, mungkin sintaktiknya sama tetapi semantiknya bisa berbeda.
Jika sekarang disintaktikkan dengan think locally do locally ditambah
kesadaran tentang globally saya kira berbeda jika think locally do
locally tanpa embel-embel kesadaran global itu. Kesungguhan menggarap
yang lokal dibayangi dengan kesadaran global, maksudnya begitu.....sama
ya dengan think globally act locally....enggak, think nya tetap locally,
act nya locally tetapi di dalam think locally tadi terdapat awareness
yang globally.....piye ta iki...hahahahahaaa....
>
> Salam,
>
>
>
> Djarot Purbadi
>
>
>
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
>
> http://arsitekturnusantara.wordpress.com
>
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>
> --- On Tue, 8/11/09, Sugiono Ronodihardjo sugion...@... wrote:
>
> From: Sugiono Ronodihardjo sugion...@...
> Subject: RE: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?
> To: "[email protected]" [email protected]
> Date: Tuesday, August 11, 2009, 11:28 AM
>
> Mas Djarot ysh,
>
> Kalau 'think locally, do locally', sepertinya kita kembali kepada
'gelombang pertama' menurut teorinya si Toffler yang dia sebut
sebagai 'masa revolusi pertanian' yang berawal sejak manusia mulai
belajar bertani selama ribuan tahun yang lalu, sampai munculnya
'gelombag kedua' yaitu 'masa revolusi industri' mulai tahun 1750-1800an
sampai tahun 1950an.Â
>
> Mungkin ada benarnya kalau kita di Indonesa ini masih banyak yang
berfikir dan berpola hidup seperti itu (gelombang pertama)Â dengan
tetap berpegang kepada hal-hal yang di-'keramat' -kan, walaupun adaÂ
segi positifnya yaitu mereka masih hidup menyatu atau tergantungÂ
kepada alam sekitarnya sehingga tetap menjaganya dengan baik. Maaf kalau
pendapat saya keliru, mohon diluruskan.
>
> Wassalam,
>
> Onnos Â
>
>
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> From: dpurb...@yahoo. com
> Date: Mon, 10 Aug 2009 19:40:39 -0700
> Subject: RE: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?
>
> Â
>
>
>
>
>
>
>
> Pak Onnos, saya kira ada alternatif nyata yang berkembang, yaitu think
locally, do locally, meskipun dalam kesadaran aktif kita selalu ada
informasi global yang secara alamiah terlibat dalam proses berpikir dan
mendorong juga ke arah think globally.
>
> Salam,
>
> Djarot Purbadi
>
> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
> http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
>
> --- On Tue, 8/11/09, Sugiono Ronodihardjo sugion...@hotmail. com>
wrote:
>
>
> From: Sugiono Ronodihardjo sugion...@hotmail. com>
> Subject: RE: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?
> To: "refere...@yahoogro ups.com" refere...@yahoogrou ps.com>
> Date: Tuesday, August 11, 2009, 12:38 AM
>
>
> Â
>
>
>
> Pak ATA, mas Djarot, Eyang Aby, dan rekan-2 ysh,
> Semoga rekan-2 sempat membuka & merenungkan
‘attachement’ saya sebelum ini (Mental Feng Shui), maaf
itu sifatnya sekedar meramaikan diskusi tentang fenomenalogi
‘keramat â€" critical planning’.
> Namun demikian, sepertinya buat rekan-2 yang sedang bersemedi (kata
lain untuk mempelajari dengan ber’tapa’ di kampus) untuk
‘menekuni’ (bukan me’nerkuni’ lho..)
fenomenologi ini, timbul pertanyaan apakah kita ini sedang mengikuti
pola pikir ‘think locally, do globally’ bukan
‘think globally, do locally’ ? Karena mungkin dengan
mengumpulkan ceritera-2 ‘keramat’ local, kita berharap
dapat sesuatu yang berpengaruh untuk ‘planning’ yang lebih
luas/global’ ?
> Kemudian, kalau kita sempat baca kembali bukunya Alvin & Heidi Toffler
(1. Future Shock (1970), 2. The Thrid Wave (1980) dan 3. Creating A New
Civilization, The Politics of the Third Wave(1995), maaf kalau buku-2
ini sudah dianggap kuno-kedaluwarso lho…(atau justru
'keramat'), sepertinya kita perlu merenungkan kembali, sebetulnya
mau kemana kita ini dalam masa 20 â€" 30 bahkan 50 tahun kedepan.
Para ‘planner’ ysh, tentunya mempunyai pola pikir
‘futuristic’ (mirip tetapi bukan ‘peramal’
atau ‘paranormal’ lho…), sepertinya ditantang untuk
membuat konsep seperi pasangan Toffler diatas.
> Mungkinkah setelah atau dalam ‘Gelobang Ketiga’ yaitu
‘era teknologi informasi â€" komunikasi’ yang saat
ini sedang berjalan dengan cepatnya mempengaruhi pola kehidupan dan
peradaban manusia di bumi ini, dapatkah kita memanfaatkannya pola pikir
‘think locally, do globally’ dengan mencoba
men’jabar’ kan (maaf bukan men’jowo’ kan lho
.. he he he) fenomologi ‘keramat’ ?
> Buat Eyang Aby ysh, bicara ‘planning’ dalam lingkup
mikro-mezzo- makro, memang sangat luas kaitannya tidak hanya fisik saja,
mungkin perlu ‘meta-fisik’ juga, tetapi yang jelas kita
tidak bisa lepas dari masalah kebijakan politik-ekonomi- sosial-budaya-
hukum, sehingga akan banyak orang yang terlibat atau di-libat-kan,
pusing ya…salah sendiri yang mau mempelajarinya ya…
> Semoga tulisan ini bermanfaat, mohon pencerahan rekan-2 yang sudah
banyak pengalaman, maaf buat pak ATA kalau saya salah sebut pangkat eh
jabatannya ya ... kapan sempat ketemu darat ?
> Wassalam,
> Onnos       Â
>
>
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> From: dpurb...@yahoo. com
> Date: Mon, 10 Aug 2009 08:48:43 -0700
> Subject: Re: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?
>
> Â
>
>
>
>
>
>
> Pak Abimanyu dan sahabats,
>
> Sudah beberapa kali saya sampaikan bahwa hal-hal gaib itu tidak dapat
kita masuki terutama bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan
memasukinya. Jadi kebenarannya sangat tergantung pada kredibilitas
informan yang mengalami atau yang bisa melihat. Secara ilmiah tentu ada
caranya yang agak mendekati, yaitu dengan proses cross check atau
triangulasi sampai jenuh. Repotnya, jika kita ingin mengungkapkan (bukan
memasuki) kebenaran itu memang diperlukan orang-orang yang mengalami
sendiri atau orang-orang yang mampu melihatnya. Cara ini seperti kita
mendengarkan ceritera tentang mimpi yang sangat subyektif.
>
> Tetapi sebenarnya ada bedanya. Minggu kemarin saudara saya yang saya
ketahui bisa melihat alam gaib nyekar bersama saya ke makam
saudara-saudara, dia berceritera bahwa beberapa kali dia datang ke makam
eyang kakung dari sampingnya selalu ada kejadian aneh. Kejadian itu
adalah dari sebuah nisan selalu keluar pusaka-pusaka yang bergerak-gerak
naik turun, berupa keris, tombak dll. Dia sendiri selalu merasakan
seluruh tubuhnya seperti dicocok-cocok dengan pusaka-pusaka itu. Nyekar
kemarin lebih jelas lagi, ternyata dia melihat (gaib) di atas nisan itu
duduk seorang laki-laki kekar badannya, leher dan kedua tangannya
dirantai. Tangan kirinya memegang benda mirip sebuah telur angsa dan
warnanya ungu-merah. Dia merasakan bahwa laki-laki itu masih saudara
kami. Ketika nyekar selesai, di depan gerbang makam kakak saya bertanya,
siapa nama orang yang dikuburkan di sebelah eyang kakung? Ia
melanjutkan, orang itu pegangannya banyak dan sudah bertahun-tahun roh
itu
> ada di sana. Tadi dia menyodorkan tangan kiri dan kayaknya mengatakan
minta tolong supaya telur ungu-merah itu dilepaskan, sebab jika bisa
dilepaskan ia akan terbebas dari semua jimat yang mengikatnya.
>
> Soer harinya kami konfirmasi kepada Bapak, menanyakan siapa namanya
dan bagaimana riwayatnya orang itu ketika masih hidup. Ternyata ada
ceritera yang cocok, bahwa laki-laki kekar itu dulu memang orang hebat,
punya banyak pusaka sehingga hebat. Dia bahkan bisa memindahkan bayi
dari kandungan yang satu ke yang lain. Aneh-aneh kataku dalam hati.
tetapi itu ceritera lama. Nah jika kita ingin memasuki kebenaran yang
lebih dalam, tentu diperlukan langkah-langkah lagi yang lebih sistematis
hingga ditemukan kejenuhan informasi. Artinya masih diperlukan informasi
dari orang-orang yang hidup sejaman dengan laki-laki kekar itu. Kakak
saya bilang, baginya cukup tahu nama lengkap laki-laki itu, dia sanggup
melepaskan bebannya dengan doa khusus yang dilihatnya di tempat itu.
>
> Jika serius untuk memasuki kebenaran gaib saya kira ada jalan yang
bisa ditempuh, dengan cara-cara yang mendekati kebenaran ilmiah juga.
>
> Salam,
>
> Djarot Purbadi
>
> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
> http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
>
> --- On Mon, 8/10/09, abimanyu takdir alamsyah takdi...@gmail. com>
wrote:
>
>
> From: abimanyu takdir alamsyah takdi...@gmail. com>
> Subject: Re: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Monday, August 10, 2009, 5:07 PM
>
>
> Â
>
> Mas Ono ysh, kalau pake prof2-an saya ga bebas ngomong nih, biasa
sajalah, saya masih seperti di PMB dulu... (Kalau di tempat yang relevan
ok, atau di dewan GB malah enak...karena ga inget nama semua GB, jadi
tinggal panggil "prof"...beres. ..he he...praktis. ..)
>
> Mengeai dimensi, dalam ber-hermenetik- fenomemologis saya lebih suka
membagi dua saja: dimensi alam dan manusia.
>
> Kalau alam (ecologik atau bio-geokimia/ fisik) ya waktu-ruang (4
dimensi) saja, karena saya bukan nabi Sulaiman yang bisa berdialog
dengan unsur alam...Karena alam tidak bisa ngomong (paling tidak sama
saya, pendekatan hermenetik lebih pas bagi saya....telusuri saja secara
mendalam....
> Kalau manusia (antropo atau psiko-sosio- ekonomi-hukum- budaya, dll
unsur peradaban manusia) saya menambahkan istilah "kultur", jadi 5
dimensi: wakturuang kultural.
>
> Sebabnya? semua hasil pemikiran, penghayatan, kepercayaan dll manusia
walau sangat beragam produknya atau seberapa luas wilayah jelajah
rohaninya atau seberapa mumpuni ajian kewajyuannya, yang saya peroleh
baru sampai tahap memahami kekhasan pemberian nilai-nilai/ values yang
bersifat atau berbasis kultur kelompok (atau individu?) yang dianut
(dipercaya)- nya. Nah kalau dimensi ke-enam dst yang mas Ono sampaikan,
menurut saya dapat saja diduplikasi terhadap yang 5 dimensi tersebut,
walau tidak "kasat mata", susah saya pertanggung jawabkan berdasarkan
"ngelmu" yang saya mampu miliki hingga kini.
>
> Jadi, walau indera ke-enam dst mungkin yang mampu mereka miliki
(katanya), tetap saja yang mampu saya tangkap hanya hingga 5 dimensi
tersebut.
>
> Bukannya saya percaya atau tidak percaya dengan yang gaib-gaib itu lho
Eyang Aby. Bukan juga karena saya "durung Jowo" atau tidak memiliki
darah "orang bunian", seperti konon riwayat nenek moyang saya masa lalu.
Eyang kakung dan beberapa "ndulur" saya dahulu bukan saja pernah mengaku
kenal dengan Nyai Roro Kidul, turunan Dewi Nawangwulan, bahkan mengajar
silat atau menari kepada yang belum pernah belajar sebelumnya hanya
dengan hanya semedi dimuka mereka, menyembuhkan penyakit dengan hanya
air memberi minum air putih yang didoakan atau dimasukkan tulisan huruf
"alif", dsb, dsb.
> Tetap saja saya tidak mampu nerekam karya mereka sebagai "fakta
ilmiah" yang dapat dipertanggung jawabkan. Jadi saya memilih untuk
memsaukkan semua karya pemikiran dan kemampuan manusia sebagai individu
atau kelompok tersebut sebagai "kekhasan kultural" (antropologik) , sama
sahih-nya dengan kepercayaan para pakar produk pemikiran dari Barat
hingga ke Timur di "masyarakat Global" ini.
>
> Jadi, kalau mau pakai istilah sekolahan, saya memasukkan pendekatan
fenomenologi dalam pengertian memahami alam dan manusia yang hidup
didalamnya berdasarkan dinamika perubahan kondisi fisikal wakturuangnya
maupun dinamika perubahan unsur kultural individu maupun kelompok
pemukimmya (asal/lokal maupun pendatang). Bahkan pendekatan
deep-ekologi, environmentalisme radikal atau penganut konsep "green"
(architecture/ building/ city dll) sesungguhnya juga bukan hanya
berbasis "kearifan" alam, namun juga memiliki atau dipengaruhi oleh
acuan atau cara memberi nilai-nilai "kultural" yang belum tentu sama di
kawasan yang berbeda...
>
> Jadi...silahkan berargumentasi lagi...tidak perlu lebih cepat lebih
baik,
> tidak apa-apa berlama-lama merenung, menemukan atau mengembangkan
kebenaran baru, asalkan sambil tidak berhenti beramal (berproduk). ..
melalui amalan tersebut akan berkembang pulau temuan kebenaran
baru...karena alam dan manusia juga selalu berubah...mengalir. ..dengan
ikhlas....
> Kita cuma mengikuti siklus dinamis perubahan selama puluhan, ratusan,
ribuan...bahkan jutaan tahun....apapun yang kita lakukan, seberapa besar
keberhasilan kita berdebat mengenai menghemat sumber daya alam dan
membela kaum tertinggal.. .
>
> ....jangan malah "tidur lagi"...nanti malah keterusan tidur loh....
>
> Salam,
> ATA
>
>
>
>
>
> 2009/8/4 Sugiono Ronodihardjo sugion...@hotmail. com>
>
>
>
>
>
> Prof. ATA, mas Djarot & rekan2 ysh,
> Wah ternyata kalau kita diskusi tentang yang 'ghoib' jadi menarik juga
ya... Prof. ATA, ada yang bilang itu 'dimensi ke-4', tetapi untuk masuk
kesana harus pakai indera yang ke-6.
> Bagi mereka yang punya bakat atau dikaruniai kelebihan/kepekaan indera
ke-6, mungkin bisa merasakan hal-hal yang 'ghoib' yang tidak 'kasat mata
normal', maka mereka yang punya 'keluwihan' tersebut dapat disebut
sebagai 'paranormal' .
> Masalahnya kalau dikaitkan dengan 'penciptaan ruang' yang seluas kota,
dimana dihuni oleh banyak orang dengan berbagai kemauan dan berbeda
pandangan, apakah 'pendekatan' tersebut dapat menyelesaikan masalah,
terutama tentunya untuk meningkatkan harkat hidup
(kesejahteraan&kedamaian&keselamatan) bagi masyarakat penghuni kota ?
Mungkin di jaman Kerajaan dulu, dimana rakyat menganggap rajanya sebagai
'wakil Tuhan' di bumi, semua rakyat menyerahkan 'kebijakan' kepada sang
raja, sehingga tidak ada 'planning process' yang demokratis dalam
pengambilan keputusan.
> Saya pernah terpikir 'analogi', kalau dulu ada orang yang punya
'keluwihan' bisa berkomunikasi jarak jauh dengan cara 'telepati',
sekarang dengan adanya 'hp' setiap orang dapat berkomunikasi jarak jauh
tanpa harus belajar dulu ilmu 'telepati'. Sepertinya penemu teknologi
'hp' itulah yang sekarang kita sebut orang 'linuwih atau sakti', karena
dia dapat 'menterjemahkan' fenomena 'telepati' dengan teknologi modern
yang dapat diterima dan menguntungkan orang banyak (walaupun ada segi
negatifnya juga lho...). Mungkinkah dengan 'semedi' kita dapat
memperoleh 'wangsit' pendekatan teknologi yang dapat 'menciptakan ruang'
untuk meningkatkan harkat hidup masyarakat suatu kota ? Semoga ada ya
....wallahualam bisawab.
>
>
> Wassalam,
> Onnos
>
>
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> From: takdi...@gmail. com
> Date: Tue, 4 Aug 2009 08:54:37 +0700
>
>
>
> Subject: Re: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?
>
>
>
>
>
>
>
> Yth Pak Onnos,
>
> Selama ini yang saya anggap dimensi ke 4 adalah waktu sedangkan
dimensi ke 5 kultur manusia setempat (termasuk kearifan lokal yang dapat
arif lingkungan ataupun belum/masih antropogenik/ berbasis keberlanjutan
komunitasnya sendiri, misalnya etnik yang berpindah setelah lingkungan
lama tidak mampu mendukung lagi/rusak) --> waktu-ruang- kultural.
> Kalau supranatural mau dimasukkan, wah, bisa jadi dimensi yang ke 6,
yang mungkin saya perlu belajar banyak dari rekan-rekan mengenai
bagaimana metode pengumpulan informasi/datanya untuk penataan
waktu-ruang- kultural- supernatural. ...?
> (Eyang Aby, saya lupa bagaimana caranya semedi, dulu waktu mendapat
wahyu cakraningrat bagaimana ya....? takut malah jadi memedi.....)
>
> Salam,
> ATA
>
>
> 2009/8/3 Sugiono Ronodihardjo sugion...@hotmail. com>
>
>
>
>
>
> Pak BSP dan rekan2 ysh,
> Mengikuti diskusi tentang 'tempat keramat - critical planning',
sepertinya pak BSP setelah lama tinggal di Yogya jadi lebih 'njowoni'.
> Memang sangat baik kalau ada rekan2 yang tertarik untuk memetakan atau
menyusun semacam kumpulan ceritera tentang 'penciptaan ruang' yang
pernah ada di negeri ini dengan pendekatan 'supranatural' atau 'dimensi
4' yang mungkin terkait erat dengan 'kearifan lokal'. Dalam dunia
arsitektur mungkin sudah lama kita berkenalan dengan 'fengsui' yang
kemungkinan dapat diperluas untuk dunia 'planning' tingkat kota ? Namun
demikian, dengan paradigma baru dalam 'planning', salah satunya dengan
lebih adanya 'keterbukaan dan demokrasi' dalam proses 'planning', apakah
pendekatan 'supranatural' dapat diterima oleh masyarakat kita dimasa
depan yang semakin 'modern' ? Kebanyakan kita belajar teori 'planning
ala-barat' yang serba pakai logika yang jelas, tetapi mungkinkah kita di
jaman sekarang membangun negeri ini dengan tradisi katakan 'ala-timur'
misalnya dengan cara 'meditasi' ? Selamat mencoba, semoga tercipta ruang
yang dapat memberi kesejahteraan buat rakyat di
> negeri tercinta ini.
> Wassalam,
> Onnos
>
>
>
>
>
> To: refere...@yahoogrou ps.com
>
> From: bspr...@indosat. net.id
> Date: Mon, 3 Aug 2009 10:09:16 +0700
>
> Subject: Re: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?
>
>
>
>
>
> Mas Koeswadi, Mas Djarot ysh,
>
> Memang menarik bagi kita untuk bisa membuat sebuah inseklopedia tempat
keramat. Namun kita harus sangat berhati-hati terhadap definisi tempat
keramat tersebut. Perlu ada pemilahan yang jelas karena kalau tidak akan
terjebak kepada pengelompokan yang tidak terklasifikasi dengan baik.
>
> Contoh permasalahan yang akan muncul :
>
> a. bagaimana kita mengklasifikasi kraton di Sambas dimana terdapat
meriam beranak. Secara energi disana memang ada sebuah medan energi yang
kuat .... namun orang lebih datang pada meriam itu, sedangkan banyak
sudut2 dimana energi tersebut snagta kuat, ternyata tidak pernah
tersentuh .... karena memang disembunyikan oleh orang yang tahu...
apakah kita akan mengklasifikasikan sebagai sebuah kesatuan atau
terpisah ....
>
> b. situs Trowulan yang saat ini terpencar-pencar ini bagaimana kita
mengkodifikasi ... sebagai kesatuan atau tidak ... akankah kita
menggabungkan antara Candi Tikus dengan Pendopo Agung
>
> c. apakah Masjid Raya Maimoon yang akan menjadi lekasi keramat ataukah
Istana Maimoon di Medan ataukah ini sebuah kesatuan .. dan bagaimana
klasifikasinya;
>
> d. bagaimanakah kita menyikapi terhadap lokasi "keramat" seperti
masjid di Jimbung Klaten yang dikeramatkan karena ada sepasang bulus
(satu baru saja mati)
>
> e. bagaimanakah kita mengkodifikasi antara Gunug Srandil, Gua Semar,
Gunung Kemukus, Gunung Kawi dengan misalnya petilasan Sunan Muria
misalnya
>
> Jadi karena kita sudah dibiasakan menggunakan pendekatan barat yang
mencoba dengan pola sistematisasi dan strukturisasi sehingga ini akan
menyebabkan kita perlu melakukan adjustment dalam pembuatan pengarsipan
itu.
>
> Inilah sulitnya bila kita mau menggabungkan pendekatan gamelan yang
berbasis pada harmonisasi dari improvisasi anggota kelompok dengan
orkestra yang ditentukan oleh ukuran yang tertentu.
>
> Salam
>
> bambang sp


Kirim email ke