Terima kasih Pak Djarot atas sharing ilmunya, RM
--- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote: > > Pak Risfan dan Sahabats, > > Fenomenologi Husserl ini dipelajari atas bimbingan Pakl Sudaryono. Dari Pak > Sudaryono saya belajar tentang "grandtour" dan "minitour", dalam tulisan saya > pribadi saya menggunakan istilah "pengamatan menjelajah" dan "pengamatan > mendalam" yang arti dan maksudnya sama. Proses ini bersifat umum, mirip > ketika kita membaca buku dengan cara scanning dan detil. Sama seperti waktu > membaca buku, kita di awal memiliki tema yang akan kita cari kaitannya dengan > buku yang akan kita baca. Tahap awal ini biasanya kita menuliskan > temuan-temuan tentatif, misalnya berupa daftar tema yang muncul. Artinya,pada > tahap awal kita menemukan pemandangan umum dan plot-plot tema yang menunggu > untuk dieksplorasi. Jika kita agak kreatif, boleh saja dicoba dibuat semacam > struktur, ada tema yang terkait dengan tema lain, mungkin dikelompokkan atau > dibuat ada garis-garis yang menunjukkan relasi. Temuan ini harus disikapi > sebagai temuan sementara dan menjadi peta awal penelusuran lebih > jauh. > > Proses berfenomenologi yang sesungguhnya terjadi pada tahapan minitour atau > pengamatan mendalam sebab biasanya kita mengamati ruang secara intensif, > memperhatikan perilaku secara mendalam dan mendengarkan ungkapan-ungkapan > informan dengan sangat teliti. Pada proses ini kita perlu memperhatikan > adanya terminologi lokal yang muncul, sebab realitas yang kompleks kadang > diringkas oleh informan dengan terminologi lokal. Kita ingat ada terminologi > "lengser keprabon" di era Suharto, tentu di balik terminologi unik itu kita > sudah bisa memahami realitas unik yang lebih besar diungkapkan dengan istilah > lokal yang sederhana itu. > > Pada waktu proses minitour ini pikiran kita terbuka dan jangan membiarkan > teori-teori atau pengetahuan yang ada di dalam pikiran kita ikut berbicara > atau bereaksi supaya kita bisa murni diri saat memandang obyek. Jika di > lapangan kita mendengar opini lokal tentang obyek yang kita amati, kita catat > saja dan jangan biarkan opini lokal itu mencemari proses pengamatan kita. > Jadi diusahakan, kesadaran kita murni tidak tercemari apapun dan obyek kajian > kita harus dibiarkan mengungkapkan diri seutuhnya tanpa diganggu hal-hal di > luar dirinya, termasuk kehadiran kita. Dalam praktek di Jalan Godean, saya > melakukan pengamatan partisipatif dan hanya mengandalkan ingatan untuk > menuliskan wawancara atau pengamatan yang sudah berlangsung. > > Kuncinya, dalam proses wawancara kita berusaha secara bertahap masuk ke dalam > dunia batin informan (responden). Ini kuncinya. Jika kita tidak mampu > menemukan / berjumpa dengan dunia batin mereka maka kita belum melakukan > penggalian data dengan cara fenomenologis. Artinya, kita hanya sampai pada > wawancara biasa. Pada waktu wawancara mendalam itu, kita menjadi pendengar > yang baik namun aktif, khususnya melontarkan pertanyaan yang purposif untuk > menguak misteri dunia batin informan kita. Kita bebas mengajukan pertanyaan > yang bersifat vertikal (menggali informasi ke tahap transenden-abstrak) atau > yang bersifat horisontal (menggali relasi-relasi dengan yang lain). > > Biasanya setelah melakukan pengamatan yang sangat mendalam semacam ini, > peneliti akan kelelahan sebab selama pengamatan dan wawancara dilakukan > dengan konsentrasi tinggi. Tanpa konsentrasi tinggi yang sadar tentang data > apa yang diperlukan biasanya kita hanya mendapat data sedikit. Jika sudah > berpengalaman, tentunya beda, bisa lebih cepat dan lebih tepat menemukan data > yang digali. Proses selanjutnya adalah membuat catatan deskriptif tentang > wawancara yang dilakukan. Jika ada hal-hal yang perlu di dalami atau ada > pandangan yang bertentangan, biasanya dilakukan validasi sampai mendapatkan > kejenuhan informasi. Hasil pengamatan lapangan ini segera dicatat dengan > runtut dan selengkap-lengkapnya ke dalam catatan harian. Pada waktu mencatat > itulah kita memeriksa apakah data yang tercatat sudah mengandung tiga unsur > kunci: ruang, perilaku dan nilai-nilai. > > Pengamatan dan penulisan laporannya secara minitour ini sama pada tema > informasi yang lain, akhirnya kita mendapatkan catatan lapangan yang mendalam > per-tema dan jika diakumulasikan akan menjadi catatan lapangan yang lengkap. > Dari setiap catatan lapangan per-tema kita juga menuliskan relasinya antar > tema, sehingga seluruh informasi membentuk / membangun pengetahuan di dalam > benak kita. Peran pembimbing biasanya adalah menjaga apakah ruang, perilaku > dan nilai serta aspek-aspek visual, rasional, etik-transenden sudah terekam > dalam pengamatan dan laporan. Pembimbing juga bisa menunjukkan mana tema yang > kuat dan yang lemah, termasuk menguak bagaimana relasi antar tema yang kadang > tidak disadari adanya oleh pengamat. > > Belum semuanya Pak, tetapi garis besarnya begitu, dan itupun baru proses > mengenali fenomena, sementara proses analisisnya dilakukan secara bertahap > sejak pengumpulan data awal hingga "akhir". Proses analisis menggunakan tiga > tahap reduksi fenomenologi versi Husserl, yaitu berusaha menemukan hakekat > dari tema yang ditemukan. > > Sekian dulu ya Pak, dulu latihan berfenomenologi ini satu semester sendiri > dengan kerja lapangan sebulan. > > Salam, > > > > Djarot Purbadi > > > > http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] > > http://arsitekturnusantara.wordpress.com > > http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com > > --- On Mon, 8/10/09, risfano <risf...@...> wrote: > > From: risfano <risf...@...> > Subject: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ? > To: [email protected] > Date: Monday, August 10, 2009, 9:54 AM > > > > > > > > > > > > > Pak Djarot, Bang Ekadj, > > > > Terima kasih atas penyegarannya. Hari Minggu kemarin saya sempatkan browsing > tentang fenomenologi dalam kaitan urban planning/design, rupanya memang sudah > jadi trend juga di beberapa negara/sekolah. > > > > Sebagai alternatif kajian fenomena perkotaan nampaknya bisa diharapkan untuk > lebih membumikan RTRW. Karena pendekatan konvensional/ linier: [perencanaan > >> pengesyahan >> pelaksanaan dgn tibum >> gagal >> frustrasi] yang > diterapkan Pemda selama ini, perlu disegarkan dengan pemahaman yang lebih > membumi tentang "mengapa?" timbul kecenderungan alih fungsi, kerumunan PKL, > dst. termasuk di tingkat hubungan antar elit pengambil keputusan "mengapa" > selalu begitu? Pertama memahami,berikutnya bagaimana mengintervensi. > > > > Singkatnya pendekatan manajemen penataan ruang selain pendekatan "police > power atau law enforcement" perlu juga dilengkapi dengan pendekatan perubahan > perilaku, supaya penataan ruang bisa menjadi kesadaran dan perilaku > sehari-hari masyarakat. > > > > Terima kasih Pak Djarot, kalau ada uraian ringkas "prosedur fenomenologi" itu > tentu akan lebih terima kasih. > > > > Salam, > > Risfan Munir > > http://urbaneconomi c.blogspot. com > > http://ecoplano. blogspot. com >

