Pak Risfano, saya pernah punya informan seorang pengemis yang sehari-hari mangkal di depan pintu halaman gedung DPRD di Malioboro. Orang itu sekarang sudah tidak saya temukan lagi, entah sudah meninggal dunia atau bagaimana saya tidak tahu.
Dari penelusuran saya, Pak Kromo (nama samaran) waktu muda pernah menjadi tukang becak di pasar Kranggan dan setelah nggak kuat mbecak beliau duduk saja di depan pintu halaman DPRD. Jika ada tamu, petugas kantor DPRD bilang supaya pak Kromo duduknya agak jauh dari pintu. Hebatnya, dia bilang dalam bahasa Jawa halus, bukan dengan kata-kata Indonesia yang kasar. Tempat dia mangkal itu bagaikan kantornya, sebab setiap pagi dia diantar anaknya ke situ dengan naik becan karena profesi mbecak sudah diturunkan ke anaknya. Pak Kromo juga membawa minum dan makan siang. Jika sudah siang dia dijemput anaknya untuk pulang. Begitu irama kegiatannya setiap hari. Dengan fenomenologi, saya yakin kita bisa memahami ruang dan kehidupannya yang sangat kaya dan mendalam. Saya kira kedalaman pemahaman kita tentang kedua hal tersebut penting sebagai knowledge ketika para planner berusaha menyusun tata keruangan yang mengatur manusia yang tinggal di dalamnya. Knowledge itu bermanfaat sebagai background saja atau juga bisa sebagai substansinya jika tugas planner mengatur kehidupan di tempat itu. Pada waktu membuat salah satu bagian laporan Parangtritis, saya pernah dipuji senior saya karena berhasil menulis laporan yang memuat kaitan kekerabatan dengan penguasaan ruang. Saya tidak tahu, apakah kekerabatan ini merupakan hal yang penting dalam diskursus tata keruangan selama ini, tetapi sejak Parangtritis itulah kekerabatan menjadi salah satu kunci diskursus tata keruangan di Ars-plano UGM. Jika diperhatikan, di Malioboro juga kekerabatan (dan pertemanan) memiliki andil penting pada sebaran para pelaku ruang. Toko tekstil dulu dikuasai keturunan India, sekarang angkringan bakso didominasi orang Gunung Kidul. Kekerabatan dan pertemanan bahkan saya temukan banyak digunakan dalam proses migrasi warga desa ke kota. Ada contoh saya tuliskan dalam blog http://penghunikota.wordpress.com. Tentang etnografi dan fenomenologi ada ceritera menarik Pak. Dalam pandangan saya etnografi adalah catatan mendalam yang dibuat oleg kalangan antropolog (semula etnolog). Sebutan ini terlanjur terkenal dan melekat pada profesi antropologi. Lha saya nggak terima, kemudian saya introduksi terminologi FENOMENOGRAFI sebagai catatan sejenis etnografi tetapi disebut fenomenografi karena yang membuat fenomenolog atau orang yang menggunakan kacamata fenomenologi. Bedanya, jika etnografi tekanan pada paparan tentang nilai dan perilaku, pada fenomenografi ada tambahan unsur yaitu ruang. Jadi fenomenografi memaparkan tentang ruang, perilaku dan nilai-nilai. Triad ini khas untuk kita yang memperhatikan ruang dan itu yang membedakan kita dengan antropolog. Jika Bapak mendiskripsikan keberadaan komunitas tukang becak hanya tentang perilaku dan nilai-nila yang mereka hayati itu masih bersifat etnografi. Tetapi jika Bapak juga mengeksplorasi sebaran spasial mereka, nah Bapak memiliki catatan yang fenomenografis. Aspek keruangan / spasial ini menjadi ciri penting yang membedakannya. Saya juga mengupas beberapa "ritual adat" di Kaenbaun, dan saya menemukan bagaimana tata spasial atau konsep spasial yang tersembunyi di baliknya. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnusantara.wordpress.com http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Sat, 8/8/09, risfano <[email protected]> wrote: From: risfano <[email protected]> Subject: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ? To: [email protected] Date: Saturday, August 8, 2009, 9:37 AM Pak Djarot, Saya tertarik dengan "wawancara tukang becak". Di kompleks rumah saya (kita-kira 600 kk) warga sepakat untuk tujuan keamanan dibuat "portal-portal" (ada yg buka-tutup, ada yang permanen). Yang protes ternyata para tukang becak, sampai demo di kantor RW. Akhirnya dilakukan dialog, ternyata alasan mereka adalah rute becak terganggu, jarak (ke jalan besar, ke sekolah, pertokoan, pasar) menjadi jauh, menanjak. Sementara ongkos tak bisa naik, kira-kira begitu. Lalu dicari jalan untuk melakukan persuasi dengan "mengenal lebih jauh" supaya taktik bisa diterapkan dengan memegang pentolannya. Ternyata ada yang menarik, untuk kerumunan becak yang tak seberapa jumlahnya itu ada beberapa klan/grup, ada yang dari kampung sekitar, ada yang dari Cirebon dan sekitarnya, ada yang dari Jawa, ada yang lepas. Sebagian anggota komunitas yang lebih luas. Sehingga pendekatan perlu disesuaikan lagi..... Terus apa beda "fenomenologi" ini dengan "etnografi" misalnya Pak Djarot? Salam, Risfan Munir --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@.. .> wrote: > > Pak BSP, saya belum terlalu lama menikmati nikmatnya fenomenologi. Salah > satunya adalah bahwa realitas yang ditangkapnya tidak lagi bersifat "fotomic" > melainkan "holografic" . Jika kita mewawancara mendalam seorang tukang becak, > misalnya, kita sebenarnya tahu lebih jauh yaitu tentang "dunia tukang becak". > Jadi tahu sedikit bisa melongok ngicipi yang lebih jauh ! > > Rahasianya, untuk berfenomenologi yang berkualitas memang harus latihan. > Latihan pertama, memurnikan diri, yaitu membiasakan tidak terpengaruh oleh > teori-teori yang pernah kita ketahui....ini nggak murtad dari dunia ilmuwan > lho, hanya melakukan skipping sebentar supaya proses memahami subyek/obyek > yang kita cermati tidak dicemari teori-teori atau opini pihak lain terhadap > obyek.subyek kajian kita. Latihan kedua adalah menuliskan atau mendongengkan > pengalaman itu dengan runtut dan detil. Dua jurus dulu ya Pak. > > Salam, > > > > Djarot Purbadi > > > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] > > http://arsitekturnu santara.wordpres s.com > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com > > --- On Thu, 8/6/09, bspr...@... <bspr...@... > wrote: > > From: bspr...@... <bspr...@... > > Subject: RE: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ? > To: refere...@yahoogrou ps.com > Date: Thursday, August 6, 2009, 12:16 PM > > > > > > > > > > > > > Luar biasa mas Djarot ... > saya mendapatkan pencerahan. > Matur nuwun > salam > bambang sp >

