Mas Risfan ysh,

Saya hanya bisa menyampaikan sebuah pengalaman untuk membuktikan thesa 
ketidakjelasan menciptakan keseimbangan. 

Pengalaman 1.

Pada waktu di kanwil PU dulu, ada sbeuah program untuk kaum difable yaitu 
guiding block di Malioboro. Semula dilakukan dengan pendekatan formalistik. 
Mereka diminta untuk membebaskan ruang yang akan dibangun guiding block. 
Hasilnya macet total. Lalu muncul seorang yang akrab dengan masyarakat yaitu 
mas Ika Putra dan juga seorang difable (ketua) kalau nggak salah mas Sis. Kita 
mencoba mendekati masyarakat dengan menyerahkan pada komunitas Malioboro ... 
hasilnya ... berhasil baik. TIDAK ADA INTERVENSI PEMERINTAH DAN TIDAK 
FORMALISTIS.

Pengalaman 2

Ada program dari Departemen PU yang namanya co-built, suatu program bantuan 
kepada masyarakat kecil dalam membangun dan memperbaiki rumah. Pada waktu itu 
program selesai dan oleh pemerintah pusat cq Dep. PU diminta dana bantuan 
tersebut diberikan ke dinas PU. Saya mencoba memberanikan diri dengan 
mempercayakan kepada mekanisme masyarakat secara langsung. Hasil akhir ... 
program yang dipegang oleh dinas2 hancur semuanya kecuali 2 (Semarang dan Bali 
yang punya pendekatan hampir sama) !!!! Yang di Jogja sekarang dari dana 2,4 M 
diserahkan ke masyarakat sekarang sudah berkembang menjadi 11 M !!! dan sudah 
berhasil membantu lebih dari 4.000 keluarga miskin. .... TIDAK ADA INTERVENSI 
PEMERINTAH DAN TIDAK FORMALISTIS.

Pengalaman 3

Pembangunan jalan propinsi di Bantul (kecamatan Palbabang), membutuhkan 
pembebasan lahan. Pendekatan semula formal. Ternyata tidak bisa jalan. Pimpro 
kemudian menyerahkan semua kepada masyarakat. Alhasil pembebasan lahan berhasil 
dan TANPA MENGEL;UARKAN DANA dan itu TANPA INTERVENSI PEMERINTAH DAN TIDAK 
FORMALISTIS.

Pengalaman 4

Proyek Pembangunan Prasarana Permukiman (P3P) di DIY melakukan sebuah uji coba 
terhadap penghematan dalam pembanugan prasarana. Pimpro hanya diminta untuk 
membeli pipa dan pompa serta meter. Kemudian masyarakat yang membutuhkan 
prasarana diminta untuk melakukan rembug sendiri dan kemudian secara gotong 
royong mereka melakukan pembangunan sendiri. Biaya pembangunan bisa dihemat 
sampai 50% lebih, dan saat ini sudah terbentuk lebih dari 40 PDeAM (Perusahaan 
Desa Air Minum). Ini semua TANPA INTERVENSI PEMERINTAH DAN TIDAK FORMALISTIS.

Sebenarnya masih banyak contoh-contoh yang menunjukkan bahwa ketidak jelasan 
(mungkinkah saya sebut sebagai fusi???) ternyata menciptakan keseimbangan.

Pantes pada waktu saya pertama kali menjabat Sekda, saya diminta Gubenrur untuk 
sowan salah dedengkot-dedengkot preman. Tugasnya adalah menciptakan 
kesepahaman. 

Salam

bambang sp

Kirim email ke