Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-22 Terurut Topik h.s nurbayanti
saya paham semangatnya, tapi mungkin aplikasinya yg kurang makyusss...
padahal sih mungkin simple aja.. gak usah nyiksa diri..
tapi, memasang mind-set bahwa kita bukan makhluk suci apalagi sempurna..
justru tempatnya salah.. dan kedodolan..
mungkin itu lebih baik, dari perasaan ibadahnya sudah baik..
lha katanya jubah kesombongan itu cuma milik Allah.. dan setau saya jubahNya
tidak disewakan atau dipinjamkan apalagi diperjualbelikan deh :P
itu mungkin lebih sederhana, lebih mudah dan lebih logis utk dilakukan
dan bukan berarti kedodolan itu mesti sesuatu yg perlu ditangisi..
seringkali sih justru suatu kedodolan yg menimbulkan senyuman...hehehe...
menertawakan diri sendiri kan hal yg gampang2 susah hehehe...
tapi begitu bisa melakukan itu, membebaskan dari berbagai macam juga..

itu sih, pemahaman saya yg sangat awam..


2008/12/22 Wikan Danar Sunindyo 

>   jadi inget beberapa tradisi "penyiksaan diri" dalam rangka mendekatkan
> diri pada Allah
> - ada yang sengaja membakarkan tangannya pada api untuk mengingatkan
> pada api neraka
> - ada yang tidur di bawah tanah untuk mengingatkan pada kubur
> - ada yang mencambuk-cambuk dirinya untuk mengingatkan pada siksa di
> akhirat
>
> hal seperti ini kira2 wajar gak sih?
>
> salam,
> --
> wikan
>
> On Mon, Dec 22, 2008 at 4:00 PM, bmuncar 
> >
> wrote:
> > Tertarik dengan ungkapan Pak Kartono soalIslam tidak mempersulit
> > umatnya. Kayaknya sekarang makin sulit makin asyik. Makin
> > berdarah-darah makin puas. Makin banyak air mata makin mak nyus.
> > Sering juga bertanya-tanya, mengapa kalau berdoa harus dengan menangis
> > dan nada sedih? Kalau berdoa dengan senyum diterima Allah nggak ya?
> > Salam
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]



Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-22 Terurut Topik Wikan Danar Sunindyo
jadi inget beberapa tradisi "penyiksaan diri" dalam rangka mendekatkan
diri pada Allah
- ada yang sengaja membakarkan tangannya pada api untuk mengingatkan
pada api neraka
- ada yang tidur di bawah tanah untuk mengingatkan pada kubur
- ada yang mencambuk-cambuk dirinya untuk mengingatkan pada siksa di akhirat

hal seperti ini kira2 wajar gak sih?

salam,
--
wikan

On Mon, Dec 22, 2008 at 4:00 PM, bmuncar  wrote:
> Tertarik dengan ungkapan Pak Kartono soalIslam tidak mempersulit
> umatnya. Kayaknya sekarang makin sulit makin asyik. Makin
> berdarah-darah makin puas. Makin banyak air mata makin mak nyus.
> Sering juga bertanya-tanya, mengapa kalau berdoa harus dengan menangis
> dan nada sedih? Kalau berdoa dengan senyum diterima Allah nggak ya?
> Salam


[wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-22 Terurut Topik bmuncar
Tertarik dengan ungkapan Pak Kartono soalIslam tidak mempersulit
umatnya. Kayaknya sekarang makin sulit makin asyik. Makin
berdarah-darah makin puas. Makin banyak air mata makin mak nyus.
Sering juga bertanya-tanya, mengapa kalau berdoa harus dengan menangis
dan nada sedih? Kalau berdoa dengan senyum diterima Allah nggak ya?
Salam
 
--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Kartono Mohamad" 
wrote:
>
> Lha sudah tahu iklimnya panas dan lembab kok pakai pakaian yg rapet
dan hitam. Ya makin panas, makin berkeringat dan makin tidak sehat.
Menyiksa diri namanya. Apakah islam menyuruh umatnya menyiksa diri?
Lha katanya islam tidak mempersulit umatnya.
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
> 
> -Original Message-
> From: "Ari Condro" 
> 
> Date: Mon, 22 Dec 2008 14:22:48 
> To: 
> Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab
> 
> 
> lha kalau di indonesia yg panas dan gerah, kalau jilbab tidak
terkait islam,
> lantas buat apa donk ? apalagi yg pakai cadar dan abaya.  yakin panas
> banget.
> sales sampurna aja seragam awalnya hitam hitam.  mereka protes sama
phillip
> morrisnya, karena buat orang lapangan, terasa banaget panasnya. 
akhirnya
> sekarang diganti coklat muda.
> 
> huehehe ...
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>




Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-22 Terurut Topik Kartono Mohamad
Lha sudah tahu iklimnya panas dan lembab kok pakai pakaian yg rapet dan hitam. 
Ya makin panas, makin berkeringat dan makin tidak sehat. Menyiksa diri namanya. 
Apakah islam menyuruh umatnya menyiksa diri? Lha katanya islam tidak 
mempersulit umatnya.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-Original Message-
From: "Ari Condro" 

Date: Mon, 22 Dec 2008 14:22:48 
To: 
Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab


lha kalau di indonesia yg panas dan gerah, kalau jilbab tidak terkait islam,
lantas buat apa donk ? apalagi yg pakai cadar dan abaya.  yakin panas
banget.
sales sampurna aja seragam awalnya hitam hitam.  mereka protes sama phillip
morrisnya, karena buat orang lapangan, terasa banaget panasnya.  akhirnya
sekarang diganti coklat muda.

huehehe ...


[Non-text portions of this message have been removed]




[Non-text portions of this message have been removed]




===
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscr...@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejaht...@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelism...@yahoogroups.com

This mailing list has a special spell casted to reject any attachment 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:wanita-muslimah-dig...@yahoogroups.com 
mailto:wanita-muslimah-fullfeatu...@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
wanita-muslimah-unsubscr...@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/



[wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-22 Terurut Topik Lina Dahlan
Eit dah ! Masih aja ngomongin jilbab. Ntar gw jilbabin jg nih 
masarcon. Rumbai2nya gw copot and gw jadiin masarcon seorang jilbaber 
and sekaligus pake cadar, biar kumisnye kagak kliatan...:-))

wassalam, 


--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Ari Condro"  
wrote:
>
> lha kalau di indonesia yg panas dan gerah, kalau jilbab tidak 
terkait islam,
> lantas buat apa donk ? apalagi yg pakai cadar dan abaya.  yakin panas
> banget.
> sales sampurna aja seragam awalnya hitam hitam.  mereka protes sama 
phillip
> morrisnya, karena buat orang lapangan, terasa banaget panasnya.  
akhirnya
> sekarang diganti coklat muda.
> 
> huehehe ...
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>




Re: [SPAM] Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-22 Terurut Topik Sunny
Saya kira, pada umumnya kebiasaan atau adat istiadat setempat dimasukkan 
sebagai  tata cara agama.

  - Original Message - 
  From: Ari Condro 
  To: wanita-muslimah@yahoogroups.com 
  Sent: Monday, December 22, 2008 8:42 AM
  Subject: [SPAM] Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab


  Btw, panjang juga diskusi tentang asal muasal topi ini. kalau serius mau
  merujuk jenis topi bisa main sebentar ke
  http://en.wikipediaHat.org/wiki/<http://en.wikipediahat.org/wiki/>
  saya rasa ada beberapa yang identik dengan islam dan timur tengah.
  - kafiyeh (lebih jelasnya ada di
  http://en.wikipedia.org/wiki/Keffiyah)<http://en.wikipedia.org/wiki/Keffiyah>
  - turban (lebih jelasnya ada di http://en.wikipedia.org/wiki/Turban)
  sekarang malah identik dgn sikh <http://en.wikipedia.org/wiki/Turban>
  - kippah (kopiah kalau yg islam ???
  http://en.wikipedia.org/wiki/Kippah)<http://en.wikipedia.org/wiki/Kippah>
  lucunya malah mirip banget kan kopyah muslim ini dengan kippah yahudi.
  padahal kan muslim dilarang menyerupai "musuh" hehehe 

  satu yang ane heran dari dulu. blangkon ini apakah turban/surban yang
  dibuat dari kain batik yah ? awal sejarahnya bagaimana yah ? :D

  2008/12/22 Ari Condro 

  > lha kalau di indonesia yg panas dan gerah, kalau jilbab tidak terkait
  > islam, lantas buat apa donk ? apalagi yg pakai cadar dan abaya. yakin panas
  > banget.
  > sales sampurna aja seragam awalnya hitam hitam. mereka protes sama phillip
  > morrisnya, karena buat orang lapangan, terasa banaget panasnya. akhirnya
  > sekarang diganti coklat muda.
  >
  > huehehe ...
  >

  -- 
  salam,
  Ari

  [Non-text portions of this message have been removed]



   

[Non-text portions of this message have been removed]



Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-21 Terurut Topik Ari Condro
Btw, panjang juga diskusi tentang asal muasal topi ini.  kalau serius mau
merujuk jenis topi bisa main sebentar ke
http://en.wikipediaHat.org/wiki/
saya rasa ada beberapa yang identik dengan islam dan timur tengah.
- kafiyeh (lebih jelasnya ada di
http://en.wikipedia.org/wiki/Keffiyah)
- turban (lebih jelasnya ada di http://en.wikipedia.org/wiki/Turban)
sekarang malah identik dgn sikh 
- kippah (kopiah kalau yg islam ???
http://en.wikipedia.org/wiki/Kippah)
lucunya malah mirip banget kan kopyah muslim ini dengan kippah yahudi.
padahal kan muslim dilarang menyerupai "musuh"  hehehe 

satu yang ane heran dari dulu.  blangkon ini apakah turban/surban yang
dibuat dari kain batik yah ? awal sejarahnya bagaimana yah ?  :D





2008/12/22 Ari Condro 

> lha kalau di indonesia yg panas dan gerah, kalau jilbab tidak terkait
> islam, lantas buat apa donk ? apalagi yg pakai cadar dan abaya.  yakin panas
> banget.
> sales sampurna aja seragam awalnya hitam hitam.  mereka protes sama phillip
> morrisnya, karena buat orang lapangan, terasa banaget panasnya.  akhirnya
> sekarang diganti coklat muda.
>
> huehehe ...
>



-- 
salam,
Ari


[Non-text portions of this message have been removed]



Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-21 Terurut Topik Ari Condro
lha kalau di indonesia yg panas dan gerah, kalau jilbab tidak terkait islam,
lantas buat apa donk ? apalagi yg pakai cadar dan abaya.  yakin panas
banget.
sales sampurna aja seragam awalnya hitam hitam.  mereka protes sama phillip
morrisnya, karena buat orang lapangan, terasa banaget panasnya.  akhirnya
sekarang diganti coklat muda.

huehehe ...


[Non-text portions of this message have been removed]



Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-21 Terurut Topik Kartono Mohamad
Bukan dalemannya sorban. Peci di afganistan, pakistan dan india tdk terkait 
sorban. Orang afgan pakai sorban tanpa peci di dalamnya. Gabungan peci dan 
sorban merupakan tradisi turki yg kemudian juga  diterapkan di mesir sewaktu 
mesir jadi jajahan Turki. Di mesir jadi tradisi alumni al azhar.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-Original Message-
From: "Ari Condro" 

Date: Mon, 22 Dec 2008 10:54:59 
To: 
Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab


pak ton,

kalau peci itu bukannya dalamannya serban ?  jadi kalau mau pakai serban
biasanya pakai peci atau kupluk dulu, baru luarnya dililitkan si serban.
 saya kira karena di indonesia gerah, orang pakai peci saja, serbannya
digantung dileher.  yang sekarang ini malah sajadah yg digantung di leher.
 aya aya wae ... :D



On Fri, Dec 19, 2008 at 1:03 PM, Kartono Mohamad wrote:

> Peci merupakan derivat kopiah afganistan, pakistan, india. Mungkin saja
> dibawa orang Islam negara2 itu ke indonesia dan malaysia tetapi tidak
> berarti islam karena selain di arab (asal agama islam) tdk ada juga di
> afganistan, pakistan atau india bukan hanya yg islam yg memakai.
> Sent from my BlackBerry(R)
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
> -Original Message-
> From: "Ari Condro" 
>
> Date: Fri, 19 Dec 2008 09:52:55
> To: 
> Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab
>
>
> kalau yang ane tangkap sih, peci ini aslinya punya islam, terus
> dinasionalkan.so jilbab juga bisa, aslinya islam, terus di nasionalkan.
>
> kan malah mantap tuh, jadi gak ada yg bisa teriak teriak, kalau ada wanita
> berkerudung masuk gereja atau wihara.  secara itu busana nasional.  :D
>
>
>
>
> 2008/12/19 ritajkt 
>
> >   --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com 40yahoogroups.com>,
> > "herri.permana"
> >  wrote:
> > > Bung Karno itu ngefans sama Atarturk makanya buat identitas bangsa
> > > juga pake topi , bedanya turki buang terbus
> > >
> >
> > Kang Herri, coba buku biografi Bung Karno by Cindy Adams yang sohor
> > itu, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia". di cetakan 84 yg
> > saya punya adanya di halaman 71 dst, Bab "BAndung : Gerbang ke Dunia
> > Putih". Langsung konfirmasinya dari Bung Karno sendiri bahwa peci
> > itu resmi merupakan senjata pergerakan Indonesia merdeka melalui
> > state of fashion, jadi gak ada hubungannya sama Turki. Peci semata-
> > mata baju yang menyatukan rakyat seluruh Indonesia, DAN GAK ADA
> > HUBUNGANNYA sama agama
> >
> > Kalo dari buku lain, kita bisa tau pengaruh peci justru dari India.
> > Dan mungkin aja India ini dapetnya dari Turki yah? Gw belum baca
> > buku yang mengkonfirmasi hal itu, tapi setidaknya itu udah cukup
> > buat mengcounter argumen Anda or klaim orang Islam yang suka ge-er
> > mendaku milik budaya (dan perjuangan) sesuatu sebagai EKSKLUSIF
> > miliknya :))
> >
> >
> > > Dan jaman dulu mau masyumi , NU , Muhammadiyah , Persis dll jarang
> > > yang pake jilbab kaya sekarang cuma selendang plus kebaya, liat
> > aja
> > > foto-foto jaman itu.
> > >
> > > Mengenai SI sendiri ada dua kubu pendukung SI yaitu DI/TII dan
> > > Masyumi. Masyumi gak pernah dukung DI/TII mrk mlh dukung
> > > PRRI/Permesta , dan DI/TII juga nyerang rumah-rumah org masyumi
> > > termasuk rumah kakek saya, dan kakek saya dulu naik gunung buat
> > > ngeburu DI/TII terutama momok ansharullah yang suka nyulik
> > perempuan.
> > >
> > > Kalo sekarang turunan DI/TII : NII , PKS , MMI dll
> > > turunan Masyumi : PBB , PAN , MD dll
> > >
> > > dimana tafsiran ttg SI berbeda utamanya sih soal penghalalan darah
> > > dan pengkafiran muslim yang gak seide .Tahun 1959 Kartosuwiryo
> > ngasih
> > > fatwa muslim yang dukung NKRI halal dibunuh termasuk perempuan ,
> > anak-
> > > anak dan orang tua sambil bawa dali(h)l ayat suci, si Kahar
> > Muzakar
> > > ngebolehin nyulik perempuan sbgi ghonimah.Plus mereka ngehalalin
> > > ngerampok pake dalil perang badar.
> > >
> > > --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com 40yahoogroups.com>,
> > "h.s nurbayanti"
> > >  wrote:
> > > >
> > > > Yg perlu disalahkan, si penanggung dosa awalnya, kalau gitu,
> > bung
> > > karno?
> > > > bukan MUI?
> > > >
> > > >
> > > > 2008/12/18 werkuwer 
> > > >
> > > > > haiyaaa... setuju semua warga negara yang perempuan harus
> > pakai
> > > > > jilbab dan yang laki-laki harus pakai kupluk. selain i

Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-21 Terurut Topik Kartono Mohamad
Orang Eskimo pake jilbab lebih rapet lagi, meski tdk kesentuh islam. Orang 
rusia pake jilbab krn cuaca/iklim bukan krn sentuhan islam. Orang arab pake 
gamis dan burdah juga krn iklim daerahnya. Bukan krn islam
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-Original Message-
From: "Ari Condro" 

Date: Mon, 22 Dec 2008 10:56:25 
To: 
Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab


orang hun di hongaria dan yg turunan kazak memang ada yang pakai kerudung.
 makanya kan pakai jilbab, soale banyak yg kesentuh sentuh muslim ... :D



On Sun, Dec 21, 2008 at 8:01 PM, Kartono Mohamad wrote:

> Kerudung bukan simbol Islam. Orang Rusia terutama yg di siberia sudah dari
> dulu memakai kerudung yg mirip kerudung kita. Dan mereka bukan beragama
> Islam. Lihat juga orang Belanda spt yg tertera di kaleng coklat terkenal.
> Atau yg digambar kaleng susu cap nona.
> Sent from my BlackBerry(R)
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
> -Original Message-
> From: "Ari Condro" 
>
> Date: Sun, 21 Dec 2008 11:44:55
> To: Milis wm
> Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab
>
>
> Perasaan nenek saya dah pakai kebaya tipis menerawang yg memperlihatkan
> warna kutang dan kain batik dengan kerudung menerawang dari dulu, ingatan
> saya terawang kembali sejak saya lahir dan bisa mengingat.
>
> Jadi pakaian jawa yah sudah mengadopsi kerudung yg muslim sbg perlengkapan
> baju wanita jawa.  Catat, kerudung hanya dipakai kalau keluar rumah.  Ke
> pasar, undangan atau rumkit. Kalau bersih bersih di jalan depan rumah ya
> tidak dipakai.
>
> Di makasar juga pakai kerudung tipis menerawang waktu jamannya istri habibi
> dan jk jaman dulu.
>
> Kalo ane bilang sih kerudung tipis menerawang ini busana nasional, dan dulu
> di copy paste dari islam.
>
>
> salam,
>
>
>
> -Original Message-
> From: "L.Meilany" 
>
> Date: Sat, 20 Dec 2008 14:28:06
> To: 
> Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab
>
>
> Kerudung bukan busana nasional.
> Kerudung busana tradisional suku Betawi, Minang
> [ kemudian kalo acara resmi dibikin seperti tanduk, mau
> kasih lihat bahwa disana perempuan lebih be'berkuasa' :-)]
> Bahkan busana tradisonal Aceh saja ndak pake kerudung.
> Di Makassar aslinya baju bodo itu tipis menerawang, lengan pendek, juga
> nggak pake kerudung.
>
> Setahu saya busana nasional perempuan Indonesia [ resmi] adalah kain
> kebaya.
> Setelah Bu Tien meninggal banyak modifikasi, misalnya pake kain songket,
> sarung, kebayanya
> model baju kurung, tanpa sanggul [ Megawati mempopulerkannya] ya mirip
> pakaian malaysia.
>
> Komunitas Betawi yg beragama nasrani di desa apa gitu ya dekat Bekasi sana
> tetap berkerudung.
>
> Salam,
> l.meilany
>  - Original Message -
>  From: Ari Condro
>  To: Milis wm
>  Sent: Thursday, December 18, 2008 4:10 PM
>  Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab
>
>
>  Gimana kalau jilbab dijadikan busana nasional ? Kan kalau kerudung sudah.
>
>  Jadi nanti kalau ada ibu ibu berjilbab dan berkerudung merayakan hari ibu
> atau kartinian atau acara berbau adat di gereja, ya jangan protes lagi. Kan
> sudah didomestifikasi jadi baju nasional. Bukan kristenisasi jadinya. Toh
> jilbab juga niri baju peragawati  Eh, maksudnya jilbab juga niru baju
> biarawati.
>
>  :))
>
>  Gimana ? Kan kupluk saja sudah nasional :)). Di padang yg kristen juga
> setengah dipaksa pakai jilbab. Tinggal dilanjut aja sampai gereja :))
>
>
>  salam,
>
>
>
>  -Original Message-
>  From: "L.Meilany" 
>
>  Date: Thu, 18 Dec 2008 13:24:42
>  To: 
>  Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab
>
>
>  Kopyah yg dipakai pejabat itu urusannya pakaian nasional.
>  Kan yg non muslim juga pake kayak ketua partai buruh sapa tuh namanya
> orang batak.
>  Kemudian juga pendeta protestan sapa tuh juga namanya pun pakai kopiah.
>
>  Kalo yg lebih lengkap selain berkopiah juga pakai teluk belanga
>
>  Salam,
>  l.meilany
>  - Original Message -
>  From: Ari Condro
>  To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
>  Sent: Wednesday, December 17, 2008 7:59 AM
>  Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab
>
>
>  herni,
>  kalau pejabat negara potret bersama pakai kopyah kenapa gak sekalian
>  dipertanyakan ? bukannya menjurus juga tuh, si kopyah urusannya ... :D
>
>  2008/12/17 h.s nurbayanti 
>
>  > Kaitannya ma konstitusi, yg menarik adalah...
>  > MK cenderung merasa perda2 itu melanggar.
>  > MA sebaliknya, cenderung bilang itu tidak apa2.
>  > SBY cenderung gak mau ngutak-ngatik soal syariat.
>  > Yg diutak-atik Perda yang berkai

Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-21 Terurut Topik Ari Condro
orang hun di hongaria dan yg turunan kazak memang ada yang pakai kerudung.
 makanya kan pakai jilbab, soale banyak yg kesentuh sentuh muslim ... :D



On Sun, Dec 21, 2008 at 8:01 PM, Kartono Mohamad wrote:

> Kerudung bukan simbol Islam. Orang Rusia terutama yg di siberia sudah dari
> dulu memakai kerudung yg mirip kerudung kita. Dan mereka bukan beragama
> Islam. Lihat juga orang Belanda spt yg tertera di kaleng coklat terkenal.
> Atau yg digambar kaleng susu cap nona.
> Sent from my BlackBerry(R)
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
> -Original Message-
> From: "Ari Condro" 
>
> Date: Sun, 21 Dec 2008 11:44:55
> To: Milis wm
> Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab
>
>
> Perasaan nenek saya dah pakai kebaya tipis menerawang yg memperlihatkan
> warna kutang dan kain batik dengan kerudung menerawang dari dulu, ingatan
> saya terawang kembali sejak saya lahir dan bisa mengingat.
>
> Jadi pakaian jawa yah sudah mengadopsi kerudung yg muslim sbg perlengkapan
> baju wanita jawa.  Catat, kerudung hanya dipakai kalau keluar rumah.  Ke
> pasar, undangan atau rumkit. Kalau bersih bersih di jalan depan rumah ya
> tidak dipakai.
>
> Di makasar juga pakai kerudung tipis menerawang waktu jamannya istri habibi
> dan jk jaman dulu.
>
> Kalo ane bilang sih kerudung tipis menerawang ini busana nasional, dan dulu
> di copy paste dari islam.
>
>
> salam,
>
>
>
> -Original Message-
> From: "L.Meilany" 
>
> Date: Sat, 20 Dec 2008 14:28:06
> To: 
> Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab
>
>
> Kerudung bukan busana nasional.
> Kerudung busana tradisional suku Betawi, Minang
> [ kemudian kalo acara resmi dibikin seperti tanduk, mau
> kasih lihat bahwa disana perempuan lebih be'berkuasa' :-)]
> Bahkan busana tradisonal Aceh saja ndak pake kerudung.
> Di Makassar aslinya baju bodo itu tipis menerawang, lengan pendek, juga
> nggak pake kerudung.
>
> Setahu saya busana nasional perempuan Indonesia [ resmi] adalah kain
> kebaya.
> Setelah Bu Tien meninggal banyak modifikasi, misalnya pake kain songket,
> sarung, kebayanya
> model baju kurung, tanpa sanggul [ Megawati mempopulerkannya] ya mirip
> pakaian malaysia.
>
> Komunitas Betawi yg beragama nasrani di desa apa gitu ya dekat Bekasi sana
> tetap berkerudung.
>
> Salam,
> l.meilany
>  - Original Message -
>  From: Ari Condro
>  To: Milis wm
>  Sent: Thursday, December 18, 2008 4:10 PM
>  Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab
>
>
>  Gimana kalau jilbab dijadikan busana nasional ? Kan kalau kerudung sudah.
>
>  Jadi nanti kalau ada ibu ibu berjilbab dan berkerudung merayakan hari ibu
> atau kartinian atau acara berbau adat di gereja, ya jangan protes lagi. Kan
> sudah didomestifikasi jadi baju nasional. Bukan kristenisasi jadinya. Toh
> jilbab juga niri baju peragawati  Eh, maksudnya jilbab juga niru baju
> biarawati.
>
>  :))
>
>  Gimana ? Kan kupluk saja sudah nasional :)). Di padang yg kristen juga
> setengah dipaksa pakai jilbab. Tinggal dilanjut aja sampai gereja :))
>
>
>  salam,
>
>
>
>  -Original Message-
>  From: "L.Meilany" 
>
>  Date: Thu, 18 Dec 2008 13:24:42
>  To: 
>  Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab
>
>
>  Kopyah yg dipakai pejabat itu urusannya pakaian nasional.
>  Kan yg non muslim juga pake kayak ketua partai buruh sapa tuh namanya
> orang batak.
>  Kemudian juga pendeta protestan sapa tuh juga namanya pun pakai kopiah.
>
>  Kalo yg lebih lengkap selain berkopiah juga pakai teluk belanga
>
>  Salam,
>  l.meilany
>  - Original Message -
>  From: Ari Condro
>  To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
>  Sent: Wednesday, December 17, 2008 7:59 AM
>  Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab
>
>
>  herni,
>  kalau pejabat negara potret bersama pakai kopyah kenapa gak sekalian
>  dipertanyakan ? bukannya menjurus juga tuh, si kopyah urusannya ... :D
>
>  2008/12/17 h.s nurbayanti 
>
>  > Kaitannya ma konstitusi, yg menarik adalah...
>  > MK cenderung merasa perda2 itu melanggar.
>  > MA sebaliknya, cenderung bilang itu tidak apa2.
>  > SBY cenderung gak mau ngutak-ngatik soal syariat.
>  > Yg diutak-atik Perda yang berkaitan dng retribusi.
>  > (baca headline republika jum'at kemarin soal ini)
>  >
>  > Kalau saya, cenderung mengusulkan fatwanya adalah... jilbab itu pilihan.
>  > Termasuk pilihan menganggapnya wajib atau tidak :-)
>  > Yg perlu diatur adalah bahwa ada ruang untuk pilihan pribadi, bahkan di
>  > ruang publik sekalipun.
>  > Tapi, dimungkinkan pembatasan di ruang publik.
>

Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-21 Terurut Topik Ari Condro
pak ton,

kalau peci itu bukannya dalamannya serban ?  jadi kalau mau pakai serban
biasanya pakai peci atau kupluk dulu, baru luarnya dililitkan si serban.
 saya kira karena di indonesia gerah, orang pakai peci saja, serbannya
digantung dileher.  yang sekarang ini malah sajadah yg digantung di leher.
 aya aya wae ... :D



On Fri, Dec 19, 2008 at 1:03 PM, Kartono Mohamad wrote:

> Peci merupakan derivat kopiah afganistan, pakistan, india. Mungkin saja
> dibawa orang Islam negara2 itu ke indonesia dan malaysia tetapi tidak
> berarti islam karena selain di arab (asal agama islam) tdk ada juga di
> afganistan, pakistan atau india bukan hanya yg islam yg memakai.
> Sent from my BlackBerry(R)
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
> -Original Message-
> From: "Ari Condro" 
>
> Date: Fri, 19 Dec 2008 09:52:55
> To: 
> Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab
>
>
> kalau yang ane tangkap sih, peci ini aslinya punya islam, terus
> dinasionalkan.so jilbab juga bisa, aslinya islam, terus di nasionalkan.
>
> kan malah mantap tuh, jadi gak ada yg bisa teriak teriak, kalau ada wanita
> berkerudung masuk gereja atau wihara.  secara itu busana nasional.  :D
>
>
>
>
> 2008/12/19 ritajkt 
>
> >   --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com 40yahoogroups.com>,
> > "herri.permana"
> >  wrote:
> > > Bung Karno itu ngefans sama Atarturk makanya buat identitas bangsa
> > > juga pake topi , bedanya turki buang terbus
> > >
> >
> > Kang Herri, coba buku biografi Bung Karno by Cindy Adams yang sohor
> > itu, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia". di cetakan 84 yg
> > saya punya adanya di halaman 71 dst, Bab "BAndung : Gerbang ke Dunia
> > Putih". Langsung konfirmasinya dari Bung Karno sendiri bahwa peci
> > itu resmi merupakan senjata pergerakan Indonesia merdeka melalui
> > state of fashion, jadi gak ada hubungannya sama Turki. Peci semata-
> > mata baju yang menyatukan rakyat seluruh Indonesia, DAN GAK ADA
> > HUBUNGANNYA sama agama
> >
> > Kalo dari buku lain, kita bisa tau pengaruh peci justru dari India.
> > Dan mungkin aja India ini dapetnya dari Turki yah? Gw belum baca
> > buku yang mengkonfirmasi hal itu, tapi setidaknya itu udah cukup
> > buat mengcounter argumen Anda or klaim orang Islam yang suka ge-er
> > mendaku milik budaya (dan perjuangan) sesuatu sebagai EKSKLUSIF
> > miliknya :))
> >
> >
> > > Dan jaman dulu mau masyumi , NU , Muhammadiyah , Persis dll jarang
> > > yang pake jilbab kaya sekarang cuma selendang plus kebaya, liat
> > aja
> > > foto-foto jaman itu.
> > >
> > > Mengenai SI sendiri ada dua kubu pendukung SI yaitu DI/TII dan
> > > Masyumi. Masyumi gak pernah dukung DI/TII mrk mlh dukung
> > > PRRI/Permesta , dan DI/TII juga nyerang rumah-rumah org masyumi
> > > termasuk rumah kakek saya, dan kakek saya dulu naik gunung buat
> > > ngeburu DI/TII terutama momok ansharullah yang suka nyulik
> > perempuan.
> > >
> > > Kalo sekarang turunan DI/TII : NII , PKS , MMI dll
> > > turunan Masyumi : PBB , PAN , MD dll
> > >
> > > dimana tafsiran ttg SI berbeda utamanya sih soal penghalalan darah
> > > dan pengkafiran muslim yang gak seide .Tahun 1959 Kartosuwiryo
> > ngasih
> > > fatwa muslim yang dukung NKRI halal dibunuh termasuk perempuan ,
> > anak-
> > > anak dan orang tua sambil bawa dali(h)l ayat suci, si Kahar
> > Muzakar
> > > ngebolehin nyulik perempuan sbgi ghonimah.Plus mereka ngehalalin
> > > ngerampok pake dalil perang badar.
> > >
> > > --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com 40yahoogroups.com>,
> > "h.s nurbayanti"
> > >  wrote:
> > > >
> > > > Yg perlu disalahkan, si penanggung dosa awalnya, kalau gitu,
> > bung
> > > karno?
> > > > bukan MUI?
> > > >
> > > >
> > > > 2008/12/18 werkuwer 
> > > >
> > > > > haiyaaa... setuju semua warga negara yang perempuan harus
> > pakai
> > > > > jilbab dan yang laki-laki harus pakai kupluk. selain ini sangat
> > > > > indonesiani, juga sangat islami (yak...maksainiye).
> > > > >
> > > > > bikin jilbab dulu ahhh...
> > >
> >
> >
> >
>
>
>
> --
> salam,
> Ari
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
> 
>
> ===
> Milis Wanita Muslimah
> Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
> Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
> ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
> Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
> Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscr...@yahoogroups.com
> Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejaht...@yahoogroups.com
> Milis Anak Muda Islam mailto:majelism...@yahoogroups.com
>
> This mailing list has a special spell casted to reject any attachment
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>


-- 
salam,
Ari


[Non-text portions of this message have been removed]



[wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-21 Terurut Topik herri.permana

Bukan selendang aja , kubah mesjid juga sebenarnya adalah peninggalan 
kristen byzantium , makanya gereja-gereja di russia misalnya pake kubah 
kayak mesjid.

--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Kartono Mohamad"  
wrote:
>
> Kerudung bukan simbol Islam. Orang Rusia terutama yg di siberia sudah 
dari dulu memakai kerudung yg mirip kerudung kita. Dan mereka bukan 
beragama Islam. Lihat juga orang Belanda spt yg tertera di kaleng 
coklat terkenal. Atau yg digambar kaleng susu cap nona.
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
> 



Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-21 Terurut Topik Kartono Mohamad
Kerudung bukan simbol Islam. Orang Rusia terutama yg di siberia sudah dari dulu 
memakai kerudung yg mirip kerudung kita. Dan mereka bukan beragama Islam. Lihat 
juga orang Belanda spt yg tertera di kaleng coklat terkenal. Atau yg digambar 
kaleng susu cap nona.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-Original Message-
From: "Ari Condro" 

Date: Sun, 21 Dec 2008 11:44:55 
To: Milis wm
Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab


Perasaan nenek saya dah pakai kebaya tipis menerawang yg memperlihatkan warna 
kutang dan kain batik dengan kerudung menerawang dari dulu, ingatan saya 
terawang kembali sejak saya lahir dan bisa mengingat.

Jadi pakaian jawa yah sudah mengadopsi kerudung yg muslim sbg perlengkapan baju 
wanita jawa.  Catat, kerudung hanya dipakai kalau keluar rumah.  Ke pasar, 
undangan atau rumkit. Kalau bersih bersih di jalan depan rumah ya tidak dipakai.

Di makasar juga pakai kerudung tipis menerawang waktu jamannya istri habibi dan 
jk jaman dulu.

Kalo ane bilang sih kerudung tipis menerawang ini busana nasional, dan dulu di 
copy paste dari islam.


salam,



-Original Message-
From: "L.Meilany" 

Date: Sat, 20 Dec 2008 14:28:06 
To: 
Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab


Kerudung bukan busana nasional.
Kerudung busana tradisional suku Betawi, Minang 
[ kemudian kalo acara resmi dibikin seperti tanduk, mau 
kasih lihat bahwa disana perempuan lebih be'berkuasa' :-)]
Bahkan busana tradisonal Aceh saja ndak pake kerudung.
Di Makassar aslinya baju bodo itu tipis menerawang, lengan pendek, juga nggak 
pake kerudung.

Setahu saya busana nasional perempuan Indonesia [ resmi] adalah kain kebaya.
Setelah Bu Tien meninggal banyak modifikasi, misalnya pake kain songket, 
sarung, kebayanya
model baju kurung, tanpa sanggul [ Megawati mempopulerkannya] ya mirip pakaian 
malaysia.

Komunitas Betawi yg beragama nasrani di desa apa gitu ya dekat Bekasi sana 
tetap berkerudung.

Salam, 
l.meilany
  - Original Message - 
  From: Ari Condro 
  To: Milis wm 
  Sent: Thursday, December 18, 2008 4:10 PM
  Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab


  Gimana kalau jilbab dijadikan busana nasional ? Kan kalau kerudung sudah. 

  Jadi nanti kalau ada ibu ibu berjilbab dan berkerudung merayakan hari ibu 
atau kartinian atau acara berbau adat di gereja, ya jangan protes lagi. Kan 
sudah didomestifikasi jadi baju nasional. Bukan kristenisasi jadinya. Toh 
jilbab juga niri baju peragawati  Eh, maksudnya jilbab juga niru baju 
biarawati. 

  :)) 

  Gimana ? Kan kupluk saja sudah nasional :)). Di padang yg kristen juga 
setengah dipaksa pakai jilbab. Tinggal dilanjut aja sampai gereja :)) 


  salam, 



  -Original Message- 
  From: "L.Meilany"  

  Date: Thu, 18 Dec 2008 13:24:42 
  To:  
  Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab 


  Kopyah yg dipakai pejabat itu urusannya pakaian nasional. 
  Kan yg non muslim juga pake kayak ketua partai buruh sapa tuh namanya orang 
batak. 
  Kemudian juga pendeta protestan sapa tuh juga namanya pun pakai kopiah. 

  Kalo yg lebih lengkap selain berkopiah juga pakai teluk belanga 

  Salam, 
  l.meilany 
  - Original Message - 
  From: Ari Condro 
  To: wanita-muslimah@yahoogroups.com 
  Sent: Wednesday, December 17, 2008 7:59 AM 
  Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab 


  herni, 
  kalau pejabat negara potret bersama pakai kopyah kenapa gak sekalian 
  dipertanyakan ? bukannya menjurus juga tuh, si kopyah urusannya ... :D 

  2008/12/17 h.s nurbayanti  

  > Kaitannya ma konstitusi, yg menarik adalah... 
  > MK cenderung merasa perda2 itu melanggar. 
  > MA sebaliknya, cenderung bilang itu tidak apa2. 
  > SBY cenderung gak mau ngutak-ngatik soal syariat. 
  > Yg diutak-atik Perda yang berkaitan dng retribusi. 
  > (baca headline republika jum'at kemarin soal ini) 
  > 
  > Kalau saya, cenderung mengusulkan fatwanya adalah... jilbab itu pilihan. 
  > Termasuk pilihan menganggapnya wajib atau tidak :-) 
  > Yg perlu diatur adalah bahwa ada ruang untuk pilihan pribadi, bahkan di 
  > ruang publik sekalipun. 
  > Tapi, dimungkinkan pembatasan di ruang publik. 
  > Gak logislah, kalau penyiar, petugas rumah sakit dll pake abaya, cadar dll. 
  > Sama gak logisnya kalau mereka pake rok mini dan tank top dng garis dada 
  > rendah yg payudaranya keliatan mau tumpah :D 
  > Pembatasan, saya rasa dimungkinkan. 
  > Hakim, misalnya. Menurut saya sih sebaiknya gak pake jilbab hehehe.. 
  > 
  > Selain itu, mikir juga soal fairness. 
  > Kalau jilbab dibolehkan, yg lain juga boleh. Kalung salib, misalnya. 
  > Jangan merasa terancam dan ngomel2 kalau ada yg pake kalung salib. 
  > Kalau anda orang muslim merasa spt itu, ya bayangkan orang non-Islam 
  > melihat 
  > jilbab. 
  > Simple aja kan tuh? 
  > 
  > 
  > 2008/12/16 Mia &g

Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-21 Terurut Topik Ari Condro
Perasaan nenek saya dah pakai kebaya tipis menerawang yg memperlihatkan warna 
kutang dan kain batik dengan kerudung menerawang dari dulu, ingatan saya 
terawang kembali sejak saya lahir dan bisa mengingat.

Jadi pakaian jawa yah sudah mengadopsi kerudung yg muslim sbg perlengkapan baju 
wanita jawa.  Catat, kerudung hanya dipakai kalau keluar rumah.  Ke pasar, 
undangan atau rumkit. Kalau bersih bersih di jalan depan rumah ya tidak dipakai.

Di makasar juga pakai kerudung tipis menerawang waktu jamannya istri habibi dan 
jk jaman dulu.

Kalo ane bilang sih kerudung tipis menerawang ini busana nasional, dan dulu di 
copy paste dari islam.


salam,



-Original Message-
From: "L.Meilany" 

Date: Sat, 20 Dec 2008 14:28:06 
To: 
Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab


Kerudung bukan busana nasional.
Kerudung busana tradisional suku Betawi, Minang 
[ kemudian kalo acara resmi dibikin seperti tanduk, mau 
kasih lihat bahwa disana perempuan lebih be'berkuasa' :-)]
Bahkan busana tradisonal Aceh saja ndak pake kerudung.
Di Makassar aslinya baju bodo itu tipis menerawang, lengan pendek, juga nggak 
pake kerudung.

Setahu saya busana nasional perempuan Indonesia [ resmi] adalah kain kebaya.
Setelah Bu Tien meninggal banyak modifikasi, misalnya pake kain songket, 
sarung, kebayanya
model baju kurung, tanpa sanggul [ Megawati mempopulerkannya] ya mirip pakaian 
malaysia.

Komunitas Betawi yg beragama nasrani di desa apa gitu ya dekat Bekasi sana 
tetap berkerudung.

Salam, 
l.meilany
  - Original Message - 
  From: Ari Condro 
  To: Milis wm 
  Sent: Thursday, December 18, 2008 4:10 PM
  Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab


  Gimana kalau jilbab dijadikan busana nasional ? Kan kalau kerudung sudah. 

  Jadi nanti kalau ada ibu ibu berjilbab dan berkerudung merayakan hari ibu 
atau kartinian atau acara berbau adat di gereja, ya jangan protes lagi. Kan 
sudah didomestifikasi jadi baju nasional. Bukan kristenisasi jadinya. Toh 
jilbab juga niri baju peragawati  Eh, maksudnya jilbab juga niru baju 
biarawati. 

  :)) 

  Gimana ? Kan kupluk saja sudah nasional :)). Di padang yg kristen juga 
setengah dipaksa pakai jilbab. Tinggal dilanjut aja sampai gereja :)) 


  salam, 



  -Original Message- 
  From: "L.Meilany"  

  Date: Thu, 18 Dec 2008 13:24:42 
  To:  
  Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab 


  Kopyah yg dipakai pejabat itu urusannya pakaian nasional. 
  Kan yg non muslim juga pake kayak ketua partai buruh sapa tuh namanya orang 
batak. 
  Kemudian juga pendeta protestan sapa tuh juga namanya pun pakai kopiah. 

  Kalo yg lebih lengkap selain berkopiah juga pakai teluk belanga 

  Salam, 
  l.meilany 
  - Original Message - 
  From: Ari Condro 
  To: wanita-muslimah@yahoogroups.com 
  Sent: Wednesday, December 17, 2008 7:59 AM 
  Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab 


  herni, 
  kalau pejabat negara potret bersama pakai kopyah kenapa gak sekalian 
  dipertanyakan ? bukannya menjurus juga tuh, si kopyah urusannya ... :D 

  2008/12/17 h.s nurbayanti  

  > Kaitannya ma konstitusi, yg menarik adalah... 
  > MK cenderung merasa perda2 itu melanggar. 
  > MA sebaliknya, cenderung bilang itu tidak apa2. 
  > SBY cenderung gak mau ngutak-ngatik soal syariat. 
  > Yg diutak-atik Perda yang berkaitan dng retribusi. 
  > (baca headline republika jum'at kemarin soal ini) 
  > 
  > Kalau saya, cenderung mengusulkan fatwanya adalah... jilbab itu pilihan. 
  > Termasuk pilihan menganggapnya wajib atau tidak :-) 
  > Yg perlu diatur adalah bahwa ada ruang untuk pilihan pribadi, bahkan di 
  > ruang publik sekalipun. 
  > Tapi, dimungkinkan pembatasan di ruang publik. 
  > Gak logislah, kalau penyiar, petugas rumah sakit dll pake abaya, cadar dll. 
  > Sama gak logisnya kalau mereka pake rok mini dan tank top dng garis dada 
  > rendah yg payudaranya keliatan mau tumpah :D 
  > Pembatasan, saya rasa dimungkinkan. 
  > Hakim, misalnya. Menurut saya sih sebaiknya gak pake jilbab hehehe.. 
  > 
  > Selain itu, mikir juga soal fairness. 
  > Kalau jilbab dibolehkan, yg lain juga boleh. Kalung salib, misalnya. 
  > Jangan merasa terancam dan ngomel2 kalau ada yg pake kalung salib. 
  > Kalau anda orang muslim merasa spt itu, ya bayangkan orang non-Islam 
  > melihat 
  > jilbab. 
  > Simple aja kan tuh? 
  > 
  > 
  > 2008/12/16 Mia > 
  > 
  > > Iya, untuk Perda syariat, mesti dilihat relasi hukum, misalnya apakah 
  > > itu nggak bertentangan dengan Konstitusi sebagai payung semua? Ini 
  > > misalnya. Belum lagi soal parpol2 yang kelewat pragmatis sehingga 
  > > mengorbankan prinsip. 
  > > 
  > > Tapi, poinnya adalah kita mesti menyamakan persepsi, ke arah mana 
  > > paradigmanya? Konservatism dalam beragama nggak pernah sehat, itu 
  > > rambu2n

Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-20 Terurut Topik L.Meilany
Kerudung bukan busana nasional.
Kerudung busana tradisional suku Betawi, Minang 
[ kemudian kalo acara resmi dibikin seperti tanduk, mau 
kasih lihat bahwa disana perempuan lebih be'berkuasa' :-)]
Bahkan busana tradisonal Aceh saja ndak pake kerudung.
Di Makassar aslinya baju bodo itu tipis menerawang, lengan pendek, juga nggak 
pake kerudung.

Setahu saya busana nasional perempuan Indonesia [ resmi] adalah kain kebaya.
Setelah Bu Tien meninggal banyak modifikasi, misalnya pake kain songket, 
sarung, kebayanya
model baju kurung, tanpa sanggul [ Megawati mempopulerkannya] ya mirip pakaian 
malaysia.

Komunitas Betawi yg beragama nasrani di desa apa gitu ya dekat Bekasi sana 
tetap berkerudung.

Salam, 
l.meilany
  - Original Message - 
  From: Ari Condro 
  To: Milis wm 
  Sent: Thursday, December 18, 2008 4:10 PM
  Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab


  Gimana kalau jilbab dijadikan busana nasional ? Kan kalau kerudung sudah. 

  Jadi nanti kalau ada ibu ibu berjilbab dan berkerudung merayakan hari ibu 
atau kartinian atau acara berbau adat di gereja, ya jangan protes lagi. Kan 
sudah didomestifikasi jadi baju nasional. Bukan kristenisasi jadinya. Toh 
jilbab juga niri baju peragawati  Eh, maksudnya jilbab juga niru baju 
biarawati. 

  :)) 

  Gimana ? Kan kupluk saja sudah nasional :)). Di padang yg kristen juga 
setengah dipaksa pakai jilbab. Tinggal dilanjut aja sampai gereja :)) 


  salam, 



  -Original Message- 
  From: "L.Meilany"  

  Date: Thu, 18 Dec 2008 13:24:42 
  To:  
  Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab 


  Kopyah yg dipakai pejabat itu urusannya pakaian nasional. 
  Kan yg non muslim juga pake kayak ketua partai buruh sapa tuh namanya orang 
batak. 
  Kemudian juga pendeta protestan sapa tuh juga namanya pun pakai kopiah. 

  Kalo yg lebih lengkap selain berkopiah juga pakai teluk belanga 

  Salam, 
  l.meilany 
  - Original Message - 
  From: Ari Condro 
  To: wanita-muslimah@yahoogroups.com 
  Sent: Wednesday, December 17, 2008 7:59 AM 
  Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab 


  herni, 
  kalau pejabat negara potret bersama pakai kopyah kenapa gak sekalian 
  dipertanyakan ? bukannya menjurus juga tuh, si kopyah urusannya ... :D 

  2008/12/17 h.s nurbayanti  

  > Kaitannya ma konstitusi, yg menarik adalah... 
  > MK cenderung merasa perda2 itu melanggar. 
  > MA sebaliknya, cenderung bilang itu tidak apa2. 
  > SBY cenderung gak mau ngutak-ngatik soal syariat. 
  > Yg diutak-atik Perda yang berkaitan dng retribusi. 
  > (baca headline republika jum'at kemarin soal ini) 
  > 
  > Kalau saya, cenderung mengusulkan fatwanya adalah... jilbab itu pilihan. 
  > Termasuk pilihan menganggapnya wajib atau tidak :-) 
  > Yg perlu diatur adalah bahwa ada ruang untuk pilihan pribadi, bahkan di 
  > ruang publik sekalipun. 
  > Tapi, dimungkinkan pembatasan di ruang publik. 
  > Gak logislah, kalau penyiar, petugas rumah sakit dll pake abaya, cadar dll. 
  > Sama gak logisnya kalau mereka pake rok mini dan tank top dng garis dada 
  > rendah yg payudaranya keliatan mau tumpah :D 
  > Pembatasan, saya rasa dimungkinkan. 
  > Hakim, misalnya. Menurut saya sih sebaiknya gak pake jilbab hehehe.. 
  > 
  > Selain itu, mikir juga soal fairness. 
  > Kalau jilbab dibolehkan, yg lain juga boleh. Kalung salib, misalnya. 
  > Jangan merasa terancam dan ngomel2 kalau ada yg pake kalung salib. 
  > Kalau anda orang muslim merasa spt itu, ya bayangkan orang non-Islam 
  > melihat 
  > jilbab. 
  > Simple aja kan tuh? 
  > 
  > 
  > 2008/12/16 Mia > 
  > 
  > > Iya, untuk Perda syariat, mesti dilihat relasi hukum, misalnya apakah 
  > > itu nggak bertentangan dengan Konstitusi sebagai payung semua? Ini 
  > > misalnya. Belum lagi soal parpol2 yang kelewat pragmatis sehingga 
  > > mengorbankan prinsip. 
  > > 
  > > Tapi, poinnya adalah kita mesti menyamakan persepsi, ke arah mana 
  > > paradigmanya? Konservatism dalam beragama nggak pernah sehat, itu 
  > > rambu2nya. Kalau kita setuju bahwa nilai yang lagi mau diusung 
  > > adalah konservatism beragama yang abusive terhadap anggota masyarakat 
  > > lain, maka kita harus mengkoreksi (mengorbankan) nilai itu dan 
  > > menggantinya dengan yang lain. Fatwa berjilbab diganti 
  > > dengan 'berjilbab itu tidak wajib', gantinya berpakaianlah sopan. 
  > > 
  > > Misalnya lagi, Ahmadiyah mesti dibubarkan (i.e kalau ada yang 
  > > menyerang ya biarkan saja). Fatwanya, tidak ada paksaan dalam 
  > > beragama (bentuk pengorbanan) Gantinya, Ahmadiyah adalah bagian dari 
  > > Islam dan Muslim. 
  > > 
  > > Ini langsung menyentuh relung emosi kita, dan itu harus dipupuk 
  > > secara baik-baik, artinya perubahan ini harus dari dalam di

Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-20 Terurut Topik Ari Condro
Lho, yg melecehkan sandrina dan dulu dianggap guru, siapa yah ?


salam,



-Original Message-
From: Keinnettey Meicrivanny 

Date: Fri, 19 Dec 2008 11:32:50 
To: 
Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab


Kalo aku seh gak setuju...
mau islami yang penting hatinya bubukan dari kostum yg mencerminkan iman
dan hati kita [?].
Gak usah lah yg kayak gini dijadikan isue nasional, buktinya cerita sandrina
malakiano udah dibaca kan?
orang2 yg tadinya dia anggap guru malah melecehkan dia, artinya bukan dari
intelektual orang juga Tuhan melihat kita kan? Hati yang penting

Love,
Kenni Baharia Danoe



2008/12/19 ritajkt 

>   --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com,
> "h.s nurbayanti"
>  wrote:
> >
> > masalahnya, kalau cowo gak pake peci.. gak ditangkep
> > kalau cewe gak pake jilbab, ditangkep..
> >
>
> Ini nih KEKELIRUAN hukum yang sangat mendasar karena negara gak
> punya hak melakukan itu kan! Masalahnya, kita ini males ribut2 kan,
> timbang ribut ya diem dan ngalah aja walo pun terpaksa ngalah ama
> peraturan yang gak bener...itu masalahnya.
>
> Saya kira kita smua tahu kalo penerapan hukum atas dasar PENAFSIRAN
> ayat suci yang sepihak itu tidak fair. Tapi yah, ini yang kita
> kurang keras untuk komplain nih karena sebagai moderate Muslim yang
> mayoritas di negeri ini, kita terbiasa gak mau ribut-ribut. Sikap
> ini berbeda banget dengan kelompok Islam garis keras macam HT itu
> yang very noisy, sedikit-sedikit protes dengan kalimat provokatif
> dan SANGAT MANJUR buat negara yang tidak terkondisi untuk berdebat
> dengan sehat kayak Indonesia ini. Karena banyak juga orang yang
> tidak profesional dalam bidang ilmu agama yang jadi ciut duluan
> nyalinya denger pihak garis keras bawa-bawa bahasa Arab dengan cas
> cis cus fasih, seolah-olah udah pasti bener TANPA KITA BISA KAJI
> LEBIH DULU validitas omongannya itu. Dikampung saya, ibu-ibu
> pengajian udah mulai ketularan tuh, ketimbang dibilang ahli neraka
> dsb, mereka terpaksa mengikuti dress code yang dipromosikan dengan
> gencar oleh para pemuka partai anu yang merangkap sebagai aktivis
> masjid. That's so sad ketika mereka dikondisikan mulai menunjuk-
> nunjuk tetangga sendiri yang GAK MELANGGAR HUKUM POSITIF di negara
> ini sebagai kriminal (-> ahli neraka dan konsekuensinya ->harus
> ditangkap sama petugas negara).
>
> > ini OOT tapi tiba2 jadi teringat..
> > yg menarik juga urusan uu pornografi, yg pake parameter "alat
> kelamin".
> > kalau dada perempuan dianggap porno = alat kelamin
> > berarti dada laki2 juga dong? :P
> > tapi kenyataannya gak gitu kan?
> > jadi memang, peci tidak sama dng jilbab...
> > rasa pemaksaannya agak beda...
> >
> > mungkin kita perlu mencoba cara baru..
> > yg dipaksa oleh negara utk melakukan ini itu, laki2 aja, toh gak
> protes2
> > tuh...:-)
> > perintahnya pake kacamata kuda aja.. kan katanya gak kuat liat
> perempuan :D
> > berhasil di peci, mari kita coba di kacamata kuda :P
> > kasih tongkat buat jalan juga deh..
>
> Sabar Darlin' :D
> You've come the long long way :D
>
>  
>



-- 
Kenni Baharia Danoe


[Non-text portions of this message have been removed]




[Non-text portions of this message have been removed]



Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-20 Terurut Topik Keinnettey Meicrivanny
Kalo aku seh gak setuju...
mau islami yang penting hatinya bubukan dari kostum yg mencerminkan iman
dan hati kita [?].
Gak usah lah yg kayak gini dijadikan isue nasional, buktinya cerita sandrina
malakiano udah dibaca kan?
orang2 yg tadinya dia anggap guru malah melecehkan dia, artinya bukan dari
intelektual orang juga Tuhan melihat kita kan? Hati yang penting

Love,
Kenni Baharia Danoe



2008/12/19 ritajkt 

>   --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com,
> "h.s nurbayanti"
>  wrote:
> >
> > masalahnya, kalau cowo gak pake peci.. gak ditangkep
> > kalau cewe gak pake jilbab, ditangkep..
> >
>
> Ini nih KEKELIRUAN hukum yang sangat mendasar karena negara gak
> punya hak melakukan itu kan! Masalahnya, kita ini males ribut2 kan,
> timbang ribut ya diem dan ngalah aja walo pun terpaksa ngalah ama
> peraturan yang gak bener...itu masalahnya.
>
> Saya kira kita smua tahu kalo penerapan hukum atas dasar PENAFSIRAN
> ayat suci yang sepihak itu tidak fair. Tapi yah, ini yang kita
> kurang keras untuk komplain nih karena sebagai moderate Muslim yang
> mayoritas di negeri ini, kita terbiasa gak mau ribut-ribut. Sikap
> ini berbeda banget dengan kelompok Islam garis keras macam HT itu
> yang very noisy, sedikit-sedikit protes dengan kalimat provokatif
> dan SANGAT MANJUR buat negara yang tidak terkondisi untuk berdebat
> dengan sehat kayak Indonesia ini. Karena banyak juga orang yang
> tidak profesional dalam bidang ilmu agama yang jadi ciut duluan
> nyalinya denger pihak garis keras bawa-bawa bahasa Arab dengan cas
> cis cus fasih, seolah-olah udah pasti bener TANPA KITA BISA KAJI
> LEBIH DULU validitas omongannya itu. Dikampung saya, ibu-ibu
> pengajian udah mulai ketularan tuh, ketimbang dibilang ahli neraka
> dsb, mereka terpaksa mengikuti dress code yang dipromosikan dengan
> gencar oleh para pemuka partai anu yang merangkap sebagai aktivis
> masjid. That's so sad ketika mereka dikondisikan mulai menunjuk-
> nunjuk tetangga sendiri yang GAK MELANGGAR HUKUM POSITIF di negara
> ini sebagai kriminal (-> ahli neraka dan konsekuensinya ->harus
> ditangkap sama petugas negara).
>
> > ini OOT tapi tiba2 jadi teringat..
> > yg menarik juga urusan uu pornografi, yg pake parameter "alat
> kelamin".
> > kalau dada perempuan dianggap porno = alat kelamin
> > berarti dada laki2 juga dong? :P
> > tapi kenyataannya gak gitu kan?
> > jadi memang, peci tidak sama dng jilbab...
> > rasa pemaksaannya agak beda...
> >
> > mungkin kita perlu mencoba cara baru..
> > yg dipaksa oleh negara utk melakukan ini itu, laki2 aja, toh gak
> protes2
> > tuh...:-)
> > perintahnya pake kacamata kuda aja.. kan katanya gak kuat liat
> perempuan :D
> > berhasil di peci, mari kita coba di kacamata kuda :P
> > kasih tongkat buat jalan juga deh..
>
> Sabar Darlin' :D
> You've come the long long way :D
>
>  
>



-- 
Kenni Baharia Danoe


[Non-text portions of this message have been removed]



Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-18 Terurut Topik Kartono Mohamad
Peci merupakan derivat kopiah afganistan, pakistan, india. Mungkin saja dibawa 
orang Islam negara2 itu ke indonesia dan malaysia tetapi tidak berarti islam 
karena selain di arab (asal agama islam) tdk ada juga di afganistan, pakistan 
atau india bukan hanya yg islam yg memakai.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-Original Message-
From: "Ari Condro" 

Date: Fri, 19 Dec 2008 09:52:55 
To: 
Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab


kalau yang ane tangkap sih, peci ini aslinya punya islam, terus
dinasionalkan.so jilbab juga bisa, aslinya islam, terus di nasionalkan.

kan malah mantap tuh, jadi gak ada yg bisa teriak teriak, kalau ada wanita
berkerudung masuk gereja atau wihara.  secara itu busana nasional.  :D




2008/12/19 ritajkt 

>   --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com,
> "herri.permana"
>  wrote:
> > Bung Karno itu ngefans sama Atarturk makanya buat identitas bangsa
> > juga pake topi , bedanya turki buang terbus
> >
>
> Kang Herri, coba buku biografi Bung Karno by Cindy Adams yang sohor
> itu, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia". di cetakan 84 yg
> saya punya adanya di halaman 71 dst, Bab "BAndung : Gerbang ke Dunia
> Putih". Langsung konfirmasinya dari Bung Karno sendiri bahwa peci
> itu resmi merupakan senjata pergerakan Indonesia merdeka melalui
> state of fashion, jadi gak ada hubungannya sama Turki. Peci semata-
> mata baju yang menyatukan rakyat seluruh Indonesia, DAN GAK ADA
> HUBUNGANNYA sama agama
>
> Kalo dari buku lain, kita bisa tau pengaruh peci justru dari India.
> Dan mungkin aja India ini dapetnya dari Turki yah? Gw belum baca
> buku yang mengkonfirmasi hal itu, tapi setidaknya itu udah cukup
> buat mengcounter argumen Anda or klaim orang Islam yang suka ge-er
> mendaku milik budaya (dan perjuangan) sesuatu sebagai EKSKLUSIF
> miliknya :))
>
>
> > Dan jaman dulu mau masyumi , NU , Muhammadiyah , Persis dll jarang
> > yang pake jilbab kaya sekarang cuma selendang plus kebaya, liat
> aja
> > foto-foto jaman itu.
> >
> > Mengenai SI sendiri ada dua kubu pendukung SI yaitu DI/TII dan
> > Masyumi. Masyumi gak pernah dukung DI/TII mrk mlh dukung
> > PRRI/Permesta , dan DI/TII juga nyerang rumah-rumah org masyumi
> > termasuk rumah kakek saya, dan kakek saya dulu naik gunung buat
> > ngeburu DI/TII terutama momok ansharullah yang suka nyulik
> perempuan.
> >
> > Kalo sekarang turunan DI/TII : NII , PKS , MMI dll
> > turunan Masyumi : PBB , PAN , MD dll
> >
> > dimana tafsiran ttg SI berbeda utamanya sih soal penghalalan darah
> > dan pengkafiran muslim yang gak seide .Tahun 1959 Kartosuwiryo
> ngasih
> > fatwa muslim yang dukung NKRI halal dibunuh termasuk perempuan ,
> anak-
> > anak dan orang tua sambil bawa dali(h)l ayat suci, si Kahar
> Muzakar
> > ngebolehin nyulik perempuan sbgi ghonimah.Plus mereka ngehalalin
> > ngerampok pake dalil perang badar.
> >
> > --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com,
> "h.s nurbayanti"
> >  wrote:
> > >
> > > Yg perlu disalahkan, si penanggung dosa awalnya, kalau gitu,
> bung
> > karno?
> > > bukan MUI?
> > >
> > >
> > > 2008/12/18 werkuwer 
> > >
> > > > haiyaaa... setuju semua warga negara yang perempuan harus
> pakai
> > > > jilbab dan yang laki-laki harus pakai kupluk. selain ini sangat
> > > > indonesiani, juga sangat islami (yak...maksainiye).
> > > >
> > > > bikin jilbab dulu ahhh...
> >
>
>  
>



-- 
salam,
Ari


[Non-text portions of this message have been removed]




[Non-text portions of this message have been removed]




===
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscr...@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejaht...@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelism...@yahoogroups.com

This mailing list has a special spell casted to reject any attachment 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:wanita-muslimah-dig...@yahoogroups.com 
mailto:wanita-muslimah-fullfeatu...@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
wanita-muslimah-unsubscr...@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/



[wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-18 Terurut Topik ritajkt
--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "h.s nurbayanti" 
 wrote:
>
> masalahnya, kalau cowo gak pake peci.. gak ditangkep
> kalau cewe gak pake jilbab, ditangkep..
> 

Ini nih KEKELIRUAN hukum yang sangat mendasar karena negara gak 
punya hak melakukan itu kan! Masalahnya, kita ini males ribut2 kan, 
timbang ribut ya diem dan ngalah aja walo pun terpaksa ngalah ama 
peraturan yang gak bener...itu masalahnya.

Saya kira kita smua tahu kalo penerapan hukum atas dasar PENAFSIRAN 
ayat suci yang sepihak itu tidak fair. Tapi yah, ini yang kita 
kurang keras untuk komplain nih karena sebagai moderate Muslim yang 
mayoritas di negeri ini, kita terbiasa gak mau ribut-ribut. Sikap 
ini berbeda banget dengan kelompok Islam garis keras macam HT itu 
yang very noisy, sedikit-sedikit protes dengan kalimat provokatif 
dan SANGAT MANJUR buat negara yang tidak terkondisi untuk berdebat 
dengan sehat kayak Indonesia ini. Karena banyak juga orang yang 
tidak profesional dalam bidang ilmu agama yang jadi ciut duluan 
nyalinya denger pihak garis keras bawa-bawa bahasa Arab dengan cas 
cis cus fasih, seolah-olah udah pasti bener TANPA KITA BISA KAJI 
LEBIH DULU validitas omongannya itu. Dikampung saya, ibu-ibu 
pengajian udah mulai ketularan tuh, ketimbang dibilang ahli neraka 
dsb, mereka terpaksa mengikuti dress code yang dipromosikan dengan 
gencar oleh para pemuka partai anu yang merangkap sebagai aktivis 
masjid. That's so sad ketika mereka dikondisikan mulai menunjuk-
nunjuk tetangga sendiri yang GAK MELANGGAR HUKUM POSITIF di negara 
ini sebagai kriminal (-> ahli neraka dan konsekuensinya ->harus 
ditangkap sama petugas negara).

> ini OOT tapi tiba2 jadi teringat..
> yg menarik juga urusan uu pornografi, yg pake parameter "alat 
kelamin".
> kalau dada perempuan dianggap porno = alat kelamin
> berarti dada laki2 juga dong? :P
> tapi kenyataannya gak gitu kan?
> jadi memang, peci tidak sama dng jilbab...
> rasa pemaksaannya agak beda...
> 
> mungkin kita perlu mencoba cara baru..
> yg dipaksa oleh negara utk melakukan ini itu, laki2 aja, toh gak 
protes2
> tuh...:-)
> perintahnya pake kacamata kuda aja.. kan katanya gak kuat liat 
perempuan :D
> berhasil di peci, mari kita coba di kacamata kuda :P
> kasih tongkat buat jalan juga deh..

Sabar Darlin' :D
You've come the long long way :D




Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-18 Terurut Topik Ari Condro
Cara paling gampang sih pindah agama.  Jadi budha atau atheis asik juga :))

*kalau gak mau dipaksa pakai jilbab lho yah*


salam,



-Original Message-
From: "h.s nurbayanti" 

Date: Fri, 19 Dec 2008 10:19:08 
To: 
Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab


masalahnya, kalau cowo gak pake peci.. gak ditangkep
kalau cewe gak pake jilbab, ditangkep..

ini OOT tapi tiba2 jadi teringat..
yg menarik juga urusan uu pornografi, yg pake parameter "alat kelamin".
kalau dada perempuan dianggap porno = alat kelamin
berarti dada laki2 juga dong? :P
tapi kenyataannya gak gitu kan?
jadi memang, peci tidak sama dng jilbab...
rasa pemaksaannya agak beda...

mungkin kita perlu mencoba cara baru..
yg dipaksa oleh negara utk melakukan ini itu, laki2 aja, toh gak protes2
tuh...:-)
perintahnya pake kacamata kuda aja.. kan katanya gak kuat liat perempuan :D
berhasil di peci, mari kita coba di kacamata kuda :P
kasih tongkat buat jalan juga deh..



2008/12/19 ritajkt 

>   --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com,
> "h.s nurbayanti"
>  wrote:
> >
> > terus gimana ceritanya peci/kopiah jadi terkesan eksklusif milik
> orang Islam
> > aja mbak?
>
> Itu kesan yang keliru dan oleh karenanya harus diluruskan, Mbak Nie
> :D :D :D
>
> Peci itu busana nasional Indonesia. Generasi kakek dan nenek kita
> tahu sekali hal itu tapi generasi kita yang sempat blank sejarah di
> jaman Orba memang menjadi sasaran empuk untuk disalahkaprahkan
> seperti ini sehingga muncul para penyalip di tikungan yang dengan
> gampangnya mendaku milik semua orang menjadi hanya miliknya sendiri.
>
> Contoh para pendaku diri itu ya para pedagang baju hijab yang
> menjajakannya sebagai busana Muslimah :)) ( buat yang gak paham
> dimana lucunya , ini CLUE nya -> berarti para biarawati Katholik itu
> memakai busana Muslimah dong dengan tambahan kalung salib doang ???
> Padahal para saleha-wati Katholik ini lebih dulu eksis di dunia ini
> sebelum adanya orang Islam, begitu lho Bos :D)
>
> Karena semua produk niaga yang diembel-embeli agama akan laris kan,
> Mbak Nie, itu hukum ekonomi yang paling sohor kan? Sebagaimana juga
> partai yang menjajakan agama alias menjanjikan sorga pasti dengan
> mudah mendapatkan simpati massa walo verifikasinya pasti susah
> setengah mati (hla siapa yang mau disuruh ngecek dulu ke sorga
> sana...tiketnya kan one way ticket :DD)
>
> Kembali ke peci sebagai busana nasional, FYI saja, jika kita
> berkunjung ke propinsi yang populasi non Muslimnya mayoritas seperti
> di NTT, kita akan bertemu dengan sodara-sodara kita sebangsa dan
> setanah air yang dengan taat memakai peci sebagai busana resminya,
> kayak dlm pertemuan desa dsb.
>
> salam
>
> > 2008/12/18 ritajkt 
> >
> > > --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com
>  40yahoogroups.com>,
>
> > > "Ari Condro" 
> > > wrote:
> > > >
> > > > herni,
> > > > kalau pejabat negara potret bersama pakai kopyah kenapa gak
> sekalian
> > > > dipertanyakan ? bukannya menjurus juga tuh, si kopyah
> > > urusannya ... :D
> > > >
> > > :D :D :D
> > > BTW ini buat yg serius ama becandaannya mas Arcon en mbak Herni.
> > >
> > > Kopiah atawa peci hitam itu BUKAN aksesori busana muslim tapi
> PENUTUP
> > > KEPALA BUSANA RESMI untuk BANGSA INDONESIA yang dikampanyekan
> Bung
> > > Karno dkk di masa perjuangan menuju Indonesia merdeka. Bung
> Karno dan
> > > kawan-kawan saat itu menggelorakan semangat massanya dengan semua
> > > ciri keindonesiaan dan ogah pakai setelan jas sebagaimana yang
> > > dipakai para borjuis Indonesia yang kebelanda-belandaaan. Peci,
> > > sebuah penutup kepala yang dipakai meluas oleh rakyat, tukang
> sate
> > > tepatnya yang menjadi inspirator Bung Karno, dan merupakan varian
> > > topi sejenis yang beredar di India, dipakai sebagai simbol
> > > keindonesiaan itu biar beda sama jasnya belanda. Para pengikut
> Bung
> > > Karno dan kawan-kawan kemudian melahirkan gelombang peci ini
> dalam
> > > rapat-rapat umum sebagai afirmasi keberpihakan mereka pada
> perjuangan
> > > si Bung dkk. Setelah Indonesia merdeka, peci disahkan sebagai
> busana
> > > resmi bangsa ini, jadi gak ada urusannya ama agama!
> > >
> > > Sebagaimana juga pemakaian penutup dada dan kepala yang menjadi
> tanda
> > > status sosial perempuan merdeka di abad ke-7 di timur tengah,
> itu kan
> > > gak ada hubungannya sama agama! Sampe sekarang kaum biarawati
> > > Katholik masih memakai kode busana itu yang di sini diklaim
> sebagai
> > > busana muslimah.
> > >
> > > Dah,., met dilanjut lagi diskusinya Bos :D
> > >
> > >
> > >
> >
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]




[Non-text portions of this message have been removed]



Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-18 Terurut Topik h.s nurbayanti
masalahnya, kalau cowo gak pake peci.. gak ditangkep
kalau cewe gak pake jilbab, ditangkep..

ini OOT tapi tiba2 jadi teringat..
yg menarik juga urusan uu pornografi, yg pake parameter "alat kelamin".
kalau dada perempuan dianggap porno = alat kelamin
berarti dada laki2 juga dong? :P
tapi kenyataannya gak gitu kan?
jadi memang, peci tidak sama dng jilbab...
rasa pemaksaannya agak beda...

mungkin kita perlu mencoba cara baru..
yg dipaksa oleh negara utk melakukan ini itu, laki2 aja, toh gak protes2
tuh...:-)
perintahnya pake kacamata kuda aja.. kan katanya gak kuat liat perempuan :D
berhasil di peci, mari kita coba di kacamata kuda :P
kasih tongkat buat jalan juga deh..



2008/12/19 ritajkt 

>   --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com,
> "h.s nurbayanti"
>  wrote:
> >
> > terus gimana ceritanya peci/kopiah jadi terkesan eksklusif milik
> orang Islam
> > aja mbak?
>
> Itu kesan yang keliru dan oleh karenanya harus diluruskan, Mbak Nie
> :D :D :D
>
> Peci itu busana nasional Indonesia. Generasi kakek dan nenek kita
> tahu sekali hal itu tapi generasi kita yang sempat blank sejarah di
> jaman Orba memang menjadi sasaran empuk untuk disalahkaprahkan
> seperti ini sehingga muncul para penyalip di tikungan yang dengan
> gampangnya mendaku milik semua orang menjadi hanya miliknya sendiri.
>
> Contoh para pendaku diri itu ya para pedagang baju hijab yang
> menjajakannya sebagai busana Muslimah :)) ( buat yang gak paham
> dimana lucunya , ini CLUE nya -> berarti para biarawati Katholik itu
> memakai busana Muslimah dong dengan tambahan kalung salib doang ???
> Padahal para saleha-wati Katholik ini lebih dulu eksis di dunia ini
> sebelum adanya orang Islam, begitu lho Bos :D)
>
> Karena semua produk niaga yang diembel-embeli agama akan laris kan,
> Mbak Nie, itu hukum ekonomi yang paling sohor kan? Sebagaimana juga
> partai yang menjajakan agama alias menjanjikan sorga pasti dengan
> mudah mendapatkan simpati massa walo verifikasinya pasti susah
> setengah mati (hla siapa yang mau disuruh ngecek dulu ke sorga
> sana...tiketnya kan one way ticket :DD)
>
> Kembali ke peci sebagai busana nasional, FYI saja, jika kita
> berkunjung ke propinsi yang populasi non Muslimnya mayoritas seperti
> di NTT, kita akan bertemu dengan sodara-sodara kita sebangsa dan
> setanah air yang dengan taat memakai peci sebagai busana resminya,
> kayak dlm pertemuan desa dsb.
>
> salam
>
> > 2008/12/18 ritajkt 
> >
> > > --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com
>  40yahoogroups.com>,
>
> > > "Ari Condro" 
> > > wrote:
> > > >
> > > > herni,
> > > > kalau pejabat negara potret bersama pakai kopyah kenapa gak
> sekalian
> > > > dipertanyakan ? bukannya menjurus juga tuh, si kopyah
> > > urusannya ... :D
> > > >
> > > :D :D :D
> > > BTW ini buat yg serius ama becandaannya mas Arcon en mbak Herni.
> > >
> > > Kopiah atawa peci hitam itu BUKAN aksesori busana muslim tapi
> PENUTUP
> > > KEPALA BUSANA RESMI untuk BANGSA INDONESIA yang dikampanyekan
> Bung
> > > Karno dkk di masa perjuangan menuju Indonesia merdeka. Bung
> Karno dan
> > > kawan-kawan saat itu menggelorakan semangat massanya dengan semua
> > > ciri keindonesiaan dan ogah pakai setelan jas sebagaimana yang
> > > dipakai para borjuis Indonesia yang kebelanda-belandaaan. Peci,
> > > sebuah penutup kepala yang dipakai meluas oleh rakyat, tukang
> sate
> > > tepatnya yang menjadi inspirator Bung Karno, dan merupakan varian
> > > topi sejenis yang beredar di India, dipakai sebagai simbol
> > > keindonesiaan itu biar beda sama jasnya belanda. Para pengikut
> Bung
> > > Karno dan kawan-kawan kemudian melahirkan gelombang peci ini
> dalam
> > > rapat-rapat umum sebagai afirmasi keberpihakan mereka pada
> perjuangan
> > > si Bung dkk. Setelah Indonesia merdeka, peci disahkan sebagai
> busana
> > > resmi bangsa ini, jadi gak ada urusannya ama agama!
> > >
> > > Sebagaimana juga pemakaian penutup dada dan kepala yang menjadi
> tanda
> > > status sosial perempuan merdeka di abad ke-7 di timur tengah,
> itu kan
> > > gak ada hubungannya sama agama! Sampe sekarang kaum biarawati
> > > Katholik masih memakai kode busana itu yang di sini diklaim
> sebagai
> > > busana muslimah.
> > >
> > > Dah,., met dilanjut lagi diskusinya Bos :D
> > >
> > >
> > >
> >
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]



[wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-18 Terurut Topik ritajkt
--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "h.s nurbayanti" 
 wrote:
>
> terus gimana ceritanya peci/kopiah jadi terkesan eksklusif milik 
orang Islam
> aja mbak?

Itu kesan yang keliru dan oleh karenanya harus diluruskan, Mbak Nie
:D :D :D

Peci itu busana nasional Indonesia. Generasi kakek dan nenek kita 
tahu sekali hal itu tapi generasi kita yang sempat blank sejarah di 
jaman Orba memang menjadi sasaran empuk untuk disalahkaprahkan 
seperti ini sehingga muncul para penyalip di tikungan yang dengan 
gampangnya mendaku milik semua orang menjadi hanya miliknya sendiri. 

Contoh para pendaku diri itu ya para pedagang baju hijab yang 
menjajakannya sebagai busana Muslimah :)) ( buat yang gak paham 
dimana lucunya , ini CLUE nya -> berarti para biarawati Katholik itu 
memakai busana Muslimah dong dengan tambahan kalung salib doang ??? 
Padahal para saleha-wati Katholik ini lebih dulu eksis di dunia ini 
sebelum adanya orang Islam, begitu lho Bos :D)

Karena semua produk niaga yang diembel-embeli agama akan laris kan, 
Mbak Nie, itu hukum ekonomi yang paling sohor kan? Sebagaimana juga 
partai yang menjajakan agama alias menjanjikan sorga pasti dengan 
mudah mendapatkan simpati massa walo verifikasinya pasti susah 
setengah mati (hla siapa yang mau disuruh ngecek dulu ke sorga 
sana...tiketnya kan one way ticket :DD)

Kembali ke peci sebagai busana nasional, FYI saja, jika kita 
berkunjung ke propinsi yang populasi non Muslimnya mayoritas seperti 
di NTT, kita akan bertemu dengan sodara-sodara kita sebangsa dan 
setanah air yang dengan taat memakai peci sebagai busana resminya, 
kayak dlm pertemuan desa dsb. 

salam
 
> 2008/12/18 ritajkt 
> 
> >   --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com,
> > "Ari Condro" 
> > wrote:
> > >
> > > herni,
> > > kalau pejabat negara potret bersama pakai kopyah kenapa gak 
sekalian
> > > dipertanyakan ? bukannya menjurus juga tuh, si kopyah
> > urusannya ... :D
> > >
> > :D :D :D
> > BTW ini buat yg serius ama becandaannya mas Arcon en mbak Herni.
> >
> > Kopiah atawa peci hitam itu BUKAN aksesori busana muslim tapi 
PENUTUP
> > KEPALA BUSANA RESMI untuk BANGSA INDONESIA yang dikampanyekan 
Bung
> > Karno dkk di masa perjuangan menuju Indonesia merdeka. Bung 
Karno dan
> > kawan-kawan saat itu menggelorakan semangat massanya dengan semua
> > ciri keindonesiaan dan ogah pakai setelan jas sebagaimana yang
> > dipakai para borjuis Indonesia yang kebelanda-belandaaan. Peci,
> > sebuah penutup kepala yang dipakai meluas oleh rakyat, tukang 
sate
> > tepatnya yang menjadi inspirator Bung Karno, dan merupakan varian
> > topi sejenis yang beredar di India, dipakai sebagai simbol
> > keindonesiaan itu biar beda sama jasnya belanda. Para pengikut 
Bung
> > Karno dan kawan-kawan kemudian melahirkan gelombang peci ini 
dalam
> > rapat-rapat umum sebagai afirmasi keberpihakan mereka pada 
perjuangan
> > si Bung dkk. Setelah Indonesia merdeka, peci disahkan sebagai 
busana
> > resmi bangsa ini, jadi gak ada urusannya ama agama!
> >
> > Sebagaimana juga pemakaian penutup dada dan kepala yang menjadi 
tanda
> > status sosial perempuan merdeka di abad ke-7 di timur tengah, 
itu kan
> > gak ada hubungannya sama agama! Sampe sekarang kaum biarawati
> > Katholik masih memakai kode busana itu yang di sini diklaim 
sebagai
> > busana muslimah.
> >
> > Dah,., met dilanjut lagi diskusinya Bos :D
> >
> > 
> >
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>




Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-18 Terurut Topik Ari Condro
kalau yang ane tangkap sih, peci ini aslinya punya islam, terus
dinasionalkan.so jilbab juga bisa, aslinya islam, terus di nasionalkan.

kan malah mantap tuh, jadi gak ada yg bisa teriak teriak, kalau ada wanita
berkerudung masuk gereja atau wihara.  secara itu busana nasional.  :D




2008/12/19 ritajkt 

>   --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com,
> "herri.permana"
>  wrote:
> > Bung Karno itu ngefans sama Atarturk makanya buat identitas bangsa
> > juga pake topi , bedanya turki buang terbus
> >
>
> Kang Herri, coba buku biografi Bung Karno by Cindy Adams yang sohor
> itu, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia". di cetakan 84 yg
> saya punya adanya di halaman 71 dst, Bab "BAndung : Gerbang ke Dunia
> Putih". Langsung konfirmasinya dari Bung Karno sendiri bahwa peci
> itu resmi merupakan senjata pergerakan Indonesia merdeka melalui
> state of fashion, jadi gak ada hubungannya sama Turki. Peci semata-
> mata baju yang menyatukan rakyat seluruh Indonesia, DAN GAK ADA
> HUBUNGANNYA sama agama
>
> Kalo dari buku lain, kita bisa tau pengaruh peci justru dari India.
> Dan mungkin aja India ini dapetnya dari Turki yah? Gw belum baca
> buku yang mengkonfirmasi hal itu, tapi setidaknya itu udah cukup
> buat mengcounter argumen Anda or klaim orang Islam yang suka ge-er
> mendaku milik budaya (dan perjuangan) sesuatu sebagai EKSKLUSIF
> miliknya :))
>
>
> > Dan jaman dulu mau masyumi , NU , Muhammadiyah , Persis dll jarang
> > yang pake jilbab kaya sekarang cuma selendang plus kebaya, liat
> aja
> > foto-foto jaman itu.
> >
> > Mengenai SI sendiri ada dua kubu pendukung SI yaitu DI/TII dan
> > Masyumi. Masyumi gak pernah dukung DI/TII mrk mlh dukung
> > PRRI/Permesta , dan DI/TII juga nyerang rumah-rumah org masyumi
> > termasuk rumah kakek saya, dan kakek saya dulu naik gunung buat
> > ngeburu DI/TII terutama momok ansharullah yang suka nyulik
> perempuan.
> >
> > Kalo sekarang turunan DI/TII : NII , PKS , MMI dll
> > turunan Masyumi : PBB , PAN , MD dll
> >
> > dimana tafsiran ttg SI berbeda utamanya sih soal penghalalan darah
> > dan pengkafiran muslim yang gak seide .Tahun 1959 Kartosuwiryo
> ngasih
> > fatwa muslim yang dukung NKRI halal dibunuh termasuk perempuan ,
> anak-
> > anak dan orang tua sambil bawa dali(h)l ayat suci, si Kahar
> Muzakar
> > ngebolehin nyulik perempuan sbgi ghonimah.Plus mereka ngehalalin
> > ngerampok pake dalil perang badar.
> >
> > --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com,
> "h.s nurbayanti"
> >  wrote:
> > >
> > > Yg perlu disalahkan, si penanggung dosa awalnya, kalau gitu,
> bung
> > karno?
> > > bukan MUI?
> > >
> > >
> > > 2008/12/18 werkuwer 
> > >
> > > > haiyaaa... setuju semua warga negara yang perempuan harus
> pakai
> > > > jilbab dan yang laki-laki harus pakai kupluk. selain ini sangat
> > > > indonesiani, juga sangat islami (yak...maksainiye).
> > > >
> > > > bikin jilbab dulu ahhh...
> >
>
>  
>



-- 
salam,
Ari


[Non-text portions of this message have been removed]



[wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-18 Terurut Topik ritajkt
--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "herri.permana" 
 wrote:
> Bung Karno itu ngefans sama Atarturk makanya buat identitas bangsa 
> juga pake topi , bedanya turki buang terbus
> 

Kang Herri, coba buku biografi Bung Karno by Cindy Adams yang sohor 
itu, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia". di cetakan 84 yg 
saya punya adanya di halaman 71 dst, Bab "BAndung : Gerbang ke Dunia 
Putih". Langsung konfirmasinya dari Bung Karno sendiri bahwa peci 
itu resmi merupakan senjata pergerakan Indonesia merdeka melalui 
state of fashion, jadi gak ada hubungannya sama Turki. Peci semata-
mata baju yang menyatukan rakyat seluruh Indonesia, DAN GAK ADA 
HUBUNGANNYA sama agama

Kalo dari buku lain, kita bisa tau pengaruh peci justru dari India. 
Dan mungkin aja India ini dapetnya dari Turki yah? Gw belum baca 
buku yang mengkonfirmasi hal itu, tapi setidaknya itu udah cukup 
buat mengcounter argumen Anda or klaim orang Islam yang suka ge-er 
mendaku milik budaya (dan perjuangan) sesuatu sebagai EKSKLUSIF 
miliknya :))


> Dan jaman dulu mau masyumi , NU , Muhammadiyah , Persis dll jarang 
> yang pake jilbab kaya sekarang cuma selendang plus kebaya, liat 
aja 
> foto-foto jaman itu.
> 
> Mengenai SI sendiri ada dua kubu pendukung SI yaitu DI/TII dan 
> Masyumi. Masyumi gak pernah dukung DI/TII mrk mlh dukung 
> PRRI/Permesta , dan DI/TII juga nyerang rumah-rumah org masyumi 
> termasuk rumah kakek saya, dan kakek saya dulu naik gunung buat 
> ngeburu DI/TII terutama momok ansharullah yang suka nyulik 
perempuan.
> 
> Kalo sekarang turunan DI/TII : NII , PKS , MMI dll
> turunan Masyumi : PBB , PAN , MD dll
> 
> dimana tafsiran ttg SI berbeda utamanya sih soal penghalalan darah 
> dan pengkafiran muslim yang gak seide .Tahun 1959 Kartosuwiryo 
ngasih 
> fatwa muslim yang dukung NKRI halal dibunuh termasuk perempuan , 
anak-
> anak dan orang tua sambil bawa dali(h)l ayat suci, si Kahar 
Muzakar 
> ngebolehin nyulik perempuan sbgi ghonimah.Plus mereka ngehalalin 
> ngerampok pake dalil perang badar.
> 
> --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "h.s nurbayanti" 
>  wrote:
> >
> > Yg perlu disalahkan, si penanggung dosa awalnya, kalau gitu, 
bung 
> karno?
> > bukan MUI?
> > 
> > 
> > 2008/12/18 werkuwer 
> > 
> > >   haiyaaa... setuju semua warga negara yang perempuan harus 
pakai
> > > jilbab dan yang laki-laki harus pakai kupluk. selain ini sangat
> > > indonesiani, juga sangat islami (yak...maksainiye).
> > >
> > > bikin jilbab dulu ahhh...
>




[wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-18 Terurut Topik herri.permana

Bung Karno itu ngefans sama Atarturk makanya buat identitas bangsa 
juga pake topi , bedanya turki buang terbus

Dan jaman dulu mau masyumi , NU , Muhammadiyah , Persis dll jarang 
yang pake jilbab kaya sekarang cuma selendang plus kebaya, liat aja 
foto-foto jaman itu.

Mengenai SI sendiri ada dua kubu pendukung SI yaitu DI/TII dan 
Masyumi. Masyumi gak pernah dukung DI/TII mrk mlh dukung 
PRRI/Permesta , dan DI/TII juga nyerang rumah-rumah org masyumi 
termasuk rumah kakek saya, dan kakek saya dulu naik gunung buat 
ngeburu DI/TII terutama momok ansharullah yang suka nyulik perempuan.

Kalo sekarang turunan DI/TII : NII , PKS , MMI dll
turunan Masyumi : PBB , PAN , MD dll

dimana tafsiran ttg SI berbeda utamanya sih soal penghalalan darah 
dan pengkafiran muslim yang gak seide .Tahun 1959 Kartosuwiryo ngasih 
fatwa muslim yang dukung NKRI halal dibunuh termasuk perempuan , anak-
anak dan orang tua sambil bawa dali(h)l ayat suci, si Kahar Muzakar 
ngebolehin nyulik perempuan sbgi ghonimah.Plus mereka ngehalalin 
ngerampok pake dalil perang badar.

--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "h.s nurbayanti" 
 wrote:
>
> Yg perlu disalahkan, si penanggung dosa awalnya, kalau gitu, bung 
karno?
> bukan MUI?
> 
> 
> 2008/12/18 werkuwer 
> 
> >   haiyaaa... setuju semua warga negara yang perempuan harus pakai
> > jilbab dan yang laki-laki harus pakai kupluk. selain ini sangat
> > indonesiani, juga sangat islami (yak...maksainiye).
> >
> > bikin jilbab dulu ahhh...



Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-18 Terurut Topik Ari Condro
Yg maksa bung karno buat release peraturan itu, bukannya orang masyumi ?  :))


salam,



-Original Message-
From: "h.s nurbayanti" 

Date: Fri, 19 Dec 2008 07:43:02 
To: 
Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab


Yg perlu disalahkan, si penanggung dosa awalnya, kalau gitu, bung karno?
bukan MUI?


2008/12/18 werkuwer 

>   haiyaaa... setuju semua warga negara yang perempuan harus pakai
> jilbab dan yang laki-laki harus pakai kupluk. selain ini sangat
> indonesiani, juga sangat islami (yak...maksainiye).
>
> bikin jilbab dulu ahhh...
>
> --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com ,
> "Ari Condro" 
> wrote:
> >
> > Gimana kalau jilbab dijadikan busana nasional ? Kan kalau kerudung
> sudah.
> >
> > Jadi nanti kalau ada ibu ibu berjilbab dan berkerudung merayakan
> hari ibu atau kartinian atau acara berbau adat di gereja, ya jangan
> protes lagi. Kan sudah didomestifikasi jadi baju nasional. Bukan
> kristenisasi jadinya. Toh jilbab juga niri baju peragawati  Eh,
> maksudnya jilbab juga niru baju biarawati.
> >
> > :))
> >
> > Gimana ? Kan kupluk saja sudah nasional :)). Di padang yg kristen
> juga setengah dipaksa pakai jilbab. Tinggal dilanjut aja sampai
> gereja :))
> >
> >
> > salam,
> >
> >
> >
> > -----Original Message-
> > From: "L.Meilany" 
> >
> > Date: Thu, 18 Dec 2008 13:24:42
> > To: 
> >
> > Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab
> >
> >
> > Kopyah yg dipakai pejabat itu urusannya pakaian nasional.
> > Kan yg non muslim juga pake kayak ketua partai buruh sapa tuh
> namanya orang batak.
> > Kemudian juga pendeta protestan sapa tuh juga namanya pun pakai
> kopiah.
> >
> > Kalo yg lebih lengkap selain berkopiah juga pakai teluk belanga
> >
> > Salam,
> > l.meilany
> > - Original Message -
> > From: Ari Condro
> > To: wanita-muslimah@yahoogroups.com 
> > Sent: Wednesday, December 17, 2008 7:59 AM
> > Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab
> >
> >
> > herni,
> > kalau pejabat negara potret bersama pakai kopyah kenapa gak
> sekalian
> > dipertanyakan ? bukannya menjurus juga tuh, si kopyah
> urusannya ... :D
> >
> > 2008/12/17 h.s nurbayanti 
>
> >
> > > Kaitannya ma konstitusi, yg menarik adalah...
> > > MK cenderung merasa perda2 itu melanggar.
> > > MA sebaliknya, cenderung bilang itu tidak apa2.
> > > SBY cenderung gak mau ngutak-ngatik soal syariat.
> > > Yg diutak-atik Perda yang berkaitan dng retribusi.
> > > (baca headline republika jum'at kemarin soal ini)
> > >
> > > Kalau saya, cenderung mengusulkan fatwanya adalah... jilbab
> itu pilihan.
> > > Termasuk pilihan menganggapnya wajib atau tidak :-)
> > > Yg perlu diatur adalah bahwa ada ruang untuk pilihan pribadi,
> bahkan di
> > > ruang publik sekalipun.
> > > Tapi, dimungkinkan pembatasan di ruang publik.
> > > Gak logislah, kalau penyiar, petugas rumah sakit dll pake
> abaya, cadar dll.
> > > Sama gak logisnya kalau mereka pake rok mini dan tank top dng
> garis dada
> > > rendah yg payudaranya keliatan mau tumpah :D
> > > Pembatasan, saya rasa dimungkinkan.
> > > Hakim, misalnya. Menurut saya sih sebaiknya gak pake jilbab
> hehehe..
> > >
> > > Selain itu, mikir juga soal fairness.
> > > Kalau jilbab dibolehkan, yg lain juga boleh. Kalung salib,
> misalnya.
> > > Jangan merasa terancam dan ngomel2 kalau ada yg pake kalung
> salib.
> > > Kalau anda orang muslim merasa spt itu, ya bayangkan orang non-
> Islam
> > > melihat
> > > jilbab.
> > > Simple aja kan tuh?
> > >
> > >
> > > 2008/12/16 Mia >
>
> > >
> > > > Iya, untuk Perda syariat, mesti dilihat relasi hukum,
> misalnya apakah
> > > > itu nggak bertentangan dengan Konstitusi sebagai payung
> semua? Ini
> > > > misalnya. Belum lagi soal parpol2 yang kelewat pragmatis
> sehingga
> > > > mengorbankan prinsip.
> > > >
> > > > Tapi, poinnya adalah kita mesti menyamakan persepsi, ke arah
> mana
> > > > paradigmanya? Konservatism dalam beragama nggak pernah
> sehat, itu
> > > > rambu2nya. Kalau kita setuju bahwa nilai yang lagi mau
> diusung
> > > > adalah konservatism beragama yang abusive terhadap anggota
> masyarakat
> > > > lain, maka kita harus mengkoreksi (mengorbankan) nilai itu
> dan
> > > > menggantinya dengan yang 

Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-18 Terurut Topik h.s nurbayanti
Yg perlu disalahkan, si penanggung dosa awalnya, kalau gitu, bung karno?
bukan MUI?


2008/12/18 werkuwer 

>   haiyaaa... setuju semua warga negara yang perempuan harus pakai
> jilbab dan yang laki-laki harus pakai kupluk. selain ini sangat
> indonesiani, juga sangat islami (yak...maksainiye).
>
> bikin jilbab dulu ahhh...
>
> --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com ,
> "Ari Condro" 
> wrote:
> >
> > Gimana kalau jilbab dijadikan busana nasional ? Kan kalau kerudung
> sudah.
> >
> > Jadi nanti kalau ada ibu ibu berjilbab dan berkerudung merayakan
> hari ibu atau kartinian atau acara berbau adat di gereja, ya jangan
> protes lagi. Kan sudah didomestifikasi jadi baju nasional. Bukan
> kristenisasi jadinya. Toh jilbab juga niri baju peragawati  Eh,
> maksudnya jilbab juga niru baju biarawati.
> >
> > :))
> >
> > Gimana ? Kan kupluk saja sudah nasional :)). Di padang yg kristen
> juga setengah dipaksa pakai jilbab. Tinggal dilanjut aja sampai
> gereja :))
> >
> >
> > salam,
> >
> >
> >
> > -Original Message-
> > From: "L.Meilany" 
> >
> > Date: Thu, 18 Dec 2008 13:24:42
> > To: 
> >
> > Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab
> >
> >
> > Kopyah yg dipakai pejabat itu urusannya pakaian nasional.
> > Kan yg non muslim juga pake kayak ketua partai buruh sapa tuh
> namanya orang batak.
> > Kemudian juga pendeta protestan sapa tuh juga namanya pun pakai
> kopiah.
> >
> > Kalo yg lebih lengkap selain berkopiah juga pakai teluk belanga
> >
> > Salam,
> > l.meilany
> > - Original Message -
> > From: Ari Condro
> > To: wanita-muslimah@yahoogroups.com 
> > Sent: Wednesday, December 17, 2008 7:59 AM
> > Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab
> >
> >
> > herni,
> > kalau pejabat negara potret bersama pakai kopyah kenapa gak
> sekalian
> > dipertanyakan ? bukannya menjurus juga tuh, si kopyah
> urusannya ... :D
> >
> > 2008/12/17 h.s nurbayanti 
>
> >
> > > Kaitannya ma konstitusi, yg menarik adalah...
> > > MK cenderung merasa perda2 itu melanggar.
> > > MA sebaliknya, cenderung bilang itu tidak apa2.
> > > SBY cenderung gak mau ngutak-ngatik soal syariat.
> > > Yg diutak-atik Perda yang berkaitan dng retribusi.
> > > (baca headline republika jum'at kemarin soal ini)
> > >
> > > Kalau saya, cenderung mengusulkan fatwanya adalah... jilbab
> itu pilihan.
> > > Termasuk pilihan menganggapnya wajib atau tidak :-)
> > > Yg perlu diatur adalah bahwa ada ruang untuk pilihan pribadi,
> bahkan di
> > > ruang publik sekalipun.
> > > Tapi, dimungkinkan pembatasan di ruang publik.
> > > Gak logislah, kalau penyiar, petugas rumah sakit dll pake
> abaya, cadar dll.
> > > Sama gak logisnya kalau mereka pake rok mini dan tank top dng
> garis dada
> > > rendah yg payudaranya keliatan mau tumpah :D
> > > Pembatasan, saya rasa dimungkinkan.
> > > Hakim, misalnya. Menurut saya sih sebaiknya gak pake jilbab
> hehehe..
> > >
> > > Selain itu, mikir juga soal fairness.
> > > Kalau jilbab dibolehkan, yg lain juga boleh. Kalung salib,
> misalnya.
> > > Jangan merasa terancam dan ngomel2 kalau ada yg pake kalung
> salib.
> > > Kalau anda orang muslim merasa spt itu, ya bayangkan orang non-
> Islam
> > > melihat
> > > jilbab.
> > > Simple aja kan tuh?
> > >
> > >
> > > 2008/12/16 Mia >
>
> > >
> > > > Iya, untuk Perda syariat, mesti dilihat relasi hukum,
> misalnya apakah
> > > > itu nggak bertentangan dengan Konstitusi sebagai payung
> semua? Ini
> > > > misalnya. Belum lagi soal parpol2 yang kelewat pragmatis
> sehingga
> > > > mengorbankan prinsip.
> > > >
> > > > Tapi, poinnya adalah kita mesti menyamakan persepsi, ke arah
> mana
> > > > paradigmanya? Konservatism dalam beragama nggak pernah
> sehat, itu
> > > > rambu2nya. Kalau kita setuju bahwa nilai yang lagi mau
> diusung
> > > > adalah konservatism beragama yang abusive terhadap anggota
> masyarakat
> > > > lain, maka kita harus mengkoreksi (mengorbankan) nilai itu
> dan
> > > > menggantinya dengan yang lain. Fatwa berjilbab diganti
> > > > dengan 'berjilbab itu tidak wajib', gantinya berpakaianlah
> sopan.
> > > >
> > > > Misalnya lagi, Ahmadiyah mesti dibubarkan (i.e kalau ada yang
> > > > me

[wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-18 Terurut Topik werkuwer
haiyaaa... setuju semua warga negara yang perempuan harus pakai 
jilbab dan yang laki-laki harus pakai kupluk. selain ini sangat 
indonesiani, juga sangat islami (yak...maksainiye). 

bikin jilbab dulu ahhh... 

--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Ari Condro"  
wrote:
>
> Gimana kalau jilbab dijadikan busana nasional ? Kan kalau kerudung 
sudah.
> 
> Jadi nanti kalau ada ibu ibu berjilbab dan berkerudung merayakan 
hari ibu atau kartinian atau acara berbau adat di gereja, ya jangan 
protes lagi.  Kan sudah didomestifikasi jadi baju nasional. Bukan 
kristenisasi jadinya. Toh jilbab juga niri baju peragawati  Eh, 
maksudnya jilbab juga niru baju biarawati.
> 
> :))
> 
> Gimana ?  Kan kupluk saja sudah nasional :)). Di padang yg kristen 
juga setengah dipaksa pakai jilbab.  Tinggal dilanjut aja sampai 
gereja :))
> 
> 
> salam,
> 
> 
> 
> -Original Message-
> From: "L.Meilany" 
> 
> Date: Thu, 18 Dec 2008 13:24:42 
> To: 
> Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab
> 
> 
> Kopyah yg dipakai pejabat itu urusannya pakaian nasional.
> Kan yg non muslim juga pake kayak ketua partai buruh sapa tuh 
namanya orang batak.
> Kemudian juga pendeta protestan sapa tuh juga namanya pun pakai 
kopiah.
> 
> Kalo yg lebih lengkap selain berkopiah juga pakai teluk belanga
> 
> Salam, 
> l.meilany
>   - Original Message - 
>   From: Ari Condro 
>   To: wanita-muslimah@yahoogroups.com 
>   Sent: Wednesday, December 17, 2008 7:59 AM
>   Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab
> 
> 
>   herni,
>   kalau pejabat negara potret bersama pakai kopyah kenapa gak 
sekalian
>   dipertanyakan ? bukannya menjurus juga tuh, si kopyah 
urusannya ... :D
> 
>   2008/12/17 h.s nurbayanti 
> 
>   > Kaitannya ma konstitusi, yg menarik adalah...
>   > MK cenderung merasa perda2 itu melanggar.
>   > MA sebaliknya, cenderung bilang itu tidak apa2.
>   > SBY cenderung gak mau ngutak-ngatik soal syariat.
>   > Yg diutak-atik Perda yang berkaitan dng retribusi.
>   > (baca headline republika jum'at kemarin soal ini)
>   >
>   > Kalau saya, cenderung mengusulkan fatwanya adalah... jilbab 
itu pilihan.
>   > Termasuk pilihan menganggapnya wajib atau tidak :-)
>   > Yg perlu diatur adalah bahwa ada ruang untuk pilihan pribadi, 
bahkan di
>   > ruang publik sekalipun.
>   > Tapi, dimungkinkan pembatasan di ruang publik.
>   > Gak logislah, kalau penyiar, petugas rumah sakit dll pake 
abaya, cadar dll.
>   > Sama gak logisnya kalau mereka pake rok mini dan tank top dng 
garis dada
>   > rendah yg payudaranya keliatan mau tumpah :D
>   > Pembatasan, saya rasa dimungkinkan.
>   > Hakim, misalnya. Menurut saya sih sebaiknya gak pake jilbab 
hehehe..
>   >
>   > Selain itu, mikir juga soal fairness.
>   > Kalau jilbab dibolehkan, yg lain juga boleh. Kalung salib, 
misalnya.
>   > Jangan merasa terancam dan ngomel2 kalau ada yg pake kalung 
salib.
>   > Kalau anda orang muslim merasa spt itu, ya bayangkan orang non-
Islam
>   > melihat
>   > jilbab.
>   > Simple aja kan tuh?
>   >
>   >
>   > 2008/12/16 Mia >
>   >
>   > > Iya, untuk Perda syariat, mesti dilihat relasi hukum, 
misalnya apakah
>   > > itu nggak bertentangan dengan Konstitusi sebagai payung 
semua? Ini
>   > > misalnya. Belum lagi soal parpol2 yang kelewat pragmatis 
sehingga
>   > > mengorbankan prinsip.
>   > >
>   > > Tapi, poinnya adalah kita mesti menyamakan persepsi, ke arah 
mana
>   > > paradigmanya? Konservatism dalam beragama nggak pernah 
sehat, itu
>   > > rambu2nya. Kalau kita setuju bahwa nilai yang lagi mau 
diusung
>   > > adalah konservatism beragama yang abusive terhadap anggota 
masyarakat
>   > > lain, maka kita harus mengkoreksi (mengorbankan) nilai itu 
dan
>   > > menggantinya dengan yang lain. Fatwa berjilbab diganti
>   > > dengan 'berjilbab itu tidak wajib', gantinya berpakaianlah 
sopan.
>   > >
>   > > Misalnya lagi, Ahmadiyah mesti dibubarkan (i.e kalau ada yang
>   > > menyerang ya biarkan saja). Fatwanya, tidak ada paksaan dalam
>   > > beragama (bentuk pengorbanan) Gantinya, Ahmadiyah adalah 
bagian dari
>   > > Islam dan Muslim.
>   > >
>   > > Ini langsung menyentuh relung emosi kita, dan itu harus 
dipupuk
>   > > secara baik-baik, artinya perubahan ini harus dari dalam 
diri kita
>   > > sendiri.
>   > >
>   > > salam
>   > > Mia
>   > >
>   > > --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com   > 40yahoogroups.com>,
>   > > "h.s nurbaya

Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-18 Terurut Topik Ari Condro
Gimana kalau jilbab dijadikan busana nasional ? Kan kalau kerudung sudah.

Jadi nanti kalau ada ibu ibu berjilbab dan berkerudung merayakan hari ibu atau 
kartinian atau acara berbau adat di gereja, ya jangan protes lagi.  Kan sudah 
didomestifikasi jadi baju nasional. Bukan kristenisasi jadinya. Toh jilbab juga 
niri baju peragawati  Eh, maksudnya jilbab juga niru baju biarawati.

:))

Gimana ?  Kan kupluk saja sudah nasional :)). Di padang yg kristen juga 
setengah dipaksa pakai jilbab.  Tinggal dilanjut aja sampai gereja :))


salam,



-Original Message-
From: "L.Meilany" 

Date: Thu, 18 Dec 2008 13:24:42 
To: 
Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab


Kopyah yg dipakai pejabat itu urusannya pakaian nasional.
Kan yg non muslim juga pake kayak ketua partai buruh sapa tuh namanya orang 
batak.
Kemudian juga pendeta protestan sapa tuh juga namanya pun pakai kopiah.

Kalo yg lebih lengkap selain berkopiah juga pakai teluk belanga

Salam, 
l.meilany
  - Original Message - 
  From: Ari Condro 
  To: wanita-muslimah@yahoogroups.com 
  Sent: Wednesday, December 17, 2008 7:59 AM
  Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab


  herni,
  kalau pejabat negara potret bersama pakai kopyah kenapa gak sekalian
  dipertanyakan ? bukannya menjurus juga tuh, si kopyah urusannya ... :D

  2008/12/17 h.s nurbayanti 

  > Kaitannya ma konstitusi, yg menarik adalah...
  > MK cenderung merasa perda2 itu melanggar.
  > MA sebaliknya, cenderung bilang itu tidak apa2.
  > SBY cenderung gak mau ngutak-ngatik soal syariat.
  > Yg diutak-atik Perda yang berkaitan dng retribusi.
  > (baca headline republika jum'at kemarin soal ini)
  >
  > Kalau saya, cenderung mengusulkan fatwanya adalah... jilbab itu pilihan.
  > Termasuk pilihan menganggapnya wajib atau tidak :-)
  > Yg perlu diatur adalah bahwa ada ruang untuk pilihan pribadi, bahkan di
  > ruang publik sekalipun.
  > Tapi, dimungkinkan pembatasan di ruang publik.
  > Gak logislah, kalau penyiar, petugas rumah sakit dll pake abaya, cadar dll.
  > Sama gak logisnya kalau mereka pake rok mini dan tank top dng garis dada
  > rendah yg payudaranya keliatan mau tumpah :D
  > Pembatasan, saya rasa dimungkinkan.
  > Hakim, misalnya. Menurut saya sih sebaiknya gak pake jilbab hehehe..
  >
  > Selain itu, mikir juga soal fairness.
  > Kalau jilbab dibolehkan, yg lain juga boleh. Kalung salib, misalnya.
  > Jangan merasa terancam dan ngomel2 kalau ada yg pake kalung salib.
  > Kalau anda orang muslim merasa spt itu, ya bayangkan orang non-Islam
  > melihat
  > jilbab.
  > Simple aja kan tuh?
  >
  >
  > 2008/12/16 Mia >
  >
  > > Iya, untuk Perda syariat, mesti dilihat relasi hukum, misalnya apakah
  > > itu nggak bertentangan dengan Konstitusi sebagai payung semua? Ini
  > > misalnya. Belum lagi soal parpol2 yang kelewat pragmatis sehingga
  > > mengorbankan prinsip.
  > >
  > > Tapi, poinnya adalah kita mesti menyamakan persepsi, ke arah mana
  > > paradigmanya? Konservatism dalam beragama nggak pernah sehat, itu
  > > rambu2nya. Kalau kita setuju bahwa nilai yang lagi mau diusung
  > > adalah konservatism beragama yang abusive terhadap anggota masyarakat
  > > lain, maka kita harus mengkoreksi (mengorbankan) nilai itu dan
  > > menggantinya dengan yang lain. Fatwa berjilbab diganti
  > > dengan 'berjilbab itu tidak wajib', gantinya berpakaianlah sopan.
  > >
  > > Misalnya lagi, Ahmadiyah mesti dibubarkan (i.e kalau ada yang
  > > menyerang ya biarkan saja). Fatwanya, tidak ada paksaan dalam
  > > beragama (bentuk pengorbanan) Gantinya, Ahmadiyah adalah bagian dari
  > > Islam dan Muslim.
  > >
  > > Ini langsung menyentuh relung emosi kita, dan itu harus dipupuk
  > > secara baik-baik, artinya perubahan ini harus dari dalam diri kita
  > > sendiri.
  > >
  > > salam
  > > Mia
  > >
  > > --- In 
wanita-muslimah@yahoogroups.com 40yahoogroups.com>,
  > > "h.s nurbayanti"
  > >  wrote:
  > > >
  > > > Ini menarik.. karena yg diperdebatkan bukan sekedar "konsep" spt yg
  > > mbak mia
  > > > bilang, tapi juga soal "kita"nya.
  > > > Tapi kalau urusan perda syariat, saya kira gak bisa diselesaikan
  > > dng fatwa
  > > > jilbab gak wajib.
  > > > Lebih ke bagaimana kita melihat relasi "moral" dan "hukum".
  > > > Belum lagi faktor politik yg banyak berperan. Bukannya itu cuma
  > > gimmick (eh
  > > > bener gak sih nulisnya) aja ya?
  > > > Pernah baca analisa mengenai hal itu.
  > > >
  > > > Sama halnya dng wine. Bukan soal minuman beralkoholnya, tapi

[wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-17 Terurut Topik werkuwer
'kopiah' sering juga disebut 'kupluk' di jawa tengah dan sekitarnya. 
di daerah ini, 'kupluk' ndak pernah dijadikan sbg simbol 'kebangsaan 
indonesia' sama sekali. 

istilah 'mbanting kupluk' berlaku ketika seorang pejudi kampungan 
kesal karena mengalami kekalahan. istilah 'mbalik kupluk' berlaku di 
kalangan para pengemis yang menyadongkan kupluknya di pinggir 
jalanan. istilah 'dasar kupluk!' digunakan untuk menggambarkan 
kekesalan seseorang pada sebuah situasi atau perilaku seseorang 
yg 'tidak menyenangkan'. 

'kupluk, ya kupluk...' gitu kata kusir dokar saat ditanya apa makna 
kupluk bagi mereka, 'ndak ada itu...mbelgedes itu...kalau katanya 
kupluk mewakili kebangsaan indonesia.'

'iya deh...'  

 





Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-17 Terurut Topik L.Meilany
Kopyah yg dipakai pejabat itu urusannya pakaian nasional.
Kan yg non muslim juga pake kayak ketua partai buruh sapa tuh namanya orang 
batak.
Kemudian juga pendeta protestan sapa tuh juga namanya pun pakai kopiah.

Kalo yg lebih lengkap selain berkopiah juga pakai teluk belanga

Salam, 
l.meilany
  - Original Message - 
  From: Ari Condro 
  To: wanita-muslimah@yahoogroups.com 
  Sent: Wednesday, December 17, 2008 7:59 AM
  Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab


  herni,
  kalau pejabat negara potret bersama pakai kopyah kenapa gak sekalian
  dipertanyakan ? bukannya menjurus juga tuh, si kopyah urusannya ... :D

  2008/12/17 h.s nurbayanti 

  > Kaitannya ma konstitusi, yg menarik adalah...
  > MK cenderung merasa perda2 itu melanggar.
  > MA sebaliknya, cenderung bilang itu tidak apa2.
  > SBY cenderung gak mau ngutak-ngatik soal syariat.
  > Yg diutak-atik Perda yang berkaitan dng retribusi.
  > (baca headline republika jum'at kemarin soal ini)
  >
  > Kalau saya, cenderung mengusulkan fatwanya adalah... jilbab itu pilihan.
  > Termasuk pilihan menganggapnya wajib atau tidak :-)
  > Yg perlu diatur adalah bahwa ada ruang untuk pilihan pribadi, bahkan di
  > ruang publik sekalipun.
  > Tapi, dimungkinkan pembatasan di ruang publik.
  > Gak logislah, kalau penyiar, petugas rumah sakit dll pake abaya, cadar dll.
  > Sama gak logisnya kalau mereka pake rok mini dan tank top dng garis dada
  > rendah yg payudaranya keliatan mau tumpah :D
  > Pembatasan, saya rasa dimungkinkan.
  > Hakim, misalnya. Menurut saya sih sebaiknya gak pake jilbab hehehe..
  >
  > Selain itu, mikir juga soal fairness.
  > Kalau jilbab dibolehkan, yg lain juga boleh. Kalung salib, misalnya.
  > Jangan merasa terancam dan ngomel2 kalau ada yg pake kalung salib.
  > Kalau anda orang muslim merasa spt itu, ya bayangkan orang non-Islam
  > melihat
  > jilbab.
  > Simple aja kan tuh?
  >
  >
  > 2008/12/16 Mia >
  >
  > > Iya, untuk Perda syariat, mesti dilihat relasi hukum, misalnya apakah
  > > itu nggak bertentangan dengan Konstitusi sebagai payung semua? Ini
  > > misalnya. Belum lagi soal parpol2 yang kelewat pragmatis sehingga
  > > mengorbankan prinsip.
  > >
  > > Tapi, poinnya adalah kita mesti menyamakan persepsi, ke arah mana
  > > paradigmanya? Konservatism dalam beragama nggak pernah sehat, itu
  > > rambu2nya. Kalau kita setuju bahwa nilai yang lagi mau diusung
  > > adalah konservatism beragama yang abusive terhadap anggota masyarakat
  > > lain, maka kita harus mengkoreksi (mengorbankan) nilai itu dan
  > > menggantinya dengan yang lain. Fatwa berjilbab diganti
  > > dengan 'berjilbab itu tidak wajib', gantinya berpakaianlah sopan.
  > >
  > > Misalnya lagi, Ahmadiyah mesti dibubarkan (i.e kalau ada yang
  > > menyerang ya biarkan saja). Fatwanya, tidak ada paksaan dalam
  > > beragama (bentuk pengorbanan) Gantinya, Ahmadiyah adalah bagian dari
  > > Islam dan Muslim.
  > >
  > > Ini langsung menyentuh relung emosi kita, dan itu harus dipupuk
  > > secara baik-baik, artinya perubahan ini harus dari dalam diri kita
  > > sendiri.
  > >
  > > salam
  > > Mia
  > >
  > > --- In 
wanita-muslimah@yahoogroups.com 40yahoogroups.com>,
  > > "h.s nurbayanti"
  > >  wrote:
  > > >
  > > > Ini menarik.. karena yg diperdebatkan bukan sekedar "konsep" spt yg
  > > mbak mia
  > > > bilang, tapi juga soal "kita"nya.
  > > > Tapi kalau urusan perda syariat, saya kira gak bisa diselesaikan
  > > dng fatwa
  > > > jilbab gak wajib.
  > > > Lebih ke bagaimana kita melihat relasi "moral" dan "hukum".
  > > > Belum lagi faktor politik yg banyak berperan. Bukannya itu cuma
  > > gimmick (eh
  > > > bener gak sih nulisnya) aja ya?
  > > > Pernah baca analisa mengenai hal itu.
  > > >
  > > > Sama halnya dng wine. Bukan soal minuman beralkoholnya, tapi soal
  > > wine-nya.
  > > > Yg coba dibenturkan sama pasangan yg arcon sebut kan konsepnya,
  > > tapi gak
  > > > menambah soal "kita"nya..
  > > > kecuali kalau yg disuguhkan anggur merah cap orang tua hehehehe
  > > > atau tuak.. atau apalah.. minuman beralkohol yg tradisional :P
  > > >
  > > > Lagian juga, apa perlunya minum yg kaya gitu disini?
  > > > mending orang barat dong, setidaknya mereka berangkat dari
  > > kebutuhan.
  > > > hehehe...
  > > >
  > > >
  > >
  > >
  > >
  >
  > [Non-text portions of this message have been removed]
  >
  > 
  >

  -- 
  salam,
  Ari

  [Non-text portions of this message have been removed]



   

[Non-text portions of this message have been removed]



Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-17 Terurut Topik h.s nurbayanti
terus gimana ceritanya peci/kopiah jadi terkesan eksklusif milik orang Islam
aja mbak?



2008/12/18 ritajkt 

>   --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com,
> "Ari Condro" 
> wrote:
> >
> > herni,
> > kalau pejabat negara potret bersama pakai kopyah kenapa gak sekalian
> > dipertanyakan ? bukannya menjurus juga tuh, si kopyah
> urusannya ... :D
> >
> :D :D :D
> BTW ini buat yg serius ama becandaannya mas Arcon en mbak Herni.
>
> Kopiah atawa peci hitam itu BUKAN aksesori busana muslim tapi PENUTUP
> KEPALA BUSANA RESMI untuk BANGSA INDONESIA yang dikampanyekan Bung
> Karno dkk di masa perjuangan menuju Indonesia merdeka. Bung Karno dan
> kawan-kawan saat itu menggelorakan semangat massanya dengan semua
> ciri keindonesiaan dan ogah pakai setelan jas sebagaimana yang
> dipakai para borjuis Indonesia yang kebelanda-belandaaan. Peci,
> sebuah penutup kepala yang dipakai meluas oleh rakyat, tukang sate
> tepatnya yang menjadi inspirator Bung Karno, dan merupakan varian
> topi sejenis yang beredar di India, dipakai sebagai simbol
> keindonesiaan itu biar beda sama jasnya belanda. Para pengikut Bung
> Karno dan kawan-kawan kemudian melahirkan gelombang peci ini dalam
> rapat-rapat umum sebagai afirmasi keberpihakan mereka pada perjuangan
> si Bung dkk. Setelah Indonesia merdeka, peci disahkan sebagai busana
> resmi bangsa ini, jadi gak ada urusannya ama agama!
>
> Sebagaimana juga pemakaian penutup dada dan kepala yang menjadi tanda
> status sosial perempuan merdeka di abad ke-7 di timur tengah, itu kan
> gak ada hubungannya sama agama! Sampe sekarang kaum biarawati
> Katholik masih memakai kode busana itu yang di sini diklaim sebagai
> busana muslimah.
>
> Dah,., met dilanjut lagi diskusinya Bos :D
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]



[wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-17 Terurut Topik Lina Dahlan
For all termasuk ogut,

Mumpung lagi pade menyinggung soal filosofi, ini ada falsafah or 
nasehat yang lahir dari penelitian HM Kusnandar tentang Hakekat 
Iman, Rohani, dan Ma'rifatullah:

1)  Kurangnya menjaga akal, hati, dan lidah akan mengakibatkan 
bangga diri dan tinggi hati yang berkepanjangan;
2)  Jagalah akal, hati, dan lidah. Janganlah engkau berkata 
kecuali perkataanmu benar, maka peliharalah dirimu dari banyak dusta 
dan bangga diri.
3)  Jadilah orang beriman yang lembut dan bijaksana. Berbaktilah 
kepada Allah dengan rasa rendah hati.
4)  Jadikanlah hatimu sebagai lautan maaf, kasihanilah sesama 
manusia dan hilangkanlah sifat buruk yang ada padamu.
5)  Kesadaran, Kesabaran dan Keikhlasan yang sangat lemah akan 
menghancurkan ilmu, iman, dan amal;
6)  Jadilah mukmin yang senantiasa berfikir benar, berkata 
benar, dan berprilaku benar.
7)  Janganlah memboroskan waktu. Perhatikanlah apa yang telah 
diperbuat untuk hari kematian karena kehidupan yang sebenarnya 
adalah setelah kematian dan kampungmu yang sesungguhnya adalah 
negeri akherat.

wassalam,


--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Ari Condro"  
wrote:
>
> Kalau bicara ego, cara saya memperolok hamid basyaib dan fathia 
syarif juga bagian dari ego yang membara itu.
> 
> Cara saya memberi komentar sinis pada lina dahlan, rizal, wawan, 
dan banyak kawan lain juga bagian dari nafsu ego tersebut.
> 
> Belajar dari filosofi berkorbannya mbak mia, ijinkan saya meminta 
maaf atas ucapan dan kata kata saya yang menyakiti hati teman teman 
semua.
> 
> 
> salam,
> 
> 
> 
> -Original Message-
> From: "Mia" 
> 
> Date: Mon, 15 Dec 2008 14:59:20 
> To: 
> Subject: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab
> 
> 
> Saya mendiskusikan refleksi saya tentang Idul Adha kemarin dengan 
> seorang kolega.  Pada akhirnya saya menyimpulkan, jangan2 selama 
ini 
> kita ummat Islam 'nggak berkorban' untuk melakukan perubahan, 
makanya 
> kita tinggal dalam kejumudan selama ribuan tahun ini.
> 
> Temen saya yang selalu berjilbab menambahkan, contohnya orang 
nggak 
> berjilbab kok dipaksa2, bahkan yang udah berjilbab pun masih 
dicari2 
> kesalahannya, kurang panjanglah inilah itulah...gimana mau maju?
> 
> Karena lagi ngomongin jilbab, maka pertanyaan saya, kalau 
kewajiban 
> jilbab itu (i.e perda syariat) dianggap mengekang atau bentuk 
> pelecehan terhadap perempuan - maka untuk mencerahkan atau 
> membebaskan diri kita dari itu - 'pengorbanan' yang perlu 
dilakukan 
> adalah:
> - mengeluarkan fatwa bahwa jilbab itu nggak wajib (ini bukannya 
> mengatakan bahwa nggak berjilbab itu wajib loh!)
> - apa ganti dari pengorbanan itu? seperti kata Herni dan 
> artikel 'kritik atas jilbab'  gantilah dengan pakaian yang sopan.
> Pakaian yang sopan itu menggambarkan kepantasan (decency) yang 
> merupakan hallmark kemanusiaan.  Itulah tujuan yang lebih mulia, 
yang 
> hanya bisa dicapai dengan mengorbankan yang menjadi keyakinan kita 
> selama ini bahwa 'jilbab itu wajib'.
> 
> Liberal fundies yang suka ngejek2 orang berjilbab itu kan kena 
> penyakit sombong, nurutin hawa nafsunya sendiri.  Bukan soal 
> konsisten atau nggak , tapi nurutin nafsu egois itu loh.  
> 
> Salam
> Mia
> 
> 
> --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Ari Condro"  
> wrote:
> >
> > Yup, herni benar dalam tiga poinnya.  Saya ulang di sini dengan 
> bahasa sendiri plus tambahan komen.
> > 
> > - pikiran quraish shihap dan asymawi berjalan dengan runtutan 
> logika yang sama.  Karena itulah dikecam oleh anak insist karena 
> dianggap tidak mengambil referensi dari canon islam.
> > 
> > - kedua, wacana liberal adalah wacana untuk memberikan kebebasan 
> memilih sesuatu pilihan pada sang subyek.  Maka sandrina menyerang 
> institusi metro tv karena melarangnya memilih jilbab.  Menurutnya, 
> ini membuat dirinya tidak merdeka menentukan pilihannya.  Dan ia 
> beranggapan bahwa iklim metro tv adalah liberal fundies.  Mungkin 
> kata yg lebih tepat adalah barat minded ? Atau secular minded ?
> > 
> > - ketiga, kadang orang tidak bisa membawa pikiran besar dalam 
> kenyataan hidupnya sehari hari.  Ini terjadi pada ulil.  Istrinya 
> berjilbab.  Dan ulil sendiri tidak berkehendak membela kaum lbgt 
> dengan melakukan rekonstruksi pemahaman wacana agama.
> > 
> > Beda dengan hamid basyaib misalnya, total football dalam 
berliberal 
> ria, bareng istrinya fathia syarif menyuguhkan wine dalam acara 
> perkawinan mereka yg bikin kagok para undangan yg petinggi 
organisasi 
> islam.
> > 
> > Fathia syarif, juga santai aja ikut acara wine tasting bersama 
> yohan handoyo, dan besok ini pesta makan wagyu beef bersama 
komunit

[wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-17 Terurut Topik ritajkt
--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Ari Condro"  
wrote:
>
> herni,
> kalau pejabat negara potret bersama pakai kopyah kenapa gak sekalian
> dipertanyakan ? bukannya menjurus juga tuh, si kopyah 
urusannya ... :D
> 
:D :D :D
BTW ini buat yg serius ama becandaannya mas Arcon en mbak Herni.

Kopiah atawa peci hitam itu BUKAN aksesori busana muslim tapi PENUTUP 
KEPALA BUSANA RESMI untuk BANGSA INDONESIA yang dikampanyekan Bung 
Karno dkk di masa perjuangan menuju Indonesia merdeka. Bung Karno dan 
kawan-kawan saat itu menggelorakan semangat massanya dengan semua 
ciri keindonesiaan dan ogah pakai setelan jas sebagaimana yang 
dipakai para borjuis Indonesia yang kebelanda-belandaaan. Peci, 
sebuah penutup kepala yang dipakai meluas oleh rakyat, tukang sate 
tepatnya yang menjadi inspirator Bung Karno, dan merupakan varian 
topi sejenis yang beredar di India, dipakai sebagai simbol 
keindonesiaan itu biar beda sama jasnya belanda. Para pengikut Bung 
Karno dan kawan-kawan kemudian melahirkan gelombang peci ini dalam 
rapat-rapat umum sebagai afirmasi keberpihakan mereka pada perjuangan 
si Bung dkk. Setelah Indonesia merdeka, peci disahkan sebagai busana 
resmi bangsa ini, jadi gak ada urusannya ama agama!

Sebagaimana juga pemakaian penutup dada dan kepala yang menjadi tanda 
status sosial perempuan merdeka di abad ke-7 di timur tengah, itu kan 
gak ada hubungannya sama agama! Sampe sekarang kaum biarawati 
Katholik masih memakai kode busana itu yang di sini diklaim sebagai 
busana muslimah.

Dah,., met dilanjut lagi diskusinya Bos :D




[wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-17 Terurut Topik Erwin Deguchi


Ada yang berkata
"Jadi inget, lagi ada pelatihan, pesertanya ada yg dari aceh.
Kaya baru lepas dari kandang, booo.
Yg cewe belanja, berenang dan mungkin nonton bioskop.
Yg cowo minum bir, dugem, dan mungkin nonton bioskop juga"

Kenapa ngak tambah aja dengan mungkin yang lain lain? mungkin ke
pelacuran, mungkin berjudi, mungkin merapok dll
Kan banyak kemungkinanan yang lainnya.

Belajarlah berdiskusi dengan benar. Jangan membuat prasangka prasangka
untuk menjelek2kan..

Salam


--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "h.s nurbayanti"
 wrote:
>
> Betul juga.. jangan pake kopyah.
> Bikin rusak nama Islam ajah.
> Apa mau nutupin pala yg gundul? :P
> 
> Yg mungkin menarik juga, latar belakang yg mengkritik jilbab.
> Tidak jarang, dari dunia pesantren, keluarga tradisional dll.
> Menjadi "liberal" karena buku dan perlawanan thd kondisi sekitar.
> Masalah kadang gak sinkron, ya lingkungan kan tanpa sadar bisa membekas.
> 
> Jadi inget, lagi ada pelatihan, pesertanya ada yg dari aceh.
> Kaya baru lepas dari kandang, booo.
> Yg cewe belanja, berenang dan mungkin nonton bioskop.
> Yg cowo minum bir, dugem, dan mungkin nonton bioskop juga
> (padahal, di aceh kan juga bisa minum bir, tapi ngumpet2 kali ya?)
> Panitianya yg puyeng. Mungkin pagi2 mereka pada hang over, datang
telat ke
> kelas.
> Lha, anak jakartanya malah gak demen yg kaya2 gitu.
> 
> Kalau hidup dalam lingkungan yg dikekang, gitu kali ya? :D
> Kalau gak terpaksa ngikut aturan atau bahkan jadi militan, ya
liberal? :D
> Ah, jadi muslim yg biasa2 ajalah :P
> 
> 
> 
> 2008/12/17 Ari Condro 
> 
> >   herni,
> > kalau pejabat negara potret bersama pakai kopyah kenapa gak sekalian
> > dipertanyakan ? bukannya menjurus juga tuh, si kopyah urusannya ... :D
> >
> > 2008/12/17 h.s nurbayanti >
> >
> > > Kaitannya ma konstitusi, yg menarik adalah...
> > > MK cenderung merasa perda2 itu melanggar.
> > > MA sebaliknya, cenderung bilang itu tidak apa2.
> > > SBY cenderung gak mau ngutak-ngatik soal syariat.
> > > Yg diutak-atik Perda yang berkaitan dng retribusi.
> > > (baca headline republika jum'at kemarin soal ini)
> > >
> > > Kalau saya, cenderung mengusulkan fatwanya adalah... jilbab itu
pilihan.
> > > Termasuk pilihan menganggapnya wajib atau tidak :-)
> > > Yg perlu diatur adalah bahwa ada ruang untuk pilihan pribadi,
bahkan di
> > > ruang publik sekalipun.
> > > Tapi, dimungkinkan pembatasan di ruang publik.
> > > Gak logislah, kalau penyiar, petugas rumah sakit dll pake abaya,
cadar
> > dll.
> > > Sama gak logisnya kalau mereka pake rok mini dan tank top dng
garis dada
> > > rendah yg payudaranya keliatan mau tumpah :D
> > > Pembatasan, saya rasa dimungkinkan.
> > > Hakim, misalnya. Menurut saya sih sebaiknya gak pake jilbab hehehe..
> > >
> > > Selain itu, mikir juga soal fairness.
> > > Kalau jilbab dibolehkan, yg lain juga boleh. Kalung salib, misalnya.
> > > Jangan merasa terancam dan ngomel2 kalau ada yg pake kalung salib.
> > > Kalau anda orang muslim merasa spt itu, ya bayangkan orang non-Islam
> > > melihat
> > > jilbab.
> > > Simple aja kan tuh?
> > >
> > >
> > > 2008/12/16 Mia  >
> >
> > >
> > > > Iya, untuk Perda syariat, mesti dilihat relasi hukum, misalnya
apakah
> > > > itu nggak bertentangan dengan Konstitusi sebagai payung semua? Ini
> > > > misalnya. Belum lagi soal parpol2 yang kelewat pragmatis sehingga
> > > > mengorbankan prinsip.
> > > >
> > > > Tapi, poinnya adalah kita mesti menyamakan persepsi, ke arah mana
> > > > paradigmanya? Konservatism dalam beragama nggak pernah sehat, itu
> > > > rambu2nya. Kalau kita setuju bahwa nilai yang lagi mau diusung
> > > > adalah konservatism beragama yang abusive terhadap anggota
masyarakat
> > > > lain, maka kita harus mengkoreksi (mengorbankan) nilai itu dan
> > > > menggantinya dengan yang lain. Fatwa berjilbab diganti
> > > > dengan 'berjilbab itu tidak wajib', gantinya berpakaianlah sopan.
> > > >
> > > > Misalnya lagi, Ahmadiyah mesti dibubarkan (i.e kalau ada yang
> > > > menyerang ya biarkan saja). Fatwanya, tidak ada paksaan dalam
> > > > beragama (bentuk pengorbanan) Gantinya, Ahmadiyah adalah
bagian dari
> > > > Islam dan Muslim.
> > > >
> > > > Ini langsung menyentuh relung emosi kita, dan itu harus dipupuk
> > > > secara baik-baik, artinya perubahan ini harus dari dalam diri kita
> > > > sendiri.
> > > >
> > > > salam
> > > > Mia
> > > >
> > > > --- In
wanita-muslimah@yahoogroups.com
> >  > > 40yahoogroups.com>,
> > > > "h.s nurbayanti"
> > > >  wrote:
> > > > >
> > > > > Ini menarik.. karena yg diperdebatkan bukan sekedar "konsep"
spt yg
> > > > mbak mia
> > > > > bilang, tapi juga soal "kita"nya.
> > > > > Tapi kalau urusan perda syariat, saya kira gak bisa diselesaikan
> > > > dng fatwa
> > > > > jilbab gak wajib.
> > > > > Lebih ke bagaimana kita melihat relasi "moral" dan "hukum".
> > > > > Belum lagi faktor politik yg banyak berperan. Bukannya itu cuma
> > > > gimmick (eh
> > > > > bener gak sih nulisnya) aja ya?
> > > > > Pernah baca analisa mengenai hal itu.
> > > > >
> > > 

Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-17 Terurut Topik L.Meilany
Nimbrung :

Jilbab itu jadi masalah karena secara nggak langsung berkaitan dengan agama.
Bisa jadi pembenaran, meskipun seseorang itu berjilbabnya dari sononya karena 
kebiasaan.

Sama saja dengan pakaian lain, misalnya pas datang ke acara kematian karena 
nggak mau 
punya pakaian hitam pakailah yg warna selain hitam.
Disana [ terutama sih di komunitas non islam] bisa diomongin juga sama yg rada 
fanatik.

Lha memangnya ada gitu aturan baku kalo kematian musti pake pakaian hitam, 
kerudung hitam?
Kita bisa saja ngeyel tapi di aturan 'etiket' tata krama berbusana begitulah yg 
dianjurkan.

Begitu juga misalnya pake dasi biasa atau dasi kupu2, pake jas atau pake batik.
Pake jas bawahnya jins boleh ndak di acara resmi
Kan kalo saltum [ salah kostum] bisa diomongin.
Misalnya saja di pesta kaum socialite. Bisa2 pesta mendatang nggak diundang 
lagi.
Kalo nyaleg bisa nggak dapat sokongan

Kalo perkara jilbab kan alasannya ke agama, nanti dosalah, nggak berkahlah , 
miskin melululah,
bla...bla...bla yg menyeramkan :-)) 

Salam, 
l.meilany 
  - Original Message - 
  From: Mia 
  To: wanita-muslimah@yahoogroups.com 
  Sent: Monday, December 15, 2008 10:28 PM
  Subject: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab


  hahahaha...lutuye...

  Arcon dan komen2nya 'are mutually exclusive'
  Arcon itu persona, dan komennya 'role play'. Setahuku, Arcon dan 
  role playnya itu nggak ada persamaannya...hihihi...

  Beda dengan jilbab dan nggak berjilbab, they are not mutually 
  exclusive. Di antara jilbab dan nggak berjilbab itu spektrumnya luas 
  sekali, ada jilbab funky, ada jilbab rapat, ada cadar yang bikin 
  bingung, ada yang nggak berjilbab tapi kok ok ajakarena 
  persamaannya TETEP ADA, yaitu decency atau batas kesopanan.

  salam
  Mia

  --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Ari Condro"  
  wrote:
  >
  > Kalau bicara ego, cara saya memperolok hamid basyaib dan fathia 
  syarif juga bagian dari ego yang membara itu.
  > 
  > Cara saya memberi komentar sinis pada lina dahlan, rizal, wawan, 
  dan banyak kawan lain juga bagian dari nafsu ego tersebut.
  > 
  > Belajar dari filosofi berkorbannya mbak mia, ijinkan saya meminta 
  maaf atas ucapan dan kata kata saya yang menyakiti hati teman teman 
  semua.
  > 
  > 
  > salam,
  > 
  > 
  >



   

[Non-text portions of this message have been removed]



Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-17 Terurut Topik L.Meilany
Soal jilbab yg hubungannya ke agama itu sebenernya nggak bisa dikritik, kan itu 
keyakinan.
Kenapa gitu misalnya masalah jilbab itu lebih dipermasalahkan daripada 
persoalan yg wajib, seperti solat dan lainnya.

Mau curhat sedikit, hari Jum'at lalu saya pergi diantar adik pas ketemu maghrib 
[ kedengaran gitu di radio].
Langsung saja adik mencari masjid pas pinggir jalan di daerah mampang dekat 
markas PKS.
Kami solat, perempuannya cuma 4 orang dan semuanya gak berjilbab :-)

Sempat ngobrol sama tukang parkir, memangnya kalo pas solat nggak ada gitu 
perempuan yg solat di masjid?
Padahal bersliweran dijalanan perempuan turun dari metromini, angkot, yg jalan 
kaki tapi gak ada gitu yg mampir solat di masjid.
[ Ada rasa jengah juga diliatin, laki2nya banyak ada mungkin 30 -an orang]
Katanya ;" Ya sedikit sekali dan biasanya malahan yg gak pake jilbab.Kalo pake 
jilbab solatnya di rumah kali "

salam, 
l.meilany



  - Original Message - 
  From: Mia 
  To: wanita-muslimah@yahoogroups.com 
  Sent: Monday, December 15, 2008 9:59 PM
  Subject: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab


  Saya mendiskusikan refleksi saya tentang Idul Adha kemarin dengan 
  seorang kolega. Pada akhirnya saya menyimpulkan, jangan2 selama ini 
  kita ummat Islam 'nggak berkorban' untuk melakukan perubahan, makanya 
  kita tinggal dalam kejumudan selama ribuan tahun ini.

  Temen saya yang selalu berjilbab menambahkan, contohnya orang nggak 
  berjilbab kok dipaksa2, bahkan yang udah berjilbab pun masih dicari2 
  kesalahannya, kurang panjanglah inilah itulah...gimana mau maju?

  Karena lagi ngomongin jilbab, maka pertanyaan saya, kalau kewajiban 
  jilbab itu (i.e perda syariat) dianggap mengekang atau bentuk 
  pelecehan terhadap perempuan - maka untuk mencerahkan atau 
  membebaskan diri kita dari itu - 'pengorbanan' yang perlu dilakukan 
  adalah:
  - mengeluarkan fatwa bahwa jilbab itu nggak wajib (ini bukannya 
  mengatakan bahwa nggak berjilbab itu wajib loh!)
  - apa ganti dari pengorbanan itu? seperti kata Herni dan 
  artikel 'kritik atas jilbab' gantilah dengan pakaian yang sopan.
  Pakaian yang sopan itu menggambarkan kepantasan (decency) yang 
  merupakan hallmark kemanusiaan. Itulah tujuan yang lebih mulia, yang 
  hanya bisa dicapai dengan mengorbankan yang menjadi keyakinan kita 
  selama ini bahwa 'jilbab itu wajib'.

  Liberal fundies yang suka ngejek2 orang berjilbab itu kan kena 
  penyakit sombong, nurutin hawa nafsunya sendiri. Bukan soal 
  konsisten atau nggak , tapi nurutin nafsu egois itu loh. 

  Salam
  Mia

  --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Ari Condro"  
  wrote:
  >
  > Yup, herni benar dalam tiga poinnya. Saya ulang di sini dengan 
  bahasa sendiri plus tambahan komen.
  > 
  > - pikiran quraish shihap dan asymawi berjalan dengan runtutan 
  logika yang sama. Karena itulah dikecam oleh anak insist karena 
  dianggap tidak mengambil referensi dari canon islam.
  > 
  > - kedua, wacana liberal adalah wacana untuk memberikan kebebasan 
  memilih sesuatu pilihan pada sang subyek. Maka sandrina menyerang 
  institusi metro tv karena melarangnya memilih jilbab. Menurutnya, 
  ini membuat dirinya tidak merdeka menentukan pilihannya. Dan ia 
  beranggapan bahwa iklim metro tv adalah liberal fundies. Mungkin 
  kata yg lebih tepat adalah barat minded ? Atau secular minded ?
  > 
  > - ketiga, kadang orang tidak bisa membawa pikiran besar dalam 
  kenyataan hidupnya sehari hari. Ini terjadi pada ulil. Istrinya 
  berjilbab. Dan ulil sendiri tidak berkehendak membela kaum lbgt 
  dengan melakukan rekonstruksi pemahaman wacana agama.
  > 
  > Beda dengan hamid basyaib misalnya, total football dalam berliberal 
  ria, bareng istrinya fathia syarif menyuguhkan wine dalam acara 
  perkawinan mereka yg bikin kagok para undangan yg petinggi organisasi 
  islam.
  > 
  > Fathia syarif, juga santai aja ikut acara wine tasting bersama 
  yohan handoyo, dan besok ini pesta makan wagyu beef bersama komunitas 
  jalansutra.
  > 
  > *wagyu beef ini sapinya diberi minum sampanye dan tubuhnya diurut 
  dan dimandikan, lagi lagi pakai 
  > minuman keras
  > 
  > 
  > salam,
  > 
  > 
  > 
  > -Original Message-
  > From: "h.s nurbayanti" 
  > 
  > Date: Mon, 15 Dec 2008 21:01:00 
  > To: 
  > Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab
  > 
  > 
  > Komentar saya:
  > Pertama, persoalan esensi suruhannya adalah bersikap/berlaku santun 
  dan
  > modesty berbanding lurus dng persoalan jilbab itu wajib/tidak gak? 
  Maksudnya
  > apakah cara berpikirnya beruntun...
  > - jilbab tidak wajib
  > - esensi dari suruhan adalah santun dan modesty
  > kesimpulannya: gak berjilbab gpp.. yg penting, berlaku santun dan 
  bersikap
  > modest lah...ini esensi "wanita-muslimah".
  > kalau ya, apakah pemi

Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-16 Terurut Topik Ari Condro
Bukannya ane malah ngebelain acara nontonnya ?  :))

Apa anak aceh pada gak suka laskar pelangi ?  :p


salam,



-Original Message-
From: "wanitaacehtangguh" 

Date: Wed, 17 Dec 2008 06:38:29 
To: 
Subject: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab


waduh pak...nggak semua anak Aceh gitu lo...
bawa-bawa nama aceh kale
intinya, itu semua nyangkut ke pribadi masing-masing
tugas kita cuma nyampein yang bener
kalo g diterima
bukan salah kita duong

g semua suka jilbab ya jangan diprotes
g semua suka islam
ya jangan ganggu
kan beresgitu kok repot hahahaha

regards
putri al qassam

--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Ari Condro"  wrote:
>
> Aduh kasian amat, nonton biskop jadi cacat cela irisan dari pihak
cowok dan
> cewek ... :D
> Padahal ane, lagi menikmati ternak teri, nganterin anak istri,
belakangan
> ini, nonton pilem di bioskop.  sudah tiga kali ini.  nontonnya :
> 
> - Liburan Seru
> - Laskar Pelangi
> - Bolt
> 
> Anak ane, bisa menikmati di Liburan Serunya Nia Zulkarnaen dan Ari
Sihasale
> itu,  dan juga film kartun Bolt.  Kalau laskar pelangi malah bobok di 21
>    :D
> 
> 
> 
> 
> 
> 2008/12/17 h.s nurbayanti 
> 
> >   Betul juga.. jangan pake kopyah.
> > Bikin rusak nama Islam ajah.
> > Apa mau nutupin pala yg gundul? :P
> >
> > Yg mungkin menarik juga, latar belakang yg mengkritik jilbab.
> > Tidak jarang, dari dunia pesantren, keluarga tradisional dll.
> > Menjadi "liberal" karena buku dan perlawanan thd kondisi sekitar.
> > Masalah kadang gak sinkron, ya lingkungan kan tanpa sadar bisa
membekas.
> >
> > Jadi inget, lagi ada pelatihan, pesertanya ada yg dari aceh.
> > Kaya baru lepas dari kandang, booo.
> > Yg cewe belanja, berenang dan mungkin nonton bioskop.
> > Yg cowo minum bir, dugem, dan mungkin nonton bioskop juga
> > (padahal, di aceh kan juga bisa minum bir, tapi ngumpet2 kali ya?)
> > Panitianya yg puyeng. Mungkin pagi2 mereka pada hang over, datang
telat ke
> > kelas.
> > Lha, anak jakartanya malah gak demen yg kaya2 gitu.
> >
> > Kalau hidup dalam lingkungan yg dikekang, gitu kali ya? :D
> > Kalau gak terpaksa ngikut aturan atau bahkan jadi militan, ya
liberal? :D
> > Ah, jadi muslim yg biasa2 ajalah :P
> >
> > 2008/12/17 Ari Condro >
> >
> >
> > > herni,
> > > kalau pejabat negara potret bersama pakai kopyah kenapa gak sekalian
> > > dipertanyakan ? bukannya menjurus juga tuh, si kopyah urusannya
... :D
> > >
> > > 2008/12/17 h.s nurbayanti  > 40gmail.com>>
> > >
> > > > Kaitannya ma konstitusi, yg menarik adalah...
> > > > MK cenderung merasa perda2 itu melanggar.
> > > > MA sebaliknya, cenderung bilang itu tidak apa2.
> > > > SBY cenderung gak mau ngutak-ngatik soal syariat.
> > > > Yg diutak-atik Perda yang berkaitan dng retribusi.
> > > > (baca headline republika jum'at kemarin soal ini)
> > > >
> > > > Kalau saya, cenderung mengusulkan fatwanya adalah... jilbab itu
> > pilihan.
> > > > Termasuk pilihan menganggapnya wajib atau tidak :-)
> > > > Yg perlu diatur adalah bahwa ada ruang untuk pilihan pribadi,
bahkan di
> > > > ruang publik sekalipun.
> > > > Tapi, dimungkinkan pembatasan di ruang publik.
> > > > Gak logislah, kalau penyiar, petugas rumah sakit dll pake
abaya, cadar
> > > dll.
> > > > Sama gak logisnya kalau mereka pake rok mini dan tank top dng
garis
> > dada
> > > > rendah yg payudaranya keliatan mau tumpah :D
> > > > Pembatasan, saya rasa dimungkinkan.
> > > > Hakim, misalnya. Menurut saya sih sebaiknya gak pake jilbab
hehehe..
> > > >
> > > > Selain itu, mikir juga soal fairness.
> > > > Kalau jilbab dibolehkan, yg lain juga boleh. Kalung salib,
misalnya.
> > > > Jangan merasa terancam dan ngomel2 kalau ada yg pake kalung salib.
> > > > Kalau anda orang muslim merasa spt itu, ya bayangkan orang
non-Islam
> > > > melihat
> > > > jilbab.
> > > > Simple aja kan tuh?
> > > >
> > > >
> > > > 2008/12/16 Mia  
> > >
> > >
> > > >
> > > > > Iya, untuk Perda syariat, mesti dilihat relasi hukum,
misalnya apakah
> > > > > itu nggak bertentangan dengan Konstitusi sebagai payung
semua? Ini
> > > > > misalnya. Belum lagi soal parpol2 yang kelewat pragmatis
sehingga
> > > > > mengorbankan prinsip.
> > > > >
> > > > > Tapi, poinnya adalah kita mesti menyamakan persepsi, ke a

[wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-16 Terurut Topik wanitaacehtangguh
waduh pak...nggak semua anak Aceh gitu lo...
bawa-bawa nama aceh kale
intinya, itu semua nyangkut ke pribadi masing-masing
tugas kita cuma nyampein yang bener
kalo g diterima
bukan salah kita duong

g semua suka jilbab ya jangan diprotes
g semua suka islam
ya jangan ganggu
kan beresgitu kok repot hahahaha

regards
putri al qassam

--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Ari Condro"  wrote:
>
> Aduh kasian amat, nonton biskop jadi cacat cela irisan dari pihak
cowok dan
> cewek ... :D
> Padahal ane, lagi menikmati ternak teri, nganterin anak istri,
belakangan
> ini, nonton pilem di bioskop.  sudah tiga kali ini.  nontonnya :
> 
> - Liburan Seru
> - Laskar Pelangi
> - Bolt
> 
> Anak ane, bisa menikmati di Liburan Serunya Nia Zulkarnaen dan Ari
Sihasale
> itu,  dan juga film kartun Bolt.  Kalau laskar pelangi malah bobok di 21
>    :D
> 
> 
> 
> 
> 
> 2008/12/17 h.s nurbayanti 
> 
> >   Betul juga.. jangan pake kopyah.
> > Bikin rusak nama Islam ajah.
> > Apa mau nutupin pala yg gundul? :P
> >
> > Yg mungkin menarik juga, latar belakang yg mengkritik jilbab.
> > Tidak jarang, dari dunia pesantren, keluarga tradisional dll.
> > Menjadi "liberal" karena buku dan perlawanan thd kondisi sekitar.
> > Masalah kadang gak sinkron, ya lingkungan kan tanpa sadar bisa
membekas.
> >
> > Jadi inget, lagi ada pelatihan, pesertanya ada yg dari aceh.
> > Kaya baru lepas dari kandang, booo.
> > Yg cewe belanja, berenang dan mungkin nonton bioskop.
> > Yg cowo minum bir, dugem, dan mungkin nonton bioskop juga
> > (padahal, di aceh kan juga bisa minum bir, tapi ngumpet2 kali ya?)
> > Panitianya yg puyeng. Mungkin pagi2 mereka pada hang over, datang
telat ke
> > kelas.
> > Lha, anak jakartanya malah gak demen yg kaya2 gitu.
> >
> > Kalau hidup dalam lingkungan yg dikekang, gitu kali ya? :D
> > Kalau gak terpaksa ngikut aturan atau bahkan jadi militan, ya
liberal? :D
> > Ah, jadi muslim yg biasa2 ajalah :P
> >
> > 2008/12/17 Ari Condro >
> >
> >
> > > herni,
> > > kalau pejabat negara potret bersama pakai kopyah kenapa gak sekalian
> > > dipertanyakan ? bukannya menjurus juga tuh, si kopyah urusannya
... :D
> > >
> > > 2008/12/17 h.s nurbayanti  > 40gmail.com>>
> > >
> > > > Kaitannya ma konstitusi, yg menarik adalah...
> > > > MK cenderung merasa perda2 itu melanggar.
> > > > MA sebaliknya, cenderung bilang itu tidak apa2.
> > > > SBY cenderung gak mau ngutak-ngatik soal syariat.
> > > > Yg diutak-atik Perda yang berkaitan dng retribusi.
> > > > (baca headline republika jum'at kemarin soal ini)
> > > >
> > > > Kalau saya, cenderung mengusulkan fatwanya adalah... jilbab itu
> > pilihan.
> > > > Termasuk pilihan menganggapnya wajib atau tidak :-)
> > > > Yg perlu diatur adalah bahwa ada ruang untuk pilihan pribadi,
bahkan di
> > > > ruang publik sekalipun.
> > > > Tapi, dimungkinkan pembatasan di ruang publik.
> > > > Gak logislah, kalau penyiar, petugas rumah sakit dll pake
abaya, cadar
> > > dll.
> > > > Sama gak logisnya kalau mereka pake rok mini dan tank top dng
garis
> > dada
> > > > rendah yg payudaranya keliatan mau tumpah :D
> > > > Pembatasan, saya rasa dimungkinkan.
> > > > Hakim, misalnya. Menurut saya sih sebaiknya gak pake jilbab
hehehe..
> > > >
> > > > Selain itu, mikir juga soal fairness.
> > > > Kalau jilbab dibolehkan, yg lain juga boleh. Kalung salib,
misalnya.
> > > > Jangan merasa terancam dan ngomel2 kalau ada yg pake kalung salib.
> > > > Kalau anda orang muslim merasa spt itu, ya bayangkan orang
non-Islam
> > > > melihat
> > > > jilbab.
> > > > Simple aja kan tuh?
> > > >
> > > >
> > > > 2008/12/16 Mia  
> > >
> > >
> > > >
> > > > > Iya, untuk Perda syariat, mesti dilihat relasi hukum,
misalnya apakah
> > > > > itu nggak bertentangan dengan Konstitusi sebagai payung
semua? Ini
> > > > > misalnya. Belum lagi soal parpol2 yang kelewat pragmatis
sehingga
> > > > > mengorbankan prinsip.
> > > > >
> > > > > Tapi, poinnya adalah kita mesti menyamakan persepsi, ke arah
mana
> > > > > paradigmanya? Konservatism dalam beragama nggak pernah
sehat, itu
> > > > > rambu2nya. Kalau kita setuju bahwa nilai yang lagi mau diusung
> > > > > adalah konservatism beragama yang abusive terhadap anggota
masyarakat
> > > > > lain, maka kita harus mengkoreksi (mengorbankan) nilai itu dan
> > > > > menggantinya dengan yang lain. Fatwa berjilbab diganti
> > > > > dengan 'berjilbab itu tidak wajib', gantinya berpakaianlah
sopan.
> > > > >
> > > > > Misalnya lagi, Ahmadiyah mesti dibubarkan (i.e kalau ada yang
> > > > > menyerang ya biarkan saja). Fatwanya, tidak ada paksaan dalam
> > > > > beragama (bentuk pengorbanan) Gantinya, Ahmadiyah adalah
bagian dari
> > > > > Islam dan Muslim.
> > > > >
> > > > > Ini langsung menyentuh relung emosi kita, dan itu harus dipupuk
> > > > > secara baik-baik, artinya perubahan ini harus dari dalam
diri kita
> > > > > sendiri.
> > > > >
> > > > > salam
> > > > > Mia
> > > > >
> > > > > --- In
wanita-muslimah@yahoogroups.com
> > 
> > >  >
> > > > 40yahoogroups.com>,
> > > > > "h.s nurbay

Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-16 Terurut Topik Ari Condro
Aduh kasian amat, nonton biskop jadi cacat cela irisan dari pihak cowok dan
cewek ... :D
Padahal ane, lagi menikmati ternak teri, nganterin anak istri, belakangan
ini, nonton pilem di bioskop.  sudah tiga kali ini.  nontonnya :

- Liburan Seru
- Laskar Pelangi
- Bolt

Anak ane, bisa menikmati di Liburan Serunya Nia Zulkarnaen dan Ari Sihasale
itu,  dan juga film kartun Bolt.  Kalau laskar pelangi malah bobok di 21
   :D





2008/12/17 h.s nurbayanti 

>   Betul juga.. jangan pake kopyah.
> Bikin rusak nama Islam ajah.
> Apa mau nutupin pala yg gundul? :P
>
> Yg mungkin menarik juga, latar belakang yg mengkritik jilbab.
> Tidak jarang, dari dunia pesantren, keluarga tradisional dll.
> Menjadi "liberal" karena buku dan perlawanan thd kondisi sekitar.
> Masalah kadang gak sinkron, ya lingkungan kan tanpa sadar bisa membekas.
>
> Jadi inget, lagi ada pelatihan, pesertanya ada yg dari aceh.
> Kaya baru lepas dari kandang, booo.
> Yg cewe belanja, berenang dan mungkin nonton bioskop.
> Yg cowo minum bir, dugem, dan mungkin nonton bioskop juga
> (padahal, di aceh kan juga bisa minum bir, tapi ngumpet2 kali ya?)
> Panitianya yg puyeng. Mungkin pagi2 mereka pada hang over, datang telat ke
> kelas.
> Lha, anak jakartanya malah gak demen yg kaya2 gitu.
>
> Kalau hidup dalam lingkungan yg dikekang, gitu kali ya? :D
> Kalau gak terpaksa ngikut aturan atau bahkan jadi militan, ya liberal? :D
> Ah, jadi muslim yg biasa2 ajalah :P
>
> 2008/12/17 Ari Condro >
>
>
> > herni,
> > kalau pejabat negara potret bersama pakai kopyah kenapa gak sekalian
> > dipertanyakan ? bukannya menjurus juga tuh, si kopyah urusannya ... :D
> >
> > 2008/12/17 h.s nurbayanti  >  40gmail.com>>
> >
> > > Kaitannya ma konstitusi, yg menarik adalah...
> > > MK cenderung merasa perda2 itu melanggar.
> > > MA sebaliknya, cenderung bilang itu tidak apa2.
> > > SBY cenderung gak mau ngutak-ngatik soal syariat.
> > > Yg diutak-atik Perda yang berkaitan dng retribusi.
> > > (baca headline republika jum'at kemarin soal ini)
> > >
> > > Kalau saya, cenderung mengusulkan fatwanya adalah... jilbab itu
> pilihan.
> > > Termasuk pilihan menganggapnya wajib atau tidak :-)
> > > Yg perlu diatur adalah bahwa ada ruang untuk pilihan pribadi, bahkan di
> > > ruang publik sekalipun.
> > > Tapi, dimungkinkan pembatasan di ruang publik.
> > > Gak logislah, kalau penyiar, petugas rumah sakit dll pake abaya, cadar
> > dll.
> > > Sama gak logisnya kalau mereka pake rok mini dan tank top dng garis
> dada
> > > rendah yg payudaranya keliatan mau tumpah :D
> > > Pembatasan, saya rasa dimungkinkan.
> > > Hakim, misalnya. Menurut saya sih sebaiknya gak pake jilbab hehehe..
> > >
> > > Selain itu, mikir juga soal fairness.
> > > Kalau jilbab dibolehkan, yg lain juga boleh. Kalung salib, misalnya.
> > > Jangan merasa terancam dan ngomel2 kalau ada yg pake kalung salib.
> > > Kalau anda orang muslim merasa spt itu, ya bayangkan orang non-Islam
> > > melihat
> > > jilbab.
> > > Simple aja kan tuh?
> > >
> > >
> > > 2008/12/16 Mia  
> >
> >
> > >
> > > > Iya, untuk Perda syariat, mesti dilihat relasi hukum, misalnya apakah
> > > > itu nggak bertentangan dengan Konstitusi sebagai payung semua? Ini
> > > > misalnya. Belum lagi soal parpol2 yang kelewat pragmatis sehingga
> > > > mengorbankan prinsip.
> > > >
> > > > Tapi, poinnya adalah kita mesti menyamakan persepsi, ke arah mana
> > > > paradigmanya? Konservatism dalam beragama nggak pernah sehat, itu
> > > > rambu2nya. Kalau kita setuju bahwa nilai yang lagi mau diusung
> > > > adalah konservatism beragama yang abusive terhadap anggota masyarakat
> > > > lain, maka kita harus mengkoreksi (mengorbankan) nilai itu dan
> > > > menggantinya dengan yang lain. Fatwa berjilbab diganti
> > > > dengan 'berjilbab itu tidak wajib', gantinya berpakaianlah sopan.
> > > >
> > > > Misalnya lagi, Ahmadiyah mesti dibubarkan (i.e kalau ada yang
> > > > menyerang ya biarkan saja). Fatwanya, tidak ada paksaan dalam
> > > > beragama (bentuk pengorbanan) Gantinya, Ahmadiyah adalah bagian dari
> > > > Islam dan Muslim.
> > > >
> > > > Ini langsung menyentuh relung emosi kita, dan itu harus dipupuk
> > > > secara baik-baik, artinya perubahan ini harus dari dalam diri kita
> > > > sendiri.
> > > >
> > > > salam
> > > > Mia
> > > >
> > > > --- In 
> > > > wanita-muslimah@yahoogroups.com
> 
> > 
> > > 40yahoogroups.com>,
> > > > "h.s nurbayanti"
> > > >  wrote:
> > > > >
> > > > > Ini menarik.. karena yg diperdebatkan bukan sekedar "konsep" spt yg
> > > > mbak mia
> > > > > bilang, tapi juga soal "kita"nya.
> > > > > Tapi kalau urusan perda syariat, saya kira gak bisa diselesaikan
> > > > dng fatwa
> > > > > jilbab gak wajib.
> > > > > Lebih ke bagaimana kita melihat relasi "moral" dan "hukum".
> > > > > Belum lagi faktor politik yg banyak berperan. Bukannya itu cuma
> > > > gimmick (eh
> > > > > bener gak sih nulisnya) aja ya?
> > > > > Pernah baca analisa mengenai hal itu.
> > > > >
> > > > > Sama halnya dng wine. Bukan soal minuman beralkoholnya, ta

Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-16 Terurut Topik h.s nurbayanti
Betul juga.. jangan pake kopyah.
Bikin rusak nama Islam ajah.
Apa mau nutupin pala yg gundul? :P

Yg mungkin menarik juga, latar belakang yg mengkritik jilbab.
Tidak jarang, dari dunia pesantren, keluarga tradisional dll.
Menjadi "liberal" karena buku dan perlawanan thd kondisi sekitar.
Masalah kadang gak sinkron, ya lingkungan kan tanpa sadar bisa membekas.

Jadi inget, lagi ada pelatihan, pesertanya ada yg dari aceh.
Kaya baru lepas dari kandang, booo.
Yg cewe belanja, berenang dan mungkin nonton bioskop.
Yg cowo minum bir, dugem, dan mungkin nonton bioskop juga
(padahal, di aceh kan juga bisa minum bir, tapi ngumpet2 kali ya?)
Panitianya yg puyeng. Mungkin pagi2 mereka pada hang over, datang telat ke
kelas.
Lha, anak jakartanya malah gak demen yg kaya2 gitu.

Kalau hidup dalam lingkungan yg dikekang, gitu kali ya? :D
Kalau gak terpaksa ngikut aturan atau bahkan jadi militan, ya liberal? :D
Ah, jadi muslim yg biasa2 ajalah :P



2008/12/17 Ari Condro 

>   herni,
> kalau pejabat negara potret bersama pakai kopyah kenapa gak sekalian
> dipertanyakan ? bukannya menjurus juga tuh, si kopyah urusannya ... :D
>
> 2008/12/17 h.s nurbayanti >
>
> > Kaitannya ma konstitusi, yg menarik adalah...
> > MK cenderung merasa perda2 itu melanggar.
> > MA sebaliknya, cenderung bilang itu tidak apa2.
> > SBY cenderung gak mau ngutak-ngatik soal syariat.
> > Yg diutak-atik Perda yang berkaitan dng retribusi.
> > (baca headline republika jum'at kemarin soal ini)
> >
> > Kalau saya, cenderung mengusulkan fatwanya adalah... jilbab itu pilihan.
> > Termasuk pilihan menganggapnya wajib atau tidak :-)
> > Yg perlu diatur adalah bahwa ada ruang untuk pilihan pribadi, bahkan di
> > ruang publik sekalipun.
> > Tapi, dimungkinkan pembatasan di ruang publik.
> > Gak logislah, kalau penyiar, petugas rumah sakit dll pake abaya, cadar
> dll.
> > Sama gak logisnya kalau mereka pake rok mini dan tank top dng garis dada
> > rendah yg payudaranya keliatan mau tumpah :D
> > Pembatasan, saya rasa dimungkinkan.
> > Hakim, misalnya. Menurut saya sih sebaiknya gak pake jilbab hehehe..
> >
> > Selain itu, mikir juga soal fairness.
> > Kalau jilbab dibolehkan, yg lain juga boleh. Kalung salib, misalnya.
> > Jangan merasa terancam dan ngomel2 kalau ada yg pake kalung salib.
> > Kalau anda orang muslim merasa spt itu, ya bayangkan orang non-Islam
> > melihat
> > jilbab.
> > Simple aja kan tuh?
> >
> >
> > 2008/12/16 Mia  >
>
> >
> > > Iya, untuk Perda syariat, mesti dilihat relasi hukum, misalnya apakah
> > > itu nggak bertentangan dengan Konstitusi sebagai payung semua? Ini
> > > misalnya. Belum lagi soal parpol2 yang kelewat pragmatis sehingga
> > > mengorbankan prinsip.
> > >
> > > Tapi, poinnya adalah kita mesti menyamakan persepsi, ke arah mana
> > > paradigmanya? Konservatism dalam beragama nggak pernah sehat, itu
> > > rambu2nya. Kalau kita setuju bahwa nilai yang lagi mau diusung
> > > adalah konservatism beragama yang abusive terhadap anggota masyarakat
> > > lain, maka kita harus mengkoreksi (mengorbankan) nilai itu dan
> > > menggantinya dengan yang lain. Fatwa berjilbab diganti
> > > dengan 'berjilbab itu tidak wajib', gantinya berpakaianlah sopan.
> > >
> > > Misalnya lagi, Ahmadiyah mesti dibubarkan (i.e kalau ada yang
> > > menyerang ya biarkan saja). Fatwanya, tidak ada paksaan dalam
> > > beragama (bentuk pengorbanan) Gantinya, Ahmadiyah adalah bagian dari
> > > Islam dan Muslim.
> > >
> > > Ini langsung menyentuh relung emosi kita, dan itu harus dipupuk
> > > secara baik-baik, artinya perubahan ini harus dari dalam diri kita
> > > sendiri.
> > >
> > > salam
> > > Mia
> > >
> > > --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com
>  > 40yahoogroups.com>,
> > > "h.s nurbayanti"
> > >  wrote:
> > > >
> > > > Ini menarik.. karena yg diperdebatkan bukan sekedar "konsep" spt yg
> > > mbak mia
> > > > bilang, tapi juga soal "kita"nya.
> > > > Tapi kalau urusan perda syariat, saya kira gak bisa diselesaikan
> > > dng fatwa
> > > > jilbab gak wajib.
> > > > Lebih ke bagaimana kita melihat relasi "moral" dan "hukum".
> > > > Belum lagi faktor politik yg banyak berperan. Bukannya itu cuma
> > > gimmick (eh
> > > > bener gak sih nulisnya) aja ya?
> > > > Pernah baca analisa mengenai hal itu.
> > > >
> > > > Sama halnya dng wine. Bukan soal minuman beralkoholnya, tapi soal
> > > wine-nya.
> > > > Yg coba dibenturkan sama pasangan yg arcon sebut kan konsepnya,
> > > tapi gak
> > > > menambah soal "kita"nya..
> > > > kecuali kalau yg disuguhkan anggur merah cap orang tua hehehehe
> > > > atau tuak.. atau apalah.. minuman beralkohol yg tradisional :P
> > > >
> > > > Lagian juga, apa perlunya minum yg kaya gitu disini?
> > > > mending orang barat dong, setidaknya mereka berangkat dari
> > > kebutuhan.
> > > > hehehe...
> > > >
> > > >
> > >
> > >
> > >
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> >
> >
>
> --
> salam,
> Ari
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>  
>


[Non-text portions of this message have been re

Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-16 Terurut Topik Ari Condro
herni,
kalau pejabat negara potret bersama pakai kopyah kenapa gak sekalian
dipertanyakan ? bukannya menjurus juga tuh, si kopyah urusannya ... :D



2008/12/17 h.s nurbayanti 

>   Kaitannya ma konstitusi, yg menarik adalah...
> MK cenderung merasa perda2 itu melanggar.
> MA sebaliknya, cenderung bilang itu tidak apa2.
> SBY cenderung gak mau ngutak-ngatik soal syariat.
> Yg diutak-atik Perda yang berkaitan dng retribusi.
> (baca headline republika jum'at kemarin soal ini)
>
> Kalau saya, cenderung mengusulkan fatwanya adalah... jilbab itu pilihan.
> Termasuk pilihan menganggapnya wajib atau tidak :-)
> Yg perlu diatur adalah bahwa ada ruang untuk pilihan pribadi, bahkan di
> ruang publik sekalipun.
> Tapi, dimungkinkan pembatasan di ruang publik.
> Gak logislah, kalau penyiar, petugas rumah sakit dll pake abaya, cadar dll.
> Sama gak logisnya kalau mereka pake rok mini dan tank top dng garis dada
> rendah yg payudaranya keliatan mau tumpah :D
> Pembatasan, saya rasa dimungkinkan.
> Hakim, misalnya. Menurut saya sih sebaiknya gak pake jilbab hehehe..
>
> Selain itu, mikir juga soal fairness.
> Kalau jilbab dibolehkan, yg lain juga boleh. Kalung salib, misalnya.
> Jangan merasa terancam dan ngomel2 kalau ada yg pake kalung salib.
> Kalau anda orang muslim merasa spt itu, ya bayangkan orang non-Islam
> melihat
> jilbab.
> Simple aja kan tuh?
>
>
> 2008/12/16 Mia >
>
> > Iya, untuk Perda syariat, mesti dilihat relasi hukum, misalnya apakah
> > itu nggak bertentangan dengan Konstitusi sebagai payung semua? Ini
> > misalnya. Belum lagi soal parpol2 yang kelewat pragmatis sehingga
> > mengorbankan prinsip.
> >
> > Tapi, poinnya adalah kita mesti menyamakan persepsi, ke arah mana
> > paradigmanya? Konservatism dalam beragama nggak pernah sehat, itu
> > rambu2nya. Kalau kita setuju bahwa nilai yang lagi mau diusung
> > adalah konservatism beragama yang abusive terhadap anggota masyarakat
> > lain, maka kita harus mengkoreksi (mengorbankan) nilai itu dan
> > menggantinya dengan yang lain. Fatwa berjilbab diganti
> > dengan 'berjilbab itu tidak wajib', gantinya berpakaianlah sopan.
> >
> > Misalnya lagi, Ahmadiyah mesti dibubarkan (i.e kalau ada yang
> > menyerang ya biarkan saja). Fatwanya, tidak ada paksaan dalam
> > beragama (bentuk pengorbanan) Gantinya, Ahmadiyah adalah bagian dari
> > Islam dan Muslim.
> >
> > Ini langsung menyentuh relung emosi kita, dan itu harus dipupuk
> > secara baik-baik, artinya perubahan ini harus dari dalam diri kita
> > sendiri.
> >
> > salam
> > Mia
> >
> > --- In 
> > wanita-muslimah@yahoogroups.com 40yahoogroups.com>,
> > "h.s nurbayanti"
> >  wrote:
> > >
> > > Ini menarik.. karena yg diperdebatkan bukan sekedar "konsep" spt yg
> > mbak mia
> > > bilang, tapi juga soal "kita"nya.
> > > Tapi kalau urusan perda syariat, saya kira gak bisa diselesaikan
> > dng fatwa
> > > jilbab gak wajib.
> > > Lebih ke bagaimana kita melihat relasi "moral" dan "hukum".
> > > Belum lagi faktor politik yg banyak berperan. Bukannya itu cuma
> > gimmick (eh
> > > bener gak sih nulisnya) aja ya?
> > > Pernah baca analisa mengenai hal itu.
> > >
> > > Sama halnya dng wine. Bukan soal minuman beralkoholnya, tapi soal
> > wine-nya.
> > > Yg coba dibenturkan sama pasangan yg arcon sebut kan konsepnya,
> > tapi gak
> > > menambah soal "kita"nya..
> > > kecuali kalau yg disuguhkan anggur merah cap orang tua hehehehe
> > > atau tuak.. atau apalah.. minuman beralkohol yg tradisional :P
> > >
> > > Lagian juga, apa perlunya minum yg kaya gitu disini?
> > > mending orang barat dong, setidaknya mereka berangkat dari
> > kebutuhan.
> > > hehehe...
> > >
> > >
> >
> >
> >
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>  
>



-- 
salam,
Ari


[Non-text portions of this message have been removed]



Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-16 Terurut Topik h.s nurbayanti
Kaitannya ma konstitusi, yg menarik adalah...
MK cenderung merasa perda2 itu melanggar.
MA sebaliknya, cenderung bilang itu tidak apa2.
SBY cenderung gak mau ngutak-ngatik soal syariat.
Yg diutak-atik Perda yang berkaitan dng retribusi.
(baca headline republika jum'at kemarin soal ini)

Kalau saya, cenderung mengusulkan fatwanya adalah... jilbab itu pilihan.
Termasuk pilihan menganggapnya wajib atau tidak :-)
Yg perlu diatur adalah bahwa ada ruang untuk pilihan pribadi, bahkan di
ruang publik sekalipun.
Tapi, dimungkinkan pembatasan di ruang publik.
Gak logislah, kalau penyiar, petugas rumah sakit dll pake abaya, cadar dll.
Sama gak logisnya kalau mereka pake rok mini dan tank top dng garis dada
rendah yg payudaranya keliatan mau tumpah :D
Pembatasan, saya rasa dimungkinkan.
Hakim, misalnya. Menurut saya sih sebaiknya gak pake jilbab hehehe..

Selain itu, mikir juga soal fairness.
Kalau jilbab dibolehkan, yg lain juga boleh. Kalung salib, misalnya.
Jangan merasa terancam dan ngomel2 kalau ada yg pake kalung salib.
Kalau anda orang muslim merasa spt itu, ya bayangkan orang non-Islam melihat
jilbab.
Simple aja kan tuh?



2008/12/16 Mia 

>   Iya, untuk Perda syariat, mesti dilihat relasi hukum, misalnya apakah
> itu nggak bertentangan dengan Konstitusi sebagai payung semua? Ini
> misalnya. Belum lagi soal parpol2 yang kelewat pragmatis sehingga
> mengorbankan prinsip.
>
> Tapi, poinnya adalah kita mesti menyamakan persepsi, ke arah mana
> paradigmanya? Konservatism dalam beragama nggak pernah sehat, itu
> rambu2nya. Kalau kita setuju bahwa nilai yang lagi mau diusung
> adalah konservatism beragama yang abusive terhadap anggota masyarakat
> lain, maka kita harus mengkoreksi (mengorbankan) nilai itu dan
> menggantinya dengan yang lain. Fatwa berjilbab diganti
> dengan 'berjilbab itu tidak wajib', gantinya berpakaianlah sopan.
>
> Misalnya lagi, Ahmadiyah mesti dibubarkan (i.e kalau ada yang
> menyerang ya biarkan saja). Fatwanya, tidak ada paksaan dalam
> beragama (bentuk pengorbanan) Gantinya, Ahmadiyah adalah bagian dari
> Islam dan Muslim.
>
> Ini langsung menyentuh relung emosi kita, dan itu harus dipupuk
> secara baik-baik, artinya perubahan ini harus dari dalam diri kita
> sendiri.
>
> salam
> Mia
>
> --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com ,
> "h.s nurbayanti"
>  wrote:
> >
> > Ini menarik.. karena yg diperdebatkan bukan sekedar "konsep" spt yg
> mbak mia
> > bilang, tapi juga soal "kita"nya.
> > Tapi kalau urusan perda syariat, saya kira gak bisa diselesaikan
> dng fatwa
> > jilbab gak wajib.
> > Lebih ke bagaimana kita melihat relasi "moral" dan "hukum".
> > Belum lagi faktor politik yg banyak berperan. Bukannya itu cuma
> gimmick (eh
> > bener gak sih nulisnya) aja ya?
> > Pernah baca analisa mengenai hal itu.
> >
> > Sama halnya dng wine. Bukan soal minuman beralkoholnya, tapi soal
> wine-nya.
> > Yg coba dibenturkan sama pasangan yg arcon sebut kan konsepnya,
> tapi gak
> > menambah soal "kita"nya..
> > kecuali kalau yg disuguhkan anggur merah cap orang tua hehehehe
> > atau tuak.. atau apalah.. minuman beralkohol yg tradisional :P
> >
> > Lagian juga, apa perlunya minum yg kaya gitu disini?
> > mending orang barat dong, setidaknya mereka berangkat dari
> kebutuhan.
> > hehehe...
> >
> >
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]



Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-16 Terurut Topik Ari Condro
berusaha merangkum apa yang dimaksud sama herni dan mbak mia.  kalian
diskusinya pada berat berat yah.  kasian tuh yang lain ... :D

*buat herni :*

ada titik tekan pada masalah lingkaran identitas : aku, kita, kamu, dia.
 wine adalah the others, sang liyan.  tuak adalah kita.  karenanya tape dan
daun ganja dalam masakan aceh masih bisa diterima.

*buat mbak mia :*

sekarang adalah masalah softening dan membuka kemungkinan buat keberadaan
sang liyan.  karenanya jilbab yang merupakan identitas ideologis dan menutup
diri antara aku dengan kamu, dicairkan dengan pakaian yang sopan.  muslim -
non muslim dicairkan dengan semua adalah muslim basodara.  bahkan kalau
agamanya berbeda, dicairkan dengan identitas yang lebih besar, misalnya suku
atau nasionalitas.

identitas itu memang saling berpotongan dan beririsan, yang bisa kita
lakukan adalah membuat posisi kita jelas.  mau memeluk hanya satu identitas,
atau menerima berbagai keragaman identitas yang ada dan menyadari bahwa diri
kita terbentuk dari berbagai akar budaya.

contoh :

saya jawa, tapi juga muslim, berpendidikan indonesia nasional dengan warna
pendidikan barat yang lebih kuat dibandingkan warna pendidikan islam, tidak
suka kekerasan, tidak makan babi dan tidak minum alkohol, istri berjilbab
dan anak sekolah di tk islam, tapi saya sendiri suka pakai celana pendek,
dan tidak memelihara jenglot :p  , suka naik motor dan aktif pakai yahoo dan
apple.

2008/12/16 Mia 

>   Iya, untuk Perda syariat, mesti dilihat relasi hukum, misalnya apakah
> itu nggak bertentangan dengan Konstitusi sebagai payung semua? Ini
> misalnya. Belum lagi soal parpol2 yang kelewat pragmatis sehingga
> mengorbankan prinsip.
>
> Tapi, poinnya adalah kita mesti menyamakan persepsi, ke arah mana
> paradigmanya? Konservatism dalam beragama nggak pernah sehat, itu
> rambu2nya. Kalau kita setuju bahwa nilai yang lagi mau diusung
> adalah konservatism beragama yang abusive terhadap anggota masyarakat
> lain, maka kita harus mengkoreksi (mengorbankan) nilai itu dan
> menggantinya dengan yang lain. Fatwa berjilbab diganti
> dengan 'berjilbab itu tidak wajib', gantinya berpakaianlah sopan.
>
> Misalnya lagi, Ahmadiyah mesti dibubarkan (i.e kalau ada yang
> menyerang ya biarkan saja). Fatwanya, tidak ada paksaan dalam
> beragama (bentuk pengorbanan) Gantinya, Ahmadiyah adalah bagian dari
> Islam dan Muslim.
>
> Ini langsung menyentuh relung emosi kita, dan itu harus dipupuk
> secara baik-baik, artinya perubahan ini harus dari dalam diri kita
> sendiri.
>
> salam
> Mia
>
> --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com ,
> "h.s nurbayanti"
>  wrote:
> >
> > Ini menarik.. karena yg diperdebatkan bukan sekedar "konsep" spt yg
> mbak mia
> > bilang, tapi juga soal "kita"nya.
> > Tapi kalau urusan perda syariat, saya kira gak bisa diselesaikan
> dng fatwa
> > jilbab gak wajib.
> > Lebih ke bagaimana kita melihat relasi "moral" dan "hukum".
> > Belum lagi faktor politik yg banyak berperan. Bukannya itu cuma
> gimmick (eh
> > bener gak sih nulisnya) aja ya?
> > Pernah baca analisa mengenai hal itu.
> >
> > Sama halnya dng wine. Bukan soal minuman beralkoholnya, tapi soal
> wine-nya.
> > Yg coba dibenturkan sama pasangan yg arcon sebut kan konsepnya,
> tapi gak
> > menambah soal "kita"nya..
> > kecuali kalau yg disuguhkan anggur merah cap orang tua hehehehe
> > atau tuak.. atau apalah.. minuman beralkohol yg tradisional :P
> >
> > Lagian juga, apa perlunya minum yg kaya gitu disini?
> > mending orang barat dong, setidaknya mereka berangkat dari
> kebutuhan.
> > hehehe...
> >
> >
>
>  
>



-- 
salam,
Ari


[Non-text portions of this message have been removed]



[wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-16 Terurut Topik Mia
Iya, untuk Perda syariat, mesti dilihat relasi hukum, misalnya apakah 
itu nggak bertentangan dengan Konstitusi sebagai payung semua? Ini 
misalnya.  Belum lagi soal parpol2 yang kelewat pragmatis sehingga 
mengorbankan prinsip.

Tapi, poinnya adalah kita mesti menyamakan persepsi, ke arah mana 
paradigmanya?  Konservatism dalam beragama nggak pernah sehat, itu 
rambu2nya.  Kalau kita setuju bahwa nilai yang lagi mau diusung 
adalah konservatism beragama yang abusive terhadap anggota masyarakat 
lain, maka kita harus mengkoreksi (mengorbankan) nilai itu dan 
menggantinya dengan yang lain.  Fatwa berjilbab diganti 
dengan 'berjilbab itu tidak wajib', gantinya berpakaianlah sopan.

Misalnya lagi, Ahmadiyah mesti dibubarkan (i.e kalau ada yang 
menyerang ya biarkan saja).  Fatwanya, tidak ada paksaan dalam 
beragama (bentuk pengorbanan) Gantinya, Ahmadiyah adalah bagian dari 
Islam dan Muslim. 

Ini langsung menyentuh relung emosi kita, dan itu harus dipupuk 
secara baik-baik, artinya perubahan ini harus dari dalam diri kita 
sendiri.

salam
Mia

--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "h.s nurbayanti" 
 wrote:
>
> Ini menarik.. karena yg diperdebatkan bukan sekedar "konsep" spt yg 
mbak mia
> bilang, tapi juga soal "kita"nya.
> Tapi kalau urusan perda syariat, saya kira gak bisa diselesaikan 
dng fatwa
> jilbab gak wajib.
> Lebih ke bagaimana kita melihat relasi "moral" dan "hukum".
> Belum lagi faktor politik yg banyak berperan. Bukannya itu cuma 
gimmick (eh
> bener gak sih nulisnya) aja ya?
> Pernah baca analisa mengenai hal itu.
> 
> Sama halnya dng wine. Bukan soal minuman beralkoholnya, tapi soal 
wine-nya.
> Yg coba dibenturkan sama pasangan yg arcon sebut kan konsepnya, 
tapi gak
> menambah soal "kita"nya..
> kecuali kalau yg disuguhkan anggur merah cap orang tua hehehehe
> atau tuak.. atau apalah.. minuman beralkohol yg tradisional :P
> 
> Lagian juga, apa perlunya minum yg kaya gitu disini?
> mending orang barat dong, setidaknya mereka berangkat dari 
kebutuhan.
> hehehe...
> 
> 




Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-16 Terurut Topik h.s nurbayanti
Ini menarik.. karena yg diperdebatkan bukan sekedar "konsep" spt yg mbak mia
bilang, tapi juga soal "kita"nya.
Tapi kalau urusan perda syariat, saya kira gak bisa diselesaikan dng fatwa
jilbab gak wajib.
Lebih ke bagaimana kita melihat relasi "moral" dan "hukum".
Belum lagi faktor politik yg banyak berperan. Bukannya itu cuma gimmick (eh
bener gak sih nulisnya) aja ya?
Pernah baca analisa mengenai hal itu.

Sama halnya dng wine. Bukan soal minuman beralkoholnya, tapi soal wine-nya.
Yg coba dibenturkan sama pasangan yg arcon sebut kan konsepnya, tapi gak
menambah soal "kita"nya..
kecuali kalau yg disuguhkan anggur merah cap orang tua hehehehe
atau tuak.. atau apalah.. minuman beralkohol yg tradisional :P

Lagian juga, apa perlunya minum yg kaya gitu disini?
mending orang barat dong, setidaknya mereka berangkat dari kebutuhan.
hehehe...



2008/12/15 Mia 

>   Saya mendiskusikan refleksi saya tentang Idul Adha kemarin dengan
> seorang kolega. Pada akhirnya saya menyimpulkan, jangan2 selama ini
> kita ummat Islam 'nggak berkorban' untuk melakukan perubahan, makanya
> kita tinggal dalam kejumudan selama ribuan tahun ini.
>
> Temen saya yang selalu berjilbab menambahkan, contohnya orang nggak
> berjilbab kok dipaksa2, bahkan yang udah berjilbab pun masih dicari2
> kesalahannya, kurang panjanglah inilah itulah...gimana mau maju?
>
> Karena lagi ngomongin jilbab, maka pertanyaan saya, kalau kewajiban
> jilbab itu (i.e perda syariat) dianggap mengekang atau bentuk
> pelecehan terhadap perempuan - maka untuk mencerahkan atau
> membebaskan diri kita dari itu - 'pengorbanan' yang perlu dilakukan
> adalah:
> - mengeluarkan fatwa bahwa jilbab itu nggak wajib (ini bukannya
> mengatakan bahwa nggak berjilbab itu wajib loh!)
> - apa ganti dari pengorbanan itu? seperti kata Herni dan
> artikel 'kritik atas jilbab' gantilah dengan pakaian yang sopan.
> Pakaian yang sopan itu menggambarkan kepantasan (decency) yang
> merupakan hallmark kemanusiaan. Itulah tujuan yang lebih mulia, yang
> hanya bisa dicapai dengan mengorbankan yang menjadi keyakinan kita
> selama ini bahwa 'jilbab itu wajib'.
>
> Liberal fundies yang suka ngejek2 orang berjilbab itu kan kena
> penyakit sombong, nurutin hawa nafsunya sendiri. Bukan soal
> konsisten atau nggak , tapi nurutin nafsu egois itu loh.
>
> Salam
> Mia
>
> --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com ,
> "Ari Condro" 
> wrote:
>
> >
> > Yup, herni benar dalam tiga poinnya. Saya ulang di sini dengan
> bahasa sendiri plus tambahan komen.
> >
> > - pikiran quraish shihap dan asymawi berjalan dengan runtutan
> logika yang sama. Karena itulah dikecam oleh anak insist karena
> dianggap tidak mengambil referensi dari canon islam.
> >
> > - kedua, wacana liberal adalah wacana untuk memberikan kebebasan
> memilih sesuatu pilihan pada sang subyek. Maka sandrina menyerang
> institusi metro tv karena melarangnya memilih jilbab. Menurutnya,
> ini membuat dirinya tidak merdeka menentukan pilihannya. Dan ia
> beranggapan bahwa iklim metro tv adalah liberal fundies. Mungkin
> kata yg lebih tepat adalah barat minded ? Atau secular minded ?
> >
> > - ketiga, kadang orang tidak bisa membawa pikiran besar dalam
> kenyataan hidupnya sehari hari. Ini terjadi pada ulil. Istrinya
> berjilbab. Dan ulil sendiri tidak berkehendak membela kaum lbgt
> dengan melakukan rekonstruksi pemahaman wacana agama.
> >
> > Beda dengan hamid basyaib misalnya, total football dalam berliberal
> ria, bareng istrinya fathia syarif menyuguhkan wine dalam acara
> perkawinan mereka yg bikin kagok para undangan yg petinggi organisasi
> islam.
> >
> > Fathia syarif, juga santai aja ikut acara wine tasting bersama
> yohan handoyo, dan besok ini pesta makan wagyu beef bersama komunitas
> jalansutra.
> >
> > *wagyu beef ini sapinya diberi minum sampanye dan tubuhnya diurut
> dan dimandikan, lagi lagi pakai
> > minuman keras
> >
> >
> > salam,
> >
> >
> >
> > -Original Message-
> > From: "h.s nurbayanti" 
> >
> > Date: Mon, 15 Dec 2008 21:01:00
> > To: 
> >
> > Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab
> >
> >
> > Komentar saya:
> > Pertama, persoalan esensi suruhannya adalah bersikap/berlaku santun
> dan
> > modesty berbanding lurus dng persoalan jilbab itu wajib/tidak gak?
> Maksudnya
> > apakah cara berpikirnya beruntun...
> > - jilbab tidak wajib
> > - esensi dari suruhan adalah santun dan modesty
> > kesimpulannya: gak berjilbab gpp.. yg penting, berlaku santun dan
> bersikap
> > modest lah...ini esensi "wanita-muslima

Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-15 Terurut Topik Ari Condro
terserah aja deh oom, yang penting makan makan :))

btw, diskusi berkait jilbab dan pertanyaan ttg pandangan quraish
shihab dan muhammad said al asymawi yang mantan hakim agung mesir
(semacam MA yah ?) bisa juga dirujuk ke link link sebagai berikut :

berikut ini berbagai pandangan yang kontra :

http://amaher.multiply.com/journal/item/2/Buku_Jilbab_Quraish_dikritik_di_Cairo
http://www.darulkautsar.com/klasik/pemurnianaqidah/liberal/Jilbab.htm
http://adianhusaini.blogspot.com/2006/09/mendiskusikan-jilbab-di-pusat-studi-al.html
http://ustsarwat.com/search.php?id=1170823518&date=9-2008

tentang cv nya asymawi bisa dilihat di wikipedia (yang bahasa inggris
yah) soalnya yang bahasa indonesia, seperti biasa kagak lengkap. :D

http://en.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Sa'id_al-'Ashmawi

Muhammad Sa'id al-'Ashmawi (1932- ) is a retired Egyptian Supreme
Court justice and former head of the Court of State Security and a
specialist in comparative and Islamic law at Cairo University. He has
been described as "one of the most influential liberal Islamic
thinkers today," who "has had to rely on round-the-clock police
protection due to death threats from Egyptian militants." [1]

Born in 1932, Ashmawi graduated from Cairo University's law school in
1954 and became assistant district attorney and then district attorney
in Alexandria. He was appointed a judge in 1961 and rose to become
chief justice of the High Court, the High Criminal Court and the High
Court for State Security. He is trained in usul al-din, sharia and
compartive law and did formal legal study at Harvard Law School and
elsewhere in the United States in 1978. He retired from the bench in
July 1993. [2]

Ashmawi believes Islamism or political Islam is at odds with true
Islam or "enlightened Islam"; application of the sharia (tatbiq
al-sharia or taqnin al-sharia) are in reality empty slogans, extremely
vague in substance; present Egyptian law is consistent with Sharia;
civil or madani government is the proper kind of government in Islam;
while religious government in Islam has been a distaster in the past.

He is said to be involved in the debate over to what degree Islam can
really be `a complete way of life` and "the degree and manner in which
foreign moral and ideological ideas can be adopted." [3]

One difference 'Ashmawi has had with Islamists like Ayatollah Ruhollah
Khomeini and Sayyid Qutb is whether the word Sharia as used in the
Quran refers to one uniform "path" or "way" for everyone to obey:

`We gave you one religion, but We gave every one of you his own
Shari'a.`[verification needed] [Qur'an 4:84]

'Ashmawi argues that the idea that Sharia is the core of Muslim
jurisprudence, its various commentaries and interpretations, only came
later in Islamic history. This jurisprudence is "entirely man-made,
written by Muslim scholars according to their various schools, based
on their best understanding of how the Qur'an should be translated
into codes of law." [4]

Al-`Ashmawi believes that instead of referring to legal rules, the
term Sharia as used in the Qur'an, refers to "the path of Islam" which
consists "of three streams:
worship,
ethical code,
social intercourse."

Fiqh is thus not fixed and "must be reinterpreted anew" by scholars in
every age in accordance with their understanding

silakan melihat dua buku berikut ini juga untuk tambahan referensi.

- Muhammad Sa'id al-Ashmawi and the Application of the Sharia in
Egypt" William E. Shepard, International Journal of Middle East
Studies v.28, 1996 p.39-58

- Muhammad Sa`id `Ashmawi; Carolyn Fluehr-Lobban, Against Islamic
Extremism: The Writings of Muhammad Sa'id al-Ashmawy, Gainesville:
University Press of Florida, (1998)




On 12/16/08, wawan™ و و ﻦ  wrote:
> **
> *
> * *
> * On 12/15/08, Ari Condro  wrote:
>>
>>
>> Belajar dari filosofi berkorbannya mbak mia, ijinkan saya meminta maaf
>> atas
>> ucapan dan kata kata saya yang menyakiti hati teman teman semua.
>
>
>
> om con,
>
> sy jadi kasihan lho kalo om con belajar dari orang2 spt itu.
>
> * "Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, *
> *sedang mereka tentang (kehidupan) akherat adalah lalai." (QS: Ar Ruum: 7)
> *
> yakni kebanyakan manusia tidaklah mempunyai ilmu kecuali tentang ilmu dunia,
> dan yang terkait dengannya. Mereka sangat pandai dengan hal tersebut,
> namun lalai dalam masalah-masalah agama mereka dan apa yang bisa memberikan
> manfaat bagi akherat mereka. (Tafsirul Quranil Azhim, Al Imam Ibnu Katsir)
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>


-- 
salam,
Ari


[wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-15 Terurut Topik werkuwer
kalo masalah contek-menyontek sebenarnya adalah masalah biasa dan 
biasanya kitab terbaru mencontek/menyadur kitab sebelumnya dengan 
mengubah-ubah bagian sesuai dengan kepentingannya. kitab-kitab itu 
juga ndak punya copyright dan referensi kepustakaan. tapi ndak ada 
yang protes. namun demikian, hal terpenting adalah, esensinya: 
jilbab itu sesuatu yang personal, kultural dan sosial. tidak lebih 
daripada itu.

--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Ari Condro"  
wrote:
>
> 1. Pak quraish shihab tidak mencantumkan karya asymawi sbg 
referensi.  Ada sekitar 30 hal yg mirip.  Temen temen bisa cari lagi 
diskusi di milis insist ttg hal itu
> 
> 2. Banyak yg menyayangkan pandangan pak quraish shihab dalam buku 
jilbabnya, apalagi ketika argumen dan bahasannya sangat asymawi 
sekali.
> 
> Tapi benar kata mbak mia, bahwa kritik berawal ketika banyak yg 
tidak setuju ketika quraish shihab bilang jilbab tidak wajib.
> 
> 
> 
> salam,
> 
> 
> 
> -Original Message-
> From: "Mia" 
> 
> Date: Mon, 15 Dec 2008 12:14:57 
> To: 
> Subject: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab
> 
> 
> Arcon,
> Maksudnya 'mencontek argumen asymawi secara mentah-mentah' Pak 
> Quraish Shihab nggak memasukkan buku Asymawi sebagai referensi 
atau 
> daftar bacaan, gitu?  
> 
> Emangnya DDII Insist memprotes pendapat QS karena 
dianggap 'mencontek 
> mentah-mentah' argumen asymawi?
> 
> salam
> Mia 
> --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Ari Condro"  
> wrote:
> >
> > nong ambil mentah mentah dari bukunya asymawi. tulisan yang 
> dipasang pun
> > merupakan sari dari buku asymawi yang diterjemahkan dan 
diterbitkan 
> ulang
> > oleh JIL.
> > FYI :
> > 
> > 1. Kritikan dari temen temen DDII di organisasi INSIST, ustad 
> Quraish Shihab
> > juga diprotes bukunya yang tentang jilbab, lagi lagi karena 
banyak 
> yang
> > mencontek argumen asymawi secara mentah mentah.
> > 2. Asymawi sendiri adalah ahli hukum, jurnalis, dan pejuang 
HAM.  
> Di mesir
> > sendiri asymawi sangat dibenci oleh kalangan ikhwanul muslimin  
> karena
> > banyak argumennya yang dianggap membela kepentingan kaum sekuler.
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 2008/12/15 werkuwer 
> > 
> > >   setidaknya ada cendekia muslim perempuan yang sangat 
memahami 
> makna
> > > kultural, personal dan sosial dari 'jilbab' itu sehingga 
> sedikitnya
> > > dapat mencerahi para pengidap otokrasi. catatan yang saya 
miliki
> > > menunjukkan bahwa para mualaf mempunyai kecenderungan untuk 
> menerapkan
> > > segala 'ajaran barunya' secara berlebihan sehingga malampaui 
> modelnya.
> > > seperti yang ditulis dalam novel 'salah asuhan', hanafi yang 
baru
> > > bergaul dengan belanda menjadi kebelanda-belandaan sehingga
> > > tingkahlakunya menjadi lebih belanda daripada belanda itu 
sendiri.
> > >
> > >  
> > >
> > 
> > 
> > 
> > -- 
> > salam,
> > Ari
> > 
> > 
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> 
> 
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>




Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-15 Terurut Topik wawan™ و و ﻦ
**
*
* *
* On 12/15/08, Ari Condro  wrote:
>
>
> Belajar dari filosofi berkorbannya mbak mia, ijinkan saya meminta maaf atas
> ucapan dan kata kata saya yang menyakiti hati teman teman semua.



om con,

sy jadi kasihan lho kalo om con belajar dari orang2 spt itu.

* "Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, *
*sedang mereka tentang (kehidupan) akherat adalah lalai." (QS: Ar Ruum: 7)
*
yakni kebanyakan manusia tidaklah mempunyai ilmu kecuali tentang ilmu dunia,
dan yang terkait dengannya. Mereka sangat pandai dengan hal tersebut,
namun lalai dalam masalah-masalah agama mereka dan apa yang bisa memberikan
manfaat bagi akherat mereka. (Tafsirul Quranil Azhim, Al Imam Ibnu Katsir)


[Non-text portions of this message have been removed]



[wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-15 Terurut Topik Mia
hahahaha...lutuye...

Arcon dan komen2nya 'are mutually exclusive'
Arcon itu persona, dan komennya 'role play'.  Setahuku, Arcon dan 
role playnya itu nggak ada persamaannya...hihihi...

Beda dengan jilbab dan nggak berjilbab, they are not mutually 
exclusive. Di antara jilbab dan nggak berjilbab itu spektrumnya luas 
sekali, ada jilbab funky, ada jilbab rapat, ada cadar yang bikin 
bingung, ada yang nggak berjilbab tapi kok ok ajakarena 
persamaannya TETEP ADA, yaitu decency atau batas kesopanan.

salam
Mia


--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Ari Condro"  
wrote:
>
> Kalau bicara ego, cara saya memperolok hamid basyaib dan fathia 
syarif juga bagian dari ego yang membara itu.
> 
> Cara saya memberi komentar sinis pada lina dahlan, rizal, wawan, 
dan banyak kawan lain juga bagian dari nafsu ego tersebut.
> 
> Belajar dari filosofi berkorbannya mbak mia, ijinkan saya meminta 
maaf atas ucapan dan kata kata saya yang menyakiti hati teman teman 
semua.
> 
> 
> salam,
> 
> 
>



Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-15 Terurut Topik Ari Condro
Kalau bicara ego, cara saya memperolok hamid basyaib dan fathia syarif juga 
bagian dari ego yang membara itu.

Cara saya memberi komentar sinis pada lina dahlan, rizal, wawan, dan banyak 
kawan lain juga bagian dari nafsu ego tersebut.

Belajar dari filosofi berkorbannya mbak mia, ijinkan saya meminta maaf atas 
ucapan dan kata kata saya yang menyakiti hati teman teman semua.


salam,



-Original Message-
From: "Mia" 

Date: Mon, 15 Dec 2008 14:59:20 
To: 
Subject: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab


Saya mendiskusikan refleksi saya tentang Idul Adha kemarin dengan 
seorang kolega.  Pada akhirnya saya menyimpulkan, jangan2 selama ini 
kita ummat Islam 'nggak berkorban' untuk melakukan perubahan, makanya 
kita tinggal dalam kejumudan selama ribuan tahun ini.

Temen saya yang selalu berjilbab menambahkan, contohnya orang nggak 
berjilbab kok dipaksa2, bahkan yang udah berjilbab pun masih dicari2 
kesalahannya, kurang panjanglah inilah itulah...gimana mau maju?

Karena lagi ngomongin jilbab, maka pertanyaan saya, kalau kewajiban 
jilbab itu (i.e perda syariat) dianggap mengekang atau bentuk 
pelecehan terhadap perempuan - maka untuk mencerahkan atau 
membebaskan diri kita dari itu - 'pengorbanan' yang perlu dilakukan 
adalah:
- mengeluarkan fatwa bahwa jilbab itu nggak wajib (ini bukannya 
mengatakan bahwa nggak berjilbab itu wajib loh!)
- apa ganti dari pengorbanan itu? seperti kata Herni dan 
artikel 'kritik atas jilbab'  gantilah dengan pakaian yang sopan.
Pakaian yang sopan itu menggambarkan kepantasan (decency) yang 
merupakan hallmark kemanusiaan.  Itulah tujuan yang lebih mulia, yang 
hanya bisa dicapai dengan mengorbankan yang menjadi keyakinan kita 
selama ini bahwa 'jilbab itu wajib'.

Liberal fundies yang suka ngejek2 orang berjilbab itu kan kena 
penyakit sombong, nurutin hawa nafsunya sendiri.  Bukan soal 
konsisten atau nggak , tapi nurutin nafsu egois itu loh.  

Salam
Mia


--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Ari Condro"  
wrote:
>
> Yup, herni benar dalam tiga poinnya.  Saya ulang di sini dengan 
bahasa sendiri plus tambahan komen.
> 
> - pikiran quraish shihap dan asymawi berjalan dengan runtutan 
logika yang sama.  Karena itulah dikecam oleh anak insist karena 
dianggap tidak mengambil referensi dari canon islam.
> 
> - kedua, wacana liberal adalah wacana untuk memberikan kebebasan 
memilih sesuatu pilihan pada sang subyek.  Maka sandrina menyerang 
institusi metro tv karena melarangnya memilih jilbab.  Menurutnya, 
ini membuat dirinya tidak merdeka menentukan pilihannya.  Dan ia 
beranggapan bahwa iklim metro tv adalah liberal fundies.  Mungkin 
kata yg lebih tepat adalah barat minded ? Atau secular minded ?
> 
> - ketiga, kadang orang tidak bisa membawa pikiran besar dalam 
kenyataan hidupnya sehari hari.  Ini terjadi pada ulil.  Istrinya 
berjilbab.  Dan ulil sendiri tidak berkehendak membela kaum lbgt 
dengan melakukan rekonstruksi pemahaman wacana agama.
> 
> Beda dengan hamid basyaib misalnya, total football dalam berliberal 
ria, bareng istrinya fathia syarif menyuguhkan wine dalam acara 
perkawinan mereka yg bikin kagok para undangan yg petinggi organisasi 
islam.
> 
> Fathia syarif, juga santai aja ikut acara wine tasting bersama 
yohan handoyo, dan besok ini pesta makan wagyu beef bersama komunitas 
jalansutra.
> 
> *wagyu beef ini sapinya diberi minum sampanye dan tubuhnya diurut 
dan dimandikan, lagi lagi pakai 
> minuman keras
> 
> 
> salam,
> 
> 
> 
> -----Original Message-
> From: "h.s nurbayanti" 
> 
> Date: Mon, 15 Dec 2008 21:01:00 
> To: 
> Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab
> 
> 
> Komentar saya:
> Pertama, persoalan esensi suruhannya adalah bersikap/berlaku santun 
dan
> modesty berbanding lurus dng persoalan jilbab itu wajib/tidak gak? 
Maksudnya
> apakah cara berpikirnya beruntun...
> - jilbab tidak wajib
> - esensi dari suruhan adalah santun dan modesty
> kesimpulannya: gak berjilbab gpp.. yg penting, berlaku santun dan 
bersikap
> modest lah...ini esensi "wanita-muslimah".
>  kalau ya, apakah pemikiran ini juga termasuk: ya kalau berjilbab 
ya gpp
> juga.. lengkap dng segala "dilema" dan ke"ironis"annya (spt yg 
dibahas di
> email2 sebelumnya) Ataukah, keduanya adalah dua persoalan yg 
berbeda...?
> 
> Kedua, bisa aja kan, spt kata mbak lina, soal "mualaf liberal"
> Yg menggunakan pengetahuan barunya ttg persoalan ketidakwajiban 
berjilbab
> utk "menyerang" jilbab dan para jilbaber itu sendiri...
> Padahal bukankah intinya liberal itu di free will? Pilihan. Yg bisa
> membatasi adalah yg punya free will itu sendiri (kata temen saya yg 
ngaku
> liberal abis.. kanan mentok, gitu :P) Aku juga gak ngerti ini 
maksudnya apa.
> Tapi yg jelas, pilihan utk berjilba

[wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-15 Terurut Topik Mia
Saya mendiskusikan refleksi saya tentang Idul Adha kemarin dengan 
seorang kolega.  Pada akhirnya saya menyimpulkan, jangan2 selama ini 
kita ummat Islam 'nggak berkorban' untuk melakukan perubahan, makanya 
kita tinggal dalam kejumudan selama ribuan tahun ini.

Temen saya yang selalu berjilbab menambahkan, contohnya orang nggak 
berjilbab kok dipaksa2, bahkan yang udah berjilbab pun masih dicari2 
kesalahannya, kurang panjanglah inilah itulah...gimana mau maju?

Karena lagi ngomongin jilbab, maka pertanyaan saya, kalau kewajiban 
jilbab itu (i.e perda syariat) dianggap mengekang atau bentuk 
pelecehan terhadap perempuan - maka untuk mencerahkan atau 
membebaskan diri kita dari itu - 'pengorbanan' yang perlu dilakukan 
adalah:
- mengeluarkan fatwa bahwa jilbab itu nggak wajib (ini bukannya 
mengatakan bahwa nggak berjilbab itu wajib loh!)
- apa ganti dari pengorbanan itu? seperti kata Herni dan 
artikel 'kritik atas jilbab'  gantilah dengan pakaian yang sopan.
Pakaian yang sopan itu menggambarkan kepantasan (decency) yang 
merupakan hallmark kemanusiaan.  Itulah tujuan yang lebih mulia, yang 
hanya bisa dicapai dengan mengorbankan yang menjadi keyakinan kita 
selama ini bahwa 'jilbab itu wajib'.

Liberal fundies yang suka ngejek2 orang berjilbab itu kan kena 
penyakit sombong, nurutin hawa nafsunya sendiri.  Bukan soal 
konsisten atau nggak , tapi nurutin nafsu egois itu loh.  

Salam
Mia


--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Ari Condro"  
wrote:
>
> Yup, herni benar dalam tiga poinnya.  Saya ulang di sini dengan 
bahasa sendiri plus tambahan komen.
> 
> - pikiran quraish shihap dan asymawi berjalan dengan runtutan 
logika yang sama.  Karena itulah dikecam oleh anak insist karena 
dianggap tidak mengambil referensi dari canon islam.
> 
> - kedua, wacana liberal adalah wacana untuk memberikan kebebasan 
memilih sesuatu pilihan pada sang subyek.  Maka sandrina menyerang 
institusi metro tv karena melarangnya memilih jilbab.  Menurutnya, 
ini membuat dirinya tidak merdeka menentukan pilihannya.  Dan ia 
beranggapan bahwa iklim metro tv adalah liberal fundies.  Mungkin 
kata yg lebih tepat adalah barat minded ? Atau secular minded ?
> 
> - ketiga, kadang orang tidak bisa membawa pikiran besar dalam 
kenyataan hidupnya sehari hari.  Ini terjadi pada ulil.  Istrinya 
berjilbab.  Dan ulil sendiri tidak berkehendak membela kaum lbgt 
dengan melakukan rekonstruksi pemahaman wacana agama.
> 
> Beda dengan hamid basyaib misalnya, total football dalam berliberal 
ria, bareng istrinya fathia syarif menyuguhkan wine dalam acara 
perkawinan mereka yg bikin kagok para undangan yg petinggi organisasi 
islam.
> 
> Fathia syarif, juga santai aja ikut acara wine tasting bersama 
yohan handoyo, dan besok ini pesta makan wagyu beef bersama komunitas 
jalansutra.
> 
> *wagyu beef ini sapinya diberi minum sampanye dan tubuhnya diurut 
dan dimandikan, lagi lagi pakai 
> minuman keras
> 
> 
> salam,
> 
> 
> 
> -Original Message-
> From: "h.s nurbayanti" 
> 
> Date: Mon, 15 Dec 2008 21:01:00 
> To: 
> Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab
> 
> 
> Komentar saya:
> Pertama, persoalan esensi suruhannya adalah bersikap/berlaku santun 
dan
> modesty berbanding lurus dng persoalan jilbab itu wajib/tidak gak? 
Maksudnya
> apakah cara berpikirnya beruntun...
> - jilbab tidak wajib
> - esensi dari suruhan adalah santun dan modesty
> kesimpulannya: gak berjilbab gpp.. yg penting, berlaku santun dan 
bersikap
> modest lah...ini esensi "wanita-muslimah".
>  kalau ya, apakah pemikiran ini juga termasuk: ya kalau berjilbab 
ya gpp
> juga.. lengkap dng segala "dilema" dan ke"ironis"annya (spt yg 
dibahas di
> email2 sebelumnya) Ataukah, keduanya adalah dua persoalan yg 
berbeda...?
> 
> Kedua, bisa aja kan, spt kata mbak lina, soal "mualaf liberal"
> Yg menggunakan pengetahuan barunya ttg persoalan ketidakwajiban 
berjilbab
> utk "menyerang" jilbab dan para jilbaber itu sendiri...
> Padahal bukankah intinya liberal itu di free will? Pilihan. Yg bisa
> membatasi adalah yg punya free will itu sendiri (kata temen saya yg 
ngaku
> liberal abis.. kanan mentok, gitu :P) Aku juga gak ngerti ini 
maksudnya apa.
> Tapi yg jelas, pilihan utk berjilbab perlu dihargai sama halnya 
dengan
> pilihan tidak berjilbab. Gitu ya?
> 
> Ketiga, belum tentu (laki2) yg berpendapat jilbab itu pilihan 
perempuan
> kemudian benar2 bisa memberikan pilihan itu ke perempuan yang 
menjadi istri
> atau anaknya. Bisa aja, laki2 yg demikian, di wilayah privat tetap 
memilih
> perempuan yang berjilbab dan lebih senang bila istri dan anaknya 
tetap
> berjilbab.
> 
> Ah, pusing... maksudnya kalau udah berteori dan beradvokasi ttg 
agama dan
> perilaku orang dalam beragam

Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-15 Terurut Topik Ari Condro
Yup, herni benar dalam tiga poinnya.  Saya ulang di sini dengan bahasa sendiri 
plus tambahan komen.

- pikiran quraish shihap dan asymawi berjalan dengan runtutan logika yang sama. 
 Karena itulah dikecam oleh anak insist karena dianggap tidak mengambil 
referensi dari canon islam.

- kedua, wacana liberal adalah wacana untuk memberikan kebebasan memilih 
sesuatu pilihan pada sang subyek.  Maka sandrina menyerang institusi metro tv 
karena melarangnya memilih jilbab.  Menurutnya, ini membuat dirinya tidak 
merdeka menentukan pilihannya.  Dan ia beranggapan bahwa iklim metro tv adalah 
liberal fundies.  Mungkin kata yg lebih tepat adalah barat minded ? Atau 
secular minded ?

- ketiga, kadang orang tidak bisa membawa pikiran besar dalam kenyataan 
hidupnya sehari hari.  Ini terjadi pada ulil.  Istrinya berjilbab.  Dan ulil 
sendiri tidak berkehendak membela kaum lbgt dengan melakukan rekonstruksi 
pemahaman wacana agama.

Beda dengan hamid basyaib misalnya, total football dalam berliberal ria, bareng 
istrinya fathia syarif menyuguhkan wine dalam acara perkawinan mereka yg bikin 
kagok para undangan yg petinggi organisasi islam.

Fathia syarif, juga santai aja ikut acara wine tasting bersama yohan handoyo, 
dan besok ini pesta makan wagyu beef bersama komunitas jalansutra.

*wagyu beef ini sapinya diberi minum sampanye dan tubuhnya diurut dan 
dimandikan, lagi lagi pakai 
minuman keras


salam,



-Original Message-
From: "h.s nurbayanti" 

Date: Mon, 15 Dec 2008 21:01:00 
To: 
Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab


Komentar saya:
Pertama, persoalan esensi suruhannya adalah bersikap/berlaku santun dan
modesty berbanding lurus dng persoalan jilbab itu wajib/tidak gak? Maksudnya
apakah cara berpikirnya beruntun...
- jilbab tidak wajib
- esensi dari suruhan adalah santun dan modesty
kesimpulannya: gak berjilbab gpp.. yg penting, berlaku santun dan bersikap
modest lah...ini esensi "wanita-muslimah".
 kalau ya, apakah pemikiran ini juga termasuk: ya kalau berjilbab ya gpp
juga.. lengkap dng segala "dilema" dan ke"ironis"annya (spt yg dibahas di
email2 sebelumnya) Ataukah, keduanya adalah dua persoalan yg berbeda...?

Kedua, bisa aja kan, spt kata mbak lina, soal "mualaf liberal"
Yg menggunakan pengetahuan barunya ttg persoalan ketidakwajiban berjilbab
utk "menyerang" jilbab dan para jilbaber itu sendiri...
Padahal bukankah intinya liberal itu di free will? Pilihan. Yg bisa
membatasi adalah yg punya free will itu sendiri (kata temen saya yg ngaku
liberal abis.. kanan mentok, gitu :P) Aku juga gak ngerti ini maksudnya apa.
Tapi yg jelas, pilihan utk berjilbab perlu dihargai sama halnya dengan
pilihan tidak berjilbab. Gitu ya?

Ketiga, belum tentu (laki2) yg berpendapat jilbab itu pilihan perempuan
kemudian benar2 bisa memberikan pilihan itu ke perempuan yang menjadi istri
atau anaknya. Bisa aja, laki2 yg demikian, di wilayah privat tetap memilih
perempuan yang berjilbab dan lebih senang bila istri dan anaknya tetap
berjilbab.

Ah, pusing... maksudnya kalau udah berteori dan beradvokasi ttg agama dan
perilaku orang dalam beragama, jadi pusing hehehe..
Tapi emang harus ada orang yg kerjanya melakukan itu sih :P Walaupun di
tataran praktek, kadang gak beda ma kyai yg ceramah ini itu tapi tidak
tercermin di kehidupan privatnya. Ada yg gitu sih, tentu dan semoga tidak
semua :-)


2008/12/15 Mia 

>   Misalnya nih, diyakinkan bahwa Pak QS pernah menyimak tulisan Asymawi
> yang duluan dari bukunya. Sebaiknya dalam edisi selanjutnya, ada
> ralat daftar bacaan/referensi.
>
> Ide itu 'menular' dan di hari gini jaman global internet, kadang kita
> dibikin terkaget-kaget dengan cara penularan itu.
>
> Misalnya lagi, saya kasih contoh langsung saja. Saya dan tim sangat
> sibuk kerja, nggak ada waktu memikirkan dampak daripada apa yang kita
> lakukan ke dunia luar. Tahu-tahu kaget dengan fakta2 yang disodorkan
> kolega lain tentang 'menularnya' konsep kita, diakui maupun nggak
> diakui, secara langsung maupun nggak langsung oleh yang 'meniru',
> secara nasional maupun internasional.
>
> Kalau saya orang pesimis, saya akan berpikir, wah konsepku dibajak.
> Kalau saya orang optimis, saya akan berpendapat, alhamdulillah ada
> hikmah ajar dan kebersamaan.
>
> Perlu diperbanyak dan direkomendasi buku QS dan JIL ini, supaya
> generasi Islam baru belajar yang bener tentang jilbab.
>
> salam
> Mia
>
> --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com ,
> "Ari Condro" 
> wrote:
> >
> > 1. Pak quraish shihab tidak mencantumkan karya asymawi sbg
> referensi. Ada sekitar 30 hal yg mirip. Temen temen bisa cari lagi
> diskusi di milis insist ttg hal itu
> >
> > 2. Banyak yg menyayangkan pandangan pak quraish shihab dalam buku
> jilbabnya, apalagi ketika argumen dan bahasannya sangat asymawi
> sekali.

Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-15 Terurut Topik h.s nurbayanti
Komentar saya:
Pertama, persoalan esensi suruhannya adalah bersikap/berlaku santun dan
modesty berbanding lurus dng persoalan jilbab itu wajib/tidak gak? Maksudnya
apakah cara berpikirnya beruntun...
- jilbab tidak wajib
- esensi dari suruhan adalah santun dan modesty
kesimpulannya: gak berjilbab gpp.. yg penting, berlaku santun dan bersikap
modest lah...ini esensi "wanita-muslimah".
 kalau ya, apakah pemikiran ini juga termasuk: ya kalau berjilbab ya gpp
juga.. lengkap dng segala "dilema" dan ke"ironis"annya (spt yg dibahas di
email2 sebelumnya) Ataukah, keduanya adalah dua persoalan yg berbeda...?

Kedua, bisa aja kan, spt kata mbak lina, soal "mualaf liberal"
Yg menggunakan pengetahuan barunya ttg persoalan ketidakwajiban berjilbab
utk "menyerang" jilbab dan para jilbaber itu sendiri...
Padahal bukankah intinya liberal itu di free will? Pilihan. Yg bisa
membatasi adalah yg punya free will itu sendiri (kata temen saya yg ngaku
liberal abis.. kanan mentok, gitu :P) Aku juga gak ngerti ini maksudnya apa.
Tapi yg jelas, pilihan utk berjilbab perlu dihargai sama halnya dengan
pilihan tidak berjilbab. Gitu ya?

Ketiga, belum tentu (laki2) yg berpendapat jilbab itu pilihan perempuan
kemudian benar2 bisa memberikan pilihan itu ke perempuan yang menjadi istri
atau anaknya. Bisa aja, laki2 yg demikian, di wilayah privat tetap memilih
perempuan yang berjilbab dan lebih senang bila istri dan anaknya tetap
berjilbab.

Ah, pusing... maksudnya kalau udah berteori dan beradvokasi ttg agama dan
perilaku orang dalam beragama, jadi pusing hehehe..
Tapi emang harus ada orang yg kerjanya melakukan itu sih :P Walaupun di
tataran praktek, kadang gak beda ma kyai yg ceramah ini itu tapi tidak
tercermin di kehidupan privatnya. Ada yg gitu sih, tentu dan semoga tidak
semua :-)


2008/12/15 Mia 

>   Misalnya nih, diyakinkan bahwa Pak QS pernah menyimak tulisan Asymawi
> yang duluan dari bukunya. Sebaiknya dalam edisi selanjutnya, ada
> ralat daftar bacaan/referensi.
>
> Ide itu 'menular' dan di hari gini jaman global internet, kadang kita
> dibikin terkaget-kaget dengan cara penularan itu.
>
> Misalnya lagi, saya kasih contoh langsung saja. Saya dan tim sangat
> sibuk kerja, nggak ada waktu memikirkan dampak daripada apa yang kita
> lakukan ke dunia luar. Tahu-tahu kaget dengan fakta2 yang disodorkan
> kolega lain tentang 'menularnya' konsep kita, diakui maupun nggak
> diakui, secara langsung maupun nggak langsung oleh yang 'meniru',
> secara nasional maupun internasional.
>
> Kalau saya orang pesimis, saya akan berpikir, wah konsepku dibajak.
> Kalau saya orang optimis, saya akan berpendapat, alhamdulillah ada
> hikmah ajar dan kebersamaan.
>
> Perlu diperbanyak dan direkomendasi buku QS dan JIL ini, supaya
> generasi Islam baru belajar yang bener tentang jilbab.
>
> salam
> Mia
>
> --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com ,
> "Ari Condro" 
> wrote:
> >
> > 1. Pak quraish shihab tidak mencantumkan karya asymawi sbg
> referensi. Ada sekitar 30 hal yg mirip. Temen temen bisa cari lagi
> diskusi di milis insist ttg hal itu
> >
> > 2. Banyak yg menyayangkan pandangan pak quraish shihab dalam buku
> jilbabnya, apalagi ketika argumen dan bahasannya sangat asymawi
> sekali.
> >
> > Tapi benar kata mbak mia, bahwa kritik berawal ketika banyak yg
> tidak setuju ketika quraish shihab bilang jilbab tidak wajib.
> >
> >
> >
> > salam,
> >
> >
> >
> > -Original Message-
>  > From: "Mia" 
> >
> > Date: Mon, 15 Dec 2008 12:14:57
> > To: 
> >
> > Subject: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab
> >
> >
> > Arcon,
> > Maksudnya 'mencontek argumen asymawi secara mentah-mentah' Pak
> > Quraish Shihab nggak memasukkan buku Asymawi sebagai referensi atau
> > daftar bacaan, gitu?
> >
> > Emangnya DDII Insist memprotes pendapat QS karena
> dianggap 'mencontek
> > mentah-mentah' argumen asymawi?
> >
> > salam
> > Mia
> > --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com,
> "Ari Condro" 
> > wrote:
> > >
> > > nong ambil mentah mentah dari bukunya asymawi. tulisan yang
> > dipasang pun
> > > merupakan sari dari buku asymawi yang diterjemahkan dan
> diterbitkan
> > ulang
> > > oleh JIL.
> > > FYI :
> > >
> > > 1. Kritikan dari temen temen DDII di organisasi INSIST, ustad
> > Quraish Shihab
> > > juga diprotes bukunya yang tentang jilbab, lagi lagi karena
> banyak
> > yang
> > > mencontek argumen asymawi secara mentah mentah.
> > > 2. Asymawi sendiri adalah ahli hukum, jurnalis, dan pejuang HAM.
> > 

[wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-15 Terurut Topik Mia
Misalnya nih, diyakinkan bahwa Pak QS pernah menyimak tulisan Asymawi 
yang duluan dari bukunya.  Sebaiknya dalam edisi selanjutnya, ada 
ralat daftar bacaan/referensi.

Ide itu 'menular' dan di hari gini jaman global internet, kadang kita 
dibikin terkaget-kaget dengan cara penularan itu.

Misalnya lagi, saya kasih contoh langsung saja. Saya dan tim sangat 
sibuk kerja, nggak ada waktu memikirkan dampak daripada apa yang kita 
lakukan ke dunia luar.  Tahu-tahu kaget dengan fakta2 yang disodorkan 
kolega lain tentang 'menularnya' konsep kita, diakui maupun nggak 
diakui, secara langsung maupun nggak langsung oleh yang 'meniru', 
secara nasional maupun internasional.   

Kalau saya orang pesimis, saya akan berpikir, wah konsepku dibajak. 
Kalau saya orang optimis, saya akan berpendapat, alhamdulillah ada 
hikmah ajar dan kebersamaan.

Perlu diperbanyak dan direkomendasi  buku QS dan JIL ini, supaya 
generasi Islam baru belajar yang bener tentang jilbab.

salam
Mia

--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Ari Condro"  
wrote:
>
> 1. Pak quraish shihab tidak mencantumkan karya asymawi sbg 
referensi.  Ada sekitar 30 hal yg mirip.  Temen temen bisa cari lagi 
diskusi di milis insist ttg hal itu
> 
> 2. Banyak yg menyayangkan pandangan pak quraish shihab dalam buku 
jilbabnya, apalagi ketika argumen dan bahasannya sangat asymawi 
sekali.
> 
> Tapi benar kata mbak mia, bahwa kritik berawal ketika banyak yg 
tidak setuju ketika quraish shihab bilang jilbab tidak wajib.
> 
> 
> 
> salam,
> 
> 
> 
> -Original Message-----
> From: "Mia" 
> 
> Date: Mon, 15 Dec 2008 12:14:57 
> To: 
> Subject: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab
> 
> 
> Arcon,
> Maksudnya 'mencontek argumen asymawi secara mentah-mentah' Pak 
> Quraish Shihab nggak memasukkan buku Asymawi sebagai referensi atau 
> daftar bacaan, gitu?  
> 
> Emangnya DDII Insist memprotes pendapat QS karena 
dianggap 'mencontek 
> mentah-mentah' argumen asymawi?
> 
> salam
> Mia 
> --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Ari Condro"  
> wrote:
> >
> > nong ambil mentah mentah dari bukunya asymawi. tulisan yang 
> dipasang pun
> > merupakan sari dari buku asymawi yang diterjemahkan dan 
diterbitkan 
> ulang
> > oleh JIL.
> > FYI :
> > 
> > 1. Kritikan dari temen temen DDII di organisasi INSIST, ustad 
> Quraish Shihab
> > juga diprotes bukunya yang tentang jilbab, lagi lagi karena 
banyak 
> yang
> > mencontek argumen asymawi secara mentah mentah.
> > 2. Asymawi sendiri adalah ahli hukum, jurnalis, dan pejuang HAM.  
> Di mesir
> > sendiri asymawi sangat dibenci oleh kalangan ikhwanul muslimin  
> karena
> > banyak argumennya yang dianggap membela kepentingan kaum sekuler.
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 2008/12/15 werkuwer 
> > 
> > >   setidaknya ada cendekia muslim perempuan yang sangat memahami 
> makna
> > > kultural, personal dan sosial dari 'jilbab' itu sehingga 
> sedikitnya
> > > dapat mencerahi para pengidap otokrasi. catatan yang saya miliki
> > > menunjukkan bahwa para mualaf mempunyai kecenderungan untuk 
> menerapkan
> > > segala 'ajaran barunya' secara berlebihan sehingga malampaui 
> modelnya.
> > > seperti yang ditulis dalam novel 'salah asuhan', hanafi yang 
baru
> > > bergaul dengan belanda menjadi kebelanda-belandaan sehingga
> > > tingkahlakunya menjadi lebih belanda daripada belanda itu 
sendiri.
> > >
> > >  
> > >
> > 
> > 
> > 
> > -- 
> > salam,
> > Ari
> > 
> > 
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> 
> 
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>




Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-15 Terurut Topik Ari Condro
1. Pak quraish shihab tidak mencantumkan karya asymawi sbg referensi.  Ada 
sekitar 30 hal yg mirip.  Temen temen bisa cari lagi diskusi di milis insist 
ttg hal itu

2. Banyak yg menyayangkan pandangan pak quraish shihab dalam buku jilbabnya, 
apalagi ketika argumen dan bahasannya sangat asymawi sekali.

Tapi benar kata mbak mia, bahwa kritik berawal ketika banyak yg tidak setuju 
ketika quraish shihab bilang jilbab tidak wajib.



salam,



-Original Message-
From: "Mia" 

Date: Mon, 15 Dec 2008 12:14:57 
To: 
Subject: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab


Arcon,
Maksudnya 'mencontek argumen asymawi secara mentah-mentah' Pak 
Quraish Shihab nggak memasukkan buku Asymawi sebagai referensi atau 
daftar bacaan, gitu?  

Emangnya DDII Insist memprotes pendapat QS karena dianggap 'mencontek 
mentah-mentah' argumen asymawi?

salam
Mia 
--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Ari Condro"  
wrote:
>
> nong ambil mentah mentah dari bukunya asymawi. tulisan yang 
dipasang pun
> merupakan sari dari buku asymawi yang diterjemahkan dan diterbitkan 
ulang
> oleh JIL.
> FYI :
> 
> 1. Kritikan dari temen temen DDII di organisasi INSIST, ustad 
Quraish Shihab
> juga diprotes bukunya yang tentang jilbab, lagi lagi karena banyak 
yang
> mencontek argumen asymawi secara mentah mentah.
> 2. Asymawi sendiri adalah ahli hukum, jurnalis, dan pejuang HAM.  
Di mesir
> sendiri asymawi sangat dibenci oleh kalangan ikhwanul muslimin  
karena
> banyak argumennya yang dianggap membela kepentingan kaum sekuler.
> 
> 
> 
> 
> 
> 2008/12/15 werkuwer 
> 
> >   setidaknya ada cendekia muslim perempuan yang sangat memahami 
makna
> > kultural, personal dan sosial dari 'jilbab' itu sehingga 
sedikitnya
> > dapat mencerahi para pengidap otokrasi. catatan yang saya miliki
> > menunjukkan bahwa para mualaf mempunyai kecenderungan untuk 
menerapkan
> > segala 'ajaran barunya' secara berlebihan sehingga malampaui 
modelnya.
> > seperti yang ditulis dalam novel 'salah asuhan', hanafi yang baru
> > bergaul dengan belanda menjadi kebelanda-belandaan sehingga
> > tingkahlakunya menjadi lebih belanda daripada belanda itu sendiri.
> >
> >  
> >
> 
> 
> 
> -- 
> salam,
> Ari
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>





[Non-text portions of this message have been removed]



[wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-15 Terurut Topik Mia
Arcon,
Maksudnya 'mencontek argumen asymawi secara mentah-mentah' Pak 
Quraish Shihab nggak memasukkan buku Asymawi sebagai referensi atau 
daftar bacaan, gitu?  

Emangnya DDII Insist memprotes pendapat QS karena dianggap 'mencontek 
mentah-mentah' argumen asymawi?

salam
Mia 
--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Ari Condro"  
wrote:
>
> nong ambil mentah mentah dari bukunya asymawi. tulisan yang 
dipasang pun
> merupakan sari dari buku asymawi yang diterjemahkan dan diterbitkan 
ulang
> oleh JIL.
> FYI :
> 
> 1. Kritikan dari temen temen DDII di organisasi INSIST, ustad 
Quraish Shihab
> juga diprotes bukunya yang tentang jilbab, lagi lagi karena banyak 
yang
> mencontek argumen asymawi secara mentah mentah.
> 2. Asymawi sendiri adalah ahli hukum, jurnalis, dan pejuang HAM.  
Di mesir
> sendiri asymawi sangat dibenci oleh kalangan ikhwanul muslimin  
karena
> banyak argumennya yang dianggap membela kepentingan kaum sekuler.
> 
> 
> 
> 
> 
> 2008/12/15 werkuwer 
> 
> >   setidaknya ada cendekia muslim perempuan yang sangat memahami 
makna
> > kultural, personal dan sosial dari 'jilbab' itu sehingga 
sedikitnya
> > dapat mencerahi para pengidap otokrasi. catatan yang saya miliki
> > menunjukkan bahwa para mualaf mempunyai kecenderungan untuk 
menerapkan
> > segala 'ajaran barunya' secara berlebihan sehingga malampaui 
modelnya.
> > seperti yang ditulis dalam novel 'salah asuhan', hanafi yang baru
> > bergaul dengan belanda menjadi kebelanda-belandaan sehingga
> > tingkahlakunya menjadi lebih belanda daripada belanda itu sendiri.
> >
> >  
> >
> 
> 
> 
> -- 
> salam,
> Ari
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>




[wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-15 Terurut Topik Lina Dahlan
Mungkin para mualaf itu cuma ngerti makna personal. Kalo mereka 
menjadi mualafnya karena JIL tentu makna personal JIL yang akan 
diikuti...dst.

wassalam,
--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "werkuwer"  
wrote:
>
> setidaknya ada cendekia muslim perempuan yang sangat memahami 
makna 
> kultural, personal dan sosial dari 'jilbab' itu sehingga 
sedikitnya 
> dapat mencerahi para pengidap otokrasi. catatan yang saya miliki 
> menunjukkan bahwa para mualaf mempunyai kecenderungan untuk 
menerapkan 
> segala 'ajaran barunya' secara berlebihan sehingga malampaui 
modelnya. 
> seperti yang ditulis dalam novel 'salah asuhan', hanafi yang baru 
> bergaul dengan belanda menjadi kebelanda-belandaan sehingga 
> tingkahlakunya menjadi lebih belanda daripada belanda itu sendiri.
>




[wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-15 Terurut Topik Lina Dahlan
con, latar belakang kehidupan dan pendidikan Asymawi gimana? Lagi 
males googling neh!

wassalam,
--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Ari Condro"  
wrote:
>
> nong ambil mentah mentah dari bukunya asymawi. tulisan yang 
dipasang pun
> merupakan sari dari buku asymawi yang diterjemahkan dan 
diterbitkan ulang
> oleh JIL.
> FYI :
> 
> 1. Kritikan dari temen temen DDII di organisasi INSIST, ustad 
Quraish Shihab
> juga diprotes bukunya yang tentang jilbab, lagi lagi karena banyak 
yang
> mencontek argumen asymawi secara mentah mentah.
> 2. Asymawi sendiri adalah ahli hukum, jurnalis, dan pejuang HAM.  
Di mesir
> sendiri asymawi sangat dibenci oleh kalangan ikhwanul muslimin  
karena
> banyak argumennya yang dianggap membela kepentingan kaum sekuler.
> 
> 
> 
> 
> 
> 2008/12/15 werkuwer 
> 
> >   setidaknya ada cendekia muslim perempuan yang sangat memahami 
makna
> > kultural, personal dan sosial dari 'jilbab' itu sehingga 
sedikitnya
> > dapat mencerahi para pengidap otokrasi. catatan yang saya miliki
> > menunjukkan bahwa para mualaf mempunyai kecenderungan untuk 
menerapkan
> > segala 'ajaran barunya' secara berlebihan sehingga malampaui 
modelnya.
> > seperti yang ditulis dalam novel 'salah asuhan', hanafi yang baru
> > bergaul dengan belanda menjadi kebelanda-belandaan sehingga
> > tingkahlakunya menjadi lebih belanda daripada belanda itu 
sendiri.
> >
> >  
> >
> 
> 
> 
> -- 
> salam,
> Ari
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>




Re: [wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-14 Terurut Topik Ari Condro
nong ambil mentah mentah dari bukunya asymawi. tulisan yang dipasang pun
merupakan sari dari buku asymawi yang diterjemahkan dan diterbitkan ulang
oleh JIL.
FYI :

1. Kritikan dari temen temen DDII di organisasi INSIST, ustad Quraish Shihab
juga diprotes bukunya yang tentang jilbab, lagi lagi karena banyak yang
mencontek argumen asymawi secara mentah mentah.
2. Asymawi sendiri adalah ahli hukum, jurnalis, dan pejuang HAM.  Di mesir
sendiri asymawi sangat dibenci oleh kalangan ikhwanul muslimin  karena
banyak argumennya yang dianggap membela kepentingan kaum sekuler.





2008/12/15 werkuwer 

>   setidaknya ada cendekia muslim perempuan yang sangat memahami makna
> kultural, personal dan sosial dari 'jilbab' itu sehingga sedikitnya
> dapat mencerahi para pengidap otokrasi. catatan yang saya miliki
> menunjukkan bahwa para mualaf mempunyai kecenderungan untuk menerapkan
> segala 'ajaran barunya' secara berlebihan sehingga malampaui modelnya.
> seperti yang ditulis dalam novel 'salah asuhan', hanafi yang baru
> bergaul dengan belanda menjadi kebelanda-belandaan sehingga
> tingkahlakunya menjadi lebih belanda daripada belanda itu sendiri.
>
>  
>



-- 
salam,
Ari


[Non-text portions of this message have been removed]



[wanita-muslimah] Re: Kritik Atas Jilbab

2008-12-14 Terurut Topik werkuwer
setidaknya ada cendekia muslim perempuan yang sangat memahami makna 
kultural, personal dan sosial dari 'jilbab' itu sehingga sedikitnya 
dapat mencerahi para pengidap otokrasi. catatan yang saya miliki 
menunjukkan bahwa para mualaf mempunyai kecenderungan untuk menerapkan 
segala 'ajaran barunya' secara berlebihan sehingga malampaui modelnya. 
seperti yang ditulis dalam novel 'salah asuhan', hanafi yang baru 
bergaul dengan belanda menjadi kebelanda-belandaan sehingga 
tingkahlakunya menjadi lebih belanda daripada belanda itu sendiri.