Makna Tanah dalam Tragedi Pasuruan

A Latief Wiyata

Kasus Pasuruan yang menewaskan empat warga Alas Tlogo, Kecamatan
Lekok, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, pekan lalu, membuat bangsa ini
berduka.

Peristiwa penembakan ini terjadi Rabu (30/5) pagi saat warga Desa Alas
Tlogo mencoba menghalang-halangi aktivitas pembajakan lahan oleh PT
Rajawali Nusantara, yang memperoleh hak pakai untuk penanaman tebu.

Keterangan tentang penembakan itu, antara TNI AL berbeda dengan yang
disampaikan beberapa saksi dan korban (luka-luka). Tulisan ini tidak
membahas pihak mana yang benar, tetapi difokuskan pada makna tanah
atau lahan bagi warga Alas Tlogo, yang secara antropologi masih
tergolong etnik Madura (pendahulangan).

Makna tanah

Kelompok etnik asal Madura ini tersebar di kawasan Tapal Kuda,
membentang sepanjang pantai utara Jawa Timur, dari Gresik sampai
Banyuwangi (termasuk Jember dan Lumajang).

Bagi orang Madura, tanah pertanian merupakan aset kekayaan yang tidak
ternilai harganya. Kehidupan mereka amat bergantung sekaligus ditopang
secara dominan oleh tanah. Lebih penting lagi, tanah yang mereka
miliki hampir pasti merupakan warisan orangtua atau kakek-nenek secara
turun-temurun. Status pemilikan tanah seperti ini (Madura: tana
sangkolan) memiliki makna dan kekuatan sakralitas.

Dalam konteks ini, tanah harus dipertahankan kepemilikannya sampai ke
anak-cucu (generasi) berikut. Secara kultural, orang Madura amat
menghargai hasil jerih payah orangtua yang mereka terima sebagai
warisan. Tanah warisan itu lalu diwariskan lagi pada generasi
berikutnya. Semakin panjang alur pewarisan, semakin sakral makna tanah
itu.

Jika di atas tanah warisan itu ada bangunan rumah, hampir dipastikan
mereka tidak akan mengubah bentuk arsitektur aslinya. Menyia-nyiakan,
apalagi menjual tanah warisan, dipercaya akan membawa malapetaka
(Madura: ecapo' tolana bangatowa). Malapetaka ini diyakini bisa
menimpa semua anggota keluarga hingga ke generasi berikut.

Itu sebabnya, salah satu alasan dari berbagai alasan lain, tidak
jarang jenazah orangtua dimakamkan di tanah milik mereka sendiri
sebagai tanda bukti penghormatan.

Secara kultural, kematian bagi orang Madura tidak dimaknai sudah
terputusnya hubungan antara yang hidup dengan yang mati, tetapi
hubungan itu harus tetap dipelihara. Dengan adanya kuburan di tanah
dekat rumah, makna hubungan dengan arwah leluhur kian konkret. Jika di
atas tanah sudah ada makam leluhur, makna sakralitasnya semakin
tinggi. Pada gilirannya, tanah itu akan dipertahankan mati-matian
sampai kapan pun.

Tanah warisan?

Pada tragedi Pasuruan, tidak mustahil tanah yang dipersengketakan itu
merupakan warisan yang harus mereka pertahankan. Selain itu, bisa
dipahami kekecewaan warga Desa Alas Tlogo saat mereka menyaksikan
tanah yang seharusnya untuk kepentingan negara (pembangunan pangkalan
tempur TNI AL) lalu digarap perusahaan swasta untuk perkebunan tebu.
Dalam persepsi warga, kenyataan itu merupakan penghancuran makna tanah
yang semula sarat sakralitas menjadi bermakna komoditas yang sifatnya
amat komersialitistik demi keuntungan pengelolanya.

Tewasnya warga Desa Alas Tlogo oleh peluru oknum TNI AL merefleksikan,
kearifan dan kedewasaan semua pihak amat diperlukan dalam
menyelesaikan setiap konflik. Jangan karena alasan terdesak dan
semacamnya, lalu tindakan kekerasan mematikan yang dimunculkan.

Bagi masyarakat, kearifan dan kedewasaan juga penting dikedepankan.
Ironisnya, mereka hampir setiap hari selalu mendapat suguhan tayangan
berbagai bentuk resistensi dengan kekerasan dari media (terutama
televisi). Tindakan resistensi semacam itu, meski tidak bisa
dibenarkan, disadari atau tidak telah menjadi inspirasi bagi mereka
untuk mempraktikkannya.

Tidak kalah penting, penyadaran kembali pada sementara figur-figur
panutan yang secara sosio-kultural sebagai penjaga moral masyarakat
namun kini sudah mulai menyimpang banyak dari peran dan fungsi itu.

Bila semua dilakukan, sudah seharusnya ke depan segala bentuk konflik
kekerasan dapat dicegah sedini mungkin, bukan malah kian marak dari
hari ke hari.

A Latief Wiyata Antropolog Budaya Madura Universitas Jember, Tinggal
di Jakarta 

Kirim email ke