Bung Manneke,

Menurut saya (semoga saya keliru), hewan tidak bisa disebut "amoral" (tidak 
mengenal moral). Hewan memang lebih dikendalikan oleh insting (perilaku 
instingtif). Moral (Latin: mores -- hal-hal baik) memang hanya ada pada 
tatataran manusia yang diberi keistimewaan oleh Tuhan Sang Maha Pencipta 
kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan yang tidak baik, mana yang 
sebaiknya dilakukan dan tidak dilakukan, dll. Maka manusia bisa disebut 
bertindak "amoral" ketika ia berbuat tidak sesuai dengan kaidah-kaidah moral 
yang berlaku umum.

"Sense of morality" memang khas pada tataran manusia yang diberi kebebasan.

Terimakasih.
Salam hormat saya untuk Bung Manneke dengan pencerahan-pencerahannya yang 
bernas.

yr. edy purwanto pr

  ----- Original Message ----- 
  From: Manneke Budiman 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, March 13, 2007 6:35 PM
  Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: RELATIVITAS GENDER


  Jangan lupa bahwa hewan tak punya moral sense. Moral sense adalah hasil dari 
proses evolusi yang hanya terjadi pada manusia. Makanya, hewan dimaklumi 
sebagai makhluk "amoral" (tak mengenal moral), sedang manusia punya moral 
sense. Jadi, manusia yang tingkah lakunya menerabas moral disebut "immoral" 
alias moralnya bejat.

  Diskusi poligami lebih tepat diletakkan dalam konteks evolusi moral sense 
pada manusia, bukan pada evolusi hewan yang tak kenal moral dan tak bisa 
dimintai tanggung jawab moral atas hasil perbuatannya.

  manneke

 

Kirim email ke