Rekan John Simon yth.
  Untuk saya tidak penting mencantumkan gelar. Kapasitas kerja dan hasil kerja 
yang nyata lebih penting. Selama 25 tahun saya bekerja di per-bank-an di Eropa, 
saya belum pernah  melihat adanya seorang pimpinan membangga banggakan gelarnya 
dan juga atasan saya tidak pernah memberikan kesan bahwa dia menyandang gelar 
dan memang dengan low-profile nya dan cara berkomunikasi dia memberikan kesan 
bahwa dia adalah seorang pimpinan yang bisa dibanggakan dengan melihat cara dia 
memimpin anak buahnya. Saya banyak belajar dan mendengarkan dan saya banyak 
dibantu oleh beliau  dengan memberikan saran untuk mengikuti sebanyak mungkin 
kursus2 yang dia sarankan. Hasilnya untuk saya sangat memuaskan dan juga dia 
selalu memberikan support kepada siapa saja yang akan belajar lebih banyak. 
Saya berterima kasih kepada beliau yang sudah membimbing saya dengan baik dan 
sebagai pimpinan yang low-profile seperti dia kita lebih banyak belajar 
daripada pimpinan (bergelar) yang mencantumkan segala
 gelar hanya untuk kepentingan pribadi dan jabatan. Surat2 resmi memang 
membutuhkan dicantumkannya gelar tapi tidak untuk menyombongkan diri. Di tanah 
air kita kalau nggak tercantum gelar belum tentu di-orang-kan oleh pihak lain. 
Jadi buktikan bahwa gelar mempunyai arti yang sebenarnya. Contoh pak menteri 
kita pak KK yang sederhana tanpa memamerkan gelar.
   
  Salam
  BS

john simon <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Mas Harry,
Di kantor saya yg lama (sebelum di likuidasi), semua pejabatnya, dari level 
"biasa" sampai Presdir tidak ada yang mencantumkan "gelar" di kartu nama maupun 
dalam surat-menyurat. Padahal mayoritas lulusan universitas top dari dalam dan 
luar negri.
Mungkin kita bisa belajar dari Jepang, yang lebih mengutamakan "isi" daripada 
"kemasan".

Salam.

----- Original Message ----
From: Harry Priyono <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, March 15, 2007 8:46:32 PM
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Anggota DPR dan Presiden Harus Sarjana

Yth Pa' Bungaran,

Itulah pak repotnya, karena title kesarjanaan seolah-olah menjadi satu-satunya 
syarat untuk menjadi pimpinan dan itu selalu tertanam pada adik-adik kita yang 
sedang menuntut ilmu yang banyak dari mereka sebenarnya tidak menyukai disiplin 
ilmu yang diperlajari tetapi demi mendapatkan titel sarjana untuk menyenangkan 
orang tua atau sekedar mendapatkan pekerjaan... .bahkan di instansi pemerintah 
banyak pegawai yang berusaha untuk mendapatkan titel S1 dan S2 untuk bisa 
mendapatkan kenaikan golongan paling tidak memiliki kesempatan untuk menjadi 
pejabat.

Mungkin yang seperti kita harapkan hanya ada di Republik Mimpi...he.. .he...he

Salam



         

 
---------------------------------
Food fight? Enjoy some healthy debate
in the Yahoo! Answers Food & Drink Q&A.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke