Maaf, saya baru kali ini mendengar istilah "Difable".  Apakah yang 
dimaksud adalah "Disabled".

Di negara Amerika, bisa dilihat bahwa orang2 yang "disabled" telah 
diajar mandiri sejak kecil dan juga pada orang2 yang sudah dewasa.
Mereka tidak terlalu dipandang rendah dan dihargai sebagaimana 
layaknya manusia hidup.  

Suatu kali saya tercenung sebentar, melihat seorang wanita disabled, 
dengan menggunakan kursi rodanya bisa mengemudikan kendaraan yang 
khusus dirancang untuk orang2 yang disabled tsb.
Alangkah indahnya bila di tanah air tercinta pun, para disabled 
diberikan pendidikan yang cukup baik agar bisa mandiri.

Sayang, sarana jalan di Indonesia belum cukup laik untuk orang2 
disabled menggunakan wheel chair dengan aman.

Alangkah baiknya, bila ada yang baik dari negara lain diambil sebagai 
contoh dan disesuaikan pelaksanaannya di negara Indonesia.

Untuk yang mendapat kekurangan di penglihatan, ada anjing terlatih 
yang membantu mereka dalam kegiatan se-hari2nya.

dsb..............dsb...............
Salam
Lily



--- In [email protected], Ratih Gandasetiawan 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Makasih Mas/pak Adrian,
> 
> Bila semua setuju dan sudah mengenal kata "Difabel"
> bisa saja kita gunakan kata2 itu. Mungkin harus
> disosialisasikan dan dijelaskan ketepatannya. Karena
> kadang bila ada istilah baru yang sulit dicerna
> seperti kata Difabel itu maka akan terjadi manipulasi
> arti dan makna yang sebenarnya.
> 
> Ato karena saya lama bekerja dengan anak dan orang
> dewasa yang difabel itu sehingga saya selalu terlalu
> berhati-hati dalam menerima istilah baru. Bukan apa2
> justru karena saya terlalu ingin melindungi mereka2
> yang difabel itu.
> 
> Tapi kalo istilah ini memang ternyata dilapangan lebih
> positif, juga untuk mereka2 yang mempunyai "Handicap"
> itu sendiri pasti akan lebih baik.Dan tidak
> menyudutkan mereka. Bagi saya penggunakan kata
> "Normal" dan "belum/tidak normal" itu sangat relevan
> dan ternyata tidak membuat mereka menjadi tersinggung
> koq.
> 
> Dan mereka umumnya: 
> 1. malah termotivasi untuk belajar terus agar bisa
> mendekati normal.
> 2. membuat mereka lebih menyadari dan lebih realistis
> akan kondisi mereka.
> 3. Dengan kesadaran itu mereka lebih semangat untuk
> mencari jati diri mereka yang sebaiknya.
> 
> Saya senang bekerja sama dengan mereka,karena mereka
> selalu menggunakan logika mereka, siap membantu, tidak
> cepat tersinggung. Itu kalau treatment yang kita
> berikan menggunakan metoda yang sangat manusiawi dan
> selalu memberikan merekakesempatan untuk berkembang.
> 
> Salam dari Ratih
> 
> 
> 
> --- adrian aditya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> > saya setuju, dengan adanya pendapat dari mbak/ibu
> > Ratih, tetapi sesuatu yang agak mengganjal di
> > pikiran
> > saya ?? saya kok kurang sepakat dengan adanya
> > pendapat
> > tentang "normal" dan "tidak normal", apakah dengan
> > memiliki semua kelengkapan tubuh disebut dengan
> > "normal"??, pakah anak yang tidak lengkap anggota
> > tubuhnya tidak disebut dengan "normal", sebagai
> > contoh, anak yang tidak memiliki kaki apakah dia
> > bisa
> > disebut tidak "normal"???
> > karena menurut saya fungsi kaki untuk "mobile"
> > ketika
> > seorang anak tidak mempunyai kaki dan digantikan
> > dengan kursi roda sehingga fungsi "mobile"
> > terpenuhi,
> > apakah masih tidak normal.
> > 
> > Tiap orang menpunyai potensi untuk menjadi difabel,
> > bisa dengan kecelakaan kerja, lalulintas dsb.
> > saya tidak ada maksud apa2 karena menurut saya
> > difabel
> > tidak butuh untuk dikasiani, tetapi mereka lebih
> > butuh
> > untuk diakui ekstitensinya, keberadaan dan
> > difasilitasi. difabel bisa terdriskriminasi sampai
> > sekarang karna masyrakat kita juga tidak sensitive
> > dan
> > cenderung apatis dengan persoalan difabel.
> > 
> > salam
> > Adrian
>


Kirim email ke