Benar2 prihatin & kecewanya mendengar berita ini hingga membuat darah saya 
mendidih bila menyebut nama IPDN sekarang atau STPDN dulunya.  Bayangkan, 37 
siswa/ calon siswa di STPDN/IPDN telah kehilangan nyawa secara sia2. Belum lagi 
betapa sakit dan kecewanya para orangtua yang telah kehilangan anaknya yang 
dengan susah payah mereka didik, menyekolahkan dan mendo'akan anaknya sambil 
berkorban apapun demi masa depan sang anak kelak. Tapi harapan itu menjadi 
sia2, hilang begitu saja bak ditelan bumi ketika mendapati anaknya telah tewas 
ditempat tersebut.   

Kelihatannya IPDN bisa kita sebut sebagai suatu lembaga pendidikan  yang telah 
berhasil mencetak preman2 intelektual yang tak ber-akhlak.  Lihat saja saat 
tayangan di TV memperlihatkan adegan pembinaan dari para seniornya, dengan 
gayanya yang "sok jagoan" (iya kalau rame2 !! .... kalau sendiri?? ) mereka 
dengan pongahnya menunjukkan kekuatan tendangan kakinya (lebih tepat bila saya 
katakan "menyiksa" ) ketubuh para calon adik2nya dengan sadis dan tidak 
berprikemanusiaan.  Belum lagi hal2 lainnya seperti kehidupan sex mereka yang 
bebas yang tidak diungkap secara jelas. Perlu juga kita pertanyakan, apakah 
dizaman orde baru, lembaga ini didirikan memang untuk mencetak preman2 
intelektual yang nantinya hanya tunduk dan dukasai oleh si penguasa zalim?   

Coba kita renungkan, sudah seberapa banyakkah lulusan STPDN atau IPDN yang 
sekarang ini telah duduk di jabatan2 penting yang tersebar diseluruh Nusantara 
ini?  Apa yang telah dicapai negeri ini selama ini?    
Bisa dibayangkan, kalau tingkah laku mereka saja seperti itu disaat pendidikan, 
nah bagaimana dalam realitas kehidupan sosial yang nyata. Apa gak hancur negara 
ini?  sungguh merana bangsaku.

Apa yang terjadi dilembaga tersebut berpokok dari fungsi "Pengawasan" yang 
tidak berjalan. Maksudnya?  kita sudah mendengar sendiri dari seorang dosen 
IPDN yang masih aktif, bapak Inu. Beliau menjelaskan memang ada dan banyak (?) 
dosen dan pengawas yang secara sengaja ataupun tidak, telah terlibat terjadinya 
tindak kekerasan didalam IPDN yang tidak bisa/ sukar ditembus untuk memberikan 
keterangan yang benar secara terbuka. Kasarnya bisa dikatakan bahwa beberapa 
dosen dan juga pengawas di IPDN bisa diajak kerja sama atau disuap oleh para 
siswa seniornya untuk mengikuti kehendak senior2 tersebut. Saya sangat 
menghargai sekali sang dosen tersebut yang telah berani membuka fakta apa yang 
terjadi sebenarnya disana. 

Saya hanya mengharapkan bukan hanya si oknum senior saja yang akan diberikan 
sangsi berat yaitu pemecatan, tapi juga orang2 yang duduk sebagai pengawas dan 
tentu saja si Rektor pun harus bentanggung jawab atas semua kejadian ini, 
apalagi kematian siswa telah mencapai 37 orang, atau apa masih mau ditambah? 

Saya setuju dengan pendapat pak Abdul Gaffar, tidak perlulah lagi mereka 
dididik secara militer, wong mereka bukan mau masuk militer kok.  Ya, kalau 
menggembleng physik, ya olahraga saja seperti biasanya para atlit ber olahraga 
dan bukan seperti caranya tentara. 

Kalau saja pemerintah, dalam hal ini departemen dalam negeri tidak bisa 
mengambil tindakan tegas dan tidak bisa menjalankan fungsi pengawasan yang 
benar, maka sebaiknya tutup saja institusi tersebut. 


Salam,
Her



  ----- Original Message ----- 
  From: Harry Priyono 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, April 05, 2007 2:12 AM
  Subject: [TAG] Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Presiden: Hentikan Kekerasan di 
Lembaga Pendidikan


  Kalo memang sudah tidak bisa di perbaiki baik rektornya maupun 
muridnya.....tutup aja sekolahnya....gitu aja kok repot

  Abdul Gaffar Karim <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Manurut saya, siapapun 
rektornya, pasti akan sulit menghindari kasus
  kekerasan dan penyiksaaan di IPDN. Ini bukan soal siapa yang menjadi
  rektor. Yang salah adalah sistemnya. Membenahi IPDN (seperti dulu
  STPDN 'dibenahi' jadi IPDN) bagi saya tak akan menyelesaikan masalah juga.

  Pangkal masalahnya lah yang menurut saya harus dihilangkan lebih
  dahulu. Pangkal masalah yang saya maksud adalah digunakannya logika
  dan metode militeristik dalam penyiapan calon birokrat sipil. Inilah
  yang menyebabkan banyak sekali penyimpangan dan kasus penyiksaan di
  lembaga pendidikan yang keseluruhan biayanya kita tanggung bersama
  itu, dari pajak penghasilan, PPN, dan pajak lain-lain yang kita bayar.

  Bukan berarti metode militeristik jelek. Metode itu baik, jika
  diterapkan di akademi militer atau sekolah bintara, atau sekolah
  Satpam. Namun tidak pada tempatnya untuk diterapkan di sekolah
  pamong-praja. Saya tak melihat manfaat yang apa2 dari metode
  baris-berbaris, latihan fisik militer, seragam yang juga sangat berbau
  militer, dan lingkungan yang kondusif bagi munculnya kekerasan verbal
  dan fisik dari senior terhadap junior di IPDN. Jika kita menginginkan
  calon birokrat yang baik, saya kira yang diperlukan adalah gemblengan
  terkait antara lain dengan:

  (1) Kemampuan berdialog. Para pimpinan birorasi di setiap level
  memerlukan kemampuan ini untuk dua tujuan, yakni untuk bisa mendengar
  pendapat dan aspirasi aparat negara serta masyarakat yang dipimpinnya,
  serta untuk bisa melakukan komunikasi kebijakan secara persuasif dan
  asertif. Kemampuan berdialog ini jadi tumpul jika selama masa
  pendidikan para praja justru dibiasakan dengan bentakan.

  (2) Kejujuran. Apa masalah kita yang terbesar di negeri ini? Korupsi.
  Dan apa yang tak diajarkan di lembaga seperti IPDN? Kejujuran dan
  keberanian untuk menjauhi korupsi. Kita sudah sering dengar bahwa
  untuk masuk lembaga pendidikan gratis yang menjamin lulusannya dapat
  pekerjaan usai pendidikan ini, urusan suap-menyuap sangat lazim
  dilakukan (baca pengakuan salah seorang milister di sini). Jika
  seorang praja masuk lembaga pendidikan ini dengan menyogok, maka sejak
  detik pertama ia masuk pendidikan, mentalnya juga sudah mental sogok.
  Mental seperti ini yang akan dibawanya saat mengemban amanat sebagai
  birokrat nanti.

  Demikian pendapat saya. Mudah-mudahan didengar oleh para priyayi di
  pusat pengambilan keputusan.

  Wassalam,
  gaffar

 

Kirim email ke