Di didik dengan cara seperti itu
akan menjadi pamong di kelurahan,
kecamatan hingga walikota atau bahkan presiden
akan jadi apa nasib rakyat negeri

hai anggota DPR terhormat
apakah ini tak perlu interpelasi?
juga tentang anak yang tak sekolah
penduduk yang tertimpa musibah
warga yang sulit makan
atlit hebat dunia jalan kaki
...
interpelasi yuuuuuu

ada sebuah mainan baru di senayan
namanya "Interpelasi"

Keep Fight
Dedi Dwitagama

Find me more at:
http://dwitagama.blogspot.com/
http://trainerkita.blogspot.com/
http://dedidwitagama.4t.com/

SMK Negeri 3 Jakarta - Siapkan Tenaga Kerja Bermutu
Vocational Educational School on Business Manajemen
Program Keahlian: Adm Perkantoran, Akuntansi, Penjualan
Jl. Garuda 63 Kemayoran Jakarta Pusat
(T)  62 21 4209629 - 62 21 42889104
(F)  62 21 4209629
(E) [EMAIL PROTECTED]
(S) http://smk3jakarta.net


On 04 Apr 2007 06:53:46 -0700, Abdul Gaffar Karim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Manurut saya, siapapun rektornya, pasti akan sulit menghindari kasus
> kekerasan dan penyiksaaan di IPDN. Ini bukan soal siapa yang menjadi
> rektor. Yang salah adalah sistemnya. Membenahi IPDN (seperti dulu
> STPDN 'dibenahi' jadi IPDN) bagi saya tak akan menyelesaikan masalah juga.
>
> Pangkal masalahnya lah yang menurut saya harus dihilangkan lebih
> dahulu. Pangkal masalah yang saya maksud adalah digunakannya logika
> dan metode militeristik dalam penyiapan calon birokrat sipil. Inilah
> yang menyebabkan banyak sekali penyimpangan dan kasus penyiksaan di
> lembaga pendidikan yang keseluruhan biayanya kita tanggung bersama
> itu, dari pajak penghasilan, PPN, dan pajak lain-lain yang kita bayar.
>
> Bukan berarti metode militeristik jelek. Metode itu baik, jika
> diterapkan di akademi militer atau sekolah bintara, atau sekolah
> Satpam. Namun tidak pada tempatnya untuk diterapkan di sekolah
> pamong-praja. Saya tak melihat manfaat yang apa2 dari metode
> baris-berbaris, latihan fisik militer, seragam yang juga sangat berbau
> militer, dan lingkungan yang kondusif bagi munculnya kekerasan verbal
> dan fisik dari senior terhadap junior di IPDN. Jika kita menginginkan
> calon birokrat yang baik, saya kira yang diperlukan adalah gemblengan
> terkait antara lain dengan:
>
> (1) Kemampuan berdialog. Para pimpinan birorasi di setiap level
> memerlukan kemampuan ini untuk dua tujuan, yakni untuk bisa mendengar
> pendapat dan aspirasi aparat negara serta masyarakat yang dipimpinnya,
> serta untuk bisa melakukan komunikasi kebijakan secara persuasif dan
> asertif. Kemampuan berdialog ini jadi tumpul jika selama masa
> pendidikan para praja justru dibiasakan dengan bentakan.
>
> (2) Kejujuran. Apa masalah kita yang terbesar di negeri ini? Korupsi.
> Dan apa yang tak diajarkan di lembaga seperti IPDN? Kejujuran dan
> keberanian untuk menjauhi korupsi. Kita sudah sering dengar bahwa
> untuk masuk lembaga pendidikan gratis yang menjamin lulusannya dapat
> pekerjaan usai pendidikan ini, urusan suap-menyuap sangat lazim
> dilakukan (baca pengakuan salah seorang milister di sini). Jika
> seorang praja masuk lembaga pendidikan ini dengan menyogok, maka sejak
> detik pertama ia masuk pendidikan, mentalnya juga sudah mental sogok.
> Mental seperti ini yang akan dibawanya saat mengemban amanat sebagai
> birokrat nanti.
>
> Demikian pendapat saya. Mudah-mudahan didengar oleh para priyayi di
> pusat pengambilan keputusan.
>
> Wassalam,
> gaffar

Kirim email ke