Saya pikir ini adalah sebagian dari wujud feminisme liberal yang dipelopori
banyak feminis kulit putih kelas menengah di Barat sana. Sebagian ada yang
berpotensi memberdayakan, tapi tak sedikit juga yang dikritisi oleh aktivis
feminis non-putih dan yang berada di "dunia ketiga."
Ada seorang feminis kontroversial di AS bernama Camile Paglia, yang gencar
mengkritisi gagasan-gagasan mainstream feminisme liberal. Paglia berpandangan
bahwa dengan semakin tingginya tuntutan kebebasan dari kalangan perempuan, maka
seiring dengan itu, tuntutan agar perempuan lebih bertanggung jawab atas
tindakan dan dirinya sendiri pun kian besar. "Merayakan tubuh dan perbedaan"
tidak sama dengan bersuka-ria merayakan aborsi dan seks bebas sebagai
manifestasi gagasan emansipatoris dalam feminisme. Jika ada salah kaprah
semacam ini, konon ini adalah warisan dari generasi tahun 1960-an dan 1970-an
di AS, yang sangat akrab dengan budaya hippies, drugs, dan seks bebas. Sejumlah
tokoh feminis liberal memang merupakan bagian dari generasi baby boomers yang
besar pada periode ini, antara lain, Gloria Steinem, Susan Faludi, Catharine
McKinnon dan Betty Friedan. Kini, dalam wacana feminis kontemporer, nama-nama
ini tak lagi bersirkulasi sebagai sosok utama.
Khusus dalam soal aborsi, para feminis masih berseberangan. Ada tokoh-tokoh
feminis yang justru mempromosikan kedekatan hubungan antara ibu dan anak, yang
sulit digantikan oleh sosok ayah; ada yang concern utamanya pada ibu-ibu yang
jungkir-balik berjuang untuk mengasuh dan membesarkan anak; yang harus bekerja
di luar untuk keluarga orang lain (yang mampu) sembari juga mesti bekerja di
rumah demi keluarganya sendiri, dll. Anak dan keluarga kembali menjadi ruang
sentral tetapi tanpa menjadikan kedua ranah ini sebagai penjara bagi kebebasan
perempuan (sebagaimana yang senantiasa diiginkan oleh patriarki).
manneke
Ignas Iryanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
I am still disturbed by some idea below. My question is: What is the
essence of mariage institution ? Is all the private right have to be
repositioned when two people proclaim their mutual commitment in entering a
mariage, isn't it ?
Some sentences still border me very much. ".....they are free to do anything
they want to do with their bodies; namely to choose what clothes they wear to
cover their bodies, to have sex with whom they are willing to do it, to be
pregnant with their sex partner(s !!!!!) that they want, until to get
abortion......."
Are those values really what the (indonesian) feminist want ? Or fight for ? I
am realy afraid the danger of this idea for indonesian family life. A danger to
familys value is danger to the whole nation.
Irry