Bung Maneke,
Terima kasih atas penjelasannya dan semoga saja gerakan feminis di Indonesia
tidak dipengaruhi oleh feminisme ultra liberal seperti ini. Saya juga
sebenarnya ingin sekali mendapat tanggapan atau penjelasan dari netters yang
mengirim posting ini: Nana P (?).
Saya tidak jelas apakah yang ditulis adalah opininya atau opini orang lain
yang dikutipnya. Soalnya, seorang frater yang menjadi mahasiswa di salah satu
Sekolah Tinggi Filsafat pernah khusus datang ke tempat saya dan ngobrol karena
teganggu dengan kalimat kalimat yang mirip dlm posting Nana dan yang
disampaikan oleh seorang aktifis (feminist) yang menjadi pembicara tamu dalam
salah satu kuliah disana.(tentu saja diundang oleh seorang dosen).
Yaa, kita setuju bahwa budaya / mentalitas patriarky harus ditolak. Namun
kita menolak jika nilai nilai yang dipakai justru potensial untuk menghancurkan
nilai nilai keluarga kita. Jangan sampai kita memandang perkawinan sebagai
merger dua pihak dengan komposisi saham 50 -50, karena hasil penelitian
menunjukkan bahwa merger model ini 70 % akan gagal. Tentu saja perkawinan bukan
merger dan manusia bukan suatu korporasi yang melakukan merger. Namun kegagalan
merger model itu juga disebabkan karena kedua pihak merasa sama-sama kuat dalam
segala hal, sehingga seluruh fungsi korporasi harus dijalankan secara
bersama-sama, karena masing-masing merasa mampu menjalankan seluruh fungsi
tersebut. Kuat-kuatan model ini tidak konstruktif terhadap life timenya.
Analogi yang agak mirip dengan model model perkawinan yang gagal. Bung Maneke
tentu lebih paham dari saya soal ini.
Saya sangat respek terhadap perjuangan para feminist dan saya sangat hormat
dan angkat topi terhadap feminist yang juga sukses dalam membina kehidupan
keluarganya. Feminin - maskulin, bukankah itu dua sisi yang selalu ada dalam
setiap manusia, sama seperti dalam panas ada dingin, dalam gelap ada terang,
dalam baik ada buruk ?
Salam,
Irry.
manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya pikir ini adalah sebagian dari wujud feminisme liberal yang
dipelopori banyak feminis kulit putih kelas menengah di Barat sana. Sebagian
ada yang berpotensi memberdayakan, tapi tak sedikit juga yang dikritisi oleh
aktivis feminis non-putih dan yang berada di "dunia ketiga."
Ada seorang feminis kontroversial di AS bernama Camile Paglia, yang gencar
mengkritisi gagasan-gagasan mainstream feminisme liberal. Paglia berpandangan
bahwa dengan semakin tingginya tuntutan kebebasan dari kalangan perempuan, maka
seiring dengan itu, tuntutan agar perempuan lebih bertanggung jawab atas
tindakan dan dirinya sendiri pun kian besar. "Merayakan tubuh dan perbedaan"
tidak sama dengan bersuka-ria merayakan aborsi dan seks bebas sebagai
manifestasi gagasan emansipatoris dalam feminisme. Jika ada salah kaprah
semacam ini, konon ini adalah warisan dari generasi tahun 1960-an dan 1970-an
di AS, yang sangat akrab dengan budaya hippies, drugs, dan seks bebas. Sejumlah
tokoh feminis liberal memang merupakan bagian dari generasi baby boomers yang
besar pada periode ini, antara lain, Gloria Steinem, Susan Faludi, Catharine
McKinnon dan Betty Friedan. Kini, dalam wacana feminis kontemporer, nama-nama
ini tak lagi bersirkulasi sebagai sosok utama.
Khusus dalam soal aborsi, para feminis masih berseberangan. Ada tokoh-tokoh
feminis yang justru mempromosikan kedekatan hubungan antara ibu dan anak, yang
sulit digantikan oleh sosok ayah; ada yang concern utamanya pada ibu-ibu yang
jungkir-balik berjuang untuk mengasuh dan membesarkan anak; yang harus bekerja
di luar untuk keluarga orang lain (yang mampu) sembari juga mesti bekerja di
rumah demi keluarganya sendiri, dll. Anak dan keluarga kembali menjadi ruang
sentral tetapi tanpa menjadikan kedua ranah ini sebagai penjara bagi kebebasan
perempuan (sebagaimana yang senantiasa diiginkan oleh patriarki).
manneke
Ignas Iryanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
I am still disturbed by some idea below. My question is: What is the essence of
mariage institution ? Is all the private right have to be repositioned when two
people proclaim their mutual commitment in entering a mariage, isn't it ?
Some sentences still border me very much. ".....they are free to do anything
they want to do with their bodies; namely to choose what clothes they wear to
cover their bodies, to have sex with whom they are willing to do it, to be
pregnant with their sex partner(s !!!!!) that they want, until to get
abortion......."
Are those values really what the (indonesian) feminist want ? Or fight for ? I
am realy afraid the danger of this idea for indonesian family life. A danger to
familys value is danger to the whole nation.
Irry
---------------------------------
Get the Yahoo! toolbar and be alerted to new email wherever you're surfing.
[Non-text portions of this message have been removed]