Bung Harya, saya tidak pernah bilang mengurus transportasi perkotaan
itu mudah. Persoalannya kita mau konsisten atau nggak? Hal tersebut
yang membuat lama atau tidaknya perbaikan sistem transportasi itu.

Makanya berkali-kali saya bilang busway memang bagus tapi konsisten
nggak perlaksanaannya. Berkali-kali juga saya bilang kalau Busway
koridor VII hingga X belum juga dioperasikan hingga kini, dari yang
janjinya awal tahun ini dioperasikan. Begitu juga dengan proyek
monorel yang mangkrak gara2 investornya nggak jelas. Itu karena apa?
Karena tidak konsisten dalam perencanaan kan?

Makanya saya katakan konsisten dulu dalam membuat kebijakan, baru
kemudian membuat alternatif lain. Mungkin Bung Manneke terlalu
berapi-api dalam menanggapi diskusi ini. Tapi banyak 'Manneke-Manneke'
lain yang juga jengkel dengan rencana memajukan jam sekolah tersebut.
Kenapa harus anaknya yang dikorbankan? Makanya dari awal saya
meredusir diskusi mengenai persoalan pendidikan dan keagamaan yang
menurut saya tidak masuk dalam konteks solusi menyelesaikan transportasi.

Anda bilang, solusinya adalah penataan tata ruang. Saya sangat
sepakat. Tapi pertanyaannya kembali lagi, pemprov DKI konsisten nggak?
Contoh, anda bisa lihat kemacetan yang hampir setiap jam terjadi di
kawasan Sudirman menuju Semanggi. Dari yang dulunya hanya macet saat
jam pulang kerja saja (17-19) kini menjadi dari jam 10 hingga pasca 3
in 1 malam (19.30). Dari mata telanjang khan kita bisa lihat kenapa
penyebabnya. Pelanggaran tata ruang khan....

Kok bisa2nya sebuah mall (Plaza Semanggi) diizinkan beroperasi di
kawasan bottle neck jalan. Apa ada teorinya yang membolehkan kebijakan
seperti itu. Atau wilayah Senopati yang menjadi macet karena
beroperasinya puluhan restoran di sisi jalannya. Padahal Senopati
didesain menjadi kawasan perumahan (bukannya niaga).
Sementara pemprov tidak menyiapkan alternatif jalan atau rute untuk
menghindari kemacetan itu. Artinya apa, ada pelanggaran tata ruang
lagi khan.

Masih banyak lagi masalah-masalah pelanggaran ruang yang tidak perlu
saya sebutkan di sini yang berdampak pada kemacetan. Padahal dari awal
kampanye hingga awal masa pemerintahannya selalu bilang "Serahkan pada
Ahlinya'.

Terus masalah lokasi sekolah. walaupun sebenarnya tak penting dibahas
di sini. Tapi saya mau menyanggah argumen anda kalau sekolah aja di
dekat kawasan rumah. Lantas kenapa pemprov mengkategorisasikan
sekolah2 favorit di wilayahnya. Karena adanya kualitas sekolah yg baik
dan biasa2 saja khan.

Hampir kebanyakan masyarakat ingin anaknya bersekolah di lembaga yang
masuk kategoti favorit itu kan? Termasuk anda juga pastinya. Bahkan
kalau bisa orang tua menyogok aparat sekolah agar bisa masuk. Dan
letak sekolah itu dimana? Di tengah kota kan.

Termasuk mengapa orang dari ujung Sumatera atau Sulawesi ingin anaknya
juga kuliah di universitas favorit di Pulau Jawa. Artinya karena belum
ada pemerataan.

Jadi saya cuma mau berharap jangan kita loncat2 kalau membahas masalah
kemacetan ini. Saya hanya tampilkan faktanya aja. Teori itu juga
muncul dari fakta yang berbicara di lapangan.



> Posted by:      "Harya Setyaka"
>       harya.sety...@...
>                
>
>           kokomarokosetyoko
>
>
>
>       Thu Dec 11, 2008 1:03 pm        (PST)
>
>
>             Ada Boss..
>
> DKI punya plan Transportasi Makro.. yg antara lain memuat pengembangan
>
> angkutan umum massal..(sdh dimulai dengan busway)
>
> dan pembatasan kendaraan. sebenarnya sih bukan rahasia... karena sy pun
>
> sering mendapati hal tsb di media massa..
>
>
>
> Solusi transportasi memang perlu multiple measures...
>
>
>
> sekaligus menjawab pak Emir... mengembangkan angkutan umum massal memang
>
> tidak mudah, perlu waktu dan perlu biaya.
>
> maka progress-nya terlihat lambat.
>
> tapi coba bandingkan dngan 5-6 tahun lalu, ketika belum ada busway..
>
>
>
> beban anak sekolah memang besar.. sy pun pahami itu..
>
> kalau mau dikurangi bebannya bukan dengan jam sekolah.. tapi metode
belajar
>
> nya.. dan juga metode didaktika-nya.
>
> mengapa perlu buku ber-kilo-kilo? ini kan juga akibat main-mata pengurus
>
> sekolah dengan sales percetakan..
>
>
>
> transportasi adalah hal yg kompleks.. dan pendidikan dasar pun juga
tidak
>
> kalah kompleks..
>
>
>
> Pak Emir,... sgt jeli melihat permasalahan. .. mengapa mereka yg
merumput di
>
> Jakarta ber-rumah nun jauh di tangerang, sehingga perlu 20 KM lebih
utk ke
>
> tempat kerja..
>
> ya, memang.. kita perlu obat yg lebih manjur.. yaitu solusi tata ruang..
>
> tata ruang yg sehat akan menghasilkan pola transportasi yang sehatpula..
>
>
>
> sy pun selalu memberikan catatan bahwa seharusnya sekolah itu
berkualitas
>
> baik dan merata secara spasial, sehingga OrTu menyekolahkan anaknya di
>
> sekolah terdekat.. karena tiap kecamatan sudah ada sekolah SD,SMP,SMU..
>
> jadi tidak perlu sampai ganti angkot 4 kali utk sekolah..
>
> Setuju Pak Emir... ultimate solution adalah solusi tata ruang.. namun
>
> pengalaman Vancouver utk 'urban-retrofit' butuh waktu 20 tahun dan
dilakukan
>
> dengan konsisten.. semoga saja dengan rusun-2 di dalam kota Jakarta
dapat
>
> menarik mereka yg sekarang tinggal jauh di Bodetabek..
>
> dan semoga saja ada peluang usaha baru di Bodetabek yg sesuai dengan
>
> preferensi kerja masyarakat setempat.
>
>
>
> Literatur memang banyak... tapi kita tidak membuat intervensi di ruang
>
> sos-pol yg vakum. Sehingga solusi yg optimal secara engineering
belum tentu
>
> optimal secara sos-pol..
>
> sy pun mengakui bahwa solusi pemindahan waktu aktivitas (bukan hanya
anak
>
> sekolah) adalah solusi yg 'below the line'. tapi bukannya akan nihil
kalau
>
> jadi dilakukan.
>
>
>
> salam,
>
> -K-

Kirim email ke