Lha hasilnya belum keliatan kok udah diasumsikan lebih gede daripada pengorbanannya? Apa kalo nanti hasilnya ternyata kemacetan DKI tak banyak terpengaruh oleh perubahan jam masuk sekolah itu, maka Pak Haniwar berani menyatakan secara terbuka di sini bahwa Anda salah, mencabut dukungan terhadap kebijakan itu, dan menyatakan penentangannya? Ngomong-ngomong, itu dulu soal pasar tradisional versus Carrefour Anda bisa konsisten nggak? Jangan bilang pasar tradisional dikorbankan demi Carrefour. Lha wong pada kenyataannya banyak orang lebih suka belanja di Carrefour, kata Bung Sohib dulu. Hasilnya orang seneng tuh belanja di Carrefour. Jadi boleh dong pasar tradisional dikorbankan? Monggo Pak. Ngomong-ngomong soal jubir Pemda, Pak HS, Pak Harya itu anggota lembaga think-thank Pemda DKi untuk urusan lalu-lintas. Jadi kurang "jubir" yang kaya gimana lagi? Anda kan juga udah jadi "jubir tak resmi" Pemda DKI toh selama ini? Nggak nyadar ya? Hehe. manneke
--- On Wed, 12/17/08, Haniwar Syarif <[email protected]> wrote: From: Haniwar Syarif <[email protected]> Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: "Rekor Dunia" Jam Masuk Sekolah To: [email protected] Received: Wednesday, December 17, 2008, 10:30 AM Pak Harya Setiaka.., kan udah ngerti argumen yganti ada yg dikorbankan. lha kalau ada yg merasa jadi korban ..memang susah ... padahal urusannya selalu antara korban dan hasil .. sebanding nggak... mana ada hasil tanpa pengorbanan. . jer basuki mawa bea.. dan pendapat seolah pemda tidur.. gak bikin yg lain.. nah kalau yg ini tanya aja ke pemda..disini gak ada jubir pemda sih.. ..saya sendiri sih yakin mrk punya rencana.. nah soal implementasi ini lain lagi smile.. tapi kalau semua gak di implemtasi kan ya lebih parah lagi... , yg bisa di implemtasi dijalankan dulu.. kereta di bawah tanah ya belakangan.. HS
