Pak Harya Setiaka..,  kan udah ngerti  argumen yganti  ada  yg  dikorbankan.


lha kalau ada yg merasa jadi korban ..memang susah ...


padahal urusannya selalu antara korban dan hasil .. sebanding nggak...

mana ada hasil tanpa pengorbanan.. jer basuki mawa bea..

dan pendapat seolah pemda tidur.. gak bikin yg
lain.. nah kalau yg ini tanya aja ke
pemda..disini gak ada jubir pemda sih.. ..saya
sendiri sih yakin mrk punya rencana.. nah soal
implementasi ini lain lagi  smile..
tapi kalau semua gak di implemtasi kan ya lebih
parah lagi...  , yg bisa di
implemtasi  dijalankan dulu.. kereta di bawah tanah ya belakangan..

HS








At 10:26 AM 17-12-08, you wrote:
>Harya, bagaimana kalau menyelamatkan pelajar
>dari kemacetan itu dengan cara lain, misalnya
>pembatasan kendaraan, penataan angkutan umum,
>atau distribusi jam masuk juga boleh, tapi bukan
>mereka yang harus masuk lebih pagi? anda bilang
>menyelamatkan, tapi dengan cara mengorbankan?
>
>saya menyebut rencana tata ruang itu sebagai
>reaksi atas statement anda yang bilang bahwa DKI
>punya plan transportasi makro. saya kutipkan lagi di bawah:
>-----------------
>Posted by: "Harya Setyaka" [email protected]�� kokomarokosetyoko
>Ada Boss..
>DKI punya plan Transportasi Makro.. yg antara lain memuat pengembangan
>angkutan umum massal..(sdh dimulai dengan busway)
>dan pembatasan kendaraan. sebenarnya sih bukan rahasia... karena sy pun
>sering mendapati hal tsb di media massa..
>----
>
>FYI, ini merupakan reaksi anda atas pertanyaan
>kenapa harus dng langkah2 parsial, bukan rencana
>yang terintegrasi. menurut anda rencana yg terintegrasi itu bukannya tidak ada.
>
>Makanya saya bilang rencana tata ruang juga ada,
>tapi tidak pernah dilaksanakan secara konsisten.
>
>yang saya maksud tidak cukup dng literatur tp
>harus disertai intuisi itu pengelola kota, bukan
>anak sekolah. tapi kok komentar anda anak
>sekolah yg mesti pake intuisi supaya gak kena
>macet harus bangun jam berapa sih? kalo bangun
>harus lebih pagi itu namanya bukan intuisi, tapi
>kepaksa. nggak nyambung banget komentar anda ini.
>
>memang tidak semua orang bisa melakukan
>penalaran secara non-linier. yang jelas anda
>tidak bisa melakukan penalaran secara
>non-linier. pengelola DKI juga tidak capable
>untuk melakukan penalaran secara non-linier,
>padahal mereka harusnya bisa. jadi untuk apa mereka dibayar oleh rakyat?
>
>rini
>
>
>Mba Rini,
>
>Korban kemacetan = pelaku kemacetan.. siapa pun yg merasa korban kemacetan
>sebenarnya adalah pelaku kemacetan.
>coba berpikir yg lebih positif: pelajar bukan dikorbankan ... tapi
>diselamatkan dari kemacetan..
>mereka berangkat lebih pagi, tentunya akan selamat dari ulah pelaku
>kemacetan lainnya.
>
>dokumen rencana tata ruang itu baru resep... implementasi secara konsisten
>terhadap dokumen tersbut yg belum dilakukan..
>ibarat sudah ada resep, tapi obat belum diminum.. atau dengan dosis tidak
>tepat.. ya tidak sembuh..
>
>yes...setuju. . selain literatur, studi, dll, gunakan juga intuisi... kira-2
>kalau tahu jam 7 itu sudah macet, sebaiknya bangun jam berapa ya supaya ga
>kena macet? (terlepas mau beribadah atau tidak.)
>
>Lalin adalah problem yg kompleks... perlu penalaran yg non-linier..
>dan utk penalaran macam itu, memang tidak semua orang bisa.

Kirim email ke