cuma kasihan aja pak..


kalau para penentang merasa punya ide se abreg.

padahal idenya kuno semua

ada yg memang gak bisa jalan spt pembatasan kendaraan, krn bykan 
weweang Pemda,

ada yg memang sdh easuk dlm rencana  .. tapi ya masih  nunggu waktu 
spt krt di bawah tanah, ERP ,

Memang salah  pemda kali kurang sosialisasi soal apa yg mrk mau buat.


memang lebih enak nyalahin orang lain..


Saya bayangkan .. ada ygtanggung jawab nyimpulkan..., lalu kirim ke 
pemda dan dprd.. barangkali aja di jawab  ,




HS


At 01:13 PM 19-12-08, you wrote:

>Lha gimana kalo para penentang kebijakan masih punya seabreg 
>argumen, Pak HS? Sementara para pendukung kebijakan hanya 
>mengulang-ulang argumen yang sama. Tak heran jika Anda capek. Lha 
>wong tak punya apa-apa lagi yang mau dikatakan, tapi mau tetap 
>bertahan dalam diskusi. Salah sendiri toh?
>
>Kalo kami yang menentang kebijakan itu belum capek lho, Pak. Dan 
>masih punya banyak amunisi.
>
>Teman-teman Bapak itu ngakunya masih punya banyak cara lain, tapi 
>kok ya kaga kunjung keliatan apa saja cara-cara itu, selain yang 
>sudah ada di luar sana (busway, three-in-one). Sementara berbagai 
>macam terobosan malahan datang dari otak para penentang, yang dengan 
>cerdas dan kreatif berkali-kali mengemukakan gagasan mereka. Namun, 
>memang terus terang saja kami-kami ini ragu dengan political will 
>para pembuat kebijakan di Balai Kota sana. Karena mereka dari masa 
>ke masa tetap konsisten tidak berpihak pada komponen masyarakat yang lemah.
>
>Maka itu saya katakan beberapa kali, di milis ini kami berperang 
>melawan kebodohan, bukan melawan penguasa. Kalo disuruh ngelawan 
>penguasa kami mungkin capek, tapi kalo disuruh ngelawan kebodohan 
>(dan pembodohan) kami nggak akan abis energi, Pak.
>
>Kalo Pak Haniwar capek, kan sudah saya persilakan buat istirahat? 
>Ini capek beneran atau enggak sih? Kok bolak-balik ngeluh capek, 
>tapi ya makin asyik aja turut diskusi. Hehehe.
>
>manneke

Kirim email ke