Iya, sudah mulai pelajaran mengarang, belajar dari Anda sih gurunya.
 
Mana saya tau situ betulan menolak kenaikan tarif busway atau enggak? Wong 
rapatnya tertutup dan hasilnya tak pernah dikemukakan secara transparan ke 
warga kota kok. Bisa aja Anda ngarang cerita seolah menolak kenaikan tarif tapi 
di dalam kamar sana angguk-angguk setujuuuuuuuuuuu.
 
Persisnya kebijakan jalur sepeda yang ada di RENCANA MAKRO-mu itu kaya apa 
dulu? Kasih info jangan menyesatkan atau diirit-irit dengan tujuan membuat 
orang tetap tidak mengerti. Buat saya, kalo cuma dibilang: "Akan ada kebijakan 
bikin jalur sepeda," maka ini kebijakan lebih bodoh lagi daripada memajukan jam 
sekolah. Kenapa? Sebab di kota Jakarta ini, orang miskin pun segen naik sepeda. 
Jaraknya jauh-jauh, bo! Panasnya menyengat, polusinya mak duuuuut, dan nyawa 
juga diujung tanduk saingan sama bis kota dan truk!
 
Sebelum otak supercerdasmu mulai mengobral khayalan baru soal jalur sepeda, 
cari tau dulu berapa persen penduduk Jakarta mau naik sepeda/sudah naik sepeda 
untuk bepergian di dalam kota. Kasih tau kepada para pengendara sepeda itu mana 
jalan terdekat kalo mau ke Pluit dari Cililitan yang bisa ditempuh dengan naik 
sepeda, dan berapa lama waktu tempuhnya. Atur dulu yang betul emisi 
kendaraan-kendaaran itu, supaya jangan sampaai orang naik sepeda disemprot asap 
solar yang kaya kentut buto cakil dari bis-bis dan truk-truk umum itu. Dan, 
pastikan Anda dan kawan-kawan Anda di DTKJ punya solusi untuk emnertibkan para 
supir yang suka kaga peduli dan maen terobos jalur khusus (lha jalur busway 
yang gede aja diterobos,apalagi cuma jalur sepeda yang encrit?), supaya para 
pengendara sepeda itu nggak sport jantung setiap saat bisa diseruduk mobil dari 
belakang, meski udah di jalur sepeda.
 
Kalo cuma ngomongmau bikin ini dan itu tanpa ada bayangan jelas sih, ngelindur 
aja, Om. Jadi, nggak usahlah sok ngetes atau mancing dengan memakai argumen 
bahwa kalo menolak jalur sepeda berarti nggak berpihak pada yang lemah. Justru 
berpihak pada yang lemah yang cuma punya sepeda, soalnya mereka mau dijadiin 
kelinci percobaan oleh Anda dkk, dan nyawanya dianggap murah sehingga boleh 
dijadiin eksperimen untuk kebijakan yang sama sekali tak mempedulikan 
keselamatan dan cuma mau so jaim aja.
 
Anda ini dari dua abad lalu nyerocos mulu soal "literatur", tapi berkali-kali 
ditantangin kasih judul kaga ada wujudnya. Cuma mau sok intelek doang ya? Kan 
waktu itu saya bilang, sini kasih saya judul-judul literatur lalu-lintasmu, 
nanti saya akan kasih Anda judul-judul literatur tentang penyakit jiwa dan 
cara-cara mengatasinya. Oke, Bung? Jangan ulang lagi ya argumen basi suruh 
orang baca literatur kalo Anda saja tak tau literatur apa yang harus dibaca.
 
Omong kosong dan kebodohan paling lucu yang pernah saya dengar seumur hidup 
saya adalah jika Anda bilang: korban kemacetan = pelaku kemacetan. Ini 
penalaran paling ancur sepanjang sejarah alam semesta. Kalo Anda beli kendaraan 
bermotor dan kena macet, Anda bukan korban tapi pelaku. Kalo Anda naik angkot 
dan bayar ongkos untuk pergi ke satu tujuan tapi kena macet, Anda bukan pelaku 
tapi korban kemacetan.
 
Angkutan murah, nyaman dan cepat adalah hak warga kota dan kewajiban Pemda 
untuk menyediakan dan menjamin keberadaannya. Jadi, jangan coba-coba 
"mengkriminalkan" warga yang pengguna jasa angkutan umum sebagai PELAKU 
kemacetan. itu bodoh kaga ketulungan! Kalo pemilik kendaraan pribadi, mereka 
punya pilihan mau naek mobil sendiri atau mau naek angkot. Kalo milih naek 
mobil sendiri dan kena macet, itulah yang namanya berpartisipasi dalam 
kemacetan sebagai PELAKU kemacetan.
 
Membedakan hal yang sangat dasar gini aja Anda tak becus, dan lalu mau 
menggeneralisasi semua pengguna jalan sebagai PELAKU kemacetan? Kok ya ada ya 
orang sekacau Anda bisa duduk dalam DTKJ? Waduh biyung....
 
manneke

--- On Thu, 12/18/08, Harya Setyaka <[email protected]> wrote:

From: Harya Setyaka <[email protected]>
Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Kalau PNS masuk jam 06.30 wib
To: [email protected]
Received: Thursday, December 18, 2008, 11:50 AM






Wah.. sudah mulai pelajaran mengarang rupanya..

yg jelas sy selalu menolak kenaikan tarif busway, ketika diminta rekomendasi
oleh pemprov DKI.
kalau saya adalah (the so-called) 'orang dalam', mengapa saya tolak? ini
bukti sy tidak pernah membeo.
baca dulu perda 12/2003. jangan mulai mengarang ngomong soal gaji segala,
kalau anda tidak tahu apa-2...

Sy fokus dulu pada jalur sepeda;
Menurut anda ruang jalan itu milik siapa? milik warga negara? atau milik
pemilik kendaraan pribadi?
lalu kalau ada warga negara hanya mampu membeli sepeda, apakah dia otomatis
kehilangan hak atas ruang jalan?
jadi hanya orang kaya yg punya hak atas ruang jalan? yg miskin tidak punya
hak?

mana empati anda bagi mereka yg hanya mampu membeli sepeda?

jalur khusus sepeda adalah afirmasi bahwa setiap warga negara memiliki hak
atas ruang jalan, dan bukan hanya mereka yg beruntung memiliki kendaraan
pribadi.

kebijakan ini jelas berbeda dengan kebijakan subsidi premium...
yg hanya dinikmati oleh orang yg mampu membeli mobil/motor.
terbukti harga premium turun, tariff angkot tidak otomatis turun.

Bung, tidak semua orang menganggap DKI 100% busuk... sekurang-2nya ada 220
ribu pengguna busway tiap hari (sy ada data keras, bukan ngarang). Dari
survey, ternyata ada 15% pengguna busway yg memiliki kendaraan pribadi;
artinya mereka sebenarnya menggunakan busway karena pilihan bukan
keterpaksaan (choice rider).
memang ada kebijakan yg pas bagi semua orang 100%? tanpa satu cuil pun yg
tidak/kurang puas?

Bung, jujur ya.. Dewan transportasi kota secara kelembagaan (surat formal)
tidak pernah merekomendasikan kebijakan masuk sekolah lebih pagi. Pendapat
pribadi anggota-2 DTKJ adalah suatu hal yang wajar... karena setiap
orang/warga negara boleh berpendapat, dan koran/media massa berhak mengutip
atau tidak mengutip pendapat siapapun juga.
Anda pernah belajar soal hak-2 warga negara kan?

Menurut saya pribadi; jam masuk kantor flexible memang lebih efektif. dan
ini kan diskresi tiap bos perusahaan masing-2.
ga perlu komando dari Gubernur. jadi, tanpa di-putus kan oleh gubernur pun
silahkan.
Kalo ada yg mau masuk kantor lebih pagi, ga ditangkap polisi/sat-pol pp toh?
tidak kena denda toh?
kalau anda menyesuaikan jam masuk kantor, anda menyelamatkan diri dari
kemacetan dan sekaligus berpartisipasi aktif mengurangi beban jalan.

kalau anda sekarang menggunakan sepeda, dan nantinya akan lebih nyaman
ketika ada jalur sepeda, maka anda pun mengurangi beban ruang jalan.. karena
dengan luas ruang jalan yg sama, lebih banyak orang yg diangkut dengan
sepeda daripada dengan mobil pribadi. selain masalah keberadilan menggunakan
ruang jalan (konsep equitable use of road).

Makanya, perkaya lah literature anda soal transportasi. .. untung anda tahan
opini anda mengenai jalur sepeda..
bagus.. sudah ada improvement attitude.. keep it up!

Dalam kemacetan, kita semua sama... yg berbeda hanya mereka yg bermobil pake
pengawal, karena right-of-way (hak atas ruang jalan) dia dapatkan/rampas
dengan kekuasaan.
Kita semua yang korban kemacetan adalah pelaku kemacetan.
bedanya adalah strategi kita mengatasi kemacetan.. ada dulunya naik mobil,
sekarang naik motor; ada yg dulu naik mobil, sekarang naik busway, pindah
rumah/apartment lebih dekat sekolah/kerja, masuk kantor lebih awal.. dll.
itu lah yg saya lakukan dengan kawan-2 saya yg tidak saya kenal secara
pribadi, tapi juga anggota FPK.

salam,
-K-

Kirim email ke