nah itu lah pak Manneke.. kalau ngga tahu.. mbok ya jgn berpikir negatif.. kalau anda tidak tahu persis bahwa DTKJ mendukung kbijakan pemprov soal sekolah masuk jam 6.30.. jangan nuduh sembarangan.
Orang miskin segan naik sepeda di Jakarta? Sori bung.. sy tidak membedakan kaya-miskin soal bersepeda di jakarta. Sayangnya anda kurang update dengan fenomena bersepeda di jakarta akhir-2 ini. justru orang segan bersepeda karena fasilitas nya ga ada.. orang juga segan beli sepeda karena fasilitas belum ada... apa orang Belanda mau beli sepeda, kalau fasilitas pesepeda di kotanya tidak ada? apakah orang houston, atlanta mau beli mobil kalau pemerintahnya lebih intensif membangun jaringan angkutan umum massal, jalur sepeda, dan bukan highway? apakah anda tidak pernah belajar sejarah motorisasi di USA sejak pemerintah intensif membangun sistem highway pasca PD2? sy sudah anjurkan anda mulai dari www.howwedrive.com. itu saja dulu.. anda kan insan pembelajar.. masa bergantung dari saya utk sumber literatur.. ga tau cara belajar dengan googling apa? Bung.. setuju mengenai pengguna angkot! sy selalu acungi jempol mereka yg meskipun punya mobil/motor, tapi mau naik angkot/busway. makanya.. prioritas yg sudah dilakukan oleh pemerintah adalah program busway.. sehingga naik angkutan umum tidak kena macet. Pengemudi busway pun lebih tertib dari angkot lainnya.. makanya.. program busway kan tidak pernah dihentikan, tapi terus diperbaiki.. paham bung? langkah2 konkret steriliasi jalur busway jg sudah dilakukan Bung. Bahkan dengan atau tanpa dukunga kepolisian TransJakarta terus aktif mengamankan jalur. Anda kan tahu bahwa Polisi Lalu Lintas bukan di bawah Gubernur, dan dia punya 'diskresi' utk tidak menindak pelanggaran jalur busway. Ini pun masalah yg mana sy kemukakan dalam rapat pembahasan RUU Lalu Lintas Angkutan jalan, agar PoLanTas didesentralisasi juga, dan berada dibawah kepala daerah sehingga traffic management optimal. sebaiknya anda perdalam dulu perbedaan antara angkot dan busway, perkembangan busway akhir-2 ini... dan dampak-2 positif-nya. jangan sok tahu dari kejauhan. Bung.. beli kendaraan bermotor (barang privat), tidak menimbulkan kemacetan... kalau diparkir di garasi-rumah.. kan tidak menimbulkan kemacetan. mulai jadi pelaku kemacetan, ketika kendaraan bermotor (entah siapa yg beli) digunakan di jalan (barang publik), maka dia mulai menyebabkan kemacetan. Ok.. Wah Bung.. anda sepertinya defisit kecerdasan dalam hal-ihwal transportasi. Jalan itu punya kapasitas... misal 100 kendaraan per jam.. kinerja jalan diukur dari kecepatan rata-2 sebagai fungsi dari volume kendaraan.. ketika jalan dipenuhi 100 kendaraan maka lalu lintas terhenti.. karena melebihi kapsitas. (seperti ember, yg luber, karena kapasitas maksimal nya sudah tertentu, tidak bisa menampung air lagi ) ketika jumlah kendaraan masih 50, maka misalnya speed adalah 40KM/jam.. pada kondisi ini, biasa dipersepsikan bahwa jalan 'tidak macet'.. namun ketka sudah 51mobil.. maka speed bisa turun 25-30KM/Jam (dipngaruhi juga faktor geometrik jalan). Nah,.. bagaimana kita 'mengusir' 1 mobil yg ke-51 itu? dan bagaimana kita menentukan mobil mana yg masuk dalam 50 mobil tsb? makanya solusi kemacetan tidak bisa melulu dengan penyesuaian kapasitas jalan dengan rekayasa geometrik (pelebaran jalan). harus ada pembatasan kendaraaan yg masuk pada suatu jalan (banyak metodenya). dan juga jalur khusus utk angkutan yg berkapasitas besar (busway). Bung, pengalaman menunjukkan bahwa kinerja ruas jalan tidak murni dipngaruhi oleh total populasi kendaraan. ruas jalan utama di Singapura tetap pada kinerja 45-60KM/Jam dengan ERP, meskipun populasi kendaraan naik 3x lipat. Bung.. jusrtu dalam program jalur sepeda ini, akan dioptimalkan partisipasi masyarakat. jadi perlu proses... tidak bleng-langsung jadi gitu.. bukan model nya lagi membuat kebijakan langsung jadi. jusrtu memang dilakukan pendalaman, dan juga proses-2 partispatif agar program jalur sepeda optimal manfaatnya. penyusunsan jaringan-nya pun akan disesuaikan dengan kebutuhan. mengenai kebijakan pendukung jalur sepeda, termasuk masalah keselamatan yg harus dijamin pemerintah kepada semua pengguna ruang jalan (termasuk pesepda)... ya tentunya akan dipikirkan bersama, nantinya dalam proses yg partisipatif.. Justru yg sy mau affirmasi adalah hak kaum lemah terhadap ruang jalan.. ya tentunya dengan faktor keselamatan toh? dan anda tentunya tahu bahwa sudah banyak yg mulai bersepeda ke kantor, bahkan tanpa adanya fasilitas dan jaminan keselamatan dari pemerintah. apa mereka merasa jadi kelinci percobaan? you jangan ngarang laah.. artinya, masyarkat sudah mau bertindak lebih banyak daripada ngomong doang dari kejauuuhan! salam, -K- On Fri, Dec 19, 2008 at 2:01 PM, manneke budiman <[email protected]>wrote: > Iya, sudah mulai pelajaran mengarang, belajar dari Anda sih gurunya. > > Mana saya tau situ betulan menolak kenaikan tarif busway atau enggak? Wong > rapatnya tertutup dan hasilnya tak pernah dikemukakan secara transparan ke > warga kota kok. Bisa aja Anda ngarang cerita seolah menolak kenaikan tarif > tapi di dalam kamar sana angguk-angguk setujuuuuuuuuuuu. > > Persisnya kebijakan jalur sepeda yang ada di RENCANA MAKRO-mu itu kaya apa > dulu? Kasih info jangan menyesatkan atau diirit-irit dengan tujuan membuat > orang tetap tidak mengerti. Buat saya, kalo cuma dibilang: "Akan ada > kebijakan bikin jalur sepeda," maka ini kebijakan lebih bodoh lagi daripada > memajukan jam sekolah. Kenapa? Sebab di kota Jakarta ini, orang miskin pun > segen naik sepeda. Jaraknya jauh-jauh, bo! Panasnya menyengat, polusinya mak > duuuuut, dan nyawa juga diujung tanduk saingan sama bis kota dan truk! > > Sebelum otak supercerdasmu mulai mengobral khayalan baru soal jalur sepeda, > cari tau dulu berapa persen penduduk Jakarta mau naik sepeda/sudah naik > sepeda untuk bepergian di dalam kota. Kasih tau kepada para pengendara > sepeda itu mana jalan terdekat kalo mau ke Pluit dari Cililitan yang bisa > ditempuh dengan naik sepeda, dan berapa lama waktu tempuhnya. Atur dulu yang > betul emisi kendaraan-kendaaran itu, supaya jangan sampaai orang naik sepeda > disemprot asap solar yang kaya kentut buto cakil dari bis-bis dan truk-truk > umum itu. Dan, pastikan Anda dan kawan-kawan Anda di DTKJ punya solusi untuk > emnertibkan para supir yang suka kaga peduli dan maen terobos jalur khusus > (lha jalur busway yang gede aja diterobos,apalagi cuma jalur sepeda yang > encrit?), supaya para pengendara sepeda itu nggak sport jantung setiap saat > bisa diseruduk mobil dari belakang, meski udah di jalur sepeda. > > Kalo cuma ngomongmau bikin ini dan itu tanpa ada bayangan jelas sih, > ngelindur aja, Om. Jadi, nggak usahlah sok ngetes atau mancing dengan > memakai argumen bahwa kalo menolak jalur sepeda berarti nggak berpihak pada > yang lemah. Justru berpihak pada yang lemah yang cuma punya sepeda, soalnya > mereka mau dijadiin kelinci percobaan oleh Anda dkk, dan nyawanya dianggap > murah sehingga boleh dijadiin eksperimen untuk kebijakan yang sama sekali > tak mempedulikan keselamatan dan cuma mau so jaim aja. > > Anda ini dari dua abad lalu nyerocos mulu soal "literatur", tapi > berkali-kali ditantangin kasih judul kaga ada wujudnya. Cuma mau sok intelek > doang ya? Kan waktu itu saya bilang, sini kasih saya judul-judul literatur > lalu-lintasmu, nanti saya akan kasih Anda judul-judul literatur tentang > penyakit jiwa dan cara-cara mengatasinya. Oke, Bung? Jangan ulang lagi ya > argumen basi suruh orang baca literatur kalo Anda saja tak tau literatur apa > yang harus dibaca. > > Omong kosong dan kebodohan paling lucu yang pernah saya dengar seumur hidup > saya adalah jika Anda bilang: korban kemacetan = pelaku kemacetan. Ini > penalaran paling ancur sepanjang sejarah alam semesta. Kalo Anda beli > kendaraan bermotor dan kena macet, Anda bukan korban tapi pelaku. Kalo Anda > naik angkot dan bayar ongkos untuk pergi ke satu tujuan tapi kena macet, > Anda bukan pelaku tapi korban kemacetan. > > Angkutan murah, nyaman dan cepat adalah hak warga kota dan kewajiban Pemda > untuk menyediakan dan menjamin keberadaannya. Jadi, jangan coba-coba > "mengkriminalkan" warga yang pengguna jasa angkutan umum sebagai PELAKU > kemacetan. itu bodoh kaga ketulungan! Kalo pemilik kendaraan pribadi, mereka > punya pilihan mau naek mobil sendiri atau mau naek angkot. Kalo milih naek > mobil sendiri dan kena macet, itulah yang namanya berpartisipasi dalam > kemacetan sebagai PELAKU kemacetan. > > Membedakan hal yang sangat dasar gini aja Anda tak becus, dan lalu mau > menggeneralisasi semua pengguna jalan sebagai PELAKU kemacetan? Kok ya ada > ya orang sekacau Anda bisa duduk dalam DTKJ? Waduh biyung.... > > manneke
