woooo....?
lha ya sudah. kukut jagat-nya kalau gitu.
bolak-balik ya sudah melingkar jadi evil-cycloon ya?
lha ya beda wawasan antara trigger dan mesiu-nya
terlalu jauh siiiih...

gimana sih ini, kok dari dulu selalu saja njomplang
pemahaman antara pemimpi dan yang dipimpin.
coba seandainya sabar dikit, tidak segera demo
protes memprotes, gitu lak lebih enak?
jangan-jangan memang tadinya sudah mau gitu,
terus ada yang membisikin?

(sementara aku juga ketawa-ketiwi membaca
calon nasib-ku di negeri ini. sementara bea kuliah
buatku dipatok hanya separoh dari ketentuan perpanjangan
oleh nguniversitas yang mau mem-blejet-i diriku,
di pos lain pada perguruan tinggi pengirimku sedang
diupayakan di-ada-ada-kan dengan alasan ada
yen-daka.. lho lak gendheng? soalnya kalau menyangkut
yen, hanya ada satu pintu..... heheheeee
selebihnya ada peringatan keras dari pimpro bahwa
bila tak rajin kirim laporan, maka beasiswa setop
dan silakan "ngglandhang" sendiri hahaaaa...)

barangkali benar kata mas aswat, bahwa sekarang sedang
serba kacau... termasuk cara berfikir dan mencari prioritas.
(eh, iya mas... di reruntuhan bom-atom hirosima ada
situs yang menceritakan kondisi anak-anak sekolah kala itu.
walaupun lebih meliteristik, kelihatannya kok tak beda jauh
dengan sekarang. terutama ada khabar bahwa pelajaran
bahasa nasional jepang belum banyak diubah model dan
kandungan isinya sejak "meiji restorationg jidai"... kesimpulannya,
sampeyan tahu sendiri lah.. juga di china dan korea.. rata-rata
sifat tradisionalis ngeyel bangsa zona sini yang berlaku)

pareng.. mau bobok....

-----------------------------------------------------
Soelojo
moderator ML JOWO WOJOSETO
[EMAIL PROTECTED]
http://io.spaceports.com/~wojoseto/index.html
http://www.alladvantage.com/go.asp?refid=DTG850
----------------------------------------------------
----- Original Message -----
From: Yap <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, April 13, 2000 10:16 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] guru!


OK mBah, memang begitu elaborasinya GD, sekarang yang atas dulu
dinaikkan,
tahun depan bawahnya. Tapi juragan Anshari Ritonga (Dirjen Anggaran)
bilang
bahwa untuk memenuhi tuntutan kenaikan gaji guru itu membutuhkan 18
triliun
per tahun. And, the govt can not afford it. Belum kalau pegawai non
guru
minta juga.  Lalu bagaimana kalau tahun depan ya belum afford juga?
Batal
lak an.

Sebetulnya strategi menaikkan tunjangan struktural ini cerdik juga.
Dengan
hanya 1.2 triliun per tahun, Pemerintah dapat mengkatrol kenaikan
penghasilan yang dahsyat itu. Murah kan? Tapi keblinger!

Ini bisa effektip kalau beberapa asumsi dipenuhi.
Misalnya, sosialisasi sampai terdapat pemahaman dan kesepakatan yang
cukup
luas. Kesepakatan luas? Sesuatu yang sangat mahal untuk situasi
Indonesia
saat ini. Lha wong kesepakatan sak peserta milis ini saja nggak
kunjung
tercapai, apalagi sak negara.

Kedua, pejabat struktural, yang notabene bertanggung jawab secara
lini,
mampu memacu produktivitas bawahannya untuk mendongkrak kinerja
unit-nya.
Tangeh lamun kan, kalau yang dibawah merasa dieksploitasi. Sekarang
saja
sudah ada pesuruh yang ngomel, biar dibersihin Kasi saja, dia kan
tunjangan
strukturalnya gede.

Ketiga, terjadi rangsangan para pegawai non struktural untuk menaikkan
kinerja individunya agar (kelak) bisa masuk struktural. Kayaknya ya
sukar
juga menimbulkan iklim begini. Kalau di Perguruan Tinggi jelas nggak
bakalan, karena sangat jarang yang mengincar jabatan struktural, dan
lebih
menggenjot tambahan kredit point untuk mengejar gelar Profesor yang
dipandang lebih terhormat. Soal penghasilan, ya bikin proyek saja to,
mengobyekkan penelitian, mengerahkan mahasiswa. Win win kan? Dosen dan
mahasiswanya sama sama dapet duit.

Yang jelas asumsi pertama tidak tercapai, dan ambrol total. Otomatis
asumsi
yang berikutnya nggak valid juga.
Nah, kalau mau pakai jurus fleksi, ya dibatalkan saja kenaikan
tunjangan
struktural plus kenaikan gaji pejabat negara. Risikonya, penegakan
hukum
musti jalan. Yang nggak patuh disikat. Mau keluar, by all means. Yang
mau
masuk sudah ngantri. Tapi kayaknya yang begini nggak bisa juga. Bola
salju
reformasi sudah kelewat besar untuk main represi.

Dalam posisi serba tanggung dan canggung begini, ya paling banter main
tambal sulam dan bermain kata kata, sambil menggalang opini publik :
tolong
gue jangan digusur, ehh beri kesempatan, tidak semudah membalik
tangan, dan
ajian ajian kaki lima lainnya.

Kemungkinan terbaik yang akan terjadi adalah: anjing menggonggong
kafilah
berlalu. Biarin aja entar kan diem sendiri. Kalau nggak diem juga,
bikin aja
isu baru yang lebih hot, bikin common enemy, atau jurus pembelokan
perhatian
lainnya. Kasian!

yap

Success is neither magical nor mysterious.
Success is the natural consequence of consistently applying basic
fundamentals.

----- Original Message -----
From: mBah Soeloyo <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, 13 April 2000 6:53 WIB
Subject: Re: [Kuli Tinta] guru!


> walaah,
> berprasangka baik sajalah koh.
> tak perlu ngecam-ngecam kebangeten dulu ah.
> anggap saja sekarang pemerintah sedang mencicil (atau mecicil?)
> membuat pathokan maksimum dulu pada pegawai
> yang terbiasa dapat gedhe-gedhean dengan plus-plus.
> terus nanti diharapkan diikuti dengan tindakan menambah
> plus-plus bagi yang terbiasa dapat minus....
> gitu gimana?
>
> lah, masalahnya kan sebenernya memang di situ.
> maksude, ya yang terbiasa duduk di tempat gedhe-gedhean
> plus-plus itu yang rawan penyalah gunaan "gaji" (artinya,
> yang sebenernya bisa buat menggaji yang lain, dia embat
> dengan segala macam akrobat pejabat... gitu lho).
> dan di bagian situ itu di lapisan menengah, dalam
> ujud kabag, pimpro, k-te-u dsb. lebih rawan lagi. soalnya
> sering pegang duit orang... jadi terangsang untuk
> nggrangsang kan?
> mangkanya diberi dulu-lah kenaikan gaji super pandhir itu.
> betulnya kalau itu dikenakan pada orang yang peka sosial
> kan malah terus mawas dhiri.. pantas nggak sih saya
> menerima segitu gedhenya gaji "resmi"? (gitu kata temenku
> yang di deutch sana kemarin, waktu ngata-ngatain professor
> di kampusnya banyak yang protes)
>
> namun, masalahnya kan tetep "sial golek bala, enak tak
> emplok dhewe" itu yang jadi fundamental kebanyakan.
> mangkanya tak heran kan kalau ada ketimpangan segera
> terasakan, kalau ada ke-enakan... diem aje....
> yang jelas aku ngerasa, bahwa tak mungkin pemerintah
> mak gruduk merobah segalanya dalam sekejap. atau memang
> menginginkan perombakan total kaya "ngendikane" sampeyan
> kemarin? nggak tahu juga ya. kalau memang ini yang diinginkan,
> berarti "pemerintah" memang menghendaki kehancurannya sendiri
> untuk merombak total kondisi bangsa dan negara. syukur tidak
> terus jongkok di tempat.... hehehe.. terus "njranthal ngoyak" tangga
> teparone.... eheheee.... imajinasi liar.... (kata mbak agustine...)
>
> -----------------------------------------------------
> Soelojo
> moderator ML JOWO WOJOSETO
> [EMAIL PROTECTED]
> http://io.spaceports.com/~wojoseto/index.html
> http://www.alladvantage.com/go.asp?refid=DTG850



- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!














- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











Kirim email ke