Pak BTS, Pak Eka, dan rekan-rekan Ysh,

Cukup menarik diskusi tentang Papua di milis ini. Sekitar bulan Juni
2007 lalu, saya dan kolega saya Chatib Basri dari LPEM-FEUI
berdiskusi di Jayapura, bersama sama dengan teman-teman dari Uncen
yang juga dihadiri oleh pak gub Bas Suebu tentang Sustainable
Development, Catatan yang perlu digarisbawahi adalah bahwa persoalan
yang dihadapi Papua sekarang ini adalah: pertama, meningkatkan
governance. Jika saja governancenya baik, dana otsus, bagi hasil SDA
(tidak hanya dari konsentrat tembaga, tetapi juga dari gas dan
minyak), dll, jika dikelola dengan baik sebenarnya mampu menyediakan
infrastruktur dasar, seperti jaringan jalan ke daerah terpencil. Biaya
angkut komoditas ke pedalaman sangat mahal (semen satu sak bisa
mencapai 10-20 kali lipat harga semen di Jakarta, sehingga dalam
jangka menengah perlu dibuatkan strategi bagaimana mendobrak isolasi
secara bertahap (the proponent of Tata Ruang may argue,,, here it is
,,, ha ha ha) .

Bas Suebu tampaknya tidak ingin mengulangi kekeliruan masa lalu, dana
relatif banyak tapi belum tampak untuk memendobrak isolasi, sementara
waktu terus berjalan. Konsep yang ingin ditawarkan pak Bas adalah
segala sesuatu harus bertolak dari desa, apa sih kebutuhan mereka,
jadi tidak lagi sekedar konsep dari atas (provinsi) yang boleh jadi
tidak realistik dan tidak menyentuh kebutuhan masyarakat desa. Hampir
semua desa-desa non-urban dikategorikan desa miskin.

Nah, soal Biak. Walaupun tidak dibicarakan dalam diskusi, saya rasanya
koq masih tetap konservatif untuk tetap ekstra hati-hati melihat
perkembangannya, Ada pengalaman pahit kegagalan Biak sebagai Free
Trade Zone (FTZ), Hotel Maraw (sekitar 400 kamar) yang terlanjur
dibangun akhirnya masuk rumah sakit BPPN, Dari teman-teman saya dapat
informasi, hotel itu sekarang rusak berat... ini sebagian duit rakyat
untuk penyertaan modal dalam Biak Tourism Development Board yang
sekarang sedang koma? Boleh optimis dengan catatan harus proporsional.

Untuk antisipasi perkembangan Biak sebagai tempat peluncuran, I will
suggest, jangan pakai APBD or APBN at all cost deh untk membangun
Biak.....Terlalu banyak yang harus diselesaikan untuk pengembangan
infrastruktur dasar dan SDM di Papua, Terlalu besar opportunity
cost-nya, untuk menerobos isolasi, peningkatan kualitas SDM, dsb.

Wassalam,

Nuzul Achjar

Kirim email ke