Pak Nuzul ysh,
Terima kasih berbagi pandangan. Saya komentari beberapa hal, bila 
pembangunan jaringan jalan (Trans Papua) memang obsesi Pak Bas untuk 
menembus ketertinggalan, walau dulu pernah saya ungkapkan bila hal 
ini sangat mahal. Saat ini hingga beberapa waktu ke depan, 
perhubungan udara masih memegang peranan yang sangat penting. Dengan 
250 bandara yang ada saat ini, pelayanan angkutan udara masih menjadi 
tumpuan utama. Kreativitas daerah juga sudah tumbuh, misalnya 
Kabupaten Merauke telah memiliki 3 pesawat udara yang dioperasikan 
sepenuhnya oleh Merpati.

Tahun depan kita akan fokus ke Suru-suru di bagian utara Kabupaten 
Asmat yang masih bisa dilayari oleh kapal-kapal besar, dan dekat 
dengan wilayah tengah Papua. Hub transportasi ini akan melayani 4 
kabupaten, sehingga menjadi sangat strategis di tingkat provinsi. 
Apalagi hub ini menyatukan transportasi darat-laut-udara.

Biaya mahal memang menjadi kendala, sehingga pernah kepikiran oleh 
saya bila dana Otsus itu dapat dialokasikan untuk mensubsidi beberapa 
harga barang yang memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan 
pembangunan.

Saya tidak melihat Biak potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan 
perdagangan (bebas, dlsb), karena hal tersebut telah dicoba selama 
kurun pemerintahan Orde Baru. Di sana juga telah ada Kapet, dan dapat 
dikatakan satu-satunya Kapet yang memiliki gedung sendiri. 
Kelihatannya ada resistensi Pemda untuk mengurus wilayah sendiri. 
Atau, sebenarnya `belum cukup mantap' formulasi dari Pusat dalam 
mengembangkan otorita di Daerah. Hal yang sama juga berlaku untuk 
berbagai rencana KEK, FTZ, dll. Sorry. Kelak kita buka diskusi 
tersendiri mengenai hal ini.

Saya justru melihat Biak potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan 
penelitian iptek, khususnya klimatologi dan kedirgantaraan. LAPAN 
telah mendirikan kantor di Biak untuk pemantauan cuaca, dan di dalam 
kompleknya terdapat ISRO (lembaga dirgantara India) yang memonitor 
pergerakan satelitnya di Pasifik. Ruslan Ginting (LAPAN Biak) 
menyebutkan, tidak ada riset antariksa yang menguntungkan secara 
ekonomi. Namun perlu dipertimbangkan bila 500-an engineers 
Rusia/lokal akan berkediaman di Biak, dan `mata dunia' akan mengarah 
ke sana. Belum lagi bila efek Biak ini akan mengundang berbagai 
negara maju yang tidak memiliki wilayah khatulistiwa untuk turut 
serta. Saya lupa catatan Pak Dikdik, bila investasi Rusia di Biak 
akan mencapai sekitar USD 130 milyar (mohon koreksi pak Dikdik).

Termasuk pertimbangan bila IPTN direlokasi ke Biak.

Saya mendengar kisah Hotel Waraw tersebut yang katanya sekarang sudah 
menjadi hotel hantu. Namun saya mendengar bila Garuda (atau Merpati?) 
akan membangun hotel di seberang terminal, dan kemarin meminta 
pertimbangan PZ untuk ketinggian bangunannya.

Demikian dulu pak. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], "Nuzul Achjar" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Pak BTS, Pak Eka, dan rekan-rekan Ysh,
> 
> Cukup menarik diskusi tentang Papua di milis ini. Sekitar bulan Juni
> 2007 lalu, saya dan kolega saya Chatib Basri dari LPEM-FEUI
> berdiskusi di Jayapura, bersama sama dengan teman-teman dari Uncen
> yang juga dihadiri oleh pak gub Bas Suebu tentang Sustainable
> Development, Catatan yang perlu digarisbawahi adalah bahwa persoalan
> yang dihadapi Papua sekarang ini adalah: pertama, meningkatkan
> governance. Jika saja governancenya baik, dana otsus, bagi hasil SDA
> (tidak hanya dari konsentrat tembaga, tetapi juga dari gas dan
> minyak), dll, jika dikelola dengan baik sebenarnya mampu menyediakan
> infrastruktur dasar, seperti jaringan jalan ke daerah terpencil. 
Biaya
> angkut komoditas ke pedalaman sangat mahal (semen satu sak bisa
> mencapai 10-20 kali lipat harga semen di Jakarta, sehingga dalam
> jangka menengah perlu dibuatkan strategi bagaimana mendobrak isolasi
> secara bertahap (the proponent of Tata Ruang may argue,,, here it is
> ,,, ha ha ha) .
> 
> Bas Suebu tampaknya tidak ingin mengulangi kekeliruan masa lalu, 
dana
> relatif banyak tapi belum tampak untuk memendobrak isolasi, 
sementara
> waktu terus berjalan. Konsep yang ingin ditawarkan pak Bas adalah
> segala sesuatu harus bertolak dari desa, apa sih kebutuhan mereka,
> jadi tidak lagi sekedar konsep dari atas (provinsi) yang boleh jadi
> tidak realistik dan tidak menyentuh kebutuhan masyarakat desa. 
Hampir
> semua desa-desa non-urban dikategorikan desa miskin.
> 
> Nah, soal Biak. Walaupun tidak dibicarakan dalam diskusi, saya 
rasanya
> koq masih tetap konservatif untuk tetap ekstra hati-hati melihat
> perkembangannya, Ada pengalaman pahit kegagalan Biak sebagai Free
> Trade Zone (FTZ), Hotel Maraw (sekitar 400 kamar) yang terlanjur
> dibangun akhirnya masuk rumah sakit BPPN, Dari teman-teman saya 
dapat
> informasi, hotel itu sekarang rusak berat... ini sebagian duit 
rakyat
> untuk penyertaan modal dalam Biak Tourism Development Board yang
> sekarang sedang koma? Boleh optimis dengan catatan harus 
proporsional.
> 
> Untuk antisipasi perkembangan Biak sebagai tempat peluncuran, I will
> suggest, jangan pakai APBD or APBN at all cost deh untk membangun
> Biak.....Terlalu banyak yang harus diselesaikan untuk pengembangan
> infrastruktur dasar dan SDM di Papua, Terlalu besar opportunity
> cost-nya, untuk menerobos isolasi, peningkatan kualitas SDM, dsb.
> 
> Wassalam,
> 
> Nuzul Achjar


Kirim email ke