Pak Eka, pak Wawo, pak Risman, pak Hesthi dan milisters ysh, Kalau pak Rofiq dipostingnya terakhir telah prihatin dengan masalah kompleks industri perikanan Djajanti Groups di Biak yang merupakan misteri seputar investasi akal-akalan atau rekayasa demi mendongkrak nilai saham dipasar modal dunia......... Saya juga ingin mohon izin nimbrung ikutan prihatin juga untuk kalimat pak Eka tentang kemungkinan relokasi IPTN (PTDI) ke Biak .......... ........Saya justru melihat Biak potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan penelitian iptek, khususnya klimatologi dan kedirgantaraan. LAPAN telah mendirikan kantor di Biak untuk pemantauan cuaca, dan di dalam kompleknya terdapat ISRO (lembaga dirgantara India) yang memonitor pergerakan satelitnya di Pasifik. Ruslan Ginting (LAPAN Biak) menyebutkan, tidak ada riset antariksa yang menguntungkan secara ekonomi. Namun perlu dipertimbangkan bila 500-an engineers Rusia/lokal akan berkediaman di Biak, dan `mata dunia' akan mengarah ke sana. Belum lagi bila efek Biak ini akan mengundang berbagai negara maju yang tidak memiliki wilayah khatulistiwa untuk turut serta. Saya lupa catatan Pak Dikdik, bila investasi Rusia di Biak akan mencapai sekitar USD 130 milyar..... Termasuk pertimbangan bila IPTN direlokasi ke Biak. ............ Saya kurang jelas dan agak cemas ..... apakah isu PTDI (IPTN) akan relokasi ke Biak baru berupa kemungkinan perkiraan anda saja ... atau itu sudah menjadi rencana yang lumayan matang?......... Kalau ya, maka saya lumayan prihatin berat........ Menurut kepercayaan saya maupun hasil penerawangan saya ........... PTDI termasuk salah satu dari sedikit jenis industri foot loose kita yang demikian amat sangat berharganya untuk strategi pemicu pengembangan wilayah ... yang lokasinya pada dasarnya dapat digeser kemana saja ..... tanpa harus dekat kepada pasarnya ataupun dekat pada sumber bahan bakunya............ Logikanya produk jadi IPTN/ PTDI yang umumnya berupa pesawat atau bagian pesawat ketika selesai diproduksi tidak dikirim kenegara atau instansi pemesannya memakai truk atau kapal laut....... tetapi produknya itu bisa terbang sendiri menuju ke bandara terdekat dari alamat pemesannya......... Demikian juga bentuk dan jenis bahan bakunya ataupun SDMnya juga tidak mensyaratkan PTDI harus berlokasi mendekati tempat asal bahan bakunya atau kota tempat sumber SDMnya......... hingga karenanya sebagai jenis foot loose industry.... PTDI sebenarnya sejak awalnyapun dapat diletakkan dimana saja dipelosok negeri ini......... sebagai bagian dari strategi mengembangkan wilayah, mengembangkan aglomerasi atau menegakkan perekonomian lokal ......... Biak sebagai pulau kecil diwilayah tertinggal (dimana itu juga merupakan bagian dari Tanah Papua yang masyarakatnya masih seperti kurang sepenuhnya sreg dengan NKRI, jadi artinya rawan disintegrasi.., masih cemas pada dominasi pendatang... dsb)....... yang kalau jadi akan menjadi kota industri peluncuran pesawat antariksa ... dimana Rusia bisa akan menanam investasi sampai sejmlah 130 milyardolar ....... lalu dengan itu akan tinggal disana tak kurang dari 500 insinyur Rusia ....... yang bila ditambah dengan multiplier effect lainnya keadaan itu akan mendorong perkembang perekonomian lokal dan aglomerasi regional ........... kenapa untuk itu PTDI masih juga mau ikutan beraglomerasi kesana?............ * * * Kalau ditimbang rasa ..... PTDI dengan sekian ribu insinyurnya ..... sebenarnya lebih strategis mana sih ..... ia diletakkan di Biak yang nanti kalau Biak misalnya berkembang tak lama kemudian juga menghadapi masalah sempitnya lahan pulau........ belum lagi jaraknya yang jauh dari Papua (lebih dari 200km perjalanan dilaut) sehingga perekonomian lokal disana biaya transportnya juga mahal, ribet dsb........ Atau relokasi PTDI lebih dipakai untuk mendorong aglomerasi Makassar dengan berbagai multiplier effect yang muncul agar menjadi Greater Makassar yang adalah pengemban fungsi layan KTI (wilayah Indonesia Timur dan Tengah) yang demikian maha luasnya itu......... agar Makassar dapat menjadi kota layan KTI yang perkasa dan kota industri manufaktur yang penting di KTI ... yang dengan aglomerasinya diharapkan Greater Makassar akan mampu mengembangkan fungsinya tak hanya sebagai pusat kegiatan perekonomian KTI saja ........... namun juga agar menjadi pusat pengembangan sosial budaya KTI dengan semakin berkembangnya jumlah kelas menengah-atas dan kaum intelektual disana .......... Belum lagi bahwa Jkt yang kini terhuyung-huyung dengan kemacetan lalulintasnya ...... karena ia terus menerus menjadi kota primat yang terlampau dominan..... dan para gubernurnya tak pernah berpikir bicara countermagnet city .............ia sebenarnya memerlukan kota primat tandingan (countermagnet city) untuk meredistribusi favoritisme arah arus urbanisasi dan favoritisme pemilihan pemusatan lokasi investasi bagi meredakan primacy Jabodetabek.................. Lagi pula kalau Rusia melirik lokasi Biak ... pertimbangannya adalah teknis seperti menyangkut garis katulistiwa dsb. ..... tetapi kalau bangsa sendiri mau merelokasikan industri foot loosenya yang langka dan strategis ke Biak juga .... selain tak ada kaitannya dengan pertimbangan teknis... pertimbangan demikian juga sama saja seperti menjungkir balikkan urgensi serta arti strategisnya mengembangkan aturan hirarkhi kota serta idealisme meredistribusikan sistem besaran kota-kota.................... Waktu IPTN dulu awalnya didirikan dan diletakkan di Bandung .... samasekali tak ada upaya perdebatan tentang di (wilayah) mana ia harus diletakkan ........... tapi itu bisa dimengerti ...... dasar masih jamannya otoritarianisme dan militerisme .... dimana plannernya sekaligus kepala negara.......... dan lagipula dasar sains PWK-masuk ke Indonesia juga barangkali masih termasuk remaja usia dikala itu ....... hingga masyarakat plannersnya juga terpaksa harus dimaklumi pula kalau masih remaja pula visinya ............ Tetapi kalau hari gini ada inisiatif relokasi PTDI ... lalu tahu-tahu lokasinya dari Bandung akan dipindahkan ke Biak ...dan tanpa ada perdebatan dulu secara demokratis ........... waaahh ... itu saya kira keterlaluan..........DPR perlu didesak untuk mendirikan Komisi Independen Perencanaan Ruang........ setidaknya untuk mengontrol BKTRN ......... Menurut HW Richardson .... what dan where dalam penanaman investasi diwilayah seharusnya diperdebatkan sama serunya ........ dan kita tak pernah melakukan itu................. Wassalam, aby
ekadj05 <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Pak Nuzul ysh, Terima kasih berbagi pandangan. Saya komentari beberapa hal, bila pembangunan jaringan jalan (Trans Papua) memang obsesi Pak Bas untuk menembus ketertinggalan, walau dulu pernah saya ungkapkan bila hal ini sangat mahal. Saat ini hingga beberapa waktu ke depan, perhubungan udara masih memegang peranan yang sangat penting. Dengan 250 bandara yang ada saat ini, pelayanan angkutan udara masih menjadi tumpuan utama. Kreativitas daerah juga sudah tumbuh, misalnya Kabupaten Merauke telah memiliki 3 pesawat udara yang dioperasikan sepenuhnya oleh Merpati. Tahun depan kita akan fokus ke Suru-suru di bagian utara Kabupaten Asmat yang masih bisa dilayari oleh kapal-kapal besar, dan dekat dengan wilayah tengah Papua. Hub transportasi ini akan melayani 4 kabupaten, sehingga menjadi sangat strategis di tingkat provinsi. Apalagi hub ini menyatukan transportasi darat-laut-udara. Biaya mahal memang menjadi kendala, sehingga pernah kepikiran oleh saya bila dana Otsus itu dapat dialokasikan untuk mensubsidi beberapa harga barang yang memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan pembangunan. Saya tidak melihat Biak potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan perdagangan (bebas, dlsb), karena hal tersebut telah dicoba selama kurun pemerintahan Orde Baru. Di sana juga telah ada Kapet, dan dapat dikatakan satu-satunya Kapet yang memiliki gedung sendiri. Kelihatannya ada resistensi Pemda untuk mengurus wilayah sendiri. Atau, sebenarnya `belum cukup mantap' formulasi dari Pusat dalam mengembangkan otorita di Daerah. Hal yang sama juga berlaku untuk berbagai rencana KEK, FTZ, dll. Sorry. Kelak kita buka diskusi tersendiri mengenai hal ini. Saya justru melihat Biak potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan penelitian iptek, khususnya klimatologi dan kedirgantaraan. LAPAN telah mendirikan kantor di Biak untuk pemantauan cuaca, dan di dalam kompleknya terdapat ISRO (lembaga dirgantara India) yang memonitor pergerakan satelitnya di Pasifik. Ruslan Ginting (LAPAN Biak) menyebutkan, tidak ada riset antariksa yang menguntungkan secara ekonomi. Namun perlu dipertimbangkan bila 500-an engineers Rusia/lokal akan berkediaman di Biak, dan `mata dunia' akan mengarah ke sana. Belum lagi bila efek Biak ini akan mengundang berbagai negara maju yang tidak memiliki wilayah khatulistiwa untuk turut serta. Saya lupa catatan Pak Dikdik, bila investasi Rusia di Biak akan mencapai sekitar USD 130 milyar (mohon koreksi pak Dikdik). Termasuk pertimbangan bila IPTN direlokasi ke Biak. Saya mendengar kisah Hotel Waraw tersebut yang katanya sekarang sudah menjadi hotel hantu. Namun saya mendengar bila Garuda (atau Merpati?) akan membangun hotel di seberang terminal, dan kemarin meminta pertimbangan PZ untuk ketinggian bangunannya. Demikian dulu pak. Salam. -ekadj --- In [email protected], "Nuzul Achjar" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pak BTS, Pak Eka, dan rekan-rekan Ysh, > > Cukup menarik diskusi tentang Papua di milis ini. Sekitar bulan Juni > 2007 lalu, saya dan kolega saya Chatib Basri dari LPEM-FEUI > berdiskusi di Jayapura, bersama sama dengan teman-teman dari Uncen > yang juga dihadiri oleh pak gub Bas Suebu tentang Sustainable > Development, Catatan yang perlu digarisbawahi adalah bahwa persoalan > yang dihadapi Papua sekarang ini adalah: pertama, meningkatkan > governance. Jika saja governancenya baik, dana otsus, bagi hasil SDA > (tidak hanya dari konsentrat tembaga, tetapi juga dari gas dan > minyak), dll, jika dikelola dengan baik sebenarnya mampu menyediakan > infrastruktur dasar, seperti jaringan jalan ke daerah terpencil. Biaya > angkut komoditas ke pedalaman sangat mahal (semen satu sak bisa > mencapai 10-20 kali lipat harga semen di Jakarta, sehingga dalam > jangka menengah perlu dibuatkan strategi bagaimana mendobrak isolasi > secara bertahap (the proponent of Tata Ruang may argue,,, here it is > ,,, ha ha ha) . > > Bas Suebu tampaknya tidak ingin mengulangi kekeliruan masa lalu, dana > relatif banyak tapi belum tampak untuk memendobrak isolasi, sementara > waktu terus berjalan. Konsep yang ingin ditawarkan pak Bas adalah > segala sesuatu harus bertolak dari desa, apa sih kebutuhan mereka, > jadi tidak lagi sekedar konsep dari atas (provinsi) yang boleh jadi > tidak realistik dan tidak menyentuh kebutuhan masyarakat desa. Hampir > semua desa-desa non-urban dikategorikan desa miskin. > > Nah, soal Biak. Walaupun tidak dibicarakan dalam diskusi, saya rasanya > koq masih tetap konservatif untuk tetap ekstra hati-hati melihat > perkembangannya, Ada pengalaman pahit kegagalan Biak sebagai Free > Trade Zone (FTZ), Hotel Maraw (sekitar 400 kamar) yang terlanjur > dibangun akhirnya masuk rumah sakit BPPN, Dari teman-teman saya dapat > informasi, hotel itu sekarang rusak berat... ini sebagian duit rakyat > untuk penyertaan modal dalam Biak Tourism Development Board yang > sekarang sedang koma? Boleh optimis dengan catatan harus proporsional. > > Untuk antisipasi perkembangan Biak sebagai tempat peluncuran, I will > suggest, jangan pakai APBD or APBN at all cost deh untk membangun > Biak.....Terlalu banyak yang harus diselesaikan untuk pengembangan > infrastruktur dasar dan SDM di Papua, Terlalu besar opportunity > cost-nya, untuk menerobos isolasi, peningkatan kualitas SDM, dsb. > > Wassalam, > > Nuzul Achjar --------------------------------- Get easy, one-click access to your favorites. Make Yahoo! your homepage.

