Mas Erwin,

Selama Indonesia masih menganut sistem dual banking di mana ada perbankan
syariah dan konvensional di dalamnya,Menurut saya yang awam ini keinginan
untuk tidak mempertemukan sapi dengan babi rasanya mustahil. Mereka akan
bertemu di banyak kesempatan, kalau tidak dalam bentuk hubungan UUS dan
Kantor Pusat antara BUS dan pemilik saham, atau ketemu di pasar.......terus
Bank Indonesia jadi apa ya mas Erwin kalo ada sapi dan babi di kandangnya?
=)))

Oh ya ngomong2x...Bank Syariah Mandiri itu Bank Umum Syariah bukan UUS nya
Bank Mandiri... =))

Silahkan dilanjutkan diskusinya....mungkin ada yang mau berbai lagi...

Wassalam

Ade

On Nov 12, 2007 12:59 PM, Erwin Wirawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>   On Nov 8, 2007 5:52 AM, Ade Fauzan <[EMAIL 
> PROTECTED]<ade.fauzan%40gmail.com>>
> wrote:
> > Assalamu'alaikum Wr.Wb.
> >
> > Saya kira apa yang kita takutkan bahwa ada percampuran antara bisnis
> > konvensinal (baca:haram) dengan syariah seharusnya tidak ada. Kenapa?
>
> ===========================
> Kalo boleh sedikit melanjutkan.
>
> Yang saya maksudkan bercampur adalah begitu banyak bank konvensional
> membuka unit syariah. Ini yang bagi saya aneh. Seperti pedagang besar
> babi yang haram, yang sedang membantu pedagang kecil sapi yang halal.
>
> Bagi saya bank riba yang haram dan bank syariah yang halal harus
> diperlakukan bagai bumi dengan langit, bagai air dengan minyak, bagai
> babi dengan sapi. Mereka tak boleh tercampurkan dalam satu bisnis.
> Apapun bentuknya. Bagaimanakah bisa mencampur kebaikan dengan
> kejahatan.
>
> Contoh gampangnya:
>
> Bank Mandiri itu haram karena mengambil riba. Transaksi di bank
> mandiri itu haram. Bank Mandiri itu adalah babi. Bank Syariah Mandiri
> itu halal karena tak mengambil riba. Transaksi di bank syariah itu
> halal. Bank syariah itu sapi. Inilah yang menurut saya tercampur.
> Pedagang babi haram sedang mbantu pedangang sapi halal.
>
> Menurut saya posisi bank syariah harus berhadap-hadapan dengan bank
> konvesional. Lah harus gitu dong. satu haram satu halal koq. ketika
> nabi menyebarkan Islam apakah beliau bisa menolerir ketidaktauhidan.
> Riba itu hal mendasar sama seperti tauhid.
>
> salam
>  
>



-- 
Ade Fauzan

Kirim email ke