Bung Harya,
 
Secara umum,sudah ada perubahan sikap dari pihak Anda pada banyak hal yang kita 
diskusikan di bawah mengenai berbagai kelemahan pembuat dan pembuatan 
kebijakan, dan saya hargai itu. Dengan demikian, sorotan saya kali ini terfokus 
pada sikap Anda berkaitan dengan kebijakan jam masuk sekolah.
 
Berkali-kali juga sudah saya nyatakan bahwa TAK ADA SATU MANUSIA pun di milis 
ini yang mengangap kebijakan memajukan jam masuk sekolah sebagai sesuatu yang 
luar biasa ataupun SPEKTAKULER. Yang ada yaitu kebijakan itu dianggap sebagai 
kebijakan BODOH. Jadi memang jauh dari spektakuler. Saya justru heran kenapa 
Anda demen sekali memaksakan gagasan ini ke mulut saya,seolah saya yang bilang 
bahwa kebijakan ini spektakuler atau luar biasa. Yang jadi concern saya adalah 
korbannya para anak sekolah yang sama sekali tak digubris pendapatnya padahal 
merekalah frontline yang paling terkena duluan oleh dampak kebijakan itu.
 
Soal adanya anak naik angkot 4 kali ke sekolah, bukan saya yang mula-mula 
mengangkatnya kemari. Jadi kalo minta data konkrit, jangan minta ke saya. Hal 
ini muncul berulang kan karena Bung si_andi mempersoalkannya, dengan kesimpulan 
dia bahwa ini pasti ulah ortu yang anaknya mau dimasukkan ke sekolah favorit 
yang jauh dari rumah.
 
Saya tidak persoalkan rumus matematika itu dalam fungsinya untuk menghitung 
jarak tempuh. yang saya persoalkan adalah kalo rumus itu (dan jarak tempuh) 
dijadikan parameter utama (atau satu-satunya parameter) untuk mengetahui apa 
penyebab kemacetan lalu-lintas. Dan tampaknya, itulah yang terjadi. Bukan 
begitu?
 
Jalur sepeda yang Anda luncurkan idenya di milis ini terus terang saya tak bisa 
visualisasikan di kepala saya. Di negeri-negeri lain, jalur sepeda ini efektif 
karena sepeda bisa dinaikkan di bis kota dan monorel. Dan jalur khusus sepeda 
hanya ada di jalan-jalan protokol yang menghubungkan rute-rute penting 
kendaraan umum. kalo di jalur sekunder, sepeda dengan otomatis bisa jalan tanpa 
jalur khusus. Di Jakarta, hehehe, gimana orang mau nggeos sepeda dari Cilandak 
sampai Ancol? Justru Anda yang perlu menjelaskan di sini sebab ini ide brilyan 
Anda.
 
Baik, soal ini saya bisa bersabar sesuai imbauan Anda. Sekali lagi, saya 
apresiasi perubahan sikap dan cara pandang Anda dalam diskusi soal lalu-lintas 
DKI ini, sebagaimana tercermin dalam beberapa posting Anda terbaru.
 
manneke

--- On Sun, 12/28/08, Harya Setyaka <[email protected]> wrote:

From: Harya Setyaka <[email protected]>
Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Kalau PNS masuk jam 06.30 wib
To: [email protected]
Received: Sunday, December 28, 2008, 2:28 AM






Bung Manneke,

Thx atas masukannya. Betul bahwa interaksi DTKJ dng masyarakat masih
terbatas pada forum-2 tatap muka dengan unsur masing-2. Kegiatan ini
dilakukan secara intensif. Tapi karena tatap muka, maka yg berada di
kejauuuhan ya tidak berkesempatan utk berpartisipasi.
Ke depannya memang perlu ditingkatkan.
Tapi kan transportasi itu isu lokal... jadi wajar kalau utk langkah
awal, konstituensi/ unsur lebih pada warga yg sehari-2 menggunakan
angkutan umum di Jakarta.

Soal sikap negatif, itu adalah pilihan yg sah.
Begitu pula kalau mau menyikapi positif, sah juga.

Pendapat sy Mengenai jam sekolah masuk 6.30:
pertama; Suatu kebijakan yg layak diwacanakan dan dicoba. Sayangnya
kita kekurangan mekanisme demokrasi dalam kebijakan-2 publik. Di
negara lain, kebijakan2 tersebut perlu melalui proses referendum dulu.
Di Stockholm, kebijakan ERP juga di-uji-coba- kan dulu, lalu masyarakat
memilih melalui refrendum; apakah ERP diteruskan atau tidak.
Tapi kalau tidak pernah dicoba, maka tidak ada pengalaman bersama
(common experience) maka hipotesis akan berbalas hipotesis.

kedua; masuk pagi jam 6.30 ternyata bukan hal yg terlalu spektakuler.
Ini sy sampaikan.
dari indikator bahwa ada perjalanan setara AKAP dan sampai 4 kali naik
angkot (ini beneran ga sih, atau cuma dramatisir? mohon info lengkap
dong,... jangan di-irit-2), menunjukkan bahwa di hulu-nya ada yg
salah. transportasi adlah hilir dari kondisi sosial masyarakat.

Ketiga; merekayasa pola aktivitas adalah cara yg bisa mengurangi beban
lalu lintas. Begitu pula cara lain. Pola aktivitas kerja swasta dapat
diubah tanpa menunggu intruksi dari Kepala Daerah, dan ternyata sudah
mulai digunakan baik secara pribadi maupun kolektif (kebijakan
perusahaan).
Ya, matematika adalah alat bantu analisis. Ini bukan pamer. kalau anda
tertarik silahkan perdalam, kalau tidak sy hanya mencoba menjelaskan
sesederhana mungkin.

Keempat; angkot-2 sedikit demi sedikit harus di-busway-kan. memang
sekarang pengguna angkot di tengah kemacetan adalah yg paling
menderita. Makanya busway dilakukan.
Sy tegaskan mengenai busway karena inilah program yg prioritas,
mengubah pola aktivitas bukan prioritas.
Mohon maaf, sy tidak menempatkan pengguna ankot sbg pelaku kemacetan,
mereka adalah korban murni. Thx atas koreksinya. Maksud sy dari awal
memang seperti yg anda sampaikan. Ini pun bukan 'teori'.. tapi quote..
yg kebetulan sy setujui.
Untuk itulah pem-busway-an (prioritas angkutan umum) akan terus
dilanjutkan. Sy berpendapat bahwa seharusnya jalur busway adalah
default dari seluruh jaringan jalan. Kedepannya, membangun jalan baru,
harus sudah ada jalur busway dari awal.

Bahkan ada mazhab yg lebih menarik lagi dalam transportasi; kemacetan
bukan masalah; yg masalah adalah kesetaraan hak menggunakan ruang
jalan. Mengurangi kemacetan hanya akan dinikmati kaum bermobil. Untuk
itu mazhab ini lebih fokus pada angkutan umum daripada lalu-lintas
kendaraan. Unit analisis nya adalah person-trip, bukan vehicle.

kelima; mengenai program jalur sepeda, mohon sabar. terima kasih atas
antusiasme nya. merencanakan itu perlu proses. sementara ini, belum
banyak yg bisa sy bagi, karena memang proses-nya masih awal. ya
namanya juga permulaan, pasti ada masa-2 awal toh..
sy lebih senang memulai proses partisipasi jauh diawal, daripada
masyarakat disuruh telan diakhir. maka hanya akan menuai sikap negatif
dari masyarakat. Kalau Bung Manneke dan milister lain punya masukan,
monggo lo... selain bertanya juga boleh beri masukan. Apa ada
preferensi; sebaiknya ambil badan jalan atau pelebaran?

Terakhir; memang sekarang ini serba normatif... karena belum
uji-coba.. dan memang dalam tahap perencanaan / pra-implementasi. .
jadi ya tadi itu.. hipotesis berbalas hipotesis.

salam,
-K-

Kirim email ke