|
Wah ternyata masih juga ada yang berpikir tidak penting thoooo.... Mestinya kita semua tau, bahwa semua yg ada di dunia ini punya peran sendiri2. Seekor tungau or semut pun juga punya fungsi penting di dunia ini. Mata rantai makanan yg pernah kita pelajari juga bagian untuk menjelaskan itu semua. Mestinya masih banyak argumen lain yg menunujukkan pentingnya semua itu. Biodiversitas di tropika yg mencapai 400 spesies per ha, semua punya peran penting meskipun nilai ekonominya tak seberapa, karena belum diketahui mangpaatnya. Baru2 ini ditemukan obat pencegah AIDS dari tanaman di hutan tropika, yang sebelumnya dianggap tanaman tak bernilai. Jamur mikorizae ternyata punya peran penting dalam reboisasi hutan tropika, beberapa tahun lalu banyak dikoleksi oleh orang jepun. Seeorang Menko Ekonomi kita dulu pernah bilang, Lha wong akhirnya hutan kita ya mau rusak, pulau kecil juga akan tenggelam, maka sebelum kehilangan nilai ekonomi, maka sebaiknya dijual ke konglomerat or negara2 lain, jadi bisa jadi uang saat ini. Faham kapitalis sekarang mengedepankan nilai ekonomi dan mengesampingkan nilai ekologi, budaya lainnya. Produktivitas biologi hutan tropika adalah yg terbesar di dunia, tetapi produktivitas ekonomi ternyata yg terkecil. Jadi tanpa diapa2kanpun, di lahan tropika yg terbuka scr otomatis akan tumbuh tanaman2 yg dianggap tidak memp nilai ekonomi, tapi tnm tsb memp nilai ecologi yg tinggi (mengurangi degradasi, .mengatur tata air, udara, CO2 dsb, paper saya ttg hal ini sebagian dah dilontarkan oleh Mbak Dewi di awal diskusi ini). Sekarang untuk meningkatkan keberhasilan rehabilitasi hutan meranti di Kalimantan harus gunakan tablet mycoryzae dari jepun, yg dulu diambil dari kita juga. Juga ketika ular2 dibantai, maka ternyata hama tikus menjadi merajalela di lahan pertanian. Demikian juga ketika satu species hilang, maka perannnya justru baru kita sadari. Padahal sejak awal khan dah bisa kita antisipasi dg ilmu pengetahuan tho Nah, masalahnya emang seberapa jauh kita bisa peduli itu semua, manakala masyarakat itu sendiri juga belum bisa peduli pada dirinya, karena ketebatasan ekonomi. Tataran ekonomi emang sangat menentukan sikap kita, tapi sebenarnya nilai budaya dan moral yg sejak awal diterapkan dalam memandang masalah lingkungan, sangat lebih berperan dalam menjaga lingknga global kita. Yang merusak hutan indoensia sebanyak 3 lapangan bola per detik, or 3 juta hektar per tahun or total 60 juta hektar adalah justru orang2 berduit yg tidak peduli itu semua. Sekarang bumi mengalami pemanasan global 3 derajat lebih tinggi dari abad lalu, air laut juga naik 1 meter, serta kadar CO2 di udara naik 30%, menunjuukkan bahwa kerusakan lingkungan kita sudah harus segera ditangani oleh seluruh pihak. Begicuuu dulu ah.... Ma aci gicuuuu looohhhhhh...
|
riefcons <[EMAIL PROTECTED]> wrote:Wah, ternyata masih ada juga yang berpikir kalau Harimau Jawa itu
penting...(^_^)v...
Saya cuma mau rekan-rekan berpikir real, apakah benar kita merasakan
secara langsung ataukah tidak langsung bahwa harimau Jawa itu
penting? Misalnya kalau Harimau Jawa masih ada (belum punah) apakah
kita benar-benar bisa menilai intangible value dari keberadaan
kucing besar itu? Berita terakhir tentang penemuan jejak Harimau
Jawa adalah sekitar tahun 1991 di Taman Nasional Meru Betiri Jember
(Dulu masih Cagar Alam) kemudian setelah itu belum pernah lagi ada
berita2 terbaru tentang penemuan jejaknya, kotorannya, ataupun bekas
kukunya sampai sekarang(mohon dikoreksi kalau salah). Nah dalam
kurun waktu tersebut saya kira banyak orang yang tak peduli, toh
manusia masih memikirkan bagaimana bisa makan besok, atau bagaimana
anak saya bisa sekolah, atau bagaimana saya bisa memperbesar rumah.
Memang masih ada juga orang yang peduli tentang keadaan Harimau Jawa
tetapi tetap pada tataran normatif yang menjelaskan nilai konservasi
dari sisi intangible value. Saya sendiri setuju tentang pemikiran
normatif tentang konservasi, akan tetapi mari kita lihat ke keadaan
rakyat Indonesia yang sampai ada menggendong2 anaknya yang sudah
meninggal karena tidak punya uang untuk menguburkannya. Apakah
konservasi dapat berjalan ketika rakyat di sekelilingnya kekurangan
makan, kurang gizi, kurang makan? Kalau misalnya saya jadi mereka
mungkin lebih baik saya buru harimau lalu saya jual kulitnya dan
dagingnya, harganya mahal, bisa untuk makan sampai beberapa hari.
, tapi Ketika negara maju meributkan tentang banyaknya
Saya kira sampai saat ini yang disebut konservasi itu masih bersifat
normatif dan belum sampai pada kalkulasi fungsi dari konservasi itu
sendiri secara riil. Saya kira semua orang akan percaya kalau
misalnya konservasi sudah memberikan manfaat riil bagi masyarakat,
tidak kelaparan, dan memiliki economic value lebih besar daripada
harus tidak mengkonservasi. Saya kira itulah tantangan dunia
konservasi di masa depan, jangan hanya berkutat di tataran normatif.
Apakah kita bisa?
Maaf juga bila kurang berkenan......
Salam,
Arief Darmawan
Lab. of Global Forest Environment Studies
The University of Tokyo
------------------------------------------------------------
saya pikir kita salah besat bila berpikir demikian. Jika kita ingat
food web relationship, kita akan paham nilai salah satu mata rantai
web tersebut. Jadi, meskipun manusia secara langsung tidak
terpengaruh oleh keberadaan harimau, tetap saja, harimau mempunyai
nilai, terutama sebagai pengendali populasi herbivora mangsanya.
Saya teringat suatu kisah, saya lupa negaranya. Tetapi kisah ini
menceritakan bahwa hilangnya predator menyebabkan berkembangnya
populasi kelinci dan herbivora lain, sehingga menghancurkan lahan
pertanian. Jadi kalau sudah begini, coba bagaimana tindakan kita?
Saya pikir dekan ekonomi itulah yang belum memahami nilai
konservasi. Hutan diusahakan bukan hanya untuk dieksploatasi
(memikirkan nilai ekonomi kayunya saja), tetapi dampak lain dari
hutan yang tidak dikelola dengan baik nilainya lebih besar daripada
sekedar nilai batangan kayu. Saya ingat perdebatan panjang tentang
kondisi hutan Jepang yang sekarang katanya berubah menjadi
monokultur (hutan konifer), yang
> ternyata dampak negatifnya luar biasa. Jadi mari kita berpikir
global, bukan hanya menuruti ego sektoral. Maaf bila tak berkenan.
>
> wass wr wb
>
> Nugroho Susetya Putra
>
> Laboratory of Animal Ecology
>
> Yamagata University
>
>
>
=========================================================================
"Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
untuk Kesejahteraan Rakyat dan Kelestarian Sumber Daya Alam Indonesia"
-------------------------------------------------------------------------
Related homepages to IASA :
http://iasa-online.org
http://www.greendigitalpress.net/publications/ijas/
=========================================================================
[EMAIL PROTECTED] (^o^)
Faculty of Forestry, Gadjah Mada University
Yogyakarta, Indonesia
Yahoo! Mail
Stay connected, organized, and protected. Take the tour
=========================================================================
"Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
untuk Kesejahteraan Rakyat dan Kelestarian Sumber Daya Alam Indonesia"
-------------------------------------------------------------------------
Related homepages to IASA :
http://iasa-online.org
http://www.greendigitalpress.net/publications/ijas/
=========================================================================
| Farming | Agriculture |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "iasa" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
