Terimakasih Pak Cahyono Agus atas ikut sertanya dalam diskusi ini.
Saya akan rangkum dengan baik.

Wassalam
Hj.Bainah Sari Dewi
Laboratory of Forest Biological  Conservation Forestry Departement
Faculty of  Agriculture Tokyo University of Agriculture and 
Technology (TUAT)
Saiwaicho Fuchu Shi Tokyo  JAPAN 183 0054 
laboratory phone : 81 42 367 5746
dormitory phone 81 42 367 5550 (via operator)
mobile phone 81 9061242403
mobile phone email : [EMAIL PROTECTED]
email : [EMAIL PROTECTED]
yahoo mess : [EMAIL PROTECTED]
http://www.geocities.com/bainahdewi/bainahsaridewi.html
http://www.geocities.com/bainahdewi/ mypage.html

--- In [email protected], cahyono agus <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> Wah ternyata masih juga ada yang berpikir tidak penting thoooo....
> 
> Mestinya kita semua tau, bahwa semua yg ada di dunia ini punya 
peran sendiri2. Seekor tungau or semut pun juga punya fungsi penting 
di dunia ini. Mata rantai makanan yg pernah kita pelajari juga 
bagian untuk menjelaskan itu semua. Mestinya masih banyak argumen 
lain yg menunujukkan pentingnya semua itu.
> 
> Biodiversitas di tropika yg mencapai 400 spesies per ha, semua 
punya peran penting meskipun nilai ekonominya tak seberapa, karena 
belum diketahui mangpaatnya. Baru2 ini ditemukan obat pencegah AIDS 
dari tanaman di hutan tropika, yang sebelumnya dianggap tanaman tak 
bernilai. Jamur mikorizae ternyata punya peran penting dalam 
reboisasi hutan tropika, beberapa tahun lalu banyak dikoleksi oleh 
orang jepun. Seeorang Menko Ekonomi kita dulu pernah bilang, Lha 
wong akhirnya hutan kita ya mau rusak, pulau kecil juga akan 
tenggelam, maka sebelum kehilangan nilai ekonomi, maka sebaiknya 
dijual ke konglomerat or negara2 lain, jadi bisa jadi uang saat ini. 
Faham kapitalis sekarang mengedepankan nilai ekonomi dan 
mengesampingkan nilai ekologi, budaya lainnya. 
> 
> Produktivitas biologi hutan tropika adalah yg terbesar di dunia, 
tetapi produktivitas ekonomi ternyata yg terkecil. Jadi tanpa 
diapa2kanpun, di lahan tropika yg terbuka scr otomatis akan tumbuh 
tanaman2 yg dianggap tidak memp nilai ekonomi, tapi tnm tsb memp 
nilai ecologi yg tinggi (mengurangi degradasi, .mengatur tata air, 
udara, CO2 dsb, paper saya ttg hal ini sebagian dah dilontarkan oleh 
Mbak Dewi di awal diskusi ini).
> 
> Sekarang untuk meningkatkan keberhasilan rehabilitasi hutan 
meranti di Kalimantan harus gunakan tablet mycoryzae dari jepun, yg 
dulu diambil dari kita juga. Juga ketika ular2 dibantai, maka 
ternyata hama tikus menjadi merajalela di lahan pertanian. Demikian 
juga ketika satu species hilang, maka perannnya justru baru kita 
sadari. Padahal sejak awal khan dah bisa kita antisipasi dg ilmu 
pengetahuan tho
> 
> Nah, masalahnya emang seberapa jauh kita bisa peduli itu semua, 
manakala masyarakat itu sendiri juga belum bisa peduli pada dirinya, 
karena ketebatasan ekonomi. Tataran ekonomi emang sangat menentukan 
sikap kita, tapi sebenarnya nilai budaya dan moral yg sejak awal 
diterapkan dalam memandang masalah lingkungan, sangat lebih berperan 
dalam menjaga lingknga global kita. Yang merusak hutan indoensia 
sebanyak 3 lapangan bola per detik, or 3 juta hektar per tahun or 
total 60 juta hektar adalah justru orang2 berduit yg tidak peduli 
itu semua. Sekarang bumi mengalami pemanasan global 3 derajat lebih 
tinggi dari abad lalu, air laut juga naik 1 meter, serta kadar CO2 
di udara naik 30%, menunjuukkan bahwa kerusakan lingkungan kita 
sudah harus segera ditangani oleh seluruh pihak.
> 
> Begicuuu dulu ah.... Ma aci gicuuuu looohhhhhh...
> 
>  
> 
> 
> 
> riefcons <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Wah, ternyata masih ada juga yang 
berpikir kalau Harimau Jawa itu 
> penting...(^_^)v...
> Saya cuma mau rekan-rekan berpikir real, apakah benar kita 
merasakan 
> secara langsung ataukah tidak langsung bahwa harimau Jawa itu 
> penting? Misalnya kalau Harimau Jawa masih ada (belum punah) 
apakah 
> kita benar-benar bisa menilai intangible value dari keberadaan 
> kucing besar itu? Berita terakhir tentang penemuan jejak Harimau 
> Jawa adalah sekitar tahun 1991 di Taman Nasional Meru Betiri 
Jember 
> (Dulu masih Cagar Alam) kemudian setelah itu belum pernah lagi ada 
> berita2 terbaru tentang penemuan jejaknya, kotorannya, ataupun 
bekas 
> kukunya sampai sekarang(mohon dikoreksi kalau salah). Nah dalam 
> kurun waktu tersebut saya kira banyak orang yang tak peduli, toh 
> manusia masih memikirkan bagaimana bisa makan besok, atau 
bagaimana 
> anak saya bisa sekolah, atau bagaimana saya bisa memperbesar 
rumah. 
> Memang masih ada juga orang yang peduli tentang keadaan Harimau 
Jawa 
> tetapi tetap pada tataran normatif yang menjelaskan nilai 
konservasi 
> dari sisi intangible value. Saya sendiri setuju tentang pemikiran 
> normatif tentang konservasi, akan tetapi mari kita lihat ke 
keadaan 
> rakyat Indonesia yang sampai ada menggendong2 anaknya yang sudah 
> meninggal karena tidak punya uang untuk menguburkannya. Apakah 
> konservasi dapat berjalan ketika rakyat di sekelilingnya 
kekurangan 
> makan, kurang gizi, kurang makan? Kalau misalnya saya jadi mereka 
> mungkin lebih baik saya buru harimau lalu saya jual kulitnya dan 
> dagingnya, harganya mahal, bisa untuk makan sampai beberapa hari.  
> , tapi Ketika negara maju meributkan tentang banyaknya   
> Saya kira sampai saat ini yang disebut konservasi itu masih 
bersifat 
> normatif dan belum sampai pada kalkulasi fungsi dari konservasi 
itu 
> sendiri secara riil. Saya kira semua orang akan percaya kalau 
> misalnya konservasi sudah memberikan manfaat riil bagi masyarakat, 
> tidak kelaparan, dan memiliki economic value lebih besar daripada 
> harus tidak mengkonservasi. Saya kira itulah tantangan dunia 
> konservasi di masa depan, jangan hanya berkutat di tataran 
normatif. 
> Apakah kita bisa? 
> Maaf juga bila kurang berkenan......
> 
> Salam,
> 
> Arief Darmawan
> Lab. of Global Forest Environment Studies
> The University of Tokyo 
> 
> ------------------------------------------------------------
> 
> saya pikir kita salah besat bila berpikir demikian. Jika kita 
ingat 
> food web relationship, kita akan paham nilai salah satu mata 
rantai 
> web tersebut. Jadi, meskipun manusia secara langsung tidak 
> terpengaruh oleh keberadaan harimau, tetap saja, harimau mempunyai 
> nilai, terutama sebagai pengendali populasi herbivora mangsanya. 
> Saya teringat suatu kisah, saya lupa negaranya. Tetapi kisah ini 
> menceritakan bahwa hilangnya predator menyebabkan berkembangnya 
> populasi kelinci dan herbivora lain, sehingga menghancurkan lahan 
> pertanian. Jadi kalau sudah begini, coba bagaimana tindakan kita? 
> Saya pikir dekan ekonomi itulah yang belum memahami nilai 
> konservasi. Hutan diusahakan bukan hanya untuk dieksploatasi 
> (memikirkan nilai ekonomi kayunya saja), tetapi dampak lain dari 
> hutan yang tidak dikelola dengan baik nilainya lebih besar 
daripada 
> sekedar nilai batangan kayu. Saya ingat perdebatan panjang tentang 
> kondisi hutan Jepang yang sekarang katanya berubah menjadi 
> monokultur (hutan konifer), yang
> >  ternyata dampak negatifnya luar biasa. Jadi mari kita berpikir 
> global, bukan hanya menuruti ego sektoral. Maaf bila tak berkenan.
> > 
> > wass wr wb
> > 
> > Nugroho Susetya Putra
> > 
> > Laboratory of Animal Ecology
> > 
> > Yamagata University
> > 
> > 
> >
> 
> 
> 
> 
> 
> 
=====================================================================
====
>                    "Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 
> untuk Kesejahteraan Rakyat dan Kelestarian Sumber Daya Alam 
Indonesia"
> -------------------------------------------------------------------
------
> Related homepages to IASA : 
>            http://iasa-online.org
>            http://www.greendigitalpress.net/publications/ijas/
> 
=====================================================================
==== 
> 
> 
> 
> ---------------------------------
> YAHOO! GROUPS LINKS 
> 
> 
>     Visit your group "iasa" on the web.
>   
>     To unsubscribe from this group, send an email to:
>  [EMAIL PROTECTED]
>   
>     Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of 
Service. 
> 
> 
> ---------------------------------
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> [EMAIL PROTECTED] (^o^) 
> Faculty of Forestry, Gadjah Mada University 
> Yogyakarta, Indonesia 
> 
> 
>               
> ---------------------------------
> Yahoo! Mail
>  Stay connected, organized, and protected. Take the tour




=========================================================================
                   "Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 
 untuk Kesejahteraan Rakyat dan Kelestarian Sumber Daya Alam Indonesia"
-------------------------------------------------------------------------
Related homepages to IASA : 
           http://iasa-online.org
           http://www.greendigitalpress.net/publications/ijas/
========================================================================= 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/iasa/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke