Dear semwa teman IBP. Bagus lho mba' Ambar mengangkat issue ini. Salut. Saya tertarik terus terang karena anda menggunakan istilah Paris Syndrome. Yang saya dah pernah dengar 'Stockholm Syndrome'. Lalu saya baca juga respons semua teman yang juga menarik. Saya setuju mba'(?) VenusWow, bahwa masing2 orang berbeda persepsinya, ekspektasinya. Juga daya adaptasinya, coping mechanism-nya. Jangan dilupakan faktor penat setelah perjalanan lama, plus jet lag pula Saya sendiri hiker, yang traveller istri saya. Saya kadang2 ngantar, klo istri & anak2 traveling. Kami amat sangat sering mengalami kejutan2 kurang menyenangkan. Mulai sulitnya mendapat visa (AS), ditanya2 macem2 (UK), buta huruf kanji, sampai kecopetan dan mau dicopet (Turki, Mesir, Roma, Paris). Istri saya malah di AS pernah dicurikgai bawa wang dolar palsu. Gara2nya travel biro INA kan suka'nya dolar yg masih (tampak) baru. Di AS sempat diinterogasi pulisi, kok bawa wang dolar seri lama tapi masih licin2. Menggelikan, tapi tegang juga karena dah mau dipanggilin FBI (wang palsu domainnya FBI ya?correct me). Istri saya, krn psikiater, berusaha selalu pede,sekali pun kemudian ngomel2nya kapada saya krn baru abis ditipu sopir taksi Bangkok. Tetapi ada juga yg di luar dugaan, malah orang2nya ramah buangett (Kilimanjaro, Tanzania & Kenya) dan dutabesar n stafnya yg sangat bersahabat (Nairobi) Saya suka sebut istri saya tipe 'traveller sejati'. Karena begitu tiba di kota tujuan, masuk hotel hanya bwt menaruh koper. Sementara saya masih teler krn jet-lag, istriku dah muter2 layaknya gasing. Seolah gak ada capeknya. Katanya:'Klo mau tidur, di rumah kan bisa?!' Dan daya orientasi-nya hebat. Begitu pernah ke suatu tempat langsung hafal. Kali lain balik ke situ dah seperti pemandu. Klo saya, suka baca2 dulu sejarah dan hal2 tentang tempat yg hendak kami lihat. Jadi klo ke Borobudur, tahu yg mana kamadatu atau rupadatu. Ke Tambora lalu sok tau bhw letupannya taun 1815 membunuh 93ribu org, terburuk di dunia. Ke Arlington sama anak2 bisa crita tentang monumen marinir iwojima Mungkin hal2 yg kaya gitu bisa dipakai cara utk menikmati perjalanan. Baik itu wisata atau tugas belajar atau dinas. Bagi yg suka membaca, ini ada buku yg indah tentang filosofi menikmati suka dan duka perjalanan: Alain de Botton: The Art of Travel, Juli 2002, Pantheon. Selamat membaca... Benarkah ekspektasi yang terlalu besar membuat kita tidak nyaman? apakah ini menghentikan kita untuk 'menjelajahi' kota? apakah 'culture shock' atau kejut budaya adalah sumbernya?
Pendapat dan sharing ditunggu. More about Paris Syndrome: http://en.wikipedia .org/wiki/ Paris_syndrome Culture Shock: http://en.wikipedia .org/wiki/ Culture_shock Salam, ambar [Non-text portions of this message have been removed] Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/ [Non-text portions of this message have been removed]
