Hallo Semua,
Kalo dipikir-pikir dari sudut pandang nativenya, pengen curhat juga nih. Saya
sendiri lahir dan dibesarkan di Kalimantan. Keluarga dari 4 penjuru angin
(ceileh..) udah boyongan ke Kalimantan sejak beberapa dekade lalu, jadi ya saya
tahunya cuma keadaan pulau Kalimantan. Keadaan alam dahulu dan kini, perubahan
tiap kotanya, efek modernisasi, dll, terekam dalam memori hanya sebagai slide
show singkat yang tidak terlalu saya tanggapi.
Nah yg membuat culture shock justru para pelancong luar yg datang ke Kaltim
(beberapa yg pernah mengungkapkan expektasi mereka scr terbuka pd sy). Umunya
mereka ini selalu berharap Kaltim itu masih hijau, turun dari Bandara yg
dilihat hutan. Harusnya nyari orang utan di Kaltim ga susah and ga mahal. Tapi
sayangnya yg ditemukan di lapangan selalu berbeda dari pengharapan. Balikpapan
yang jadi kota gerbang udah jadi kota sibuk, gedung2 tinggi mulai bermunculan,
mau liat orang utan hrs ke kawasan konservasi, itupun biayanya mahal banget.
Mau lihat suku dayak bertelingan panjang harus jauh keluar kota, komersil pula.
Mau lihat pohon-pohon ratusan tahun udah sulit.
Jadinya malah nelongso , harus gimana ngejelasinnya ya hehehe. Lha wong emang
warganya ingin seperti ini. Ingin jalanan mulus, ingin akses internet canggih,
ingin kemajuan pembangunan dan pendidikan. Dan warga lokalpun tidak merasakan
perubahan drastis, dari hijaunya alam berubah jadi kota yang panas, kan butuh
puluhan tahun., sampai tidak terasa perubahannya. Jadi kadang-kadang terbersit,
kenapa tidak menyiapkan diri dulu dengan informasi lengkap sebelum datang. Kan
yg didatangi tidak hrs bertanggung jawab terhadap perasaan yg datang hehehe.
Jadinya merasa bersalah tapi kepada siapa??
Salam
Hikmah
Balikpapan
[Non-text portions of this message have been removed]