dear all, entah ini masuk kategori paris sindrom atau gak, pengalaman sy ke shenzhen, gak terduga sebelumnya. Masuk dari hongkong, pikirnya paling beda tipis ama shenzhen nih, hawanya, orang-orangnya, bahasa, kemudahan dimana2. Ternyata sampai disana agak susah mencari money changer, apalagi mo nukar rupiah ke yuan . Kendala bahasa yang utama, Naik taxi, hampir diturunin, karena supirnya hanya bisa tahu alamat hostel dalam bahasa kanji. Mulai panik, tapi akhirnya beres, karena supir taxinya mau nelpon ke hostel itu. Sampai dihostel, kendala bahasa lagi disini dan mereka cuman mau terima cash dalam yuan, sementara yang ada duit US n rupiah, terpaksa nyari atm, debit gak dibawa, credit card dibawa tapi password gak tau karena memang gak niat untuk dipake narik uang. udah keringatan, udah kepikiran mending balik aja ke hongkong deh. Untung credit card adik saya berhasil ngeluarin uang setelah beberapa kali nyoba. fiughhh Setelah itu jadi il-fil, jadi gak terlalu semangat untuk jalan dan untungnya semalam aja disana. Kejadian ini sy anggap sebagai pelajaran. next time be better. dan tidak akan menghentikan untuk merencanakan travelling selanjutnya. Intinya adalah sangat perlunya persiapan yang matang, siap fisik & mental, siap informasi, siap dana (cash, credit card, debit card). sehingga manakala menghadapi kondisi yang tak terduga, sudah bisa diantisipasi dan diselesaikan tanpa terkena "Paris syndrome"
--- On Thu, 4/2/10, Ambar Briastuti <[email protected]> wrote: From: Ambar Briastuti <[email protected]> Subject: [indobackpacker] Paris sindrom: karena kejutan budaya? To: "Indobackpacker Groups [email protected]" <[email protected]> Date: Thursday, 4 February, 2010, 1:57 AM Dear kawan-kawan IBP, Alkisah sindrom ini terjadi pada turis Jepang yang melancong ke Paris, Perancis. Ini adalah gejala psikologis ketika si turis merasa kejutan budaya terlalu besar untuk diterima. Ia akan merasa tersisih, agitasi dan terkadang mengalami gejala fisik seperti pusing, berkeringat dingin dan capek secara ekstrem. Sindrom ini menjadi terkenal sebagai contoh ketidakmampuan traveller menghadapi ekspektasi yang terlalu tinggi pada destinasi. Tempat yang akan kita datangi digambarkan sempurna, penuh keindahan dan kebaikan. Tetapi kemudian menghadapi kenyataan: penduduk Paris yang tidak bersahabat, tidak mau berbahasa inggris, perbedaan kultur yang terlalu besar, ataupun terlalu capek untuk menhisap aura sebuah kota. Membuat pengunjung Jepang harus dipulangkan sebelum saatnya, karena tidak tahan dengan kondisi ini. Well, walau belum pernah kejadian begini saya tertarik untuk mencari tahu ketika seorang kawan bercerita sehabis mengunjungi sebuah kota yang membuatnya kecewa berat. Kotor, jijik, makanan ngga enak etc membuat saya tertarik pengen mendengar pengalaman teman-teman. Pernahkah mengunjungi tempat dan merasakan sindrom ini? Tidak musti Paris, London, Singapura. Tetapi bisa jadi Jakarta, Surabaya, Jayapura ataupun tempat yang kita tidak familiar. Benarkah ekspektasi yang terlalu besar membuat kita tidak nyaman? apakah ini menghentikan kita untuk 'menjelajahi' kota? apakah 'culture shock' atau kejut budaya adalah sumbernya? Pendapat dan sharing ditunggu. More about Paris Syndrome: http://en.wikipedia .org/wiki/ Paris_syndrome Culture Shock: http://en.wikipedia .org/wiki/ Culture_shock Salam, ambar [Non-text portions of this message have been removed] Get your new Email address! Grab the Email name you've always wanted before someone else does! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/ [Non-text portions of this message have been removed]
