Mbak Ambar dan rekans, Kalo sindrom Paris rasanya saya belum pernah mengalaminya selamamengunjungi termpat-tempat yg baru.Bagi sayasemua perjalanan yang telah saya lakukan menyenangkan, dan saya sangat menikmatinya, ke manapun itu.
Tetapi ada satu pengalaman, ya semacam rasa asing dan takut di tempatyg tidak dikenal, tapi sebentar saja sih. Beberapa tahun yg lalu, saya dari Belandahendakmengunjungiseorang sahabatyg telah bermukim di Trier, kota kecil dibaratdaya Jerman (tempatlahir Karl Marx) dengan kereta, sendiri.Stasiun perbatasan di Jerman adalah Aaachen, dan saya memutuskan utk mampir jalan2 dulu krn penasaran juga pingin tau kayak apa sih kota yg menjadi tempat studinya Habibie. Keliling2, gak terasa sampe sore. Karena saat itu menjelang winter maka jam 5 sore sudah gelap sekali, dan hasilnya saya tersesat tidak bisa menemukan jalan ke stasiun kereta Aaachen, malah berputar2 lebih dari 15 menit di daerah permukiman yag bagi saya terasa sangat sepi, gelap dan bentuk bangunannya sama semua. Wah jujur saat itu saya takut sekali, terasa berada di tempat asing yg tidak bersahabat.Beberapa orang yg lewat semua saya tanya (bhs Inggris) di mana central station,jawabannya hanya menggeleng sambil berlalu cepat. Wah saya semakin merasa takut dan terasing. Jawaban di mana stasiun saya peroleh setelah saya bertanya kepada seseorang dg bahasa tarzan sambil menunjukkan tiket kereta. Dia bilang: "ooohh, bahnhof", lalu dengan ramah menunjukkan jalan menuju ke stasiun.Saat itu baru saya sadar bhw saya tidak tahu bahasa Jermannya stasiun adalah bahnhof.Pantas semua orang yg saya tanya station tidak ada yg jawab, krn orang Jerman banyak yg tidak berbahasa Inggris. Selama perjalanan dg kereta dari Aaachen sampai Trier saya masih deg-degan, agak keringat dingin dan merasa asing.Setelah ketemu teman saya di Trier, pengalaman tersesat di Aaachen itu segera terlupakan. Itulah satu2nya pengalaman saya yg mungkin kalo lebih parah bisa mengarah ke sindrom Paris. Pelajaran penting dari pengalaman itu: minimal mengetahui kosa-kata2 penting dalam bahasa setempat. Kalo Paris,krn cuman2 hari ke sana, bagi saya ya sangat mengesankan, krn tiap jengkal kota Paris yg saya lihat adalah indah. Mungkin juga krn itu dari perspektif saya sebagai turis yg hanya mengunjungi tempat2 yg disarankan dalamg uide map, bukan sebagai "le parisien" spt kata mbak Sari. salam, vietha - ________________________________ From: Ambar Briastuti <[email protected]> To: "Indobackpacker Groups [email protected]" <[email protected]> Sent: Thu, February 4, 2010 1:57:54 AM Subject: [indobackpacker] Paris sindrom: karena kejutan budaya? Benarkah ekspektasi yang terlalu besar membuat kita tidak nyaman? apakah ini menghentikan kita untuk 'menjelajahi' kota? apakah 'culture shock' atau kejut budaya adalah sumbernya? Pendapat dan sharing ditunggu. More about Paris Syndrome: http://en.wikipedia.org/wiki/Paris_syndrome Culture Shock: http://en.wikipedia.org/wiki/Culture_shock
