hmmm... perhaps, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah managing 
expectations ? 
Mungkin ketika browsing2, better cari cerita tentang catatan perjalanan instead 
of website promo dari negara yang akan dikunjungi. I always believe kalau 
cat-per, itu nyata seada-adanya, termasuk ga enaknya, sedangkan kebanyakan 
website yang ada, isinya biasanya terlalu memperindah (yang kadang biasa aja 
sih). Jadi, setidaknya ketika berangkat pun, we know what to expect.

Last, ketika ternyata yang terjadi di lapangan lebih ancur lagi daripada yang 
kita udah expect - maybe, we just take it easy and go...

right ?



________________________________
From: Ambar Briastuti <[email protected]>
To: "Indobackpacker Groups [email protected]" 
<[email protected]>
Sent: Thu, February 4, 2010 1:57:54 AM
Subject: [indobackpacker] Paris sindrom: karena kejutan budaya?

  
Dear kawan-kawan IBP,

Alkisah sindrom ini terjadi pada turis Jepang yang melancong ke 
Paris, Perancis. Ini adalah gejala psikologis ketika si turis merasa 
kejutan budaya terlalu besar untuk diterima. Ia akan merasa tersisih, 
agitasi dan terkadang mengalami gejala fisik seperti pusing, 
berkeringat dingin dan capek secara ekstrem. Sindrom ini menjadi 
terkenal sebagai contoh ketidakmampuan traveller menghadapi 
ekspektasi yang terlalu tinggi pada destinasi. Tempat yang akan kita 
datangi digambarkan sempurna, penuh keindahan dan kebaikan. Tetapi 
kemudian menghadapi kenyataan: penduduk Paris yang tidak bersahabat, 
tidak mau berbahasa inggris, perbedaan kultur yang terlalu besar, 
ataupun terlalu capek untuk menhisap aura sebuah kota. Membuat 
pengunjung Jepang harus dipulangkan sebelum saatnya, karena tidak 
tahan dengan kondisi ini.

Well, walau belum pernah kejadian begini saya tertarik untuk mencari 
tahu ketika seorang kawan bercerita sehabis mengunjungi sebuah kota 
yang membuatnya kecewa berat. Kotor, jijik, makanan ngga enak etc 
membuat saya tertarik pengen mendengar pengalaman teman-teman. 
Pernahkah mengunjungi tempat dan merasakan sindrom ini? Tidak musti 
Paris, London, Singapura. Tetapi bisa jadi Jakarta, Surabaya, 
Jayapura ataupun tempat yang kita tidak familiar.

Benarkah ekspektasi yang terlalu besar membuat kita tidak nyaman? 
apakah ini menghentikan kita untuk 'menjelajahi' kota? apakah 
'culture shock' atau kejut budaya adalah sumbernya?

Pendapat dan sharing ditunggu.

More about
Paris Syndrome: http://en.wikipedia.org/wiki/Paris_syndrome
Culture Shock: http://en.wikipedia.org/wiki/Culture_shock

Salam,
ambar

[Non-text portions of this message have been removed]





      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke