Komentar anda menunjukkan bahwa di alam bawah sadar, anda punya
prejudice (prasagka) bahwa orangtua akan membenci - atau paling
kurang tak menyayangi - anaknya yang kebetulan menjadi banci
(lesbian atau gay).
Pengalaman langsung saya menunjukkan fakta yang berbeda dan
berlawanan dengan prasangka di atas. Sebagai contoh, istri saya
punya teman sekolah (bukan cuma satu kelas di SMP dan SMA, tetapi
rumahnya satu kompleks dengan rumah mertua) seorang laki2 gay yang
sangat saya tahu disayangi oleh ibunya. Prilaku gay teman istri
sangat kentara dari cara bicara, suara, cara jalan, dsb.
Ibu si gay, selain si gay sendiri, sangat menyenangi istri saya
karena istri saya adalah salah satu dari sedikit orang yang tak
pernah mentertawakan, apalagi mengejek, si gay tersebut. Sekarang
gay tsb sudah bekerja di suatu perusahaan asing. Walaupun istri saya
menduga dan melihat beberapa indikasi (belum tentu benar lho) ia
menjadi 'piaraan' atasannya, istri saya saya tetap berlaku ramah dan
tetap dekat dengan keluarga si gay tersebut.
Saya malam dan pagi ini menonton berita TV tentang pembunuhan
seorang manajer hotel atau pub (persisnya saya lupa) di Semarang
yang menurut info yang diperoleh adalah gay dan diduga dibunuh oleh
bekas teman kencannya. Kita bisa lihat bagaimana sedihnya kakak
orang tsb bahkan ibunya sampai berteriak-teriak histeris dalam
bahasa Jawa ("Siapa yang membunuh anak saya").
Komentar thd pengaitan agama oleh anda dengan masalah gay/lesbian
sudah saya tulis dalam postingan sebelumnya: bisa berpotensi
menciptakan konflik sektarian. FYI, istri saya pemeluk agama Katolik
yang sangat taat. Walaupu ajaran agama saya dan ajaran agama istri
sangat beda jauuh sekali, kalau bukan sering berlawanan, kita satu
sama lain tak pernah mengungkit-ungkit (apalagi bertengkar)
ttg 'kesalahan/ kesesatan' ajaran agama yang dianut pasangan kita.
Bagi saya, agama/ keyakinan adalah keyakinan untuk pribadi dan tak
ada gunanya keyakinan tsb 'diajarkan' ke orang lain, termasuk ke
istri sendiri, apalagi ke anggota2 milis. Yang perlu diamalkan demi
kebaikan orang lain dan kebaikan dunia adalah prakteknya, bukan isi
ayat-ayat ajaran kita :-)
Saya sendiri pernah mengenal dan bertetangga dengan seorang
mahasiswi yang memiliki kecenderungan lesbian, walaupun ia saya duga
bisa menikmati hub seksual hetero (sebab teman satu rumah saya yang
sangat saya kenal sering tidur dg cewek lain rajin mendatangi rumah
mahasiswi di saat-saat si mahasiswi sendirian). Mahasiswi teman
sekamarnya pernah ketakutan dan mengadu ke tempat kita tentang
prilaku lesbian mahasiswi sepondokannya tsb.
Salam
--- In [email protected], "goenardjoadi"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mbak Mimi,
>
> anda tahu harga diri? ketika seseorang masih memiliki kekuatan
> untuk memilih,
>
> apa jadinya pada saat dia Lesbian? Ibunya bisa marah, mengusirnya,
> atau kalau ketahuan anak nya [kalau sudah punya anak], bagaimana
dia
> mau membuka kepada anaknya? apakah kalau anaknya diperkosa laki-
> laki [pedofilia] boleh? kalau tidak, demikian juga penyimpangan
> seks, perempuan dengan perempuan.
>
> mengapa dilarang agama?
>
> karena tujuan Tuhan menciptakan manusia adalah supaya bisa
> melahirkan makhluk hidup baru secara bertanggung jawab di hadapan
> Tuhan. apa jadinya kalau kenikmatan seks dilakukan tanpa tanggung
> jawab, misalnya pakai boneka, pakai anjing, atau pakai sesama
jenis?
>
> Tentu tidak seseuai dengan harapan Tuhan.
>
> agaimana kita tahu? tanya saja orang tua masing-masing,
>
> pada saat orang tua mengusir kita, maka saat itulah harga diri kita
> sudah tak berharga, kita tak lagi memiliki dukungan, minimal dari
> orang tua sendiri, dan kita akan selamanya berkekurangan, kurang
> dukungan, dan mengalami celaka..
>
> salam,
> Goen